
Setengah jam kemudian, kemacetan mulai mereda. Saat itu, Hamzah mulai melajukan mobilnya kembali. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di kediaman dokter Vano yakni dokter Spesialis Anak. Hamzah lalu memarkirkan mobilnya di depan parkiran yang sudah disediakan.
Hamzah dan keluarganya lalu berjalan menuju pintu depan dan menekan bel tiga kali. Beberapa menit kemudian, pintu pun terbuka.
"Mas Hamzah, bu Fatimah, mari silakan masuk."
Dokter Vano seorang dokter Spesialis Anak langganan bu Fatimah menyilakan masuk Hamzah dan keluarganya. Tidak lama mereka masuk ke dalam.
"Dokter, tolong anak saya Aslam segera diperiksa karena badannya demam tinggi dan dari tadi menangis terus," kata Hamzah dengan raut wajah memelas kepada dokter itu untuk segera memeriksa Aslam.
"Oh. Baik. Mari dedeknya dibawa ke ruang periksa," jawab dokter Vano dan memerintahkan Aslam untuk segera ke ruang periksa. Tidak lama Elizia yang menggendong Aslam serta Hamzah masuk ke dalam ruang periksa. Beberapa detik kemudian, Aslam dibaringkan di ranjang pasien dan diperiksa oleh dokter Vano dengan teliti.
"Bagaimana keadaan bayi saya, Dokter? Kami sangat mengkhawatirkannya."
Hamzah mulai berbicara menanyakan kondisi Aslam. Saat diperiksa oleh dokter Vano, tangisan Aslam mulai mereda karena dokter tersebut memberikan stimulasi kepada bayi agar lebih tenang. Setelah Aslam diperiksa oleh dokter bewajah tirus dan berkaca mata itu, dia mulai berkata,
"Dedeknya mengalami masuk angin, jadi, suhu badannya meningkat. Saya nanti akan memberikan vitamin untuk meredakan demam anak, jadi Mas Hamzah atau pun Mbaknya tidak perlu khawatir. Dedeknya menangis karena wajar, dia tidak tahan dengan panas yang bersemayam ditubuhnya."
Dokter tersebut memberi penjelasan mengenai kondisi Aslam yang sakit demam biasa. Tidak perlu ada yang perlu di khawatirkan.
"Oh. Syukurlah kalau begitu, Dokter. Kami tadi sempat khawatir dengan kondisi Aslam," jawab Hamzah dengan nafas yang lebih lega.
Aslam telah selesai diperiksa oleh dokter Vano. Kini tinggal menunggu dokter untuk memberikan resep kepada Aslam. Elizia lalu menggendong Aslam kembali. Di ruang tunggu, Fatimah sedang menantikan Aslam agar cepat keluar dari ruang periksa. Dia menunggu dengan keadaan cemas dan was-was.
Lima menit kemudian, Hamzah dan keluarganya akan berpamitan pulang setelah mendapat resep dari dokter Vano.
__ADS_1
Setelah keluarga Hamzah berada di mobil, Hamzah segera menyalakan mesin dan segera tancap gas.
Tiga puluh menit, akhirnya keluarga Hamzah sampai di rumah dengan selamat. Ketika sampai di dalam rumah, Hamzah berlari kecil ke kamar mandi untuk buang air karena seharian dia belum sempat ke kamar mandi.
Di ruang tengah, Elizia segera memberikan resep obat kepada Aslam. Setelah beberapa menit, Aslam mulai tertidur dan demamnya menurun. Rasa syukur dia panjatkan kepada Tuhan karena Aslam bisa tertidur dan kini panasnya menurun.
Fatimah, si nenek dari Aslam, ikut menemani Elizia yang sedang mengurus Aslam walau sebenarnya matanya mengantuk. Dia akan tidur jika Aslam benar-benar dalam kondisi aman.
"Mama, tidurlah. Aslam sudah terlelap. Saya khawatir jika Mama akan kelelahan."
Elizia yang sedang menidurkan bayinya di ranjang tidur, memberi saran kepada mertuanya untuk segera beristirahat. Waktu juga sudah larut malam.
"Iy. Liz. Kamu juga istirahat ya? Jangan begadang nanti kamu takutnya sakit. Mumpung Aslam sudah bobok."
