Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Rihana Mencari Zafian di Rumah Nenek Rumi


__ADS_3

Sore tepat pukul 17.00 WIB, Zafian masih tersungkur di lantai keramik milik nenek Rumi. Dia mengalami memar dan luka di wajahnya karena bogem yang sangat kuat dari Hamzah mendarat di wajahnya. Zafian masih terdiam dan menahan sakit di wajahnya.


Dia ingin mengajak Elizia rujuk kepadanya namun, ada orang yang menghalangi rencananya tidak lain adalah Hamzah seorang teman masa kuliahnya dulu. Dia tidak menyangka Elizia akan berhubungan dengan pria kaya itu yang membuat Zafian semakin cemburu dan tidak mau menyerah begitu saja.


"Silakan pergi dari sini atau saya hajar lagi! Kamu tidak mempunyai urat malu sedikit pun. Apa kamu tidak mengaca kamu sudah menyakiti dan mencampakkan istri kamu yang tidak salah sedikit pun?"


Hamzah geram dan memaki Zafian seketika. Dia ingin memberi pelajaran kepada mantan suami Elizia karena Zafian mencoba ingin memperbaiki hubungan rumah tangganya yang sudah hancur karena wanita kedua. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Elizia sudah terlanjur menutup hatinya dengan mantan suaminya. Dia tidak akan memberi kesempatan kepada orang yang telah mengkhianati cinta dalam hubungan rumah tangganya.


Tok, tok, tok!


Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah nenek Rumi. Hamzah lalu segera membukakan pintu rumah tersebut.


"Hai, kamu lihat Zafian, suami saya?"


Rihana sedang mencari Zafian dengan raut wajah yang cemas. Dia takut suaminya akan menemui mantan istrinya yakni Elizia. Dan ketakutan itu memang terbukti nyata.


"Ada, kamu masuk saja."


Hamzah memberi arahan kepada Rihana untuk segera masuk ke rumah nenek Rumi. Dia membiarkan Rihana masuk agar tahu kelakuan suaminya yang masih tamak ingin mencari wanita lain. Lalu Rihana masuk ke dalam rumah nenek Rumi dan melihat ke sekeliling ruangan itu dan menengok ke kanan dan ke kiri. Beberapa detik kemudian Rihana terkejut melihat suaminya sedang terluka dan ada Elizia juga.


"Mas, kamu kenapa dengan wajah kamu? Kok memar dan terluka?"


Rihana lalu mendekati Zafian dan memegang wajah suaminya yang terluka. Dia bingung bercampur sedih.


"Tidak apa-apa kok, sudah Mas bilang kamu di rumah saja. Tapi kamu malah mencari Mas. Yuk, kita pulang."


Zafian terkejut jika Rihana mencari dan menemukan keberadaannya. Bisa perang besar jika Zafian tidak mengajak Rihana segera pulang.


"Jangan bohong Mas. Apa ini karena Elizia? Jawab?"


Rihana curiga jika Zafian sengaja mencari keberadaan Elizia. Zafian hanya diam karena jika dia berterus terang pasti akan ada keributan.


Tidak lama Hamzah berkata,


"Anda Rihana yang menikah kemarin bersama dia seorang pria pecundang yang sudah tega mengabaikan istri pertamanya? Tolong, suaminya dijaga dan dibuat betah di rumah jangan seenaknya saja nyelonong masuk ke rumah orang untuk mencari wanita yang bukan istrinya!"


Hamzah ceplas-ceplos berbicara dengan Rihana. Dia tidak peduli jika terjadi keributan karena Zafian dan Rihana harus diberi pelajaran agar jera. Kedua orang tua Hamzah dan nenek Rumi masih diam menyimak. Mereka ingin menengahi namun, tidak tahu secara pasti duduk permasalahan yang jelas seperti apa.

__ADS_1


"Maksud Anda Zafian mencari Elizia begitu?" tanya Rihana meyelidik.


"Bukan hanya mencari tetapi suami kamu juga ingin meminta rujuk dan menikah lagi dengan Elizia," jawab Hamzah dengan nada tegas.


Karena geram, Hamzah terpaksa memberi tahu Rihana tentang tujuan Zafian datang ke rumah nenek Rumi.


"Benarkah seperti itu, Mas? Ayo jawab!"


Rihana membentak dan dengan mata berkaca-kaca karena suami barunya diam-diam tega akan mendekati mantan istrinya yang dahulu.


"Rihana, kita bicarakan baik-baik di rumah saja, yuk?"


Zafian tidak mau ribut dan berdebat lagi. Karena luka di wajahnya sangatlah sakit dan terasa panas.


"Yasudah. Ayo kita pulang. Mas, jangan nakal lagi ya? Kan ada Rihana, Mas masih kurang mempunyai istri secantik Rihana?"


Sambil berjalan, Rihana menjewer telinga Zafian karena gemas sudah punya istri tetapi masih saja mengharapkan wanita lain sebagai pendampingnya. Zafian tidak pernah bersyukukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.


Lalu mereka berdua segera pulang dengan berjalan kaki karena jarak rumah Nenek Rumi dengan keluarga Zafian tidaklah jauh. Saat sampai di komplek perumahan ibu-ibu Gengster, mereka dikejutkan dengan siraman air yang mengguyur ke badan mereka.


