
Arloji di dinding terlihat pukul 21.30 WIB. Keluarga Hamzah baru saja menyelesaikan acara pengajian yasinan untuk mendoakan Almarhumah nenek Rumi. Sanak kerabat dan tetangga yang membantu berlangsungnya acara penagajian, kini telah pulang karena acara telah selesai. Mereka telah meyelesaikan pekerjaannya hingga kelar dan sudah membersihkan peralatan yang kotor dan menata barang-barang kembali ke tempat asal mula.
Malam ini adalah malam pertama nenek rumi meninggal dunia. Setelah tamu mulai tidak ada sehingga rumah keluarga tampak sepi kembali. Kini tinggal keluarga Hamzah yang berada dalam rumah tersebut. Keluarga tersebut masih merasakan kesedihan atas meninggalnya nenek Rumi termasuk dengan pak Umar. Lain halnya dengan anak pak Umar yang bernama Annisa. Dia malah melakukan hal keji di tengah-tengah keluarga yang sedang berduka.
Kini keluarga Hamzah sedang berkumpul di ruang keluarga untuk mengadakan sidang keluarga secara rahasia.
Fatimah mulai berkata,
"Saya di sini akan menyampaikan masalah penting kepada kalian sekeluarga dan ingin masalah ini cepat selesai. Tadi sore, saya menemukan masalah baru yang jika dibiarkan akan berakibat fatal."
Fatimah tidak akan menunda-nunda lagi maksud tujuannya. Dia sudah tidak sabar ingin mengupas tuntas permasalahan yang berhubungan dengan anaknya. Hati ibu siapa yang tidak sakit hati mendengar bahwa anaknya telah melakukan tindakan hina kepada seorang wanita bukan muhrim. Padahal Fatimah tidak pernah mengajarkan hal-hal fatal kepada anaknya.
Dia selalu mendidik anak-anaknya dengan bekal agama yang kuat. Sejauh ini, Hamzah tidak pernah melakukan tindakan hina seperti apa yang dikatakan Annisa pada waktu sore itu.
"Mama, ada permasalahan apakah hingga kita mengadakan sidang?"
Kening Fauzan mulai bertaut karena penasaran. Dia tidak tahu menahu mengenai masalah yang tengah dihadapi keluarganya karena saat itu dia sedang menemui tamu yang datang silih berganti.
"Sore tadi, saya melihat Annisa sedang keluar dari kamar Hamzah dan Elizia. Annisa mengaku bahwa telah dinodai oleh Hamzah. Hamzah, jawab dengan jujur, apakah perkataan Annisa itu benar?"
Fatimah menjelaskan duduk permasalahannya. Terlihat raut wajah Annisa yang cemas, sementara Hamzah yang duduk di samping istrinya terlihat tenang dan kalem.
"Tidak benar, Ma. Saya dipaksa Annisa untuk melakukan hubungan ranjang yang terlarang dan mengancam akan membunuh saya dengan pisau tajam. Pisau itu masing di kolong ranjang tempat tidur saya dan Elizia. Dia juga mengunci saya di dalam kamar karena anak kuncinya disembunyukan di saku gamisnya!"
Hamzah menuding Annisa dengan tatapan tajam ke arahnya karena geram dan marah karena telah difitnah habis-habisan oleh wanita berbisa seperti Annisa.
Fauzan dan pak Umar geleng-geleng kepala karena sulit untuk percaya bahwa, dalam suasana duka sempat-sempatnya Annisa melakukan aksi yang tidak terpuji.
__ADS_1
"Benarkah begitu, Annisa?"
Fatimah mencoba memberikan kesempatan kepada Annisa untuk berbicara. Dalam bermusyawarah, Fatimah tidak boleh melakukan hal yang berat sebelah. Prinsipnya harus melakukan sesuatu dengan adil.
"Tidak benar! Saya dipaksa oleh Mas Hamzah untuk melakukan hubungan terlarang dengannya dan saya berusaha menolaknya namun, malah gamis bagian pundak saya ditarik olehnya hingga bagian pundak tersebut sedikit robek."
Dengan lantang dan tanpa bersalah, Annisa mengungkapkan ucapan kebohongan. Dia tidak mau mengakui kesalahannya karena dia sangat berambisi untuk bisa menikah dengan seorang CEO yang bernama Hamzah.
Akhirnya Fatimah merasa bingung, karena mereka berdua tidak ada yang mengakui kesalahan, hingga mereka terdiam beberapa menit.
