
Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB, Rihana masih menginginkan mangga muda milik nenek Rumi. Ibu mertuanya disuruh meminta buah mangga di halaman rumah nenek Rumi namun dia menolak karena malu. Lantas, Rihana marah-marah sampai melempar baskom hingga Zafian yang baru saja istirahat untuk memulihkan keadaannya mulai terbangun.
"Ada apa sih, Ma. Kok rame seperti pasar? Kalian selalu saja ribut. Kapan Zafian akan sembuh? Saya juga sudah kepengin istirahat agar aku bisa cepat kerja lagi, kalau kelamaan libur, takutnya dipecat sama Bos!"
Zafian keluar dari kamarnya dan mengeluh kepada Widya dan Rihana yang selalu ribut masalah sepele. Zafian merasa bosan mendengarkan pertengkaran setiap hari. Dia ingin bisa istirahat secara maksimal agar segera pulih dan bisa bekerja namun, diganggu oleh kericuhan istri dan ibunya sendiri.
"Mas, aku kepengin minta mangga muda milik nenek Rumi yang besar-besar itu, tetapi Ibu Widya tidak mau ke sana untuk meminta! Rihana tadi sudah ke sana dan meminta buah mangga sendiri. Mas tidak kasihan dengan calon bayi ini?"
Rihana masih merengek kepada suaminya untuk meminta mangga muda tersebut. Dia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan buah mangga muda kepunyaan nenek Rumi yang berbuah lebat di halaman depan rumahnya.
"Kamu beli saja di pasar di sana juga banyak 'kan? Mama Widya ya malu dong, jika harus ke rumah nenek Rumi. Kemarin 'kan kalian sering menghina Elizia. Kalau kamu sayag Mas, jangan aneh-aneh ya? Mas lagi sakit nih. Kalau sudah sembuh nanti Mas antar. Sekarang kamu beli sendiri dulu ya?"
Zafian mencoba merayu Rihana untuk membeli buah mangga di pasar. Dia sadar, keluarganya sudah menghina Elizia habis-habisan jadi, maklum kalau Widya malu ke rumah nenek Rumi. Karena di rumah dia ada Elizia yang sudah mempunyai suami kaya raya.
"Tuh, kamu kalau dibilangin ngeyel. Ibu tidak sudi jika harus meminta mangga di rumah nenek Rumi. Beli di pasar saja bisa, kamu kok aneh-aneh. Bikin Ibu pusing seribu keliling," jawab Widya yang dongkol kepada mantu barunya itu.
Bu Widya kini merasakan imbasnya mempunyai menantu baru yang tidak lebih baik dari pada menantu pertamanya yakni Elizia.
"Terserah kalian mau ngomong apa, jika kalian tidak mau mengantar saya meminta buah mangga milik nenek Rumi, saya akan ke sana sendiri!"
Rihana tidak memgindahkan perkataan dari suaminya. Dia tetap ngeyel dan berdiri dari tempat duduknya dan segera pergi menuju rumah nenek Rumi. Bu Widya dan Zafian geleng-geleng kepala karena Rihana sangat keras kepala.
Ditengah perjalanan menuju rumah nenek Rumi, Rihana berpapasan dengan ibu-ibu Gengster yang sedang selesai berbelanja dari warung bu Tuti untuk menuju ke rumah masing-masing.
"Wah, ada pelakor mau ke mana ya? Dengar-dengar kamu sudah hamil ya? Baru saja kamu ngidam buah mangga muda sebaskom 'kan? Jangan-jangan calon anaknya pas lahir nanti seperti Buto Ijo yang suka makan kelewat batas. Eh. Atau lahir bayi rewel sama persis seperti ibunya? Hehe."
Bu Ratih berjalan bersama tetangga untuk memasuki rumah mereka masing-masing, namun ketika melihat ada Rihana, niat mereka diurungkan, mereka ingin menggoda Rihana yang sedang berjalan kaki entah ke mana.
