Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Rencana Kejam Zafian di Acara Resepsi Elizia


__ADS_3

Tepat pukul 19.00 WIB, di malam hari yang penuh dengan sejuta bintang dan cuaca sangat cerah. Lampu kelap-kelip menghiasi ruangan di rumah nenek Rumi. Dekorasi ruangan pengantin yang dihias cantik sedemikian rupa membuat rumah nenek Rumi tampak indah. Serta alunan musik qosidah yang menggema.


Kedua insan sejoli akan melangsungkan resepsi pernikahan di rumah nenek Rumi. Mereka adalah Hamzah Anggara dan Elizia. Para tamu undangan sudah memasuki ruangan resepsi. Tinggal menunggu pak penghulu dan kedua mempelai.


Sedangkan ibu-ibu Gengster siap menjadi sinoman di pernikahan Elizia.


"Elizia, kamu sudah cantik. Tinggal menunggu mempelai pria selesai di make up."


Seorang penata rias yang bernama Bu Ratih memuji kecantikan Elizia yang memakai gaun pengantin berwarna putih. Elizia hanya mengangguk dan masih duduk di kursi rias.


Beberapa menit kemudian, mempelai pria beserta keluarga sudah berada di pelaminan begitu juga dengan pak penghulu.


Elizia digandeng oleh nenek Rumi menuju pelaminan. Mata tertuju kepada mempelai wanita.


"Wah, mempelai wanita cantik sekali. Seperti artis. Pantesan Hamzah menyukainya. Walau pun janda tetapi Elizia masih terlihat bening."


Ibu-ibu komplek membicarakan Elizia yang baru saja akan duduk di pelaminan. Di situ hadir juga bu Widya dengan wajah panas dan manyun.


"Bu Widya kok manyun begitu ya? Apa ibu menyesal Elizia menikah dengan Hamzah?"


Bu Tuti yang duduk di dekat Widya mulai kepo dan mulai jail menggoda bu Widya.


"Apa sih, Bu. Saya ini badannya lagi kurang enak, seharian mengurus pekerjaan rumah sendiri," jawab Widya dengan kesal.


Widya kelelahan karena Rihana tidak pernah membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Sudah di bentak pun tetap ngeyel karena merasa orang paling kaya. Sebenarnya Widya juga kecewa jika mantan mantunya sekarang lebih baik dan ternyata memiliki keahlian yang tidak terduga.


Sebentar lagi acara resepsi akan segera dimulai.


"Saya terima nikahnya Elizia binti Abdullah dengan mas kawin uang senilai seratus lima puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Ikrar suci pernikahan telah berhasil diucapkan oleh Hamzah Anggara dengan satu kali tarikan nafas. Terlihat dia menangis karena telah berhasil mengucapkan ikrar suci tersebut. Elizia pun juga menitikkan air mata karena terharu. Kini dia segera sungkem terhadap Hamzah Anggara dengan takzim.


"Bagaimana para saksi? Sah?"

__ADS_1


Pak penghulu mulai bertanya kepada para saksi dan tamu undangan tentang sah atau tidaknya pernikahan antara Hamzah Anggara dengan Elizia.


"Sah!"


Semua para tamu undangan, dengan suara nyaring mengatakan kata 'sah'. Kini Hamzah Anggara dan Elizia sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Tidak lama para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan prasmanan oleh Tuan Rumah. Ibu-ibu Gengster sudah tidak sabar untuk mencicipi hidangan yang beraneka ragam tersebut.


"Hem, rendang daging sapinya enak lho ibu-ibu. Beda dari pesta kemarin, sangat hancur."


Bu Tuti melirik ke arah Bu Widya sambil menyindir pesta pernikahan keluarga Widya yang dilaksanakan beberapa pekan lalu. Bu Tuti memang ceplas ceplos jika menyindir seseorang yang tidak dia suka.


Pyar!


Bu Widya dengan muka merah padam seketika memecahkan salah satu piring di perjamuan makan. Dia kelewat emosi karena disindir oleh ibu-ibu Gengster.


"Kalian tidak usah menghina saya di depan orang banyak! Atau saya lempar dengan piring ini."


Widya membentak dengan suara nyaring hingga semua yang hadir di acara resepsi tersebut pandangan tertuju kepada Widya.