Byur!


"Sialan. Mas, kita disiram air sama orang yang punya rumah berlantai dua itu! Ayo kita labrak orang yang berani mengguyur kita!"


Rihana tersulut emosi. Dia tidak terima jika dirinya dan suaminya diguyur air oleh tetangga mereka sendiri.


"Rihana sudahlah, kita pulang saja, badan Mas sakit semua! Mungkin ini karma buat kita karena kita sudah menyakiti Elizia."


Zafian menerima hal apes berkali-kali setelah menikah dengan Rihana. Dia kini menyadari bahwa dia patut menerima hal apes tersebut karena dia merasa sudah menyakiti mantan istrinya yakni Elizia.


"Mas, kamu malah merasa bersalah dan membela Elizia. Kamu jahat Mas! Yasudah. Mas pulang dulu saja. Rihana mau menemui orang yang tega mengguyur air di badan kita hingga sampai basah kuyup."


Rihana tidak mengindahkan nasihat dari Zafian. Dia bersikeras untuk membalas perbuatan buruk tetangganya itu.


"Yasudah jika kamu ngeyel. Mas pulang dulu! Badan Mas terasa sakit semua."


Zafian pulang terlebih dahulu karena ingin segera mengobati luka memar di wajahnya.

__ADS_1


"Hey, buka pintunya! Jangan beraninya ngguyur orang di dalam rumah. Ayo kalau berani keluar dan hadapi Rihana!"


Rihana berteriak sangat kencang sambil berkacak pinggang dan menggedor pintu milik bu Ratih.


'Hihihi. Rasain kamu pelakor, beraninya sama rakyat kecil seperti Elizia. Ya tak guyur air. Disuruh keluar? Ya tidak maulah, bobok manis sambil nonton TV lebih enak,' gumam bu Ratih dalam hatinya.


Bu Ratih yang di dalam rumahnya mendengar teriakan dan ancaman Rihana hanya diam dan menahan tawa. Dia sangat senang menjahili tetangga berbau pelakor.


"Sialan! Tidak berani keluar dasar pecundang! Awas nanti jika aku bertemu kalian sudah tak jambak sampai rambut kalian copot."


Rihana menggeram. Teriakannya tidak direspon oleh Tuan Rumah yang sengaja mengguyur air Rihana dan Zafian. Akhirnya dengan terpaksa Rihana akan pulang ke rumah suaminya.


Lima menit kemudian, Rihana sampai di rumah suaminya. Terlihat Widya sedang menyapu ruang tamu miliknya.


"Ma, Rihana pulang."


Rihana menyapa ibu mertuanya dan langsung nyelonong saja tanpa bersalaman dengan Widya. Dulu Elizia saat menjadi menantu selalu mencium tangan mertuanya dengan takzim.


"Rihana! Ikan kakapnya belum kamu masak. Ayo cepat dimasak keburu basi. Beli banyak tapi tidak segera dimasak!"


Widya menggerutu karena ikan kakap yang dibeli Rihana belum juga dimasak.


"Ibu saja yang masak! Nanti masakan Rihana tidak enak rasanya seperti kemarin. Atau Ibu mengajari saya supaya masakannya menjadi enak."


Rihana tidak bisa memasak. Dia menyuruh balik kepada ibu mertuanya untuk memasak ikan kakap tersebut.


"Rihana, Ibu itu sibuk. Masih mencuci baju, mencuci piring, menggosok pakaian. Jadi tidak sempat ngajarin kamu masak. Biasanya sih, Elizia yang mengerjakan ini semua. Ibu tinggal duduk manis menonton TV. Kamu bangun sudah kesiangan tidak bisa masak lagi. Mama kamu tidak pernah mengajarinya, ya?"


Widya merasa dongkol terhadap Rihana yang pemalas. Akhirnya dengan ceplas-ceplos, dia mengkritik pedas menantu barunya.


"Ibu kok jadi galak sama Rihana. Saya 'kan sudah bilang, saya tidak bisa memasak. Tetapi keluarga saya memiliki kekayaan yang jumlahnya besar. Rihana tinggal minta pasti dikabulkan."


Rihana pamer dengan harta orang tuanya yang melimpah tetapi tanpa memberikan sepeser pun kepada keluarga Widya. Yang ada malah morotin duit yang tidak seberapa dari Zafian.


"Oh. Begitu ya? Kalau begitu Ibu dikasih uang dong? Jangan bicara saja tapi kenyataannya kamu pelit."


Widya menjawab dengan ketus ucapan dari Rihana yang sombong dengan kekayaan keluarganya.

__ADS_1


"Rihana tidak pelit lho, Bu. Saya itu sebagai istri wajib meminta nafkah dari suami. Perkara harta saya dan kedua orang tua saya itu hak saya dan suka-suka saya mau memberi atau tidak."


Rihana tidak mau kalah dengan kritikan pedas dari Widya. Mereka berdua sama-sama sombong dan julid. Dua sejoli yang seimbang jika tinggal bersama.


__ADS_2