Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Bingkisan Yang Membuat Terpana


__ADS_3

Pukul 17.30 sore, Elizia yang saat itu akan ke warung bu Tuti melihat seorang pria jangkung berwajah tampan sedang turun dari mobil menghampirinya. Di tangan pria itu sedang membawa beberapa bingkisan yang isinya entah apa. Elizia merasa tidak enak didekati oleh seorang pria karena takut menimbulkan penilaian yang buruk di mata tetangganya. Setelah pria itu bertemu dengan Elizia tepat di hadapannya, pria itu menanyakan kepergian Elizia. Sehingga Elizia berkata,


"Do-dokter Rama? Saya hendak ke warung bu Tuti untuk membeli sesuatu."


Dengan terbata Elizia menjawab pertanyaan dari dokter Rama Andhika. Dia selalu datang secara tiba-tiba dan membuat jantung Elizia berdegup kencang. Karena dokter itu seperti menghipnotis dirinya dan teringat kejadian saat di rumah sakit "Kasih Ibu" beberapa bulan yang lalu saat suaminya dan dia terjadi kecelakaan.


Tidak menyangka yang menghampiri Elizia adalah dokter Rama. Dokter yang diam-diam mencintai Elizia sejak pertama kali dokter Rama melihat Elizia di Panti Asuhan yang didirikan oleh mamanya.


"Oh. Baiklah. Elizia. Saya hanya memberikan dua bingkisan ini untuk kamu. Semoga diterima, ya? Dengar-dengar kamu sudah melahirkan ya? Selamat dan semoga dedek bayinya selalu sehat dan menjadi anak sholeh. Oke saya tidak bisa lama."


Tanpa menunggu jawaban dari Elizia, dokter tampan itu berbalik arah dan menuju mobilnya kembali. Terlihat dia seperti buru-buru dan beraut wajah cemas. Tidak lama, mobil yang dia tumpangi melenggang pergi begitu saja.


Elizia lalu menggeleng-gelengkan kepala karena heran dengan dokter itu. Elizia segera melanjutkan berjalan menuju warung bu Tuti sambil membawa dua bingkisan pemberian dari dokter Rama. Lima menit kemudian, Elizia sampai di warung bu Tuti. Waktu hampir maghrib yang membeli hanya ada Elizia seorang.


"Bu Tuti, saya mau membeli kacang tanah satu kilo ya, Bu. Masih adakan?" tanya Elizia dengan senyum ramah ke arah bu Tuti.


Elizia melihat bu Tuti sedang menata jualannya dan membersihkan area warungnya karena sebentar lagi akan tutup.


"Ada, dong. Sebentar ya?"


Lalu bu Tuti mulai menimbang kacang tanah yang telah dikupas. Setelah dirasa beratnya satu kilo, dia mulai membungkus kacang yang akan dibeli oleh Elizia. Lalu kacang tanah yang sudah dibungkus dengan kantong plastik dan genap satu kilo beratnya, lalu diberikan kepada Elizia yang sudah menunggu.


"Berapa total harga kacang tanah ini?" tanya Elizia sambil mengambil uang yang terdapat di dompet kecil mungilnya.


"Dua puluh lima ribu, Liz. Eh itu bawa apa? Kok mau ke warung, kamu membawa dua bingkisan berwarna meriah gitu?"


Sambil menunggu uang dari Elizia, Bu Tuti melihat Elizia membawa dua bingkisan. Lantas, jiwa keponya meronta dan langsung menanyakan kepada Elizia perihal bingkisan itu.


"Oh. Ini, Bu. uangnya pas. Ini bingkisan dari temen saya tadi saat berpapasan di jalan. Kebetulan kita berpapasan di jalan dan teman saya memberikan ini, karena dia terburu-buru dia langsung pergi."


Elizia menjelaskan kepada bu Tuti tentang bingkisan itu. Dia tidak mau terlalu jujur tentang siapa yang memberikan bingkisan tersebut karena takut akan menimbulkan gosip yang tidak diinginkan.


