
Pada waktu sore hari, Reza yang seorang manajer di perusahaan 'JAYA GROUP' datang ke rumah Hamzah dan mengatakan akan memberikan hadiah kepada Hamzah Anggara dan hadiah tersebut Elizia harus melihatnya. Waktu itu Elizia sedang membuatkan susu formula kepada bayi milik mendiang Sina istri siri Hamzah yang baru beberapa jam telah meninggal dunia dengan cara tragis.
"Maksudnya, hadiah apa ya? Kenapa harus Elizia tahu?" tanya Hamzah menyelidik dan dengan raut wajah yang was-was.
"Saya akan memberi tahu hadiah tersebut, jika Elizia sudah berada di sini, Bos," jawab Reza dengan raut wajah yang merah padam seperti tersulut emosi.
Pada waktu siang tadi, dokter Rama Andhika datang ke perusahaan 'JAYA GROUP' ingin memberikan sebuah bukti pernikahan Hamzah dengan seorang wanita yang bernama Maryam Qonsina. Kebetulan dokter Rama Andhika langsung bertemu dengan manajer yang bernama Reza Rahardian. Karena dokter itu sangat sibuk, Reza bersedia mewakili untuk mengungkap tentang pernikahan Hamzah dengan Maryam Qonsina.
Lima menit kemudian, Elizia kembali ke ruang tamu, di situ sudah terdapat tiga orang yang sedang duduk di sofa yakni Reza, Aslam dan
Suaminya. Saat sampai di ruang tamu, Elizia memberikan susu kepada bayi tersebut sambil duduk di sofa.
"Nona, Elizia. Izinkan saya memberikan hadiah kepada Bos Hamzah dengan syarat Nona harus melihat hadiah yang akan saya berikan."
Reza memberanikan diri untuk memulai pembicaraan kepada Elizia. Dia ingin memgungkapkan sebuah fakta kebenaran yang mungkin akan sangat menyakitkan bagi Elizia. Saat itu, Aslam seperti tertidur dan akhirnya Aslam tertidur di pangkuan sang Ayah.
"Memangnya hadiah apa ya? Tumben Pak Reza memberikan hadiah kepada suami saya dan rela mampir ke sini." Kening Elizia mulai bertaut pertanda dia mulai penasaran dan tergelitik hatinya ingin segera mengetahui hadiah tersebut.
Hamzah tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya mulai cemas dan hatinya kacau tidak karuan, Hamzah merasa, Reza akan memberikan sebuah bukti pernikahan antara dia dengan Maryam Qonsina. Saat itu, Reza mengambil gawai yang berada di sakunya lalu sedang membuka layar pipih tersebut. Dia menuju sebuah konten video yang akan diberikan kepada Elizia.
"Mari kita lihat video ini bersama-sama."
Reza mulai membuka sebuah konten video dan meletakkan di meja tepat di depan Elizia dan Hamzah berada. Di video tersebut terlihat konten Hamzah Anggara yang sedang berada di rumah sakit saat awal dia datang mengantar Maryam Qonsina sampai dengan penguburan jenazah Maryam. Jadi, durasi dari video tersebut lumayan lama.
__ADS_1
Anak buah Rama Andhika sengaja dia panggil untuk menjadi mata-mata dan merekam video Hamzah sampai dengan selesai. Elizia dan Hamzah melihat video tersebut hingga tidak ada yang terlewatkan. Hamzah Anggara lunglai, lemas dan tak bisa berkutik. Elizia yang melihat konten video tersebut, air matanya luruh tak terbendung.
"Mas, coba jelaskan apa maksud dari video tersebut? Kenapa Mas tidak berdiskusi dengan Elizia terlebih dahulu? Ternyata Mas tidak benar-benar mencintai Elizia. Kamu munafik, Mas!"
Wajah Elizia menjadi merah padam saat melihat konten video tersebut. Walau Qonsina sudah tiada namun, Elizia merasa dikhianati. Dia tidak menyangka, begitu mudahnya, seorang Hamzah menikahi wanita lain demi rasa kasihan dan iba.
Hati Elizia kini merasa terluka dan rasa percaya kepada suaminya pun pudar. Sama saja seperti Zafian. Bedanya, Hamzah sembunyi-sembunyi dan itu, terasa lebih menyakitkan. Walau tidak akan menyentuh wanita yang bernama Qonsina, tetapi jika lama-lama berdekatan, pasti setan tidak akan tinggal diam.
