Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Tragedi di Balik Acara Yasinan


__ADS_3

Sore itu, Hamzah terdiam sesaat dan mencari cara untuk bisa keluar dari kamarnya karena Annisa mengancam akan membunuhnya jika tidak mau menuruti kemauannya. Muncul sebuah ide dalam pikiran pria dewasa tersebut. Lalu Hamzah mulai berkata,


"Oke. Aku akan menuruti kemauan kamu. Tetapi kamu harus membuang pisau itu jauh-jauh. Bagaimana?"


Hamzah yang masih berdiri tidak jauh dari Annisa, kini mulai melakukan misi ide yang pertama. Jika dia gagal maka, terpaksa harus menggunakan ide kedua yang sudah dia pikirkan secara matang.


"Oke, aku akan membuang pisau tersebut di kolong ranjang tidur ini. Tetapi Mas jangan sampai membohongi aku. Jika sampai Mas membohongi aku maka, aku akan melakukan hal yang lebih kejam dari ini."


Annisa mengancam Hamzah jika membohongi dirinya. Akhirnya dengan segera pisau tajam tersebut dia lemparkan ke kolong ranjang milik Hamzah Anggara. Lalu Annisa segera membuka kancing gamis yang dia pakai dan membuka kerudungnya. Kini, Annisa hanya memakai pakaian yang kurang bahan dan sangat ketat.


"Mas, ayo kita mulai permainan kita! Atau aku akan membuat suatu hal yang lebih kejam dari ini!"


Annisa sudah berada di atas ranjang dengan posisi duduk dan memamerkan kedua mahligai indahnya di depan Hamzah Anggara namun, pria gagah itu menundukkan pandangan yang ada dipikirannya adalah Elizia seorang.


Ting!


Terdengar bunyi anak kunci yang jatuh dari saku gamis milik Annisa dengan sigap tangan Hamzah mulai meraih anak kunci tersebut dan berlari menuju pintu dan segera membuka pintu tersebut. Tepat di hadapannya sudah ada Elizia yang menatap Hamzah seperti patung. Lalu mereka segera bertata muka seraya Hamzah berkata,


"Elizia, kamu mendengarkan semua pembicaraan tadi? Mas tadi tidak bermaksud menyetujui permintaan hina dari Annisa, tetapi karena suatu ide supaya bisa keluar dari kamar itu dan ternyata benar, kuncinya ada di saku gamis milik Annisa!"


Hamzah badannya bergetar dan tidak karuan takut istrinya akan marah atas kejadian ini. Dia tidak mau kehilangan istri yang sangat dicintainya.


Hamzah tidak punya cara lain selain dengan berpura-pura menyetujui permainan yang direncanakan Annisa. Dia berharap akan berhasil keluar dari kamarnya dan alhasil rencananya membuahkan hasil.


"Elizia paham Mas! Ayo cepat kita segera menemui orang tua Mas Hamzah! Hal ini tidak bisa kita biarkan! Annisa sangat kejam dan tidak mempunyai urat malu sedikit pun! Mas, Elizia sudah merekam pembicaraan kalian! Jadi, Mas tidak perlu khawatir!"


Elizia geram dan menyuruh suaminya untuk mengadu kepada orang tua Hamzah Anggara. Karena dia ingin masalah ini cepat selesai.

__ADS_1


"Istriku, kita harus bersabar dulu. Kita tunggu sampai acara yasinan ini selesai karena acara ini sangat penting. Nah, setelah acara selesai, kita serahkan bukti rekaman itu kepada ayah dan mamaku."


Elizia lalu mengangguk pertanda setuju dengan usul suaminya. Dengan segera mereka lari menuju ruang tamu agar berada di keramaian agar Annisa tidak berbuat masalah kembali.


Rumah nenek Rumi lumayan luas dan kebetulan kamar Hamzah berada di sudut ruangan paling ujung belakang dekat dengan pekarangan almarhumah nenek Rumi. Jadi, Annisa bisa leluasa membuntuti Hamzah tanpa sepengetahuan orang.


Dengan segera Hamzah dan Elizia mendekati orang tua Hamzah.


"Hamzah, kamu dari mana saja? Tadi pak Umar menanyakan keberadaan Annisa!"


Fatimah bertanya kepada Hamzah mengenai keberadaan Annisa. Hamzah bimbang, dalam kondisi seperti ini apakah dia harus menceritakan kepada orang tuanya. Jika tidak segera diselesaikan masalah ini, Annisa akan semakin menggila.


"Oh. Hamzah tadi berada di toilet, Ma. Perut Hamzah terasa sakit gara-gara kemarin makan sambal terlalu banyak. Mungkin Annisa lagi di dapur, Ma. Hamzah tidak melihat dia."


Hamzah sementara akan menutupi kelakuan bejat Annisa karena dia tidak mau menggagalkan acara yasinan keluarganya. Pengajian untuk mendoakan neneknya harus berjalan lancar. Hamzah berpura-pura tidak tahu mengenai keberadaan Annisa.


"Liz, ayo bantu Mama bawain camilan basah ini ke tamu-tamu yang datang! Setelah ini kita sholat berjamaah, ya? Nanti pihak bapak-bapak biar pada ke masjid. Sebentar lagi mau maghrib tetapi tamu masih ada yang datang!"