"Oh. Begitu. Kira-kira isinya apa ya? Dapat rejeki ya Liz? Yasudah, keburu maghrib kamu pulang sana. Pasti dedeknya juga lagi nungguin."


Bu Tuti memberi nasihat kepada Elizia untuk segera pulang karena sebentar lagi maghrib tiba. Lalu Elizia bergegas pulang dengan membawa belanjaan dari warung bu Tuti dan dua bingkisan yang diberikan oleh dokter Rama entah isinya apa.


Tidak perlu waktu lama, Elizia sampai di rumahnya karena dia berjalan cepat. Saat itu, sudah terlihat Fatimah sedang menggendong Aslam. Sedangkan Hamzah sedang mengerjakan berkas-berkas dokumen di ruang keluarga dan ditemani dengan laptopnya.

__ADS_1


"Mama, Mama kok sudah ada di sini? Bersama siapa?"


Elizia berjalan menuju dapur sambil melihat ke arah ruang tengah dan terlihat mertuanya yang ternyata sudah berada di rumah itu.


"Iya, Liz. Mama kangen dengan Aslam. Jadi, Mama menyuruh sopir untuk mengantar ke sini," jawab Fatimah dengan tegas.


Fatimah kangen dengan cucu satu-satunya. Karena anaknya hanyalah satu orang yakni Hamzah Anggara.


"Oh. Iya, Ma. Eliz mau masak pecel lele nih. Mama apa mau sembahyang maghrib dulu?" tanya Elizia memastikan kepada mertuanya sebelum dia ke dapur untuk memasak.


Elizia tidak mau merepotkan mertuanya walaupun memang dia membutuhkan seorang yang bisa momong Aslam saat Elizia sedang sibuk.


"Mama sudah sholat kok. Kamu jika ingin masak, masak saja. Kamu lagi libur sholat 'kan?"


Fatimah memerintah Elizia untuk melakukan aktifitas yang mungkin Elizia masih banyak pekerjaan.


"Iya, Eliz masih libur sholat. Elizia akan segera memasak."


Sebelum memasak, Elizia pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk membuka dan meletakkan bingkisan tersebut di atas ranjang tidurnya. Suami dan mertuanya tidak sadar kalau Elizia sedang membawa dua tas berisi bingkisan entah apa itu.


Tidak lama, Elizia mulai membuka bingkisan itu satu persatu. Dia mulai membuka bingkisan tas kardus berwarna coklat. Dia mulai mengeluarkannya dari tas tersebut. Dan dia terperanjat kaget.


gumam Elizia dalam hatinya dengan perasaan menggerutu.


Dia lalu melempar lingerie berwarna pink tersebut di kolong ranjangnganya. Takut jika suaminya akan mengetahui. Lalu dia membuka dua tas kardus yang belum dia buka. Dan ternyata isinya adalah biskuit ibu menyusui dan gamis elegan berwarna navy.


Setelah mengetahui isi bingkisan tersebut, lalu dia letakkan di kolong ranjang. Sebelum Elizia memberi tahu kepada suaminya, lebih baik dia simpan terlebih dahulu. Nanti jika sudah ada waktu senggang, baru dia akan memberi tahu tentang bingkisan tersebut. Saat diteliti ternyata terdapat secarik kertas berwarna biru bergambar 'hello kitty' dan tertera sebuah tulisan.


"Elizia, semoga kamu menyukai bingkisan yang saya berikan. Dan, saya tidak bisa memiliki kamu, namun, setiap saat saya pasti akan menemui kama dan kapan pun, hatiku selalu ada untukmu. Maaf, kalau saya lancang. Saya harap, suami kamu tidak mengetahui tulisan ini agar suami kamu tidak marah."


Begitulah bunyi pesan pada secarik kertas yang diselipkan oleh dokter Rama di dalam salah satu tas kardus tersebut.


Degh!