"Dasar ibu-ibu julid! Jangan menghina calon bayi yang masih di rahim ya ibu-ibu, nanti kena karmanya. Ah. Sudahlah. Tidak ada habisnya nanti kalau saya berdebat dengan kalian! Aku mau pergi dulu!"
Lalu Rihana berjalan cepat dan tidak lagi menggubris para ibu-ibu komplek. Dia langsung menuju rumah nenek Rumi. Lima menit kemudian, dia telah sampai. Dan berkata kepada satpam yang berjaga.
"Pak, saya yang tadi meminta mangga muda milik rumah ini. Saya mohon ingin meminta kembali buah mangga muda tersebut karena jika saya tidak memakan buah mangga itu, perut saya mual sekali!"
__ADS_1
Rihana memohon untuk diberikan buah mangga tersebut. Calon bayinya meronta-ronta ingin memakan buah mangga milik nenek Rumi. Rihana sudah berusaha untuk menahan beberapa menit saja untuk tidak maka buah tersebut, namun masih saja kepengin dan mual-mual.
"Sebentar, saya akan menemui nenek Rumi terlebih dahulu."
Satpam itu segera masuk ke dalam rumah nenek Rumi dan menemui pemilik rumah tersebut.
Beberapa menit kemudian, Hamzah dan Elizia yang menemui Rihana.
"Ini dua kantong plastik buah mangga spesial untuk kamu. Kamu pasti ke sini ingin buah ini 'kan?" tanya Elizia seketika.
Elizia membawa dua kantong plastik berisi buah mangga muda yang akan diberikan kepada Rihana.
"Oh. Iya. Terima kasih. Mana buahnya? Saya akan membawa pulang buahnya sekarang."
Rihana meminta buah mangga yang diberikan oleh Elizia tanpa rasa malu sedikit pun. Yang ada dalam benaknya adalah menuruti calon bayi yang ada di rahimnya.
"Iya. Akan aku berikan, tetapi dengan satu syarat yakni kamu dan suami kamu jangan pernah mengganggu dan menghina istri saya Elizia. Jika kamu mau memenuhi syarat tersebut, saya akan memberikan buah mangga muda tersebut kepada kamu!"
Hamzah Anggara memberi syarat kepada Rihana sebagai tanda dia boleh membawa mangga muda tersebut. Hamzah tidak ingin istrinya selalu dihina dan dicaci maki oleh siapa pun itu.
Rihana menyetujui syarat yang diajukan oleh Hamzah sehingga buah tersebut langsung diberikan kepada Rihana. Dia sangat kegirangan serta dia segera pulang karena tidak sabar ingin memakan buah tersebut.
Tidak lama terdengar deru suara mobil berhenti di depan pintu gerbang rumah tersebut. Seorang wanita berkerudung merah hati dan memakai gamis berwarna hitam turun dari mobil Pajero berwarna putih. Kebetulan Elizia dan Hamzah juga berada di pintu gerbang tersebut.
"Mbak, Annisa? Ayo silakan masuk!"
Elizia menyilakan masuk tamunya dan berpura-pura kalem dan polos di depan Annisa. Elizia ingin mengetahui rencana apa yang dilakukan Annisa. Lalu Annisa masuk ke dalam ruang tamu dan segera duduk. Hamzah juga duduk saling berhadapan untuk menghormati tamunya. Elizia kini ke belakang untuk membuat minuman teh manis. Beberapa menit kemudian, Elizia kembali ke ruang tamu dan meletakkan tiga gelas teh manis di atas meja.
"Terima kasih, Liz. Sudah repot-repot membuatkan teh manis. Saya ke sini mau memberikan surat ini kepada mas Hamzah. Dan ini ada beberapa souvenir dan makanan khas arab dari ayah saya dan dia membelinya langsung dari arab."
