
Pagi itu, setelah selesai penyembelihan hewan aqiqah dikediaman keluarga Hamzah Anggara, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang pria jangkung berpakaian compang-camping untuk meminta daging kambing satu kantong plastik. Dia meminta daging tersebut karena merasa lapar seharian belum memasak dan makan.
Saat Hamzah dan para warga menoleh ke arah pria tersebut, mereka tersentak kaget. Seketika, pak ustad Suhadi berkata,
"Bukannya kamu Mas Zafian?"
Pak ustad Suhadi mendekati pria tersebut dan memandang pria itu dari atas sampai bawah. Dan dia mengenalnya bahwa pria berpakaian compang-camping itu adalah Fauzan yakni anak dari ibu Widya seorang tetangga komplek perumahan yang tidak jauh dari rumah keluarga Hamzah namun beda RT.
"Benar Pak Ustadz, saya Zafian, setelah saya dibebaskan dari sel penjara oleh Ayah saya, saya pulang ke rumah Mama dan Mama saya mengusir saya karena saya dianggapnya anak durhaka. Untuk tinggal di rumah Ayah, saya malu dengan istri barunya. Jadi, sekarang saya tinggal di rumah kardus di bawah jembatan sana!"
Ternyata pria compang-camping yang meminta daging kambing tersebut adalah Zafian yang sudah keluar dari sel penjara. Kehidupannya kini berubah seratus persen yang dulu bergelimang harta kini menjadi gelandangan akibat ulahnya yang gegabah.
"Oh. Begitu. Bagaimana Mas Hamzah? Mas Zafian ingin meminta daging mentah satu kantong plastik apakah diberi atau tidak?"
Pak ustadz Suhadi meminta saran kepada Tuan Rumah tentang Zafian yang meminta daging kambing aqiqah.
"Oh. Sebentar."
Hamzah segera mengambil satu kantong plastik lalu daging itu diberikan kepada Zafian.
"Ini Zafian. Jika ingin makan masakan matang ayo ke dalam makan bersama saya!"
Selain memberi daging kambing sebanyak sekantong plastik, dia juga menawari Zafian untuk makan bersamanya di dalam rumah Hamzah. Walau bagaimana pun Hamzah adalah teman semasa kuliahnya dulu dan Hamzah merasa iba kepada Zafian yang saat ini sedang kesusahan.
"Tidak, Hamzah. Saya hanya meminta daging mentah ini saja kalau begitu saya segera pamit."
Dengan menenteng sekantong plastik berisi daging, Zafian segera berbalik dan akan pulang ke rumah kardusnya yang berada di bawah jembatan dekat jalan raya sana.
"Fauzan! Tunggu dulu! Ini saya beri ongkos buat kamu untuk keperluan hidup kamu. Diterima ya?"
__ADS_1
Hamzah berjalan cepat mendekati Zafian yang sudah berbalik arah dan sebelum sempat Zafian pergi terlalu jauh, Hamzah sudah menghentikannya terlebih dahulu dan memberikan lembaran uang merah sebesar lima lembar. Hamzah sangat iba melihat Zafian yang seperti itu. Dan sepertinya sifatnya sudah berubah maka, Hamzah mau membantu pria malang tersebut.
"Hamzah, tidak usah repot-repot, saya bisa bekerja sendiri. Uang itu berikan saja kepada Elizia, istri kamu yang sholehah itu. Saya tidak pantas mendapatkan uang sebanyak ini. Saya sekarang sadar, kebahagiaan itu sederhana dan tidak harus mewah. Yasudah, teman. Aku pulang dulu. Sampaikan salamku kepada Elizia."
Seorang Zafian mulai menangisi dirinya. Karena baru kali ini dia tersadar betapa berharganya Elizia di matanya. Namun, sekarang dia tidak mau mengganggu mantan istri pertamanya itu. Karena Elizia berhak bahagia dengan pria yang tepat untuknya, bukan dengan dirinya yakni lelaki egois yang tidak tahu perasaan terhadap wanita. Dia kini menyesali semua perbuatannya. Dia akan menebus kesalahan pada dirinya dengan hidup tenang di bawah jembatan berumah kardus walau penuh dengan derita.