Fatimah meminta Elizia untuk membawakan camilan basah di ruang tamu yang digelar karpet panjang dan dibuat lesehan agar tamu yang datang nyaman. Ibu mertua Elizia kewalahan membawa piring-piring berisi sajian basah karena tadi mengambilnya terlalu banyak.


"Siap, Ma. Mana piringnya, Eliz yang bawa!"


Lalu Elizia berjalan ke arah ruang tamu untuk meletakkan beberapa piring yang terdapat camilan basah berupa wajik, juadah dadar gulung dan masih banyak lagi. Para ibu-ibu tetangga memang jago membuat masakan tradisional untuk memanjakan lidah para tamu. Terlihat para tamu tidak sungkan untuk mencicipi makanan tersebut.


"Wah, Liz, piringnya kurang. Mama mau mengambil di lemari ruang sana dulu ya? Kamu menggantikan kerjaan Mama dulu, sebentar kok."


Fatimah kehabisan piring untuk meletakkan wadah makanan. Dia menyuruh Elizia untuk menggantikan tugasnya sementara.

__ADS_1


"Siap, Ma. Elizia akan menata hidangan ini dengan rapi bersama Bu Darsi."


Elizia mengangguk kepada ibu mertuanya. Dia dan bu Darsi tetangganya ditugaskan untuk menyuguhkan hidangan bagi para tamu yang masih datang. Sementara Fatimah berjalan ke arah ruangan khusus dekat dengan kamar Hamzah dan Elizia berada untuk mengambil beberapa dus piring yang tersimpan di lemari khusus peralatan rumah tangga. Almarhumah nenek Rumi memiliki koleksi barang-barang rumah tangga yang begitu banyak dan lengkap sehingga saat ada acara penting tidak perlu membeli.


Tanpa sadar, Annisa masih berada di kamar Hamzah dan Elizia. Dia merasa sakit hati dan kecewa karena Hamzah membohonginya. Mau tidak mau dia segera memakai gamisnya kembali dan takut ada orang yang melihatnya dalam keadaan berpakaian minim seperti itu.


Kini Fatimah hampir sampai di ruangan khusus tersebut, tetapi tiba-tiba dia melihat Annisa baru keluar dari kamar milik Hamzah dan Elizia. Terlihat raut wajah Annisa yang sedang bersedih hati. Sontak Fatimah kaget dan berkata,


"Annisa kamu kok ada di sini? Saya dari tadi tidak melihat kamu dan ternyata di sini?"


Fatimah yang tidak sengaja lewat di ruangan kamar milik Hamzah dan Elizia dikejutkan dengan Annisa yang baru keluar dari kamar tersebut. Fatimah mulai berprasangka buruk terhadap Annisa. Dia tidak menyangka wanita yang dikira sholehah ternyata berani masuk ke kamar orang lain tanpa seizin Tuan Rumah.


"Sa-saya tadi sedang berdua bersama mas Hamzah di kamar dan mas Hamzah sekarang sudah keluar duluan. Saya dipaksa mas Hamzah untuk melakukan hubungan suami istri saat orang lain tidak ada. Saya berusaha menolaknya tetapi mas Hamzah malah memaksa dan menarik gamis saya sampai robek."


Dengan terbata Annisa menjawab dengan sejuta kebohongan kepada Fatimah. Dia berpura-pura memasang tampang melas dan sedih padahal hatinya sedang tersenyum dan penuh dendam dengan Hamzah Anggara.


Sontak Fatimah terkejut dan sulit untuk mempercayai wanita seperti Annisa. Tetapi hatinya masih ragu karena Annisa mempunyai bukti bahwa gamis di bagian pundak milik Annisa sedikit robek.


"Benarkah itu Annisa? Kamu jangan berusaha memfitnah anak saya, ya? Oke. Setelah acara yasinan ini selesai, kamu dan ayah kamu, jangan pulang terlebih dahulu! Kita akan mengadakan sidang keluarga secara rahasia!"


Dengan tegas Fatimah menyuruh Annisa untuk tidak pulang terlebih dahulu setelah acara yasinan selesai. Fatimah ingin segera mengungkap siapa yang salah dan benar karena hatinya kini berubah menjadi tidak karuan dan bergemuruh.


"Be-benar, Tante. Mas Hamzah tega menodai saya, padahal Annisa ingin menikah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan tersebut!"


Annisa berpura-pura telah dinodai oleh Hamzah, padahal itu hanya obsesinya agar dia bisa menikah dengan seorang CEO bernama Hamzah Anggara. Dia tidak menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Cukup Annisa! Kamu segera ganti gamis kamu dengan gamis saya dan kamu segera ikuti acara yasinan! Kami tidak mau masalah ini terdengar oleh siapa pun!"

__ADS_1


Fatimah memijat keningnya karena masalah baru telah muncul. Pikirannya tidak tenang saat mendengar penuturan dari Annisa. Dia tidak sabar ingin segera mengungkap masalah tersebut malam ini juga karena dia tidak mau dihantui oleh bayang-bayang masalah yang membuat kacau pikirannya.


__ADS_2