Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Hati Yang Gundah


__ADS_3

Di siang hari yang sangat terik, tepatnya pada waktu setelah dhuhur, Elizia baru selesai membuatkan secangkir kopi dan camilan untuk suaminya. Pada waktu itu, Hamzah masih berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan tugas kantornya. Selang beberapa menit, dia sudah menyelesaikan tugas tersebut. Namun, dia berpura-pura masih sibuk dengan pekerjaannya untuk menghindari obrolan intens dengan istrinya yang kini telah membuatnya cemburu dan sedikit kecewa.


Bagaimana tidak kecewa, Hamzah melihat secarik kertas bertuliskan nama "Rama Andhika" dan isi secarik kertas tersebut menuliskan bahwa dokter Rama mencintai Elizia sejak lama. Dia sedikit kecewa dengan Elizia karena tidak bercerita kepadanya mengenai secarik kertas dan bingkisan tersebut.


Kriet!


Bunyi pintu terbuka dari kamar Hamzah dan terlihat Elizia sedang membawa baki berisi secangkir kopi dan satu toples keripik singkong.


"Mas, ini kopi dan camilannya. Silakan dinikmati."


Dengan senyum manis, Elizia meletakkan secangkir kopi dan setoples keripik singkong di meja kecil dekat dengan Hamzah yang sedang duduk di bangku kerjanya.


"Oke," jawab Hamzah datar.


Rasa kecewa membuat Hamzah bersikap cuek kepada istrinya. Yang biasanya Hamzah berkata manja dan perhatian, kini mendadak berubah karena dilanda rasa cemburu.


"Mas, setelah tugasnya selesai dan sudah makan, nanti sholat berjamah sama Elizia ya? Jika Aslam tidak bangun?"


Elizia ingin sholat berjamaah dengan suaminya karena mereka belum melaksanakan sholat dhuhur.


"Kamu sholat duluan saja, Mas masih banyak pekerjaan," jawab Hamzah dengan nada agak ketus dan cuek. Sebenarnya tugas yang dia kerjakan sudah selesai beberapa menit yang lalu.


"Oh. Gitu. Yasudah, Eliz sholat dhuhur dulu."


Lalu Elizia melenggang pergi untuk melaksanakan sholat dhuhur dengan hati yang bertanya-tanya. Tidak biasanya Hamzah bersikap cuek begitu kepada Elizia. Dia terheran-heran melihat perubahan sikap suaminya tersebut. Dia berusaha mengingat-ngingat akan hal apa yang sekiranya membuat suaminya gusar kepadanya.


'Salah diriku apa ya? Suamiku seperti sedang ngambek dan menyembunyikan sesuatu dariku,' batin Elizia yang hatinya penuh dengan tanda tanya.


Lalu Elizia tidak mau ambil pusing dan segera mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dhuhur. Tidak lama, Elizia larut dalam sembahyang dhuhur.


Sementara Hamzah yang saat itu masih di bangku kerjanya pikirannya mulai tidak tenang. Dia ingin segera menemui Rama Andhika untuk memberi peringatan.


Tidak perlu berlama-lama dia akan beringsut untuk menemui Rama Andhika. Namun, beberapa langkah menginjakkan kaki, tiba-tiba terdengar suara Aslam memanggilnya.

__ADS_1


"Ayah, teman Aslam di mana ya? Aslam ingin bermain dengan Upin dan Ipin," kata Aslam yang sudah mulai terbangun dari tidur.


Bocah itu mulai menggeliat karena badannya terasa letih. Di benaknya hanya ada mainan baru yang diberikan oleh Zafian. Beberapa detik kemudian, Hamzah berkata,


"Ini dia Upin dan Ipin, sayang. Mereka juga habis istirahat seperti Aslam."


Hamzah mencoba tersenyum di depan Aslam walau sebenarnya pikirannya sedang bergemuruh dan tidak karuan. Dia lebih memilih membersamai anaknya terlebih dahulu. Esok lusa baru dia akan menyelidiki tentang hubungan Rama kepada Elizia. Dia tidak mau ada paku yang tersembunyi di dalam bahtera rumah tangganya yang dia bina dengan susah payah.


"Hehe. Ayah, Aslam senang sekali punya teman baru. Terima kasih Ayah. Ayah sudah menyelamatkan teman Aslam karena tadi teman Aslam terbang tinggi."


Aslam memeluk sang ayah dan merasa riang gembira karena dia kini sudah bersanding dengan mainan yang teramat disayanginya. Seolah-olah dia bagai saudara kandung yang tidak mau berpisah dengan balon berwujud Upin-Ipin tersebut.


"Sama-sama, sayang. Sekarang yuk kita main sama Upin dan Ipin."


Hamzah mengelus-elus rambut Aslam yang hitam lebat. Lantas mereka hanyut dalam permainan balon Upin dan Ipin. Saat mereka tengah asik bersenda gurau, muncul Elizia dan berkata,


"Jagoan Mama dan Ayah sudah bangun ya? Kalian makan dulu gih?"


