
Ujian hidup di dunia ini selalu menghantui dan datang silih berganti. Seperti yang dialami oleh Elizia di sore itu tepatnya pukul 15.30 WIB. Dia sudah berusaha menjadi wanita baik. Namun, tidak semua orang menyukai dia. Ada saja ujian yang harus dihadapi. Rasa sakit, kecewa, merasa dikhianati itu sudah biasa dirasakan oleh Elizia. Walau begitu, dia berusaha untuk tetap sabar dan tegar menghadapi kerasnya hidup ini.
"Elizia, aku antar kamu pulang, yuk?" ajak Hamzah dengan raut wajah yang penuh harap.
Hamzah menawari tumpangan kepada Elizia karena dia sedang dalam kesulitan. Setidaknya dengan mengantar dia, lebih menghemat uang dan dijamin dari keamanannya.
"Tidak perlu repot-repot, saya bisa naik ojek online saja."
Elizia menolak tawaran dari Hamzah secara halus karena dia tidak mau memperkeruh keadaan. Dengan pulang sendiri dia merasa lebih aman dari orang-orang yang tidak suka kepadanya dan diam-diam, ada orang yang tidak suka melihat dirinya dekat dengan CEO kaya tersebut.
"Ayolah, sekali ini saja. Apa salahnya jika saya mengantar kamu?" Hamzah mendesak agar Elizia mau diantar olehnya.
CEO tersebut tidak peka terhadap keadaan. Dia tidak menyadari bahwa ada yang diam-diam mendengar dan tidak suka jika dia mengantar Elizia pulang.
"Maaf, saya tidak bisa karena ada urusan penting. Saya hanya berharap, motor 'Beat' saya bisa kembali ke rumah yang saya tinggali dalam keadaan utuh seperti semula," tegas Elizia.
Pendirian Elizia memang tetap dan kuat sekuat batu karang di laut. Jika dia mengakan tidak, ya harus tidak.
"Oke, kalau begitu. Jika kamu maunya begitu saya tidak bisa memaksa. Tetapi jika kamu dalam bahaya bisa telepon aku. Tenang saja motor kamu akan segera kembali dengan utuh," jawab Hamzah dengan agak sedikit kecewa karena tawarannya ditolak.
"Terima kasih sudah membantu saya. Kalau begitu saya pamit pergi dulu, permisi."
Lalu Elizia melenggang pergi begitu saja sambil melirik ke Zora yang masih berdiri menyimak pembicaraan Elizia dengan Sang CEO. Sedangkan teman lainnya yang bernama Lia, sudah pulang lebih awal karena dia juga mempunyai kepentingan mendesak.
'Bagus, rencaanku berhasil. Aku sudah menggagalkan pertemuan antara Hamzah dan Elizia' batin Zora dengan lirih dan yang tau batinnya adalah dirinya sendiri.
Elizia berencana untuk pergi ke butik untuk membeli gaun di pesta pernikahan mantan suaminya dengan Rihana. Untuk menuju butik, Elizia memesan ojek online.
Ojek online itu mengantar Elizia sampai ke butik setelah sepuluh menit berkendara. Lalu dia turun dari ojol yang dia naiki lalu membayar ongkos perjalanan kepada abang ojol.
__ADS_1
Lalu Elizia memasuki salah satu butik yang terkenal di kotanya. Dia akan membeli gaun dengan uang tabungannya yang lumayan bisa untuk membeli berbagai keperluan pribadi.
"Selamat datang di butik milik kami. Ada yang bisa saya bantu, Kak?" Seorang karyawan cantik semampai menyapa dan bertanya kepada Elizia dengan senyum ramah.
"Saya mencari gaun yang sekiranya cocok untuk dipakai acara resepsi pernikahan kerabat saya," jawab Elizia sambil matanya melihat ke samping yang di situ banyak gaun yang indah dan beraneka ragam bentuk dan model. Dia bingung jika memilih gaun yang tepat yang seperti apa.
"Baik, saya akan mencarikan gaun yang cocok untuk Kakak."
Karyawan toko tersebut mulai berjalan ke arah gaun-gaun yang di gantung di rak gantung. Lalu dia memilih beberapa gaun yang sekiranya cocok dipakai kepada tamunya yang baru datang. Tidak lain adalah Elizia.
"Oke. Saya juga akan meihat-lihat gaun di sana siapa tahu ada yang cocok." Elizia menunjuk area yang belum pernah ia pijaki. Setelah sampai di situ dia mulai melihat-lihat gaun yang indah dengan berbagai motif dan warna.
