Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Kejadian di Taman


__ADS_3

Di pagi itu, di sebuah taman kota yang tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Hamzah, pedagang balon terheran-heran mendengar perkataan bocah kecil yang menurutnya tidak biasa dari anak seusianya. Bocah itu tidak lain adalah Aslam Anggara anak dari pasangan Hamzah Anggara dan Elizia.


Pada waktu itu, Fatimah yang ingin melihat cucunya karena sudah kangen. Dia ingin mengajak Aslam ke sebuah taman kota untuk berjalan-jalan agar Aslam mengenal dunia luar dan menambah stimulasi otak motoriknya.


Seorang pedagang balon menawari Aslam untuk membeli sebuah balon yang bermacam-macam jenis kartun mulai dari Upin-Ipin, Masya, Tayo dan masih banyak lagi. Namun, Aslam sedikit pun tidak tertarik. Dia malah merasa kasihan terhadap balon-balon itu yang dianggapnya hidup. Padahal itu adalah benda mati dan untuk menghibur anak-anak agar senang dan tidak rewel.


"Adik manis, ini balon buat mainan. Bukan makhluk hidup. Coba adik pegang?"


Pria itu mencoba menjelaskan memgenai balon mainan tersebut kepada Aslam. Pria itu gemas melihat tingkah Aslam yang mencoba untuk memahami perkataan pria jangkung tersebut.


Pria tersebut memakai topi bundar berwarna biru. Memakai kaos bermerek 'DG' dan memakai celana jeans. Secara tidak sadar, Fatimah memperhatikan pria tersebut dan sepertinya tidak asing dia lihat. Tetapi dia agak lupa. Lalu, beberapa detik setelah berpikir, Aslam mulai mendekati pria tersebut dan berkata,


"Oh. Mainan. Hai mainan? Namaku Aslam. Nama kamu siapa?" tanya Aslam dengan polosnya mengajak balon yang berwujud Upin-Ipin berbicara sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan. Sekian menit, Aslam menunggu balon itu berbicara namun tidak kunjung menjawab.


"Tuh, 'kan mainannya diam 'kan? Karena itu cuma balon, Dik. Bukan makhluk hidup. Nih, Om pencet ya? Masih diam 'kan?"


Pria itu berjongkok dan tersenyum memandang Aslam yang imut dan terdiam karena balonnya tidak menjawab ketika dia mengajak bicara. Sedangkan Fatimah masih terdiam melihat tingkah cucunya yang menggemaskan.


"Hehe."


Aslam hanya tersenyum kala mendengar balon itu dipencet oleh pedagang tersebut. Lalu Fatimah mulai berkata,


"Aslam, Oma beli satu balonnya ya? Buat nemenin Aslam di rumah?"


Fatimah menawarkan Aslam untuk membeli balon itu, karena dia kasihan melihat pedagang rupawan tersebut.


"Oh. Buat teman Aslam. Mau dong Oma. Tapi keluarga balon itu tidak nangis 'kan jika balonnya dibeli Aslam satu," jawab Aslam dengan polosnya.

__ADS_1


Aslam sangat kegirangan ketika Oma ingin membeli balon untuk menemani Aslam. Aslam masih menganggap balon itu hidup.


"Om, beli balonnya satu ya? Maaf, nama Mas nya siapa ya? Sepertinya saya mengenal Anda."


Fatimah memesan balon satu kepada pedagang tersebut serta penasaran siapa nama orang tersebut.


"Siap. Beli yang mana, Tante? Nama saya Zafian. Memangnya ada apa ya Tante?"


Ternyata pria jangkung tersebut bernama Zafian. Zafian menanyakan jenis balon yang akan dibeli oleh Fatimah tersebut. Kini Zafian berubah menjadi pria baik dan mencoba mencari pekerjaan sederhana yang tidak akan bertemu dengan wanita-wanita cantik seperti saat dia menjadi manajer.


Dia berusaha menebus segala kelakuan buruknya dengan memulai lembaran baru dengan melakukan hal-hal kebaikan. Dia sudah tidak memikirkan wanita cantik. Dia fokus menata hidupnya menjadi lebih baik. Kekayaan dan pangkat membuatnya berkubang dalam lembah hitam yang sangat dalam. Dia berusaha membersihkan dari dunianya yang hitam menuju dunia yang bersih.


"Jadi Anda Zafian? Mantan suami dari Elizia. Benarkah itu? Beli yang Upin dan Ipin ya? Gak jadi satu. Jadi, belinya dua. Berapa ya Mas harganya?"


Fatimah tanpa ragu memastikan bahwa pria tersebut adalah Zafìan mantan suami dari Elizia.


