Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Rumah Misterius


__ADS_3

Di siang itu, Elizia menangis sesenggukan sambil menempelkan kepalanya di pundak sang suami tidak lain adalah Hamzah Anggara. Ini adalah suatu kejadian tidak terduga yang membuat hatinya berasa ngilu dan membuat pasangan suami istri tersebut syok berat.


Hari-hari yang biasanya mereka selalu berkumpul dan bercanda ria dengan Aslam yang pintar dan menggemaskan, kini harus dihadapkan dengan tragedi sungguh memilukan.


Saat itu, bertepatan dengan diikrarkan janji suci pernikahan antara Rama Andhika dan Adelia, Elizia dan Hamzah terpaksa keluar dari gedung untuk menelepon kepada pihak kepolisian dan semua anak buah Hamzah Anggara dikerahkan untuk mencari Aslam ke berbagai penjuru kota.


"Mas, Eliz sangat khawatir dengan keadaan Aslam sekarang. Eliz takut Aslam akan diperlakukan semena-mena oleh penjahat. Aslam 'kan masih kecil dan polos."


Sambil meneteskan air mata, Elizia mencurahkan isi hatinya dan kecemasan hatinya terhadap Aslam kepada suaminya yang juga bingung dan berdebar-debar.


"Liz, Mas sudah menelepon pihak kepolisian dan anak buah, Mas. Kamu tenang dulu ya. Kita banyak berdoa saja kepada Tuhan. Mas yakin, Aslam adalah anak yang tegar dan cerdas. Semoga dia baik-baik saja dan segera ditemukan."


Hamzah menatap intens iris mata Elizia dan berusaha menenangkan istrinya tersebut agar tidak terlalu syok walau sebenarnya, Hamzah merasa dirinya bodoh dan kurang menjaga Aslam secara lebih hati-hati. Dia sangat menyesal akan hal itu.


"Elizia merasa berdosa Mas. Seandainya tadi, Eliz tidak terbawa suasana begitu senang dan tidak terburu-buru, pasti Aslam tidak akan hilang," ujar Elizia kepada suaminya dengan nada menyesal karena telah teledor menjaga Aslam hingga dia menghilang.


"Sayang, kamu jangan menyalahkan diri terus. Ini semua sudah takdir. Sudah, kamu tenang ya? Mas juga akan mencari Aslam secepatnya. Kamu Mas antar pulang ya?"


Hamzah dan Elizia masih berada di depan gedung tepatnya di sebuah halaman yang seperti taman. Tidak jauh dari taman itu, terdapat tempat parkir para tamu undangan.


"Biarkan Elizia ikut Mas. Karena hati ini tidak tenang," jawab Elizia dengan nada memohon.

__ADS_1


Elizia ingin ikut dengan suaminya mencari keberadaan Aslam yang kini masih belum ditemukan. Lantas, Hamzah mulai berpikir sejenak. Tidak lama, Hamzah memberi izin kepada istrinya untuk mencari Aslam bersamanya. Namun, Hamzah bingung, mau mencari Aslam ke mana.


Mereka kehilangan jejak orang yang menculik Aslam. Lalu Hamzah menyugar rambutnya karena merasa bodoh dan kecewa. Tetapi dia tidak menyerah. Tidak lama, Hamzah dan Elizia akan menuju ke parkiran mobil.


Saat mereka sampai di parkiran mobil, Elizia melihat sebuah sepatu kecil dan sisa puntung rokok seseorang.


"Lihat, Mas. Ini 'kan sepatu Aslam? Iya ini sepatu Aslam. Ada puntung rokok juga. Mas, ayo bawa sepatu dan puntung rokok ini ke kantor kepolisian untuk menyelidiki penjahat yang membawa Aslam!"


Di saat badai menerjang, akhirnya Tuhan memberikan pelangi yang cerah. Dalam artian di saat mereka mengalami musibah akhirnya Tuhan memberi sebutir petunjuk untuk memberikan solusi di setiap masalah yang mereka hadapi. Ada secuil ukiran senyum di wajah Elizia yang tadinya murung, lunglai dan tidak bersemangat melakukan apa pun.


"Benar, ini sepatu Aslam. Ayo kita segera ke kantor kepolisian untuk melaporkan bukti ini kepada pihak kepolisian agar Aslam cepat ditemukan."


