
Siang itu, Hamzah yang baru saja mencuci tangan di tempat cuci dapur, terkejut karena tiba-tiba tangannya dipegang oleh ART barunya yang bernama Siti. Saat itu, kebetulan istrinya sedang berada tepat di belakangnya. Terlihat raut cemburu dan kesal di wajah Elizia. Seketika, Hamzah berkata,
"Liz, Siti itu keterlaluan! Dia lancang memegang tangan Mas! Lebih baik, sekarang dia kita pecat saja dari rumah ini."
Hamzah menoleh ke arah Elizia dan menjelaskan kejadian yang dialaminya. Hamzah tersulut emosi karena Siti berbuat lancang kepadanya dan kepergok oleh istrinya sendiri yang membuat istrinya cemburu dan sakit hati.
"Jangan, Tuan. Maaf, saya tidak sengaja menyentuh tangan Tuan Hamzah, soalnya saya juga hendak mrncuci tangan namun didahului oleh Tuan Hamzah."
Siti mencari-cari alasan agar tidak disalahkan oleh Hamzah dan Elizia. Tanda diduga, kedua majikannya tahu maksud hatinya. Kali ini, Siti menghadapi majikan yang tidak mudah untuk ditakhlukkan.
"Halah, jangan sok sedih di depan istri saya! Kamu ingin menghasud istri saya agar dia marah dan hubungan rumah tangga kami hancur 'kan?"
Hamzah tidak percaya dengan ucapan dari Siti yang terlihat melas dan memasang wajah polosnya. Dia tidak mau lagi dibohongi oleh akting bohong seorang wanita yang bersifat licik.
"Beneran, Tuan. Saya tidak sengaja. Tuan, Nyonya, beri saya satu kesempatan lagi untuk bekerja di sini! Saya tidak akan berbuat lancang kepada Tuan Hamzah!"
Siti tanpa malu bersujud di depan Elizia dan Hamzah yang sedang berdiri di dekat ruangan dapur. Kemudian Elizia dan Hamzah saling berpandangan karena heran dengan tingkah konyol Siti yang tidak mempunyai rasa malu sedikit pun. Saat Elizia hendak menjawab pertanyaan dari Siti, tiba-tiba pinggangnya terasa kram dan sakit.
"Aduh, Mas. Pinggangku sakit sekali. Apa aku akan melahirkan ya? Tolong aku, Mas."
Seketika Elizia tidak bisa berdiri dengan sempurna karena pinggang dan berasa seperti kontraksi dan terasa sakit. Dan semakin lama sakitnya semakin bertambah, hingga dia meminta tolong kepada suaminya.
"Oke. Kalau begitu ayo kita segera ke rumah sakit. Mas ambil keperluan persalinan dulu ya?"
Hamzah merasa cemas bercampur bahagia karena sebentar lagi dia akan mempunyai anak. Dia akan segera ke kamar untuk mengambil tas yang berisi peralatan persalinan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh istrinya dan sudah berisi keperluan bersalin secara lengkap. Mulai dari pakaian bayi, popok, handuk, sabun dan lain-lain. Jadi, saat persalinan tiba, tinggal membawanya. Momen ini digunakan Siti untuk mengambil hati Hamzah Anggara.
"Mbak, saya gandeng menuju mobil ya? Saya akan antar Nyonya karena Siti kasihan dengan Nyonya."
__ADS_1
Elizia yang sedang kesakitan tidak menghiraukan lagi tentang kejadian buruk yang dilakukan Siti. Elizia memang butuh teman untuk mendampinginya dalam keadaan darurat tersebut. Lalu dia menurut jika digandeng oleh Siti.
Beberapa menit kemudian, Hamzah sudah menemukan tas yang berisi keperluan untuk bersalin. Lalu dia menyusul Elizia dan Siti yang sudah berjalan menuju luar rumah dan menunggu Hamzah mengeluarkan mobil dari garasi.
Tidak lama, mereka berhasil naik ke mobil. Tidak perlu lama Hamzah menyalakan mesin dan tancap gas menuju rumah sakit.
"Cepat Mas. Sakit sekali!"
Di dalam mobil, Elizia merintih kesakitan dan sepertinya calon bayi yang ada di dalam rahim Elizia ingin segera keluar. Di sampingnya di jok tengah duduk Siti mendampingi Elizia yang sedang kesakitan dan mengelap keringat majikannya dengan tisu. Sesekali Hamzah melihat ke spion untuk memastikan bahwa Siti tidak berbuat jahat kepada istrinya.