Setelah agak lama mereka dalam keheningan, Fauzan mulai berkata,
"Jadi, permasalahannya terjadi antara Hamzah dan Annisa. Tetapi di antara mereka tidak ada yang mau mengakui maka, kita lihat saja bagian gamis yang robek tersebut apakah benar bekas tarikan dari Hamzah Anggara ataukah hanya digunting menggunakan pemotong kain."
Fauzan membei solusi atas permasalahan sidang mereka. Terlihat raut wajah Annisa semakin pucat dan cemas.
"Pak Umar. Silakan Anda memulai untuk melihat gamis milik Annisa tersebut! Amati dan simpulkan secara benar!"
Hamzah dengan tegas mempersilakan pak Umar untuk memulai mengamati gamis tersebut. Setelahnya, dilanjutkan oleh Fatimah, Elizia dan Fauzan. Setelah mereka mengamati lumayan agak lama, mereka duduk ke tempat semula.
"Bagaiman pak Umar? Apakah saya atau Annisa yang bersalah?"
Hamzah mulai berbicara kembali dan bertanya kepada ayahnya Annisa untuk mengungkap kebenaran. Tidak lama, pak Umar mulai berkata,
"Gamis itu robek karena digunting bukan karena ditarik oleh seseorang. Jadi, Annisa yang bersalah atas permasalahan ini. Saya minta maaf yang kesekian kalinya kepada keluarga ini. Saya merasa gagal mendidik anak saya!"
Seketika pak Umar meringkuk dan menahan tangisnya yang mulai pecah. Dia malu sekaligus merasa gagal menjadi seorang ayah karena anak semata wayangnya berbuat hal buruk. Saat itu, Fauzan mendekati pak Umar dan berkata,
__ADS_1
"Pak Umar. Anda tidak bersalah. Yang salah itu Annisa! Saya yakin, Bapak sudah berusaha menjadi Ayah yang terbaik! Kamu Annisa! Beginikah balasan kamu terhadap Ayah yang telah membesarkan kamu? Di mana hatimu hingga kau tega hancurkan wibawa Ayah kamu sendiri dengan kelakuan buruk kamu!"
Fauzan dengan lantang melontarkan kata tegas dan penuh emosi kepada Annisa. Dia kini sangat geram melihat tingkah wanita yang berhati buruk seperti itu.
"Tuan Fauzan! Saya sebenarnya tidak bermaksud melukai hati Ayah saya namun, saya hanya ingin menikah dengan anak Anda! Hamzah Anggara! Tetapi dia malah menikah dengan Elizia gadis miskin itu!"
Annisa hilang kendali dan tersulut emosi.
Pyar!
Tanpa kendali Annisa melempar vas bunga ke yang berada di depannya ke arah Elizia berada dan vas itu pecah berkeping-keping.
"Aduh! Sakit!"
Pecahan vas bunga tersebut mengenai kaki milik Elizia hingga kakinya terluka.
"Rasain kamu Elizia. Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang aku derita!"
Annisa tersenyum licik melihat Elizia terluka. Hatinya sudah dikuasai oleh kegelapan dan pintu hidayah sudah tertutup olehnya.
"Hai Annisa. Kamu boleh melukai dan menghina sesuka hati kamu! Tetapi, kamu tidak akan bisa menghancurkan rumah tangga saya dengan Mas Hamzah! Saya berjanji tidak akan mengizinkan kamu menikah dengan suami saya karena kamu tidak pantas untuknya! Batu ini ibarat cinta saya dengan Mas Hamzah yang menyatu kuat dan sulit untuk dipisahkan! Camkan itu! Satu lagi, saya sudah merekam bukti percakapan antara kamu dan Ma Hamzah!"
Elizia yang kakinya masih terluka mulai tegak berdiri dan berkata lantang kepada Annisa. Dia sudah melihat keburukan fatal dalam diri Annisa maka, Elizia yang tadinya lembut terhadapnya kini berubah bagai singa yang siap menerkam mangsanya.
Mata Annisa mulai berkaca-kaca mendengar penuturan dari Elizia yang menusuk hati. Dia sangat geram kini Elizia berubah menjadi wanita yang berbicara tegas dan lantang. Namun dia tidak mau lengah atas kejadian itu. Dia tidak mau kalah dengan Elizia.
Tidak lama, mengetahui Elizia merekam suara kejadian itu, dengan gesit Annisa mendekat ke arah Elizia dan berusaha merebut ponsel milik Elizia.
__ADS_1
"Annisa, lepaska tangan saya! Tidak akan aku biarkan HP ini jatuh ke tangam kamu!"