"Kamu lagi, ibu gendut selalu saja bikin onar. Kenapa kamu memecah piring saya?"


Nenek Rumi memandang Widya dengan tatapan tidak suka.


"Itu lho Nek, saya dihina sama ibu-ibu Gengster jadi saya kelewat emosi dan dengan reflek ingin memecahkan piring!"


Widya dengan jujur mengatakan sebab dia memecahkan piring. Dia bersikeras untuk membela dirinya sendiri.


"Dihina kenapa? Bukannya kamu yang sering menghina orang kecil seperti kami? Kamu tidak level dengan orang-orang seperti kita, iya 'kan? Kenapa kamu hadir di pesta ini?"


Nenek Rumi berusaha membuat Widya kena mental agar dia sadar dari sikap sombongnya.


Sedangkan ibu-ibu Gengster masih menatap Widya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Nenek sama saja dengan mereka! Yasudah jika saya tidak diterima di acara pesta ini saya akan pulang!"


Widya tidak bisa berkutik mau berkata apa sehingga dia bergegas berlari kecil meninggalkan rumah nenek Rumi yang sedang ada acara tersebut.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba lampu mati.


"Diam, kalian semua para warga yang hadir di sini! Jika semuanya tidak diam maka, rumah ini akan terbakar."


Terdengar suara lelaki yang masuk di acara tersebut dengan suara nyaring dan mengancam akan membakar rumah tersebut jika ada yang berani bergerak.


Sontak semua yang hadir dalam acara pernikahan Elizia dan Hamzah diam seketika dan dalam keadaan lampu mati.


Perlahan-lahan Zafian berjalan ke arah Elizia berada. Saat itu Elizia sedang berdiri dan menggenggam erat tangan Hamzah suaminya.


Elizia tahu itu suara Zafian dan akan merencanakan sesuatu hal buruk dalam pernikahannya dengan Hamzah.


"Tenang, Istiku. Kamu jangan merinding seperti ini. Aku akan melindungi kamu dari kejahatan Zafian walaupun aku harus bertaruh nyawa. Ayo kita keluar lewat pintu belakang secara perlahan-lahan."


Hamzah membisikkan kalimat didekat telinga Elizia dan berusaha menenangkan jiwanya. Hamzah memegang tangan Elizia dengan erat sambil berjalan mengendap-endap lewat pintu belakang dan Zafian jangan sampai tahu.


Mereka akhirnya berhasil keluar dari rumah nenek Rumi lewat pintu belakang. Terlihat dari kejauhan dua pria berpostur tubuh besar sedang berdiri di pintu gerbang rumah nenek Rumi dan si samping mereka tergeletak dua botol bahan bakar. Mungkin maksud mereka akan dipergunakan untuk membakar rumah nenek Rumi jika Hamzah melawan Zafian.


"Elizia. Aku akan segera mengirim chat WA orang andalanku yang rumahnya tidak jauh dari sini agar mereka dengan cepat membantu kita dalam keadaan darurat seperti ini."


Hamzah segera mengeluarkan gawainya dan segera mengirim chat WA kepada orang suruhannya. Karena darurat, Zafian mengurungkan niat untuk menelepon polisi karena khawatir Zafian akan bertindak cepat untuk membakar rumah nenek Rumi.


Lima menit kemudian, dua orang pemuda jangkung berjalan secara perlahan-lahan mendekati dua botol bahan bakar dan bahan lainnya untuk segera diambilnya. Tidak lama saat kedua pria berpostur tubuh besar itu lengah, kedua pemuda jangkung tersebut berhasil mengambil barang tersebut lalu segera bersembunyi.


"Loh, botol bensinnya pada di mana? Kok hilang?" tanya pria berkepala botak tersebut kepada salah satunya.


Pria berkepala botak terkejut semua bahan bakar untuk membakar rumah nenek Rumi telang hilang.


"Tadi di sini, Jo. Apa diambil Genderuwo? Penghuni rumah ini 'kan nenek-nenek aneh yang berkaca mata tebal. Apa dia bersekongkol dengan para dedemit?" jawab pria satunya yang berambut keriting.

__ADS_1


Mereka saling berpandangan dan ketakutan. Sedangkan kedua pria jangkung suruhan Hamzah sembunyi di balik pohon mangga sambil menahan tawa.


__ADS_2