"Iya, sayang sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Semoga kamu dan dedeknya sehat dan rasa sakit itu akan hilang."
Hamzah yang sedang mengemudi dengan kecepatan cepat berusaha menyempatkan untuk menjawab rintihan dari istri tercintanya. Dia teramat tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.
'Aku sekarang akan berpura-pura sangat baik di depan Hamzah agar dia tidak curiga kembali. Dengan cara ini, perlahan-lahan mereka akan percaya denganku. Dan jika aku tidak bisa mendapatkan CEO tampan ini, aku akan berusaha mengeruk harta mereka dengan cara pelan-pelan,' desis Siti dalam hatinya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat yakni rumah sakit "Kasih Ibu". Yakni rumah sakit di bawah naungan yayasan "Kasih Ibu" yang didirikan oleh seorang pria lajang berwajah rupawan bernama Rama Andhika.
Hamzah mulai mematikan mesin mobilnya lalu dengan gesit segera turun dari mobil untuk menyelamatkan Elizia yang sedang kesakitan. Elizia perlahan-lahan turun dari mobil dengan dibantu oleh Siti dan suaminya menuju ruang UGD. Tidak lama perawat segera membawa kursi roda dan segera menangani Elizia dalam proses persalinan. Setelah kesepakatan dari petugas dokter, Elizia akan dibawa ke ruang bersalin yakni di ruangan bersalin kelas VIP agar ditangani lebih nyaman dan aman.
Hamzah dan Siti mengekor perawat dari belakang untuk menuju ruang VIP. Tujuh menit kemudian, Elizia berhasil dibawa di ruangan VIP.
"Maaf, yang boleh mendampingi saat proses persalinan Nona Elizia di ruang bersalin, maksimal satu orang, untuk selebihnya bisa menunggu di ruang tunggu."
Begitulah intruksi dari seorang perawat berkerudung putih yanh berperawakan tinggi dan kurus. Lalu perawat itu segera masuk ke ruang VIP untuk membantu menangani persalinan Elizia.
"Baik, Sus. Saya yang akan menemani proses persalinan istri saya," jawab Hamzah dengan nada agak cemas.
__ADS_1
Sedikit pun dia tidak menggubris Siti yang berdiri di sampingnya. Karena saat kejadian tadi, Hamzah sangat benci dengan Siti.
Dengan perasaan dongkol, Siti berjalan menuju ruang tunggu.
'Huh, jutek amat sih, majikan baru! Awas ya, aku tidak akan menyerah. Tuan tampan akan menjadi milikku!'
Siti sedang dongkol dan tanpa sadar dia membayangkan dirinya bisa menakhlukkan Hamzah Anggara bisa menjadi miliknya.
Hamzah Anggara mulai mendampingi istrinya agar Elizia semangat menghadapi persalinan.
"Liz, sebentar lagi kita punya dedek bayi, kamu harus semangat ya?"
Hamzah mengusap dahi Elizia yang sudah berkeringat karena sedang menahan sakitnya. Para perawat dan dokter wanita mulai menangani Elizia yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Ayo, Elizia. Ini sudah pembukaan kesepuluh. Sebentar lagi dedeknya keluar!"
Dokter itu memberi arahan kepada Elizia untuk semangat menghadapi persalinan. Elizia berusaha mengejan dengan sekuat tenaga dan sesuai arahan dokter. Beberapa menit kemudian, terdengar suara bayi menangis dengan sangat kencang.
"Oek, oek, oek!"
Tidak menyangka lahirlah seorang bayi laki-laki dengan keadaan sehat nan tampan dari rahim seorang wanita bernama Elizia. Bayi yang masih merah itu lalu dibopong oleh perawat dengan menangis sangat keras dan akan segera dimandiakan Namun, saat itu Elizia berkata,
"Mas, aku lemas sekali."
Seketika Elizia menutup matanya dan tak sadarkan diri.
"Dokter, tolong istri saya! Tolong selamatkan istri saya!"
__ADS_1
Hamzah Anggara yang tadi senang tiada terkira, karena buah hatinya terlahir normal nan tampan tapi kini dia dibuat tercengang dan terkejut kala melihat Elizia menutup mata dan tak sadarkan diri.