
Tepatnya pukul 14.00 siang, Hamzah Anggara meminta pertolongan kepada perawat dan dokter untuk segera menangani Elizia yang sedang tidak sadarkan diri. Bergegas Elizia langsung dilarikan ke ruang ICU untuk diperiksa dan ditangani oleh dokter secara lebih lanjut.
"Tuan Hamzah, Anda harus bersabar, kami dari pihak medis akan memeriksa kondisi Elizia secepatnya. Doakan saja istri Anda akan selamat."
Dokter wanita yang berusia sekitar 35 tahun segera menuju ruang ICU untuk memeriksa kondisi Elizia yang melemah dan tak sadarkan diri. Lalu Hamzah segera melihat bayinya yang sudah dimandikan oleh perawat dan diberikan di ruangan khusus bayi dan diletakkan di troly bayi berbentuk kotak.
"Hai, sayang. Ini Ayah. Kamu imut sekali. Kamu bobok dulu dan jangan rewel, ya? Doain Mama kamu cepat sehat."
Hamzah mengajak berbicara anak laki-lakinyanya yang masih bayi. Saat itu, Hamzah menangis kerena anaknya yang seharusnya mendapat kehangatan dari ibunya, kini bayi mungil tersebut tidur sendiri di kotak bayi yang disediakan oleh perawat. Sementara bayi itu akan diberikan susu formula yang sudah dipersiapkan oleh tim medis. Jadi, Hamzah tidak begitu khawatir kepada bayinya tersebut.
Tiba-tiba dibelakangnya ada yang menepuk pundaknya.
"Kamu? Kamu kenapa membuntuti saya! Cepat pergi dari sini!"
Siti sudah berada di belakang Hamzah Anggara. Dia membentak dan mengusir Siti. Hamzah Anggara tidak mau melihat wanita seperti Siti. Kala itu Siti terlihat wajah yang kalem dan ceria tidak seperti saat Elizia sehat. Dia senang jika Elizia sakit. Itu akan memudahlan Siti untuk mendekati Hamzah.
"Tuan, ini saya mengembalikan dompet yang terjatuh di ruangan depan VIP. Tadi terjatuh dan untungnya Siti melihatnya. Jika tidak, pasti sudah raib dompet Tuan Hamzah."
Tanpa diduga, dompet Hamzah terjatuh dan ditemukan oleh Siti. Siti sengaja tidak mengambil uang maupun kartu-kartu penting milik majikannya karena dia akan berusaha mendekati dan menakhlukkan majikannya itu.
"Kok bisa sih terjatuh. Awas ya jika kamu mengambil uang dan barang saya!"
Dompet itu dengan cepat diraih oleh Hamzah. Dan dia mulai membuka isi dompet tersebut. Kini dia sedikit lebih lega karena uang beserta kartu-kartu pentingnya tidak hilang.
Seketika, Hamzah mulai menatap Siti sesat dan heran uang lembaran berwarna merah sebanyak sepuluh lembar tidak diambil olehnya sedikit pun. Hamzah mulai bertanya-tanya dalam hatinya mengenai sifat aneh Siti tersebut.
"Maaf, Tuan. Saya juga kurang faham. Saya tadi mau ke toilet, di depan saya terlegeletak dompet. Lalu dompet itu saya ambil, dan ternyata ada nama lengkap di dompet itu dengan nama 'Hamzah Anggara. Dengan cepat saya kembalikan kepada Tuan siapa tahu Tuan segera membutuhkan uang tersebut," jawab Siti yang berpura-pura gugup.
Siti ingin selalu dekat dengan tuannya tersebut karena hatinya berbunga-bunga melihat pria tampan yang ada di hadapannya. Sungguh tidak mengira, dia bisa sedekat ini dengan pria sejuta pesona.
"Oh. Yasudah kamu kembali saja di ruang tunggu. Menantikam istri saya sembuh. Dan saya katakan kembali, kamu jangan berbuat macam-macam dengan istri atau bayi saya! Paham!"
Hamzah harus tegas dengan wanita seperti Siti agar tidak berbuat jahat yang bisa mencelakai keluarga kecilnya.
__ADS_1
'Yuhu. Tuan Hamzah tidak mengusirku lagi dan masih menganggapku sebagai ART. Aku bisa lebih lama mencium aroma tubuhnya yang wangi dan membuatnya mabuk kepayang,'
Siti masih melamun membayangkan dirinya dengan Hamzah. Siti sangat bucin terhadap Hamzah, sampai-sampai dia tersenyum sendiri dan masih berdiri di depan ruangan khusus bayi.
"Mbak. Maaf, Mbaknya waras 'kan? Ini Tuan Berto mau lewat, Mbak mengagumi saya yang ganteng ini ya?"
Tiba-tiba seorang 'Cleaning Servis' berambut keriting dan terlihat salah satu giginya ompong berpapasan dengan Siti yang masih tersenyum cengar-cengir sendiri seperti orang gila.
"Apa? Muka seperti badut namanya Tuan Berto? Saya gak level lah, sama pria seperti kamu!"
Seketika Siti tersadar dari lamunannya setelah seorang pria berumur sekitar 30 tahun berwajah aneh menyapanya. Dia merasa risih didekati pria yang menurutnya jelek tersebut. Siti membayangkan bersama dengan Hamzah Anggara tetapi malah dia sudah tidak berada di depannya. Yang ada malah seorang pria berambut kriting dan berkulit hitam serta bergigi ompong.
