
Ibu-ibu grub Gengster tersebut mendengar Suara seperti petasan meledak dan membuat mereka kaget. Elizia dan nenek Rumi pun kaget dan ikut Mereka dan berusaha menemukan sumber suara tersebut. Tiba-tiba seorang pria berumur 27 tahunan berlari-lari meminta pertolongan.
Dia adalah Zafian mantan istri Elizia.
"Tolong! Rumah saya kebakaran!" Zafian meminta tolong kepada warga karena rumahnya kebakaran dan terlihat wajah cemas darinya.
Kebetulan rumah nenek Rumi tidak jauh dari rumah Zafian hanya beda satu RT. Keluarga Zafian tidak menyadari jika Elizia bertetangga dengan mereka.
Para warga berduyun-duyun ke rumah keluarga Zafian termasuk nenek Rumi dan Elizia.
"Tidak, tidak mungkin rumah mewahku sekarang kebakaran!" Widya menangis sesenggukan karena sebagian rumahnya habis terbakar. Sinta anak sulung bu Widya berdiri mematung melihat kejadian tersebut. Dia masih belum percaya atas kejadian yang menimpa keluarga itu.
"Ma, kita harus tenang, 'kan kebakarannya hanya setengahnya. Kita bisa merenovasi lagi. Mama tadi ninggalin kompor gas dalam keadaan menyala jadinya begini." Zafian menenangkan ibunya 'Widya'.
"Tetapi 'kan barang-barang dan elektronik kita habis tak tersisa lagian ini juga hari bahagia kamu dan Rihana. Nanti kalian 'kan akan mengadakan acara tunangan dengan mengundang beberapa teman kamu di kantor. Tapi malah kita terkena musibah," jawab Widya yang masih sedih dan kecewa.
"Mama sih, berani ninggalin kompor saat masak. Lain kali Mama harus berhati-hati," ucap Sinta yang kecewa dengan ulah mamanya sambil mengerucutkan bibir.
"Iya. Deh. Pokoknya Mama kapok ninggalin kompor dalam Keadaan menyala," jawab Widya merasa khilaf dan trauma karena kecerobohannnya.
Kebakaran tersebut terjadi karena bu Widya meninggalkan kompor ketika memasak tumis kangkung. Dia tinggal sebentar untuk ngerumpi di rumah tetangganya. Selama beberapa menit baru teringat bahwa Widya sedang memasak.
Para warga membantu memadamkan api sampai surut. Dan banyak dari RT lain yang berdatangan karena penasaran.
Waktu menunjukan pukul 17.00 WIB. Pak Sujono tidak lama mulai menghentikan motornya setelah seharian bekerja di Balai desa sebagai Camat. Dia heran karena rumahnya didatangi banyak orang.
__ADS_1
"Pak Imron, ada apa dengan keluarga saya? Kok di rumah saya terlihat rame." Pak Sujono belum mengetahui bahwa sebagian rumahnya telah dilalap oleh jago merah.
"Bapak, belum tahu toh? Rumah Bapak tadi kebakaran dan sebagian rumah bapak dilalap api dan hangus tak tersisa karena tabung gas yang meledak," jawab pak Imron kepada pak Sujono yang belum mengetahui bahwa rumahnya mengalami kebakaran.
'Ya Tuhan. Kenapa bisa seperti ini?' desis pak Sujono di dalam hatinya. Lalu pak Sujono segera mencari istri dan anaknya Zafian dan Sinta yang libur bekerja karena hari itu adalah hari tunangan Zafian dengan Rihana.
Sebelum sempat bertemu dengan istri dan anaknya pak Sujono melihat Elizia sedang ikut membersihkan rumahnya yang terkena si jago merah. Lalu Sujono mendekati Elizia dan berkata,
"Elizia? Itu 'kah kamu?" tanya Sujono yakin bahwa itu memang Elizia.
"Ayah?" Seketika Elizia terkejut melihat ayah mertuanya mendatangi dirinya. Nenek yang duduk di teras halaman milik keluarga itu mulai mengamati mereka.
"Elizia. Ayah baru pulang dari Balai Desa. Ayah baru tahu saat pulang kalau rumah saya kebakaran. Saya sedang mencari Widya dan anak saya tetapi belim bertemu," ungkap Sujono dengan cemas.
"Mas Zafian berada di ujung ruangan sana, kayaknya." Elizia menunjuk ke arah suatu ruangan untuk memberi tahu keberadaan keluarga pak Sujono.
