Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Rihana Berulah


__ADS_3

Arloji menunjukan pukul 19.00 WIB. Elizia akan memasak ikan kakap pedas asam manis yang telah dia beli di mini market tadi sore. Dengan memasak, Elizia sedikit melupakan permasalahan yang menyelimuti pikirannya.


Dia sebenarnya merasa iba terhadap mantan suaminya 'Zafian' yang wajahnya memar dan terluka karena bogem yang mendarat dari tangan Hamzah secara reflek karena terbawa emosi yang berlebihan namun, salah Zafian sendiri datang di waktu dan kondisi yang sudah terlambat dan tidak tepat. Elizia hanya bisa diam dan tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi seorang pengkhianat.


"Elizia, ikan gorengnya baunya harum. Perut saya jadi terasa keroncongan ingin segera menyomot ikan tersebut."


Mama dari Hamzah yang bernama Fatimah, mendekati Elizia yang sedang menggoreng karena tercium aroma harum yang menggugah selera. Fatimah merasa senang karena nenek Rumi tinggal dengan gadis pintar dan cekatan seperti Elizia.


"Iya, Tante. Ikan ini bisa harum karena sebelum digoreng ikan tersebut saya rendam ke dalam bumbu yang di tambah dengan kunyit dan daun jeruk. Sebentar lagi matang tinggal dimasak dan dibubuhi bumbu pedas asam manis. Ditunggu ya?"


Elizia menjawab pertanyaan dari Fatimah sambil meniriskan ikan-ikan yang telah digoreng dan segera akan dimasak. Fatimah mengangguk pertanda dia mau menunggu masakan dari Elizia.


Dua puluh menit kemudian, masakan ikan kakap pedas asam manis telah matang dan siap disajikan kepada tamu besar keluarga nenek Rumi yang tidak lain adalah anak, menantu dan cucunya.


"Nek, Tante, Om dan Mas Hamzah, silakan dinikmati masakan yang telah saya buat. Semoga kalian menyukainya."


Elizia memanggil semua orang yang berada di rumah tersebut. Lalu mereka segera bergabung untuk menikmati makan malam yang terasa hangat.


'Ya Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu. Apakah aku bisa memiliki wanita hebat sepertimu,' gumam Hamzah di dalam hatinya.


Hamzah yang sedang menikmati makan malam, sesekali melihat wajah cantik alami milik Elizia. Diam-diam, dia mengagumi Elizia dan segera ingin menikahinya.


Setelah makan malam, keluarga nenek Rumi termasuk Elizia akan melaksanakan sembahyang isya secara berjamaah. Setelah selesai sholat mereka berhamburan ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


*** **** ***


"Nek, Elizia ke warung bu Tuti dulu ya? Elizia mau membeli sesuatu." Elizia berpamitan kepada nenek Rumi untuk ke warung milik bu Tuti.


Pagi itu adalah hari Minggu dimana Elizia libur bekerja. Hamzah dan kedua orang tuanya sudah pulang ke rumahnya baru saja yang berada di kota hanya beda kecamatan saja dengan tempat tinggal nenek Rumi.


Elizia berjalan menuju warung milik bu Tuti salah satu anggota Gengster. Beberapa menit kemudian, dia sampai di warung bu Tuti.


"Eh. Elizia. Kamu mau beli apa?" tanya bu Tuti dengan senyum hangat.


"Beli cabai rawitnya setengah kilo saja ya, Bu. Saya mau menyambal terasi."


Elizia memilih cabai yang masih segar dan menaruhnya di atas alat penimbang cabai. Setelah genap setengah kilo cabai itu dibungkus oleh bu Tuti dan diberikan kepada Elizia.

__ADS_1


"Totalnya berapa, Bu?"


Elizia menanyakan harga total cabai rawit yang dibelinya. Lalu dia mulai mengambil uang receh di saku bajunya.


"Tiga puluh ribu, Liz," jawab Tuti sambil menunggu uang dari Elizia.


Elizia menyodorkan uang pas sejumlah tiga puluh ribu rupiah kepada bu Tuti. Tidak lama Elizia akan segera kembali ke rumah nenek Rumi.


Sampai di tengah perjalanan, Elizia mendengar suara yang diarahkan kepadanya dengan nada nyaring.


"Hei, Elizia, akhirnya kamu muncul juga. Kamu berusaha pergi ke dukun untuk menyihir suami saya agar mengejar-ngejar untuk menikahi kamu ya? Kamu kalau iri bilang saja? Jangan dekatin mas Zafian saat aku tidak ada."


Rihana tiba-tiba mencekal tangan Elizia dengan kuat sambil menatap Elizia dengan tatapan licik dan penuh rasa dendam. Rihana belum kapok memfitnah Elizia yang sebenarnya berhati baik.


"Jaga mulut berbisa kamu Rihana? Jangan suka menuduh seseorang jika itu belum terbukti benar!"


Elizia berusaha menasihati Rihana yang suka menuduhnya dengan tuduhan yang buruk. Elizia membalas sorotan mata tajam Rihana dengan sorotan yang lebih tajam karena dia juga tidak mau terlihat lemah di depan wanita toxic seperti Rihana.


"Buktinya benar 'kan? Mas Zafian rela ke rumah tempat tinggal kamu dan rela babak belur hanya demi kamu!"


