Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Kejadian di Rumah


__ADS_3

Pagi itu, Elizia dan ibu anggota Gengster memasuki rumah keluarga Widya untuk menjenguk Rihana yang baru saja tiba dari rumah sakit. Rihana merintih kesakitan dan beban mentalnya sangat sedih karena calon anak yang dikandungnya mengalami keguguran. Dia telah melakukan hal fatal yang menyebabkan calon bayinya gugur karena memakan buah mangga muda secara berlebihan.


"Rihana, kamu harus menerima takdir ini. Mas sudah menasihati tetapi kamu masih ngeyel, sekarang kamu baru tahu akibatnya. Calon anak yang kita dambakan tidak bisa lama hidup di dunia ini. Saya harap kamu akan berubah dan menjadi wanita yang lebih baik."


Zafian menasihati istrinya yang terbaring di ranjang kamarnya dan dilihat oleh para ibu-ibu tetangga yang penasaran ingin menengok Rihana yang baru saja keguguran. Elizia yang melihat kejadian itu terkejut dan tidak terpikir akan terjadi hal seburuk itu. Elizia sepintas melihat Rihana dari balik pintu karena dia tidak mau menampakkan diri untuk menghindari kericuhan.


"Liz, kamu tahu sendiri 'kan sekarang kondisi Rihana bagaimana? Calon bayinya mengalamai keguguran karena ulah dia sendiri selalu makan buah mangga muda secara berlebihan. Tingkahnya saat hamil itu aneh-aneh. Warga saja sampai keheranan."


Bu Ratih berkata lirih di dekat telinga Elizia supaya tidak banyak orang yang mendengar bahwa dia sedang membicarakan Rihana yang sedang sakit.


"Iya. Tetapi kita doakan saja semoga dia bisa mengambil pelajaran atas kejadian yang menimpanya. Jika dilihat, Rihana sangat kesakitan dan sangat mendambakan anak, semoga setelah ini dia bisa hamil kembali dan bisa melahirkan bayi dengan selamat."


Elizia mendoakan kebaikan kepada Rihana walau dia tahu, selama ini Rihana selalu menghina dan merendahkannya tetapi dia berusaha mengubur rasa sakit hatinya dengan membalas suatu kebaikan. Biarkan Tuhan yang akan mengadili hamba-hambanya yang berbuat dholim.


Saat beberapa menit suasana hening, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Rihana yang membuat para warga yang menjenguk terkejut.


"Tidak! Calon anakku tidak boleh gugur! Mas, kembalikan calon anak kita! Rihana tidak mau kehilangan anak kita. Hik, hik."


Rihana berteriak dan merengek-rengek bagai anak kecil yang kehilangan induknya. Dia belum rela jika calon bayinya gugur karena ulah dia sendiri. Apa yang dia tanam, maka dia juga yang akan menuai. Kejadian yang dialami Rihana bagaikan hukum tabur tuai.


Kedua orang tua Rihana yang berada di situ tidak tega melihat anak kesayangannya mengalami kesialan. Sedangkan Widya ibu mertua dari Rihana geleng-geleng kepala dan pikirannya campur aduk. Dia kehilangan calon cucunya dan malu menantunya bersikap seperti anak kecil.


"Rihana, kamu harus ikhlas ya? Kita kan bisa membuat lagi. Yang penting, kamu menuruti nasihat suami kamu ini! Jangan egois!"


Zafian yang baru pulih dari sakit karena tangannya mengalami patah tulang, kini istrinya juga dirundung kemalangan. Keluarga itu sedang dirundung malang silih berganti. Rihana tidak menjawab dari nasihat suaminya karena dia terus menangis memikirkan calon bayinya yang gugur.


Lalu Elizia tidak bisa berlama-lama di situ dan ingin segera pulang .


"Bu, saya pulang dulu, karena saya tidak kuat melihat hal menyedihkan tersebut. Saya tidak bisa lama di sini."


Elizia izin pulang terlebih dahulu karena dia akan ikut memikirkan kesedian yang dialami keluarga Zafian.

__ADS_1


"Ayo kita pulang bareg. Saya juga mau menggoreng ikan tongkol yang sempat tertunda."


Bu Ratih mengajak anggota Gengster untuk segera pulang termasuk Elizia. Lalu mereka segera naik bajai untuk pulang. Lima menit kemudian Elizia sampai di rumah lalu dia segera turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat itu suaminya sudah mandi dan tercium bau wangi yang menguar di hidungnya.


"Mas, Eliz pulang. Ternyata Rihana sakit Mas. Calon bayi yang dia kandung mengalami keguguran."


Elizia langsung bergabung dengan Hamzah yang sedang berada di ruang keluarga. Hamzah menyimak pembicaraan istri tercintanya.


"Kasihan sekali calon bayinya. Rihana sungguh egois sudah dinasihati keluarganya namun ngeyel. Itu teguran agar kita menjaga titipan Tuhan dengan sebaik-baiknya. Istriku, kamu cantik sekali?"


