Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Tragedi di Rumah Sakit


__ADS_3

Siang itu, Hamzah yang sudah rapi memakai kemeja berwarna hitam dan celana jeans berwarna biru tiba-tiba melihat istrinya pingsan setelah membaca surat yang diberikan oleh Annisa. Hamzah merasa khawatir dan cemas sehingga Hamzah langsung membopong istrinya menuju ranjang dan segera membaringkan tubuh Elizia.


"Elizia, bangun. Kamu kenapa pingsan, sayang? Ada apa dengan isi surat itu? Aku harus segera membacanya!"


Lalu Hamzah segera membaca surat tebal berwarna biru laut tersebut secara keseluruhan dan tidak ada satu kata pun yang tertinggal. Setelah Hamzah membaca surat itu, dia mengepalkan jemarinya dan menggeram.


'Sialan! Tega sekali keluarga Annisa menjodohkan aku dengan Annisa! Apa tidak ada pria selain diriku yang lebih baik. Aku tidak boleh menerima perjodohan ini. Aku tidak mau Elizia semakin sakit. Wanita baik seperti dia tidak pantas untuk aku tersakiti!' desis Hamzah dalam hatinya setelah membaca surat berwarna biru tersebut.


"Mas, Hamzah! Aku di mana! Mas, aku takut!"


Perlahan-lahan Elizia membuka mata dan memanggil nama suaminya. Elizia takut kehilangan Hamzah Anggara sampai-sanpai dia pingsan dan mengigau.


"Mas ada di samping kamu, sayang. Kamu takut kenapa?"


Hamzah melihat istrinya yang sudah sadar. Elizia tampak menoleh ke arah suaminya dengan tatapan sendu.


"Mas, Elizia bertanya boleh?"


Elizia ingin bertanya sesuatu kepada suaminya. Kesadarannya kini sudah pulih kembali.


"Silakan. Kamu mau bertenya apa?"


Hamzah mendekati istrinya yang masih terbaring di ranjang. Lalu Hamzah mengusap rambut indah yang tergerai panjang milik Elizia dengan lembut.


"Apakah Mas Hamzah akan menikahi Annisa? Apakah Mas Hamzah mencintai dia? Mas, coba jawab jujur, karena Elizia butuh kepastian."


Tanpa basa-basi Elizia langsung pada titik permasalahan dan menanyakan hal mengenai Annisa. Elizia tidak mau ada perasaan yang disembunyikan.


"Tidak, sayang. Mas hanya akan mempunyai istri satu yaitu kamu. Mas tidak mencintai Annisa. Mas hanya mencintai kamu. Mas tidak ada niatan sedikit pun untuk berpaling atau pun mendua dengan wanita lain. Itu hanya akan merusak rumah tangga kita yang baru seumuran jagung."


Hamzah menjawab pertanyaan dari Elizia jujur apa adanya tanpa ada rasa yang ditutup-tutupi. Hamzah akan semakin mencintai Elizia jika semakin ada tantangan yang harus dilalui dalam rumah tangga mereka. Karena karakter Hamzah mempunyai pendirian yang teguh dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun bagai batu karang yang kuat yang berada di dasar laut nan dalam. Walau pun itu keluarga dekat sekali pun.

__ADS_1


"Terima kasih jawabannya, Mas. Lantas, kita jadi menengok mamanya Annisa atau tidak?" tanya Elizia yang perlahan-lahan bangkit dari dia berbaring. Hamzah membantu istrinya menegakkan badan istrinya agar cepat bisa berdiri dengan sempurna.


"Sama-sama, sayang. Jadi. Pasti nenek Rumi sudah menunggu kita di ruang depan sana! Jika kamu sudah pulih, ayo kita berangkat!"


Hamzah menggenggam erat tangan istrinya dan berjalan menuju ruang depan. Dan benar saja nenek Rumi sudah menunggu dan sudah memakai pakaian rapi serta berjilbab. Tidak lupa kaca mata tebalnya selalu dia kenakan di kedua matanya yang sudah mulai memudar penglihatannya.


"Maaf, Nenek sudah menunggu lama di sini ya?" tanya Hamzah kepada neneknya memastikan.


"Tidak lama, kok. Baru sepuluh menit. Yasudah. Ayo kita segera berangkat agar nanti pulangnya tidak kemalaman!" perintah nenek Rumi kepada pengantin baru itu untuk segera berangkat menuju rumah sakit.


Lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil. Beberapa menit kemudian, mereka sudah menaiki mobil dan Hamzah segera menyalakan mesin mobil dan segera tancap gas.


Dua puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di rumah sakit "Siaga Medika". Mereka mulai mencari ruangan VIP nomor 9. Akhirnya mereka sampai di kediaman mamanya Annisa. Di situ terlihat Annisa sedang duduk meringkuk di ruang tunggu bersama dengan pria berumur sekitar 40 tahun dia adalah ayah Annisa yang bernama Umar. Tidak lama Hamzah langsung bersalaman dengan ayahnya Annisa dan Nenek Rumi disalami oleh Annisa beserta Ayahnya.


"Bagaimana keadaan Zulaika, hai Umar?" tanya nenek Rumi kepada ayahnya Annisa.


Nenek Rumi duduk di ruang tunggu tepat di samping nenek Rumi. Terlihat wajah sendu dari raut wajah Umar.


"Kondisi Zulaika sedang kritis. Penyakit di kepalanya semakin meyebar ke seluruh bagian kepala dan kami hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta."


"Kamu yang sabar, ya? Mungkin dengan istri kamu diberikan sakit, akan diangkat derajatnya oleh Tuhan. Kamu harus tegar."