Fatimah berkata lirih kepada Elizia lalu dia beranjak dari kamarnya untuk segera istirahat. Elizia mengangguk kepada mertuanya terdebut. Namun, sebelum tidur, dia menunggu suaminya dari kamar mandi yang sedang buang air. Lima menit kemudian, Hamzah memasuki kamar dan terlihat Elizia sedang duduk di tepi ranjang dengan mata yang terlihat mengantuk.
Hamzah tidak tega melihat istrinya mengantuk karena waktu sudah larut dia belum tidur dan malah rela menunggunya.
"Nungguin Mas. Takut Mas pingsan di kamar mandi. Habisnya lama sih," jawab Elizia kepada Hamzah dengan nada manja.
Elizia sebenarnya mengantuk tetapi dia paksa untuk memastikan suaminya dalam keadaan sehat setelah beberapa kejadian yang membuat mereka seharian tidak beristirahat.
"Aduh, romantis banget istri Mas. Ayuk kita bobok bareng. Istri Mas pasti kelelahan. Sebentar lagi subuh lho. Manfaatkan waktu sebaik mungkin."
Hamzah memeluk istrinya sambil membopongnya di atas ranjang setelah elizia memakai pakaian tidur sebatas lutut berwarna pink yang terlihat elegan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Eliz juga sudah ngantuk. Tapi, jangan lupa ayo kita berdoa. Agar mimpi indah, hehe."
Elizia memperlihatkan senyuman manja kepada suaminya dan merengek untuk berdoa bersama. Hamzah yang melihat tingkah lucu dari istrinya langsung menuruti perintahnya. Lantas, mereka berdua membaca doa sebelum tidur lalu mereka merebahkan diri di atas ranjang hingga mereka saling berdekatan. Sekian menit mata mereka mulai terpejam. Mungkin mereka sudah berada di alam mimpi.
*** *** ***
Dua tahun kemudian, Aslam sudah bisa berjalan dan semakin tampan dan tumbuh tinggi. Dia sudah berumur dua tahun. Saat itu, Aslam sedang berjalan-jalan di taman dengan Omanya yakni Fatimah.
"Oma itu apa? Kok bisa terbang. Aslam kepengin seperti itu dong, Oma?"
Aslam melihat kupu-kupu berwarna-warni sedang terbang kian kemari hingga Aslam penasaran dan ingin terbang seperti kupu-kupu tersebut. Tidak disangka, Aslam suka bertanya-tanya tentang hal yang di luar dugaan. Mungkin calon anak jenius kali ya.
"Itu kupu-kupu sayang. Hewan ciptaan Tuhan. Jika Aslam kepengin bisa terbang, Aslam harus rajin belajar dan rajin sekolah. Nah, kelak Aslam bisa terbang seperti kupu-kupu itu."
Fatimah mencoba menjawab pertanyaan dari Aslam sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Oh. Gitu. Emangnya kupu-kupu sekolah ya, Oma? Tuhan itu siapa Oma? Aslam gak mudeng."
Dengan polosnya Aslam berpikir kritis dan bertanya tentang hal yang menurutnya belum dia ketahui. Mendengar hal tersebut, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum sambil mengusap kepala Aslam. Sebelum Fatimah menjawab pertanyaan dari bocah kecil itu, lewatlah pedagang balon keliling yang menawari Aslam.
"Hai, adik. Mau sama mainan ini. Bagus lho. Ada Upin-Ipin, ada Masya dan masih banyak. Adik pilih yang mana?"
Pedagang balon itu menawarkan mainan balon yang berwujud kartun yang terdiri dari beberapa macam. Aslam yang melihat itu seraya berkata,
"Om. Itu kok adiknya malah dijual ke Aslam sih. Kasihan lho Om 'kan adiknya nanti nangis ditinggal Om sama kakak-kakaknya."
__ADS_1
Bukannya tertarik membeli balon, Aslam malah kasihat terhadap balon itu karena dianggap balon tersebut adalah makhluk hidup. Sungguh polosnya hati Aslam.
Terlihat wajah pria pedagang balon tersebut keheranan melihat ucapan Aslam yang di luar dugaannya. Biasanya anak-anak seusia Aslam akan senang jika melihat balon tersebut dan ingin membelinya. Tetapi beda dengan Aslam, dia malah memberikan pertanyaan yang membuat hati pria itu tertawa.