
Di sore hari, di rumah keluarga Hamzah sedang kedatangan tamu yakni dokter Rama Andhika dengan seorang wanita yang jauh dari kata cantik. Wajahnya kusam dan berjerawat. Hanya saja postur tubuhnya yang ideal.
Dengan penasaran, Hamzah lalu mempersilakan masuk tamunya tersebut. Tidak perlu waktu lama mereka duduk di sofa. Tamu itu duduk saling berdekatan dan terlihat mesra. Sontak, hati Hamzah bertanya-tanya.
'Apakah wanita burik itu istri dari Rama Andika? Jika iya, masak iya, dokter setampan dia, mau menikah dengan wanita burik seperti dia. Bukankah Rama Andhika menyukai Elizia?' tanya Hamzah dalam hatinya.
"Maaf, ini dokter Rama 'kan? Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya, kalian bertamu di sini?" tanya Hamzah dengan penasaran.
"Iya. Maaf sebelumnya ya Mas Hamzah, jika kedatangan kami mengganggu istirahat Anda. Kami ke sini hanya mampir sebentar untuk memberikan undangan pernikahan saya dengan calon istri saya yang bernama Adelia. Nanti kalian datang ya pada resepsi pernikahan. Ini undangannya."
Dokter Rama memberikan undangan kertas berwarna biru yang dibungkus plastik bening mengkilat dan berbau harum. Terlihat senyum yang dipaksakan dari raut wajah dokter itu. Seperti ada yang disembunyikan.
Saat itu, Aslam dan Elizia muncul dari arah ruangan dalam dan Aslam terlihat raut wajah gembira karena sedang membawa balon Upin-Ipin.
Lalu Elizia dan Aslam semakin mendekati di mana Hamzah duduk.
"Sini Aslam, duduk di dekat Ayah."
Aslam menuruti perintah ayahnya yang duduk di samping Hamzah. Dan di samping Aslam duduklah Elizia dengan kalem. Elizia terkejut melihat tamu yang datang. Elizia masih terdiam karena jika dia memulai pembicaraan takutnya suaminya akan ngambek lagi.
"Ayah, mereka siapa? Kenalin dong? Siapa tahu nanti mereka mau bermain sama Aslam dan Upin-Ipin ini."
Aslam tidak takut dengan para tamu tersebut malah ingin berkenalan dengan mereka. Aslam senang berteman dengan orang banyak.
"Oh. Iya. Adik namanya siapa. Saya Om Rama dan ini Tante Adelia teman Ayah dan Mama kamu. Kamu kecil-kecil sudah berani ya?"
Seketika dokter Rama menyahut pertanyaan dari Aslam yang berbicara dengan berani dan tidak canggung sedikit pun.
"Oh. Om Rama dan Tante Adelia. Saya Aslam Anggara dan dipanggil Aslam. Om, Tante ke sini mau nemenin Aslam bermain ya?"
__ADS_1
Mereka semua tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala kala melihat Aslam yang asal-asalan berbicara dengan nada polosnya. Dia belum mengetaui maksud dari kedatangan tamu tersebut. Sepengetahuan Aslam, mereka bertamu untuk mengajak Aslam bermain. Di pikiran bocah kecil itu, hanya bersenang-senang dan bermain.
"Hehe, bukan, Dik. Kami mau ke sini ingin bersilaturahmi dan memberikan undangan pesta. Besok lusa Adik datang ke pesta kami ya? Nanti Om kasih kue tart yang enak banget. Mau 'kan?"
Dokter Rama menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Aslam dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Dia juga mengajak Aslam untuk menghadiri acara pesta pernikahan dokter Rama Andhika.
"Oh. Gitu. Ya. Kirain kalian mau main dengan Aslam. Pestanya masih lama ah. Aslam gak mau ikut. Aslam maunya main sama Upin-Ipin saja gak mau pesta. Palingan nanti Aslam dicuekin," jawab Aslam dengan bibir yang dimanyunkan hingga terlihat menggemaskan.
Dia anak balita namun pemikirannya sudah seperti anak-anak remaja. Aslam dongkol jika tidak diperhatikan dan hanya dicuekin.
"Hehe. Aslam, 'kan bermainnya nanti bisa sama Mama dan Ayah, mereka nanti masih sibuk untuk bekerja seperti Ayah. Jadi, Aslam jangan ngambek ya? Jika Aslam tidak mau hadir di acara pesta ya gak apa-apa. Tapi gak dapat kue tart dari Om."
Elizia menjawab pertanyaan dari Aslam yang ngambek karena dokter Rama tidak bisa menemani Aslam untuk bermain.
"Begitu, ya, Ma. Yasudah Aslam mainnya sama Upin-Ipin saja. Tidak usah sama Om dan Tante."