Tiba-tiba Hamzah menggoda Elizia dan mengecup pipi Elizia yang lembut.


"Apa sih Mas? Lagi pengen ya? Siang-siang begini kepengin," tanya Elizia menyelidik.


Lalu Hamzah langsung membopong istrinya masuk ke dalam kamar. Nafasnya mulai tidak beraturan. Dia sudah tidak sabar lagi menginginkan jatah dari istrinya kembali. Setelah dua hari tertunda karena suatu hal.


"Liz, aku buka ya? Kamu jangan marah ya?"


"Mas, pelan-pelan ya?"


Elizia mulai terpancing oleh permainan Hamzah yang sudah memanas. Elizia tidak menyangka, suaminya begitu beringas dalam urusan ranjang. Membuat wanita siapa saja kecanduan.


"Sayang. Enak sekali. Aku terusin ya?"


Hamzah ingin menyelami samudra kenikmatan yang lebih dalam lagi. Elizia hanya mengangguk. Dia tidak bisa menolak kewajibannya yang harus ditunaikan.


Hamzah lalu siap memasukan tongkat sakti yang kedua kalinya ke dalam goa indah milik Elizia. Sungguh rasa kenikmatan dunia yang tiada terkira. Mereka beradu peluh sampai akhirnya mereka menuju puncak kenikmatan.


"Liz, kamu sungguh luar biasa. Aku semakin menyayangi kamu. Kamu istri sholehah. Setelah selesai melakukan senam ranjang tersebut, Hamzah mengecup kening istrinya. Elizia merasa sangat lemas sekali. Dan dia memposisiakn diri untuk istirahat.


Beberapa menit kemudian, mereka mandi besar secara bergantian agar badannya terasa segar dan sehat kembali.

__ADS_1


"Mas, aku mau lihat nenek dulu ya? Sekalian Eliz mau masak bubur ayam kesukaan nenek."


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Elizia mau menengok nenek Rumi. Elizia penasaran dengan neneknya apakah sudah bangun tidur atau belum.


"Iya, sayang. Nanti kita makan bareng bersama ya? Masakan kamu juga tidak kalah enak dengan masakan restorant. Apa kamu buka resto saja, sayang? Kan capek jika kamu harus kerja di kantor berkutat dengan komputer terus? Mas yang akan modalin semua untuk membuka usaha resto." Nanti kamu hanya meracik resepnya dan memberi arahan kepada karyawan yang Mas rekrut. Bagaimana?"


Hamzah memberi saran kepada Elizia untuk membuka resto sendiri agar tidak terlalu capek. Selain mempunyai kemampuan dalam urusan perkantoran, Elizia juga jago memasak dengan resep masakan seperti restoran. Hamzah memang tidak salah memilih Elizia sebagai istrinya.


"Oh. Ide yang bagus itu. Kalau begitu Elizia setuju saja. Tapi bener, Mas mau modalin ini semua? Elizia takut nanti uang Mas Hamzah habis."


Elizia begitu gembira ketika Hamzah akan mendukungnya untuk menangani pembuatan resto. Tetapi Elizia takut uang suaminya akan terkuras habis. Padahal kekayaan yang dimiliki Hamzah Anggara tidak akan habis sampai tujuh turunan.


"Beneran, sayang. Tenang saja, Mas sudah nabung kok. Yang penting kamu persiapan saja memikirkan ide-ide masakan yang kreatif dan berkualitas dan yang pasti rasanya harus dijamin enak. Mas percaya, soal rasa kamu pasti jagonya."


Hamzah Anggara memberi acungan dua jempol kepada istrinya agar semangat untuk membuka usaha. Hamzah sangat mendukung istrinya untuk memiliki kemajuan dalam berkarir dan demi kesejahteraan keluarga.


"Siap, Mas. Elizia akan menyiapkan menu-menu masakan yang menarik dan lezat. Yasudah Eliz mau melihat nenek dulu dari tadi kita tidak dengar tanda-tanda nenek Rumi sudah bangun."


Hamzah mengangguk. Lantas, Elizia berjalan menuju kamar nenek Rumi lalu segera mengetuk dan memanggil nenek tersebut.


"Nek, bangun. Nenek masih tidur?"


Elizia memanggil nenek Rumi sampai tiga kali namun, tidak ada jawaban yang didengar. Lalu Elizia mencoba membuka pintu kamar nenek Rumi dan ternyata nenek masih tertidur dengan posisi menyamping. Lalu Elizia mendekati dan menyentuh pundak seraya berkata,


"Nek, bangun. Nenek!"


Sontak Elizia terkejut dan berteriak karena badan nenek Rumi sangat dingin dan wajahnya pucat. Seketika Hamzah mendengar istrinya sedang berteriak lalu langsung berlari kecil menuju sumber suara dan memasuki kamar nenek Rumi.


"Elizia, kenapa kamu kenapa berteriak? Ada apa dengan Nenek Rumi?"


Hamzah bertanya kepada Elizia yang sedang membangunkan neneknya dengan raut wajah cemas dan khawatir.

__ADS_1


__ADS_2