Pesan itu membuat hati dan pikiran Elizia berantakan. Dia takut Rama akan sering menemuinya dan membuat suaminya akan marah. Tetapi, saat ini dia tidak akan terlalu memikirkan tentang Rama. Dia harus segera memasak karena pasti suaminya sedang lapar dan mertuanya lelah menggendong Aslam.


Dia berlari kecil menuju dapur untuk meracik bumbu untuk memasak pecel lele. Dua puluh menit kemudian, Elizia berhasil membuat pecel lele dan menghidangkannya di meja makan. Aroma sambel pecel menguar di hidung sehingga membuat perut Elizia keroncongan. Namun, dia akan memanggil suami dan mertuanya untuk makan terlebih dahulu. Saat sampai di ruang keluarga Elizia berkata,

__ADS_1


"Ma, Mas, hidangan pecel lelenya sudah matang. Mari silakan dinikmati. Keburu malam."


Elizia dengan senyum kalem menyampaikan bahwa masakannya telah selesai dia masak. Tidak perlu ada yang harus ditunggu-tunggu lagi.


"Liz, Hamzah, kalian makan dulu! Mama bisa menyusul, kasihan Elizia dia harus makan untuk memenuhi ASI untuk keperluan bayinya. Saya tadi, kebetulan juga sudah makan. Aslam masih tenang bersama Omanya."


Fatimah memanglah mertua yang sangat pengertian dan gemati terhadap mantu dan cucunya. Dia tidak akan membiarkan mantunya yang masih menyusui telat makan dan kurang makan.


"Baik, Ma. Terima kasih sudah mau menggendong Aslam. Mas, makan dulu yuk? Mumpung Aslam masih bersama Oma," ajak Elizia kepada sang suami yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.


"Ayo! Mas juga sudah lapar. Pasti enak masakan buatan istri Mas."


Hamzah Anggara mulai berdiri lalu menggamit tangan Elizia supaya mau diajak makan bersama.


Tidak perlu waktu lama kedua pasangan sejoli yang sudah terikat pernikahan halal itu menikmati hidangan pecel lele buatan Elizia. Elizia memilih menu tersebut karena kepengin yang segar-segar agar ASI-nya mengalir deras dan Aslam tercukupi gizinya.


"Hem, sambal nya nendang! Bikin nagih. Beneran 'kan, masakan kamu itu enak," ujar Hamzah memuji masakan Elizia kembali.


Dia sangat ketagihan dengan masakan istrinya yang selalu membuat masakan rumah yang tidak membosankan. Pantas saja, Hamzah memperjuangkan istri seperti Elizia.


"Jika enak, bisa nambah lagi dong, Mas," jawab Elizia sambil mengunyah makanan tanpa menggunakan sendok. Elizia terbiasa jika makan menggunakan sambal menggunakan tangan karena rasanya lebih nikmat.


Saat mereka tengah asik menikmati hidangan makanan di malam hari, Fatimah berjalan mendekti Elizia dan Hamzah yang tengah makan. Fatimah pun berkata,


"Hamzah, Elizia, ada tamu tuh, jika sudah selesai makan, tolong temui tamu terlebih dahulu. Biarlah Aslam bersama Oma."


Tanpa lelah Fatimah masih mau menggendong Aslam, apalagi malah ada tamu yang datang.


"Memangnya siapa Ma, tamu itu?" tanya Hamzah memyelidik.


Hamzah penasaran dengan tamunya yang malam-malam begini mau bertamu.


"Dokter Rama dan ibundanya," jawab Fatimah dengan kalem.


Degh!


Hati Elizia berdebar-debar kala mendengar siapa tamu yang datang tersebut. Ada keperluan apa mereka datang di rumah keluarga mereka.

__ADS_1


'Haduh, dokter Rama mau ngapain ya? Semoga hanya silaturahmi biasa saja? Kok hati ini rasanya berdebar-debar,' desis Hati Elizia saat itu.


__ADS_2