Nenek Rumi memberi semangat kepada keponakannya yang sedang dilanda kesedihan dan musibah. Sedangkan Annisa, Hamzah dan Elizia diam dalam pikiran masing-masing.


Tidak lama dokter berperawakan jangkung berumur sekitar 30 tahun keluar dari ruang tindakan dan menemui ayahnya Annisa dan berkata,


"Anda suami dari Ibu Zulaika? Kebetulan saat ini istri Anda sudah sadar dan dia menyuruh pihak keluarga untuk menemuinya. Yasudah saya akan pergi sebentar untuk memeriksa pasien yang lainnya. Satu jam lagi saya akan ke sini kembali!"


Dokter itu memberi arahan supaya anggota keluarga dari mamanya Annisa disuruh untuk menemui pasien. Karena mamanya Annisa ingin menyampaikan sesuatu.


Mereka dengan segera memasuki ruangan VIP di mana bu Zulaika dirawat. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di ruangan tersebut. Terlihat kepala Zulaika dibalut perban yang melingkar di kepalanya. Terlihat raut wajah sayu namun masih terlihat gurat kecantikan di wajahnya.

__ADS_1


"Annisa, kamu ke sini, Nak. Oh. Ada nenek Rumi dan Nak Hamzah. Terima kasih Nenek beserta keluarga mau menjenguk saya yang sedang sakit ini. Mungkin saya tidak akan lama hidup di dunia ini."


Zulaika menyapa Annisa dan juga nenek Rumi beserta Hamzah. Terlihat tanda-tanda dari ucapan Zulaika bahwa dia tidak akan lama hidup di dunia. Tetapi kehendak Tujan siapa yang tahu.


"Mama pasti sembuh kok. Mama harus semangat jangan pesimis! Kita perbanyak doa dan berdzikir agar penyakit Mama cepat diangkat oleh Tuhan dan kita bisa berkumpul kembali."


Suami Zulaika yang bernama Umar memberi motivasi agar istrinya kuat menjalani ujian rasa sakit yang diberikan oleh Tuhan. Terlihat Annisa menangis sesenggukan melihat mamaya mengalami sakit parah. Setelah lima hari koma, kini baru saja Zulaika sadar.


"Sudah jelas, Ayah. Mama tidak bisa sembuh tinggal menunggu hari saja meninggalkan dunia fana ini. Sebelum saya pergi, saya mau menitipkan Annisa kepada Nak Hamzah. Sudah dari dulu, cita-cita saya adalah menikahkan Annisa anak saya satu-satunya dengan cucu Nenek Rumi yakni Hamzah Anggara karena saya yakin, Nak Hamzah adalah calon imam yang baik. Bagaimana Nak, apakah kamu setuju menikah dengan Annisa?"


Zulaika dengan jelas mengatakan bahwa anak gadisnya berharap bisa bersanding dengan Hamzah Anggara. Dia tidak tahu bahwa Hamzah sudah mempunyai istri yakni Elizia yang juga ada di situ berdiri tepat di belakang Hamzah.


Degh!


Hati Hamzah seketika seperti tersampar petir karena dia tidak bisa menerima keputusan dari mamanya Annisa yang bersikeras ingin menikahkan Hamzah dengan Annisa. Mamanya Annisa tidak sadar bahwa Hamzah sudah mempunyai istri dan berdiri tepat di belakang Hamzah. Lalu semua pandangan tertuju kepada Hamzah yang tegang. Nenek Rumi mulai tidak tenang keponakannya berbicara seperti itu. Lantas nenek Rumi segera angkat bicara.


"Zulaika, kamu harus mementingkan kesehatan kamu terlebih dahulu. Soal jodoh Annisa serahkan kepada Tuhan. Jangan memaksakan kehendak."


Nenek Rumi memberi nasihat kepada Zulaika tanpa mentakiti hatinya. Nenek Rumi tidak mau berterus terang terlebih dahulu agar penyakit keponakannya tidak semakin parah.


"Nenek, saya itu mementingkan masa depan anak saya! Sebelum saya meninggalkan dunia ini, Annisa harus bersama pria yang bisa dipercaya dan mendidik dia dengan baik yaitu dengan Hamzah Anggara!"


Zulaika semakin tegas dalam mengutarakan maksudnya. Dia kekeh untuk untuk bisa menikahkan Hamzah dengan Annisa walau dia tahu, Hamzah hanya menganggap Annisa sebagai keluarganya tidak lebih. Anak dan ibu sama-sama keras kepala. Tidak ada pilihan lain, Hamzah harus berterus terang kepada Zulaika dan berkata,


"Tante, maaf. Bukannya saya menolak menikah dengan Annisa tetapi saya sudah mempunyai istri dan sudah menikah sebulan yang lalu. Saya tidak mau menyskiti istri saya lebih dalam lagi jika saya menikah dengan Annisa."


Dengan nada lirih Hamzah berterus terang karena Hamzah sangat mencintai Elizia dan apa pun resikonya Hamzah harus berani menghadapi.


"Apa? Kamu sudah menikah Hamzah? Di mana istri kamu. Jika saya melihatnya saya akan bunuh dia!"


Dengan lantang terucap dari bibir Zulaika dan mengancam akan membunuh Elizia. Lantas, nafas Zulaika mulai tersengal dan tidak beraturan.

__ADS_1


"Cepat panggil dokter, Yah! Mama tidak bisa benapas!"


Annisa berteriak kepada ayahnya untuk segera memanggilkan dokter karena tiba-tiba nafas Zulaika seperti dicekik dan matanya memelotot ke atas langit-langit seperti disiksa.


__ADS_2