Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Tragedi Sina


__ADS_3

Dokter Rama sebenarnya ingin langsung melabrak Hamzah karena geram namun, dia harus segera mengantar istrinya untuk periksa kandungan yang beberapa bulan ini dia sedang hamil muda. Akhirnya dia tidak bisa melabrak Hamzah Anggara dan memutuskan lain waktu akan memberi pelajaran kepadanya.


Waktu itu, Siang hari setelah akad Hamzah akan mengantar Sina ke rumah kediamannya yang kini akan diarahkan oleh istri barunya tersebut karena kondisi Sina yang sudah lumayan dan Sina tidak mau berlama-lama di rumah sakit.


Mereka berjalan menuju tempat parkir mobil, namun saat mereka akan sampai tempat parkiran ada seorang pria jangkung dan memakai penutup kepala sedang merampas bayi perempuan yang cantik tidak lain adalah anak dari Maryam Qonsina.


"Tolong tangkap dia Mas, bayiku dirampas!"


Bayi tersebut berusaha direbut paksa oleh pria misterius yang tiba-tiba datang. Karena kekuatan pria tersebut lebih kuat, bayi Sina berhasil direbut oleh pria misterius itu. Hamzah Anggara yang melihat kejadian itu, langsung berlari untuk mengambil bayi dari genggaman pria misterius tersebut.


Namun, pria tersebut membawa parang yang tajam untuk melawan Hamzah Anggara.


"Hai, penculik, serahkan bayi itu kepada saya!"


Hamzah berteriak kepada penculik tersebut, namun pria tersebut malah melawan Hamzah dengan menendang perut Hamzah hingga terjungkal. Lalu pria misterius tersebut berusaha lari namun dengan sigap, Hamzah mulai bangkit dan melawan pria itu kembali. Seketika, pria tersebut melawan Hamzah dengan parang yang akan siap meluncur di perut Hamzah. Saat itu, Sina melihat Hamzah dalam bahaya maka dia berlari dan berdiri di depan Hamzah.


"Jangan lukai dia! Arrghh, sakit!"


Sina berusaha berlari dan menyetop aksi pria misterius itu agar tidak melukai Hamzah dengan parang yang tajam tersebut. Namun, parang sudah terlanjur meluncur dan mengenai perut Maryam Qonsina.


Kini Maryam berteriak dan ambruk dengan kaedaan parang yang masih menancap di perutnya dan bersimbah d*rah dan matanya tertutup dan tak saarkan diri.


Lalu, orang-orang mulai berkerumun dan membantu Hamzah melawan penjahat itu dan menghajar pria misterius itu sampai habis-habisan. Sampai akhirnya pria misterius tersebut ditangkap oleh petugas satpam. Bayi yang berada dalam gendongan pria tersebut diambil oleh Hamzah dengan sigap dan selamat.


"Sina! Kamu harus bertahan. Tolong istri saya yang terluka!"


Sambil menggendong bayi, Hamzah berteriak meminta tolong agar segera menyelamatkan Sina. Tidak lama, beberapa petugas medis membawa brankar dan menganggkut Sina menuju ruang UGD.


Hamzah ambruk dan menyugar rambutnya karena pikirannya sedang kacau dan tidak karuan. Di sisi lain, dia mengingat Elizia yang masih sibuk dengan resto dan Aslam yang pasti sudah pulang diantar oleh supirnya.

__ADS_1


'Ya, Tuhan. Ujian apa lagi yang kau berikan kepada Hamba. Saya tidak bermaksud menyakiti Elizia. Semoga rumah tangga kami masih bisa diselamatkan,'


Hamzah menyesali kebodohannya karena gegabah dalam mengambil keputusan. Rasa iba terhadap Sina lebih besar sehingga dia tidak bisa berpikir secara jernih. Lantas, dengan membopong bayi, dia menunggu dokter memberi kejelasan tentang kondisi Sina.


"Oek, oek, oek!"


Bayi yang dilahirkan Sina kini mulai menangis. Hamzah bingung bukan kepalang. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena dia tidak pernah merawat bayi. Karena sang bunda dari bayi tersebut sedang terluka karena menyelamatkan Hamzah dari tangan penculik tersebut.