"Maafkan Mas, Liz. Mas sangat menyesal. Ini kebodohan Mas. Tolong jangan meminta cerai dengan Mas. Beri Mas kesempatan kedua untuk memperbaiki rumsh tangga yang sempat rapuh ini."
Hamzah mendekati Elizia dan menangis di pangkuan Elizia agar diberi maaf. Hamzah tidak mau berpisah dengan Elizia.
"Cukup, Mas. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Elizia sudah tidak percaya lagi dengan seorang suami atau pun lelaki!" jawab Elizia sambil menutup mulutnya sambil menangis. Saat itu, pikiran Elizia tidak bisa berpikir secara jernih. Hati yang bergemuruh karena dikhianati itu rasanya sangat sakit. Apalagi sakitnya dua kali.
Saya tidak akan membiarkan wanita yang saya cintai tersakiti.
"Reza! Kamu ingin mencari muka di depan Elizia ya! Tega sekali kamu! Puas kamu! Elizia kini marah kepada saya!"
Hamzah kalut dan tersulut emosi akhirnya dia marah dengan Reza. Hamzah kini pikirannya sedang kacau dan menyugar rambutnya secara acak.
"Cukup, Mas! Reza itu benar, kebenaran harus ditegakkan. Jika dia tidak memberi tahu kejadian ini, Mas akan seenaknya menikah dengan wanita lain tanpa izin dengan istri sah. Salah Mas apa? Mas mengkhianati ucapan Mas sendiri saat akan menikahi Elizia. Mas bilang Mas akan setia dan hanya saya yang terindah? Tapi apa? Karena iba Mas langsung menikahi wanita asing itu dengan begitu mudahnya!"
Akhirnya Elizia mengungkapkan isi hati yang mengganjal.
__ADS_1
"Elizia. Dengarkan penjelasan Mas dulu! Mas tidak bermaksud mengkhianati kamu, sayang!" jawab Hamzah dengan hati yang masih merasa kacau dan nelangsa. Hari ini serasa bagai mimpi paling buruk baginya.
"Sudahlah, Mas. Mulai sekarang Elizia dan Aslam akan membeli rumah baru dan untuk sementara kita pisah ranjang. Elizia butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini. Dan ini, bayi ini Mas yang urus."
Dengan seketika, Elizia menyerahkan bayi anak dari Maryam kepada Hamzah yang meringkuk di sofa karena sedang kalut. Langit mendung, semendung hati penghuni rumah tersebut. Dengan satu kali keputusan yang teledor, rumah tangga mereka hancur berantakan.
"Liz, kasihan Aslam jika kita berpisah. Pasti Aslam akan kena mental. Plis. Mari kita perbaiki hubungan kita kembali. Mas tidak akan sanggup berpisah dengan wanita seperti kamu. Bunuh saja diri ini Elizia. Cepat!"
Hamzah menggenggam erat tangannya karena geram sambil memangku bayi kecil nan cantik.
"Mas, keputusan Elizia sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Pak Reza, saya minta bantuannya untuk mencarikan rumah yang nyaman yang dekat dengan resto yang saya kelola!"
Tiba-tiba Elizia meminta bantuan kepada Reza yang duduk termangu menyimak perdebatan kedua pasangan suami istri tersebut. Di sisi lain dia kasihan dengan Hamzah namun, nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah terlanjur memberikan konten video kepada Elizia.
"Baik, Nona. Akan segera saya carikan. Kebetulan kemarin rekan saya ada yang berbisnis jual rumah dekat dengan resto yang Nona Elizia kelola. Ini kartu nama saya!"
Reza menyodorkan kartu nama kepada Elizia namun, dengan sigap Hamzah Anggara mengambil kartu nama tersebut dan merobeknya hingga menjadi serpihan kertas yang kecil-kecil.
Hamzah sedang terbakar api cemburu karena istrinya meminta bantuan kepada pria lain sedangkan dirinya saja sanggup memberikan rumah untuk Elizia. Kekayaan sang CEO tidak akan habis tujuh turunan.
"Saya tidak akan membiarkan istri saya meminta bantuan kepada kamu Reza! Sekarang kamu pergi sekarang juga!"
Hamzah tersulut emosi dan akhirnya Reza berdiri dan segera pergi dari rumah Hamzah karena takut akan kemarahan Hamzah. Elizia diam membisu karena Aslam masih tertidur di sofa dan belum bangun.
__ADS_1
Jika sudah bangun, pasti Elizia akan mengajak Aslam keluar dari rumah itu untuk mencari rumah baru dan memberi pelajaran kepada suaminya. Elizia ingin menyelidiki seberapa besar cinta Hamzah kepadanya.