"Fauzan. Terimalah uang ini. Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja saya ingin memberikan hadiah untuk kamu."
Hamzah masih memaksa Zafian untuk menerima pemberian uang tersebut karena dia merasa ada orang yang sangat membutuhkan uang tersebut. Hamzah merasa bersalah jika uang itu tidak diterima oleh Zafian.
"Tidak! Jangan paksa saya untuk meminta uang itu dari kamu, Hamzah! Saya akan berusaha mencari pekerjaan sendiri. Saat ini saya hanya membutuhkan daging ini, permisi."
Zafian tetap pada pendiriannya yakni tidak mau menerima uang yang diberikan Hamzah untuknya karena dia merasa dirinya bisa menghidupi kehidupannya sendiri walaupun sebenarnya saat ini dia sangat membutuhkan uang untuk makan dan keperluan untuk menyambung hidup.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau, tetapi jika kamu membutuhkan uang, kamu bisa menghubungi saya. Saya siap membantu kamu, teman."
Dengan senyum manis, Hamzah menawarkan bantuan kepada Zafian kapan pun itu waktunya. Selama Zafian sudah berubah, dan menjadi lebih baik maka, Hamzah akan siap membantu temannya tersebut.
Seketika, Zafian mulai menginjakkan kaki menuju rumah kardus buatannya yang ada dibawah jembatan dan semakin lama dia tidak terlihat dari rumah keluarga Hamzah.
Kini Hamzah mulai melanjutkan kembali acaranya. Tidak lama acara potong-memotong daging kambing telah usai, kini tinggal dimasak oleh para ibu-ibu yang ada di dapur. Sekarang giliran para bapak-bapak yang akan beristirahat.
Beberapa jam kemudian masakan daging aqiqah telah selesai dimasak. Setelah hangat, masakan daging tersebut dibungkus dengan plastik bening lalu di masukkan ke dalam dus dan dilengkapi dengan nasi, kerupuk udang, acar dan komponen lainnya.
"Alhamdulillah ya, Mas. Kita berhasil menyembelih dan memasak daging aqiqah tersebut. Semoga acara ini berkah."
Elizia yang sedang berada di ruangan tengah sambil menggendong Aslam melihat ibu-ibu tetangga dan sanak kerabat yang sedang menata dus berisi menu masakan daging aqiqah yang nantinya akan dibagikan kepada para warga setelah pengajian sederhana akan digelar di rumah keluarga Hamzah. Pak ustadz Suhadi akan memimpin pengajian aqiqah tersebut. Beliau juga termasuk ustadz yang sudah mumpuni dalam soal berceramah.
"Alhamdulillah, Sini Aslam Mas gendong. Pasti kamu capek."
__ADS_1
Lalu Hamzah mulai mengambil Aslam dari gendongan Elizia sambil menunggu acara pengajian dimulai.
Beberapa menit kemudian, acara pengajian bapak-bapak segera dimulai. Berduyun-duyun bapak-bapak warga komplek mulai berdatangan untuk menghadiri acara aqiqah yang diadakan di keluarga Hamzah. Untuk mengaqiqahi Aslam Anggara yakni anak dari pasangan Hamzah Anggara dan Elizia.
Satu setengah jam kemudian, akhirnya acara selesai dan satu per satu peserta pengajian mendapatkan sekotak masakan menu aqiqah. Setelah semua yang hadir mendapatkan menu tersebut. Berangsur angsur para bapak-bapak berhamburan meninggalkan acara aqiqah tersebut. Hanya tersisa pak Ustad Suhadi yang masih di situ karena pulangnya terakhir menunggu para peserta pulang.