"Ayo kita makan biar sehat dan tumbuh tinggi. Tapi Upin dan Ipin ikut ya Ma? Pasti mereka juga lapar," jawab Aslam sambil memeluk salah satu balon Upin-Ipin tersebut dan mengajak balon itu untuk makan bareng.


Terlihat Hamzah masih terdiam dan mengekor Aslam yang berjalan ke ruang makan. Terlihat Elizia tersenyum sambil berjalan menuju ruang makan. Tidak lama mereka sampai di ruang makan dengan menu masakan dan lauk pauk yang sudah lengkap yang dimasak oleh Elizia.


Menunya sangat bervariatif mulai dari sayur tumis kangkung, sayur bayam, lodeh, sup iga serta buah dan lauk pauk berupa tempe, tahu, ikan dan daging. Tidak lupa segelas susu untuk menunjang pertumbuhan si kecil yakni Aslam Anggara.


"Aslam mau makan pakai sayur dan lauk apa? Kebetulan Mama masak menu yang lumayan banyak agar anak Mama bisa memilih masakan yang disukai."


Elizia mengambil piring dan mulai mengambil satu centong nasi putih lalu menanyakan lauk yang disukai Aslam sambil melirik suami tampannya yang juga mengambil piring dengan lesu untuk makan bersama mereka.


"Aslam sama sayur bayam lauknya ayam goreng ya Ma. Jangan lupa ayo kita berdoa."


Itulah menu yang dipilih Aslam. Elizia mengajarkan kepada Aslam untuk berdoa sebelum dan sesudah makan. Jadi, jika mereka belum berdoa maka, Aslam akan protes.


"Oke. Pinternya anak Mama dan Ayah. Ayo kita berdoa bersama-sama."

__ADS_1


Lalu Elizia membimbing Aslam untuk berdoa sebelum makan. Akhirnya mereka semua berdoa pun juga dengan Hamzah. Hamzah tidak mau memperkeruh suasana walau sebenarnya hatinya dalam keadaan gundah gulana. Dia sangat menyukai momen seperti itu dan sangat mencintai keluarga kecilnya.


"Ma, Ayah, Oma di mana? Kok tidak makan bareng bersama kita? Kasihan Oma kalau belum makan."


Aslam menengok ke kanan dan ke kiri mencari-cari neneknya yang tidak membersamai mereka untuk makan siang.


"Oma sedang istirahat sayang. Oma kelelahan karena tadi 'kan baru saja berjalan-jalan dengan Aslam ke taman. Biarkan Oma tidur, oke?" jawab Elizia kepada Aslam sambil menyendok makanan karena dia juga sedang lapar.


"Em. Kasihan Oma. Tadi Oma lari-lari jagain Aslam terus. Oma baik banget ya Ma, Pa."


Bocah dua tahun itu sudah memiliki rasa empati terhadap keluarganya. Dan dia merasa kasihan kepada neneknya yang rela mengajak Aslam jalan-jalan sampai waktu dhuhur tiba.


"Iya. Maka dari itu, biarkan nenek istirahat dan Aslam tidak boleh nakal ya sama Oma. Karena Oma itu sayang sama Aslam."


Elizia memberi nasihat kepada Aslam agar sayang kepada keluarganya.


"Siap Mama. Ehm. Ayah dari tadi kok diam saja. Ayah gak sakit 'kan?"


Tiba-tiba Aslam menanyakan ayahnya yang sedari tadi diam membisu. Ini membuat jiwa penasaran Aslam meronta. Yang biasanya Hamzah cerewet ketika bergabung bersama keluarganya, kini beda dari biasanya.


"Ehm. Ayah tidak sakit kok. Ayah 'kan baru makan. Jadi, jika makan itu baiknya dihabiskan duli baru berbicara," tutur Hamzah mencari alasan agar anaknya tidak curiga bahwa hatinya sedang dilanda masalah.


"Oh. Gitu. Yasudah Aslam mau makan dulu sampai habis. Nanti jika sudah selesai makan, namti Ayah main lagi sama Aslam dan Upin-Ipin ya?"


Sambil mengunyah makanan sampai penuh, Aslam merengek untuk bermain lagi dengan sang ayah. Karena biasanya setelah Hamzah pulang kerja pasti akan memyempatkan bermain dengan Aslam.


"Siap. Komandan!"


Hamzah terpaksa berpura-pura semangat menjawab pertanyaan dari anaknya. Dia tidak ingin mengecewakan buah hatinya yang tampan dan menggemaskan.


Ting, tung!


Terdengar suara bel berbunyi. Hamzah segera berjalan ke arah depan untuk membuka pintu. Tidak lama, pintu pun terbuka. Hamzah terkejut terlihat seorang pria jangkung berisi yang memakai kemeja putih. Di sampingnya berdiri seorang wanita berwajah burik dengan memakai gamis berwarna coklat dan kerudung instan berwana hitam.

__ADS_1


__ADS_2