Hamzah dan Elizia segera menaiki mobil. Mesin pun dinyalakan dan tidak lama mobil berwarna hitam milik Hamzah mulai melaju dengan cepat.


Saat mobil sudah terparkir, Elizia dan Hamzah segera masuk ke ke pintu utama. Terlihat petugas polisi berumur sekitar 25 tahun berjaga di ruang utama. Hamzah langsung menyalami petugas tersebut dan menyampaikan tujuan mereka.


Sebenarnya mereka sudah melaporkan kepada kantor kepolisian tersebut, namun, belum ada bukti untuk mempercepat menemukan Aslam, maka dengan adanya bukti tersebut, Hamzah dan Elizia langsung ke kantor kepolisian.


"Saya Hamzah dan Elizia yang tadi menelepon tentang anak kami yang menghilang saat berada di acara resepsi dokter Rama Andhika. Kami ke sini untuk menyerahkan barang bukti berupa sepatu anak kami dan sisa puntung rokok. Semoga dengan adanya barang bukti ini, anak saya bisa selamat dan bisa ditemukan," tutur Hamzah secara panjang lebar menjelaskan tentang penemuannya mengenai barang bukti yang bisa di sidik jari untuk mempercepat menemukan Aslam yang hilang.


Hamzah mulai menyodorkan barang bukti tersebut kepada salah satu petugas kepolisian.

__ADS_1


"Baik, terima kasih. Kami tadi sudah mengerahkan para petugas kepolisian untuk menyelidiki kasus yang menimpa anak Anda. Dan kami akan segera menyelidiki barang bukti tersebut. Mari silakan duduk," jawab petugas polisi itu dengan senyum ramah dan menerima barang bukti tersebut dan sesegera mungkin akan diselidiki.


Lalu Hamzah dan Elizia duduk di kursi panjang yang disediakan oleh petugas kepolisian untuk menunggu hasil dari sidik jari dengan harap-harap cemas. Mereka berharap segera menemukan pelaku tindak penculikan terhadap Aslam Anggara.


*** *** ***


Terparkir mobil berwarna merah di sebuah garasi yang terbuat dari besi yang sudah kusam, seorang pria jangkung yang menggunakan topi dan kaca mata yang berwarna hitam membawa masuk ke dalam rumah berukuran minimalis yang berada jauh dari pemukiman penduduk dan membawa bocah kecil berumur sekitar dua tahun. Dia adalah Aslam Anggara.


"Jangan, Om. Aslam tidak mau sama Om. Cepat antarkan Aslam pulang. Hik. Hik."


Aslam meronta-ronta saat dia dibopong oleh pria tersebut untuk masuk ke dalam rumah misterius tersebut. Tenaga pria tersebut lebih kuat sehingga, Aslam tidak bisa melarikan diri dan hanya bisa menangis.


Beberapa menit kemudian, Aslam dibawa masuk ke ruangan yang di dalamnya juga terdapat beberapa bocah laki-laki dan perempuan yang nerumur lebih tua dari Aslam. Berumur sekitar 5 tahun. Mereka sedang memakan nasi bungkus yang dimakan secara bersamaan.


"Hai, gembul. Kamu gabung bersama mereka. Jika sudah tiba waktunya persiapkan diri untuk dieksekusi!"


Pria tersebut dengan cepat menurunkan Aslam dari gendongannya. Dan menyuruh Aslam untuk bergabung dengan beberapa bocah yang sedang memakan nasi bungkus.


"Om. Apa itu eksekusi! Aslam tidak tahu! Om, Aslam masih ingin bertemu dengan Mama dan Papa," ucap Aslam kepada pria tersebut sambil menangis.


Aslam masih berdiri ditempat dan takut jika bergabung dengan beberaap bocah asing yang baru dia lihat. Jiwa kritisnya meronta maka, kata yang tidak tahu Aslam pasti akan bertanya.

__ADS_1


"Ouh. Pintar juga kamu. Kamu tahu apa itu kata 'eksekusi'? Sebentar lagi kamu akan lenyap dari dunia ini. Paham?"


Dengan mata membola lalu pria tersebut melepaskan kaca mata dan topinya. Lalu dia meringkuk dan memberi tahu kepada Aslam bahwa sebentar lagi nyawa dari bocah kecil itu akan seger lenyap.


__ADS_2