"Pak Ustadz, terima kasih telah mengisi acara aqiqah dari anak kami yang bernama Aslam. Ini dari kami memberi beberapa dana semoga Pak Ustadz menerimanya."
Hamzah yang masih duduk di karpet dan menghadap ke arah ustadz Suhadi, menyodorkan amplop berisi uang kepada ustadz Suhadi dan berharap ustadz tersebut menerima uang pemberian dari Hamzah.
"Tidak perlu, Mas Hamzah. Saya ikhlas mengisi acara pengajian di sini. Sudahlah, uang itu, kamu simpan saja atau untuk membeli kebutuhan yang mendesak. Saya hanya membawa menu box masakan aqiqah saja. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk kemaslahatan umat."
Pak ustadz Suhadi menolak pemberian uang dari Hamzah. Tugasnya sebagai pendakwah di komplek rumahnya, dia melakukan secara ikhlas, jika dia diberi uang oleh warga dia menolak dengan alasan kemaslahatan umat harus dilakukan secara ikhlas. Kecuali dia diundang di pengajian umum yang jamaahnya ribuan dan tempatnya jauh maka, dia menerima uang pemberian dari pihak yang mengundang dan dia anggap uang itu sebagai penghargaan yang diberikan kepada empunya yang mengadakan hajatan. Bukan dijadikan sebagai ajang mengais rejeki.
Soal menafkahi keluarga, pak ustadz Suhadi mempunyai tambak ikan yang luas di suatu tempat. Jadi, soal harta dia sudah berkecukupan. Lalu dengan langkah cepat, ustadz Suhadi akan segera pulang. Saat para bapak-bapak sudah pulang, Hamzah Anggara mulai memasuki ruangan dalam. Dan masih beberapa ada ibu-ibu yang beres-beres di rumah keluarga Hamzah. Dan ada satu ibu-ibu berdaster sedang membungkus nasi di kantong kresek dan berkata,
"Mas Hamzah, saya minta nasinya lebih banyak boleh? Sama itu gulai kambing yang ada di baskon saya ambil semua ya? Soalnya anak saya berjumlah tigs orang dan belum makan semua sedari tadi pagi. Ayahnya sudah tidak ada lagi."
Ibu-ibu sekitar 30 tahun itu memelas meminta nasi dan masakan daging agar Hamzah mau memberikannya kepada ibu-ibu tersebut. Hamzah yang mendengar itu lalu berkata,
"Benarkah? Kenapa Ibu tidak bilang tadi kepada Elizia? Tahu begitu, anak Ibu dikirim makanan terlebih dahulu agar tidak kelaparan. Ibu, cepat pulang dan bawa nasi beserta masakan daging itu untuk anak-anak Ibu. Oh, ya ini ada beberapa uang karena Ibu sudah membantu memasak dan beres-beres di rumah ini."
Hamzah memberikan lima lembaran merah kepada ibu-ibu tersebut. Tidak menyangka, di tengah-tengah kebahagiaan keluarga Hamzah, masih ada orang yang membutuhkan dan perlu diberi bantuan.
"Terima kasih, Mas Hamzah. Semoga amal kebaikan Mas dan keluarga diterima oleh Tuhan."
Dengan mata berkaca-kaca ibu itu menerima uang dari Hamzah. Hamzah tidak mengira, betapa senangnya ibu itu diberi uang olehnya yang menurut Hamzah, itu adalah uang kecil yang bisa saja habis dalam beberapa hari.
Saat itu tiba-tiba terlihat tiga bocah kecil datang dan mendekati Hamzah dan ibu itu seraya berkata,
__ADS_1
"Mak, kami lapar. Apakah Emak membawa sepotong kue untuk kami?"
Salah satu bocah laki-laki berumur sekitar 8 tahun menanyakan sepotong kue kapada ibunya. Mata Hamzah mulai berkaca-kaca dan dengan segera dia mendekati anak tersebut.