"Hehe. Kamu marah ya? Kirain kamu suka sama saya, kamu senyum-senyum sendiri sih? Seperti orang gila itu Neng?"
Pria itu meledek Siti karena gemas melihat tingkah wanita itu yang senyum-senyum sendiri.
"Heh, muka badut, mendingan kamu pergi deh sebelum pacarku yang tajir dan tampan datang. Apa perlu saya panggilkan dia sekarang?"
Siti membohongi pria tersebut agar dia segera pergi dari hadapan Siti. Dia tidak mau berkenalan dengan pria yang dia anggaap jelek dan tidak level menurutnya.
Seorang dokter berkata,
"Pasien yang bernama Elizia kini sudah sadar dan kondisinya mulai membaik. Anda suaminya? Dia dari tadi memanggil nama Hamzah. Katanya dia ingin segera bertemu dengan suaminya."
Dokter keluar dari ruangan ICU di mana Elizia kini dirawat. Dokter itu seperti terburu-buru jadi dia tidak bisa lama berbincang dengan Hamzah.
"Syukurlah, ya Tuhan. Baik Dok, terima kasih sudah menangani Elizia dengan baik. Saya akan segera menemui istri saya."
Lalu dokter itu segera mengangguk dan hendak pergi karena mungkin banya pasien yang harus segera ditangani. Siti memanyunkan bibirnya pertanda jengkel, karena Elizia mulai tersadar. Hal itu akan menyulitkan Siti untuk dekat dengan Hamzah.
Seketika, Hamzah akan memasuki ruang ICU dan Siti mengekor Hamzah dari belakang. Saat itu Hamzah menoleh ke belakang dan berkata,
"Hai, Siti. Kamu di luar saja! Kamu jangan ikut saya ke dalam. Saya takut kamu akan berbuat macam-macam dengan istri saya!"
__ADS_1
Dengan tegas Hamzah menyuruh Siti berada di luar ruang ICU. Sedangkan Hamzah segera masuk ke ruangan tersebut dan ingin segera menemui istri tercintanya. Benar apa kata doter bahwa Elizia telah membuka mata dan tersenyum manis kepada Hamzah.
"Sayang. Alhamdulillah kamu sudah sadar. Itu lho dedek kita sudah menunggu kamu. Dedeknya imut seperti Istri Mas satu-satunya ini."
Hamzah segera mencium kening istrinya karena sangat gembira dan terharu. Hamzah lalu berusaha berbincang dengan Elizia dan membuatnya senang.
"Mas, di mana anak kita? Eliz kepengin melihat dan memberikan ASI kepadanya. Eliz sangat mengkhawatirkannya."
Denga suara agak serak, Elizia mencari keberadaan bayi yang baru dia lahirkan beberapa jam lalu. Dia tidak mau jauh dengan anak yang susah payah dia lahirkan.
"Sayang, kamu tenang saja dedeknya berada di ruangan para bayi. Nanti Mas meminta perawat untuk membawakan bayi kita ke sini. Oh ya. Ngomong-ngomong, dedeknya kita beri nama siapa ya?"
Hamzah yang berdiri di samping istrinya mulai menjelaskan di mana keberadaan bayi mereka. Dan Hamzah menanyakan nama bayi untuk anaknya.
"Oh. Iya. Eliz segera ingin melihat bayi kita Mas. Untuk soal nama jika itu anak laki-laki, Mas Hamzah saja yang memberi nama."
Begitulah jawaban yang diberikan Elizia kepada suaminya yang menanyakan tentang nama bayi.
"Baik. Mas akan memberikan nama 'Aslam Anggara' dan kita panggil dengan nama 'Aslam' bagaimana, sayang?"
Hamzah Anggara memberikan nama anaknya 'Aslam Anggara'. Baginya, itu adalah nama yang pas dan bagus. Dia meminta tanggapan dari istrinya mengenai nama yang sudah dia sebutkan.
"Wah. Nama yang bagus. Eliz setuju kok. Mas, Eliz pengen lihat dedek bayinya karena sudah kangen?"
Elizia merengek manja kepada suaminya untuk segera melihat bayinya.
"Iya, sayang. Mas keluar dulu meminta perawat untuk mengambil bayi kita!"
Hamzah mulai keluar dari ruangan di mana istrinya dirawat. Saat di pintu keluar tiba-tiba Siti sudah menggendong bayi yang menangis. Lantas, Hamzah penasaran dan mendekati Siti dan berkata,
"Siti, itu 'kan bayi saya? Kenapa kamu lancang menggendongnya dan tidak meminta izin kepada saya?"
Hamzah emosi karena tiba-tiba bayinya sudah berada digendongan Siti sambil memberikan minum susu formula yang berada di botol bayi.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya sangat kasihan dengan bayi ini karena menangis terus. Terpaksa saya gendong dan berusaha memberinya minum. Tuan, saya tidak memberinya racun kok. Jika Tuan tidak percaya, saya dilaporkan saja ke polisi!"
Siti mencari-cari perhatian kepada Hamzah Anggara agar semakin menyukainya. Dan menerimanya sebagai bagian dari keluarganya. Dan Siti berusaha menghilangkan keangkuhan Hamzah kepadanya yang saat ini masih galak kepadanya.