Zafian tidak sadar bahwa di depan mereka ada anak dan mertua dari mantan istrinya. Zafian tidak mengenali mereka karena dulu dia tidak terlalu memperhatikan tentang keluarganya.


"Saya mertua dari Elizia dan ini Aslam anaknya Elizia yang sudah berumur dua tahun," jawab Fahimah dengan senyum keibuan.


"Ya Tuhan, saya malah baru tahu. Pantesan Aslam sangat tampan dan pintar. Seperti orang tuanya. Itu balon buat adik Aslam tidak usah dibayar ya, Tante. Sampaikan salam saya kepada Hamzah dan Elizia. Kalau begitu saya melanjutkan pekerjaan saya kembali. Sampai berjumpa kembali Aslam."


Zafian mulai terkejut dan terenyuh kala mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dari istrinya di masa lalu. Namun, dia harus segera pergi agar bayang-bayang masa lalu tidak hadir kembali. Dia akan terus membiarkan mantan istrinya bahagia dengan kehidupan barunya. Namun, sebelum dia pergi Aslam memanggil Zafian dan berkata,


"Om jangan pergi dulu. Ayo temenin Aslam makan es krim bareng. Om nya pasti suka es krim 'kan?"


Bocah kecil itu seperti mempunyai ikatan batin dengan Zafian hingga dia memanggilnya kembali. Aslam masih ingin bersama dengan Zafian.

__ADS_1


"Aslam, Om nya mau pergi dulu untuk bekerja seperti ayah. Jadi, makan es krim nya sama Oma saja ya?"


Fatimah membujuk Aslam agar tidak merepotkan Zafian. Dia takut akan mengganggu pekerjaan Zafian yang hanya sebagai penjual balon keliling.


"Gak mau, Oma. Aslam mau nya sama Om itu. Om itu baik sudah memberi Aslam temen baru. Plis, ya Oma. Aslam makan es krim sama Om itu."


Aslam merengek-rengek kepada Fatimah agar diizinkan minim es krim bersama dengan Zafian yang masih berdiri tidak jauh dari Aslam dengan senyum tulus.


"Oh. Tante. Saya mau kok nemenin Aslam makan es krim. Tenang saja Tante, ini jualan sisa tadi pagi. Jadi jangan khawatir kalau balon ini tidak laku," tutur Zafian kepada Fatimah yang bersedia menemani Aslam makan es krim sebentar. Kasihan jika anak kecil ditinggal begitu saja dan ditolak niat baiknya.


"Oh. Iya. Terima kasih sudah merepotkan. Tetapi saya saja yang membayar es krim nya. Saya tidak mau merepotkan Anda," ujar Fatimah yang tidak mau membuat susah Zafian yang kini Fatimah merasa iba dengan pekerjaan Zafian yang hanya sebagai penjual balon keliling.


Fatimah tidak mau hanya gara-gara menuruti Aslam, Zafian tidak bisa bekerja dan tidak mendapatkan uang untuk menafkahi hidupnya.


"Tidak merepotkan kok, Tante. Saya suka anak kecil. Aslam, ayo ikut dengan Om."


Lalu Zafian mengajak Aslam membeli es krim di mini market terdekat dan Aslam berjalan di samping Zafian dengan raut wajah kegirangan sambil menenteng balon Upin dan Ipin yang kini menjadi teman barunya. Sementara Fatimah mengekor di belakang mereka.


Beberapa menit kemudian, Aslam dan Zafian sudah membeli es krim lalu duduk di papan batu yang terdapat di taman.


"Es krim nya dihabiskan ya, Dik."


Sambil mengusap-ngusap rambut Aslam, Zafian memakan es krim bersama dengan Aslam. Aslam terlihat gembira saat itu. Terlihat Fatimah juga duduk di papan batu tidak jauh dari Aslam. Dia tersenyum senang melihat cucu satu-satunya bahagia.


Saat itu, tiba-tiba ada yang merampas es krim milik Aslam. Orang itu berkata,


"Oh, enak sekali ya, kalian. Malah enak-enak makan di sini. Dasar pria bejat! Tukang selingkuh! Istri hampir gila tetapi tega bersenang-senang dengan anak dari selingkuhan!"

__ADS_1


Tiba-tiba datang seorang wanita cantik berpakaian kurang bahan mengumpat kepada Zafian dan mengambil es krim yang dimakan Aslam di depan beberapa orang yang juga berada di taman tersebut untuk bersenang-senang pun juga dengan Fatimah. Wanita itu tidak punya etika bahwa di depannya ada anak kecil yang seharusnya tidak pantas berbicara seperti itu.


__ADS_2