Kini akhirnya Aslam menurut apa kata Elizia dan kini bocah itu mulai terdiam sambil menatap polos ke arah Rama dan wanita yang bernama Adelia.
Dokter Rama dan Adelia kini berpamitan
kepada keluarga Hamzah.
"Sama-sama, Dokter. Terima kasih kalian sudah sudi mampir ke rumah kami. Kami akan mengusahakan untuk hadir di acara pesta pernikahan Anda dan calon istri Anda," jawab Hamzah yang sudah berdiri di sofa untuk bersiap-siap mengantarkan tamunya sampai pintu gerbang.
Lalu tamu itu mulai berjalan untuk segera pergi dari rumah keluarga Hamzah Anggara. Dengan cepat tamu itu menaiki mobil berwarna hitam dan tidak lama mobil itu melaju sampai tidak terlihat dari rumah Hamzah.
Prasangka buruk yang tadi tumbuh di hati Hamzah kepada Elizia dan dokter Rama kini sirna karena sudah terbukti dokter Rama hanya sebatas suka dengan Elizia tanpa mempunyai keinginan untuk merebut Elizia dari Hamzah Anggara.
*** **** ***
__ADS_1
Pagi itu, tepatnya pukul 10.00 pagi, keluarga kecil Hamzah termasuk Aslam sudah memasuki hotel mewah di salah satu kotanya untuk menghadiri acara pesta pernikahan dokter Rama Andhika dan Adelia.
Dekorasi indah, serta irama alunan musik romantis menggema di ruangan megah di lantai bawah hotel tersebut. Banyak pula balon beraneka warna bertengger di setiap sudut ruangan membuat ruangan tersebut meriah merona.
"Mama, Ayah, balonnya banyak sekali. Aslam ada di mana ini?"
Aslam yang memakai pakaian rapi berkemeja anak berwarna hitam dan celana coklat terlihat begitu tampan dan menggemaskan. Elizia yang menggandeng Aslam memakai kebaya gamis berwarna couple hitam senada dengan yang dipakai Aslam dan suaminya Hamzah Anggara. Pakaian mereka terlihat elegan dan menawan.
"Iya, sayang. Ini 'kan acara pesta dari Om Rama dan Tante Adelia, jadi ya banyak balon dan dekorasi indah lainnya sayang. Ayah, Aslam, ayo kita ke sana melihat calon temanten yang sudah duduk di singgasana."
Saat itu tamu berjubel-jubel mulai berdatangan hingga Elizia dan Aslam berjalan secara berhimpitan dengan banyak orang.
"Mama, Ayah, tunggu Aslam."
Ternyata Aslam tertinggal dari Mama dan Ayahnya. Elizia salah menggandeng orang. Lantas, tiba-tiba seorang pria jangkung dengan kepala yang bertopi hitam dan memakai kaca mata hitam membopong Aslam menuju luar gedung tersebut.
"Om, aku mau dibawa ke mana. Aslam ingin bersama Ayah dan Mama. Tolong! Tolong! Hik, hik."
Aslam menangis sejadi-jadinya karena dirinya sedang digendong oleh pria misterius yang membawa bocah itu ke dalam mobil berwarna merah. Aslam diletakkan di jok tengah oleh pria misterius tersebut. Seketika, mobil berwarna merah tersebut mulai melaju dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.
Di ruangan hotel di mana pesta dokter Rama berada, kini Elizia terkejut bukan kepalang bahwa yang dia gandeng seorang nenek-nenek tua dan bukanlah Aslam.
"Mas, Aslam di mana? Yang saya gandeng bukanlah anak kita! Mas tolong, ayo cari anak kita!"
Lantas, Elizia merasa seperti kehilangan sesuatu hal yang paling berharga. Dia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dirinya lengah.
"Ya, Tuhan. Aslam 'kan tadi sama kamu, sayang. Yasudah ayo kita cari ke seluruh ruangan ini. Dan kita berpencar. Jika kita sudah menemukan kita bisa 'Video Call'."
Lalu Hamzah dan Elizia mulai berpencar untuk mencari anak satu-satunya yang dia sayang. Setengah jam mencari Aslam, namun belum ditemukan juga. Elizia merasa lunglai dan terpaksa dia berkata,
__ADS_1
"Mas, ayo cepat kita telepon polisi agar Aslam segera dicari oleh mereka. Saya yakin, Aslam pasti diculik oleh orang jahat," tutur Elizia kepada Hamzah dengan perasaan cemas dan was-was.
Lalu Hamzah Anggara segera menelepon anak buahnya dan pihak kepolisian untuk mencari anaknya Aslam yang kini masih menghilang.