Annisa memberikan kertas tebal berwarna biru laut yang katanya ditujukan untuk Hamzah Anggara dan memberikan oleh-oleh khas Arab.
"Memangnya surat apa ya, Mbak? Kok ditujukan kepada Mas Hamzah?" tanya Elizia penasaran.
__ADS_1
Elizia menangkap wajah Annisa yang beraut wajah cemas dan gugup membuat Elizia semakin penasaran. Syak wasangka yang tidak-tidak mulai bermunculan di benak Elizia. Pasti Annisa merencanakan sesuatu yang rahasia.
"Nanti setelah saya pergi kalian baca saja surat tersebut. Yasudah ya, Liz, saya pamit segera pulang. Saya tidak bisa berlama-lama disini karena saya harus menjenguk mama saya yang sedang sakit di rumah sakit."
Annisa segera pamit undur karena ada keperluan penting yakni mamanya sedang dirawat di rumah sakit.
"Memangnya mama kamu sakit apa, Nis?" tanya Hamzah tiba-tiba angkat bicara.
Yang awalnya Hamzah tidak begitu peduli dengan Annisa, tetapi karena mendengar mama dari Annisa sakit, Hamzah langsung angkat bicara sebagai tanda Hamzah masih peduli dengan sanak keluarganya.
"Mama sa-sakit kanker otak, Mas. Maaf saya harus pergi sekarang juga!"
Dengan terbata Annisa menjawab pertanyaan dari Hamzah Lalu Annisa segera beranjak pergi dari rumah keluarga Hamzah
"Tunggu, Nis. Apakah kami boleh menjenguk mama kamu yang sedang sakit di rumah sakit? Coba katakan di mana rumah sakitnya maka, kami akan segera ke sana!"
Tiba-tiba Hamzah menanyakan alamat rumah sakit di mana mama Annisa dirawat karena Hamzah merasa tidak enak jika tidak menjenguk keluarganya sendiri.
"Di rumah sakit "Siaga Medika" dengan kamar VIP nomor 9. Yasudah saya duluan karena pasti mama membutuhkan saya."
Annisa berlalu begitu saja dan dengan berjalan tergopoh-gopoh karena mengkhawatirkan mamanya yang sedang sakit parah.
"Liz, kamu mau menemani Mas menjenguk mamanya Annisa 'kan? Dia masih dalam kategori keluarga kita."
Dengan sorot mata tajam ke arah Elizia, Hamzah meminta pertimbangan kepada Elizia untuk menjenguk mamanya Annisa.
"Iya, Mas. Tapi kita izin nenek Rumi dulu. Siapa tahu beliau juga mau ikut."
Elizia harus berpamitan terlebih dahulu kepada nenek Rumi. Lantas, mereka bergegas ke kebun belakang karena nenek sedang menyirami tanaman di halaman belakang. Elizia lalu megutarakan maksudnya dan disetujui oleh nenek Rumi. Akhirnya mereka bertiga berencana akan menjenguk mamanya Annisa.
"Mas, ini suratnya kita baca yuk? Setalah itu kita bisa menengok mamanya Annisa?"
Elizia dan Hamzah sudah kembaki ke kamar untuk berganti pakaian dan bersiap-siap ke rumah sakit pun juga dengan nenek Rumi. Tetapi di sela-sela kesibukan tersebut, Elizia menawarkan kepada Hamzah untuk membuka surat tersebut dan akan membacanya.
__ADS_1
"Buka saja, kamu baca dulu! Nanti Mas juga akan membaca!"
Hamzah memerintahkan istrinya untuk terlebih dahulu membaca surat tersebut. Tidak perlu menunggu lama Elizia lalu membuka dan membaca isi surat wasiat tersebut. Sontak Elizia kaget dan mematung. Hati Elizia bagai disambar petir di siang bolong. Pertahanannya runtuh seketika. Lalu Elizia kini pingsan tak sadarkan diri.