Lalu Elizia akan mengambil beberapa gaun untuk dicoba. Namun, dia terkejut karena matanya tidak sengaja beradu pandang dengan Zafian yang kebetulan juga berada di butik tersebut.
"Kamu di sini juga?" tanya Zafian kepada Elizia dengan tatapan elangnya.
Tiba-tiba Zafian mencekal tangan Elizia dengan kuat seraya berkata,
"Liz, cepat katakan kamu sekarang tinggal di mana dan bersama siapa?" tanya Zafian kepada Elizia yang masih mencekal erat tangan Elizia.
"Lepaskan tangan kotor kamu, Mas! Kamu tidak perlu tahu di mana dan dengan siapa aku tinggal. Kau sudah tega mencampakkan diriku," jawab Elizia dengan suara agak lirih yang ditekan dan matanya berkaca-kaca.
"Elizia, maafkan aku. Aku terlalu jahat denganmu. Setidaknya saat ini aku menyesalinya. Aku sadar, aku lebih nyaman denganmu dari pada dengan Rihana." Terucap kata maaf dari Zafian untuk Elizia namun tidak membuat hati Elizia goyah.
"Aku tidak percaya ucapan kamu lagi, Mas! Jangan coba-coba mendekati aku lagi!" Elizia mendongakkan kepala sambil menatap Zafian dengan mata yang membola.
"Elizia, jika kamu seperti itu kamu sangat cantik!" ucap Zafian memuji kecantikan Elizia.
Elizia sedikit pun tidak tertarik dengan pujian dari Zafian, kini Elizia akan menjauhi mantan suaminya tersebut. Namun, sebelum dia melangkahkan kaki untuk pergi, Rihana sudah berada tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Hei, ngapain kamu di sini wanita lusuh? Kamu mau godain calon suami orang ya? Dasar kamu ...."
Sebelum Rihana menuntaskan cercaan kepada Elizia, Elizia lalu menyumpal mulut Rihana dengan tisu yang selalu dia bawa.
"Makan tuh tisu! Emang enak!" Elizia langsung berusaha lari agar tidak dikejar oleh Rihana.
"Hei tunggu! Awas kamu ya, kalau kita bertemu lagi aku habisi kamu!" Rihana mulai membersihkan tisu yang menyumpal mulutnya. Dia merasa dongkol dan kesal melihat Elizia yang tiba-tiba muncul dihadapan Zafian.
"Mas, kamu tadi sama Elizia lagi membicarakan tentang apa hayo?" tanya Rihana menyelidik. Dia mulai terbakar api cemburu.
"Apa sih, dia hanya lewat dan kebetulan berpapasan dengan Mas," jawab Zafian ketus.
Zafian tidak suka terhadap wanita yang terlalu posesif dan pencemburu.
"Awas lho, jika Mas dekatin wanita lusuh itu lagi. Kita sebentar lagi 'kan mau nikah? Kita urusin pernikahan kita saja. Oh, ya gaun-gaun ini bagus tidak sayang?"
Rihana merengek manja kepada Zafian sambil bergelanyut manja di pundak Zafian tanpa rasa malu sedikit pun terhadap orang-orang yang melihatnya. Setelah itu, dia memperlihatkan gaun mahal kepada Zafian.
"Sudah dong, lepasin tangannya dulu, malu dilihat banyak orang. Iya, gaunnya bagus kok." Zafian mencoba melepas tangan Rihana yang bergelanyut di pundaknya.
"Hehe, iya sayang. Yuk kita ke kasir. Mas yang bayar semua gaun-gaun yang aku mau ini, ya? Buat acara pesta nanti kan ada beberapa 'seasion' yang kita lalui." Rihana merengek manja dan menyuruh Zafian membayar semua total belanjaan yang diambil oleh Rihana.
Lalu mereka segera ke kasir dan menyerahkan semua belanjaan agar di total serta dikemas rapi.
"Berapa totalnya, Mbak?" tanya Zafian kepada karyawan kasir yang bertugas.
"Total belanjaan semuanya seratus juta rupiah dan ini notanya, Kak." Karyawan kasir tersebut menyerahkan belanjaan yang sudah dikemas dan memberikan secarik nota pembayaran dengan senyum ramah.
'Apa? Banyak sekali belanjaan Rihana. Dasar wanita matre! Elizia dulu, belanja tidak sampai sejuta,' desis Zafian di dalam hatinya yang merasa dongkol karena Rihana belanja terlalu banyak hingga membuat kantongnya terkuras habis.
__ADS_1