Elizia yang biasanya tenang dan kalem saat dihina Rihana, kini gemas dan sedikit emosi dia langsung bertindak. Lalu dia memotong beberapa cabe dengan tangannya.


"Rihana, nih aku kasih sarapan cabe semoga kamu suka!"


Elizia jadi meniru ilmu nenek Rumi yang menyumpal mulut seseorang yang usil dengan sesuatu. Kini Elizia menyumpal mulut Rihana dengan beberapa cabe rawit pedas yang telah di potong-potongnya.


"Uhuk, uhuk, uhuk!"


Rihana terbatuk-batuk karena tersedak cabe. Dengan cepat dia mengeluarkan sisa-sisa cabe yang masih berada dalam mulutnya lalu matanya mulai berkaca-kaca.


"Haduh pedas, tolong! Aku kepedasan!"


Rihana berlari-lari mondar-mandir karena kepedasan hingga dia tidak sadar menginjak tahi ayam yang sudah tercecer di jalanan sekitar komplek warga di pagi hari.


Ayam-ayam itu adalah milik bu Tuti yang sengaja tidak di kandang agar bisa mencari makanan sendiri. Rihana terpeleset dan tanpa sengaja mukanya terkena tahi ayam juga.


"Tidak! Bau sekali tahi ayam ini. Hik, hik, hik. Elizia! Awas kamu ya akan aku balas nanti! Urusan kita belum selesai."

__ADS_1


Rihana berteriak sangat kencang dan menyalahkan Elizia. Elizia menahan tawa dan dia segera berlari kecil untul sampai rumahnya dan membiarkan Rihana dalam kubangan tahi ayam.


"Hey, ada apa kamu Rihana? Teriak-teriak sendiri seperti orang sinting. Apa kamu tidak malu dengan tetangga?"


Widya yang mendengar teriakan dari mantunya mulai keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Widya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memencet pelipisnya yang tertempel beberapa salon pas karena kepalanya sangat pusing memikirkan menantunya yang usil karena selalu membantah perintahnya dan suka membuat kericuhan.


"Jaga mulut kamu Ibu mertua galak! Aku itu tidak akan pernah sinting! Itu lho mantan menantu kamu menyumpal saya dengan cabai rawit dan aku terkena tahi ayam yang sangat busuk. Sungguh menjijikkan!"


Elizia menangis seperti anak kecil di depan rumah bu Widya tepatnya di jalan komplek perumahan.


"Kamu memang pantas di sumpal dengan cabai karena mulut kamu sangat pedas seperti cabai itu, mengerti! Sudah cepat masuk ke dalam rumah sebelum tetangga melihat kamu seperti itu yang akan membuat Ibu semakin malu!"


Widya malah membenarkan tindakan Elizia dan menyudutkan Rihana yang sedang dalam keadaan apes. Widya sudah geregatan melihat mantunya yang selalu membuat kericuhan. Sudah tidak ada lagi perkataan manis dan senyum lembut dari Widya kepada menantunya 'Rihana'.


"Ada apa ini Rihana? Kok menangis di tengah jalan seperti ini?"


Tiba-tiba bu RT keluar dari rumahnya karena mendengar keributan di luar rumah. Dia ingin memastikan warganya dalam keadaan aman dan tidak terjadi keributan. Lalu Widya angkat bicara dan berkata,


"Biasalah Bu, menantu saya rewel jadi dimaklumi saja gih. Saya akan menyuruh Rihana untuk segera masuk ke dalam rumah."


Widya dengan kalem menjelaskan duduk perkara kepada bu RT dengan pikiran dingin supaya Widya juga tidak terpancing emosi.


"Oh. Iya saya maklumi, tetapi menantunya coba diberi nasihat supaya jangan teriak keras-keras karena akan mengganggu para warga lainnya yang sedang beristirahat. Yasudah saya pulang dulu karena saya ada keperluan penting."


Bu RT tidak bisa berlama-lama menemui tetangga rewelnya tidak lain adalah keluarga dari bu Widya.


Rihana akhirnya mau masuk ke dalam rumah setelah mendengar ulasan dari bu RT. Dia tidak mau dipermalukan lebih jauh oleh ibu-ibu komplek yang bersifat kepo.


"Zafian, kamu kok malah diam saja di ruang keluarga. Itu lho istri barumu, kamu coba nasihatin agar tidak mencari masalah terus. Pagi-pagi sudah dibuat heboh dengan teriakan yang membuat kepala ini mau pecah! Huh, dasar mantu menyebalkan."


Widya pagi-pagi sudah memarahi Zafian yang sedang mengobati lukanya di ruang keluarga.


"Mama sendiri yang ngotot supaya menikah dengan Rihana. Jangan sepenuhnya menyalahkan Zafian. Terima saja dengan legawa, Ma!"


Dengan kalem Zafian menjawab pertanyaan dari Widya. Zafian tidak mau ambil pusing. Di pikirannya kini dia hanya memikirkan penyesalannya karena telah mengabaikan Elizia. Dia berpikir keras dan merenung supaya Elizia bisa ia dapatkan kembali untuk menjadi istrinya.


Dia tidak rela Elizia menikah dengan Hamzah Anggara yang kini menjadi saingannya. Jemari tangan Zafian mengepal erat pertanda dia geram dengan keadaan ini.

__ADS_1


__ADS_2