"Sayang, tenang dulu ya? Ayah pasti akan menolongmu," ucap Hamzah kepada bayi tersebut.


'Saya serahkan dulu bayi ini kepada suster untuk merawatnya. Kasihan bayi ini,' batin Hamzah mempunyai solusi agar bayi tersebut diam dan tidak kelaparan.


Dia mulai berjalan menuju ruang perawat sambil menggendong bayi. Beberapa detik kemudian, dia sampai di ruang perawat dan berkata,


"Suster, bolehkah saya menitipkan bayi ini sementara kepada para Duster? Ibu dari bayi ini sedang terluka parah di ruang UGD sehingga tidak bisa memberikan ASI untuknya."


"Baik, Kak. Kami akan merayat bayi tersebut. Jangan khawatir kami akan merawatnya dengan baik," jawab salah satu suster yang memakai kerudung berwarna biru laut tersebut. Lalu suster tersebut segera mengambil bayi dari gendongan Hamzah dan membawa bayi tersebut ke ruang bayi.


"Terima kasih, Suster. Kalau begitu saya akan menemui istri saya terlebih dahulu," jawab Hamzah dengan muka lesu dan kusut.


Suster itu mengangguk pertanda setuju dan paham. Tidak perlu lama, Hamzah menuju ruang UGD kembali. Setelah sampai, kebetulan dokter juga sudah keluar dari ruang tindakan dengan raut wajah muram. Dokter berperawakan tinggi besar dan berkaca mata berkata,


"Anda dengan suami pasien yang bernama Maryam Qonsina?" tanya dokter memastikan.


Dokter itu tidak mau salah orang dalam mengucapkan informasinya.


"Benar, Dokter. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Hamzah dengan raut wajah cemas.


Dia sudah tidak sabar menantikan keputusan dari sang dokter. Dia berjalan mondar-mandir dengan hati tidak karuan.

__ADS_1


"Anda harus bersabar dan diberi ketabahan. Istri Anda mengalami luka sayatan yang parah dibagian tertentu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun istri Anda telah meninggal dunia," jawab dokter itu dengan tegas.


Duar!


Hamzah seperti disambar petir di siang bolong. Istri yang baru beberapa jam dia nikahi, kini telah meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan.


Wanita itu, Maryam Qonsina, wanita yang sudah meregang nyawa menyelamatkan Hamzah Anggara dari penculik misterius.


Tangan Hamzah mengepal, akan memberi pelajaran kepada pria yang sudah membuat Sina meninggal dunia. Walaupun Sina hanya istri beberajam yang baru sah, tetapi dia tidak akan terima dia terluka.


*** ***


Beberapa jam kemudian, Sina sudah dikebumikan di pemakaman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Petugas medis dan para tetangga ikut mengebumikan Sina karena mereka tidak tahu siapa sanak kerabat dari wanita malang tersebut.


Kini tinggal Hamzah dan bayi yang digendongnya melihat pusara sang bundanya yang sudah tiada.


Drrt drrt


Tertera nama Elizia yang menelepon. Hamzah segera mengangkat telepon dari Elizia.


"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Hamzah dengan suara agak serak.


"Mas ada di mana? Aslam dari tadi mencemaskan Mas. Mas baik-baik saja 'kan? Dari tadi Aslam merengek-rengek ingin ayahnya segera pulang," tanya Elizia dengan nada cemas.


Ikatan batin Aslam dengan ayahnya memang kuat, hingga kini bocah kecil itu tahu, baru saja ayahnya sedang mengalami musibah. Elizia tidak tahu sama sekali, bahwa suaminya sedang memgalami musibah.


"Iya, Sayang. Mas akan segera pulang. Tunggu Mas ya? Mas lagi ada di makam. Mas baik, baik saja kok."


Hamzah meenjawab pertanyaan dari Elizia di seberang telepon sana. Hamzah akan berusaha jujur dengan Elizia apa pun yang terjadi karena dia tidak mau rumah tangganya hancur hanya karena kebodohan darinya.

__ADS_1


__ADS_2