"Benar, Yah. Perkenalkan ini Nenek Rumi yang memyelamatkan saya dan memberi tumpangan kepada saya, tetapi hal ini jangan diberatahukan kepada mas Zafian, Ibu dan Mbak Sinta. Saya malas kalau mereka mengganggu saya lagi," jawab Elizia dan memperkenalkan nenek Rumi dengan pak Sujono.
"Anda siapanya Elizia ya?" tanya Nenek Rumi menyelidik kepada Sujono.
"Saya mantan mertua dari Elizia. Terima kasih, Nenek sudah membantu Elizia dalam masalahnya. Saya sebenarnya juga ikut prihatin. Saya hanya bisa mendoakan supaya Elizia berkehidupan lebih baik dari pada saat bersama anak saya Zafian yang membuat saya kecewa." Sujono memeperkenalkan diri dengan nenek tersebut.
"Oh. Jadi kamu mantan Ayah Mertua Elizia? Kamu baik tidak seperti istri kamu yang sangat julid itu. Bilangin ke istri kamu agar tidak suka menghina orang kecil seperti kita," ungkap nenek yang menyembunyikan jati dirinya. Padahal nenek adalah orang kaya raya.
"Baik, Nek. Saya sudah berkali-kali menasihati anak dan istri saja namun mereka masih sama saja. Mungkin Tuhan belum memberikan pintu hidayahnya." Lalu Sujono meminta diri untuk mencari keluarganya.
__ADS_1
Lalu pak Sujono berjalan menurut apa yang dikatakan Elizia. Tidak lama mereka bertemu dengan Widya, Zafian dan Sinta.
"Ayah sudah datang? Yah. Rumah kita terbakar dan banyak kerugian atas kebakaran tersebut," ucap Widya yang mengeluh kepada suaminya.
"Iya. Ayah sudah tahu. Kita bersabar saja jangan terlalu sedih. Anggap saja ini karma bagi kita karena kita telah menghina Elizia." Tiba-tiba Sujono membahas tentang Elizia.
"Ayah kumat deh, selalu mengaitkan kejadian ini dengan seseorang. Mama lagi gak mau bahas wanita pembawa sial itu!" Widya yang baru saja mengalami kebakaran masih saja menghina Elizia.
"Sudah, jangan menghina Elizia terus, karena dia tidak bersalah dan tidak terlibat dengan kejadian kebakaran ini. Malu kalau dilihat warga karena Mama menghina orang." Sujono merasa tidak enak kepada warga karena istrinya dengan ceplas-ceplos menghina Elizia.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson mobil. Beberapa warga menoleh ke arah sumber suara mobil tersebut.
Wanita cantik dengan gaun merah menyala yang berpakaian kurang bahan turun dari mobil Sedan berwarna merah. Dia adalah Rihana pacarnya Zafian.
Pria hidung belang yang melihat Rihana langsung melihat tanpa mengedipkan mata karena terpesona dengan kemolekan tubuh gadis tersebut. Tetapi tidak dengan ibu-ibu anggota Gengster, mereka merasa kehidupannya akan terancam. Karena takut, suami-suami mereka aka direbut oleh wanita calon pelakor seperti Rihana.
"Pak, ini ada apa ya? Kok di rumah Pak Sujono rame-rame begini," tanya Rihana dengan nada centilnya.
"Ini, Neng. Rumah beliau habis dilalap jago merah dan untungnya tidak secara keseluruhan. Masih ada ruang tengah dan depan yang bisa digunakan untuk bernaung," ucap bapak-bapak berkumis tipis dan memakai sarung berwarna coklat tersebut.
"Oh. Begitu. Yasudah saya mau bertamu ke rumah ini," jawab Rihana tanpa menunggu jawaban dari bapak-bapak tersebut.
Rihana lalu mencari keberadaan Zafian tidak lama mereka bertemu.
"Rihana?" tanya Zafian dengan mata berbinar karena melihat kekasih tercintanya datang.
__ADS_1
"Mas. Kamu nyebelin. Kamu tidak memberi tahu tahu aku jika rumah kamu kebakaran. Tahu gitu acaranya ditunda. Aku sebel bau apek seperti ini." Rihana jengkel dan kesal karena Zafian tidak menghubungi Rihana.
"Kok ngambek sih, 'kan Mas lagi kena musibah. Belum sempat pegang HP," jawab Zafian dengan muka ditekuk karena gusar. Yang seharusnya Rihana mengucapkan kesedihan malah menyalahkan dirinya.