
Siang itu, Hamzah masih di pemakaman milik Sina dan sambil menggendong bayi yang masih merah tidak lain adalah bayi dari Sina. Setelah dia memutuskan sambungan telepon dari Elizia, Hamzah akan memberanikan diri untuk segera pulang karena Aslam sudah menunggu kedatangannya di rumah.
Dia akan menunjukan kejujurannya sekarang apa pun resikonya. Dia tidak mau membohongi Elizia istrinya yang teramat dia cintai.
Hamzah dan bayi yang masih merah tersebut akan ke mini market terlebih dahulu untuk memneli susu dan keperluan bayi lainnya agar saat sampai di rumah nanti Elizia tidak kerepotan mengurus bayi.
"Mbak, berapa totalnya?"
Setelah selesai membeli perlengkapan bayi, Hamzah segera ke kasir untuk melakukan transaksi barang belanjaannya.
"Baik. Totalnya satu juta rupiah, Kak," jawab karyawan mini market dengan senyum ramah sambil memberi tahu mengenai total harga belanjaan yang dibeli oleh Hamzah.
"Oh, iya. Ini uangnya,"
Lalu Hamzah memberikan uang lembaran merah sejumlah 10 lembar kepada petugas kasir tersebut. Lalu petugas kasir berterima kasih kepada Hamzah.
Sepuluh menit kemudian, Hamzah sudah berada di mobil untuk menyalakan mesin dan segera tancap gas. Bayi tersebut ditidurkan di jok depan dengan beralaskan kasur bayi yang sudah dia beli. Untungnya, bayi tersebut tidak rewel dan tidak menangis.
Dua puluh menit berkendara, akhirnya Hamzah segera memarkirkan mobil di garasi rumahnya. Dia harus menyiapkan mental untuk menghadapi keluarganya yang sewaktu-waktu pasti akan marah atau mencampakkan dirinya. Namu, semoga hal itu jangan sampai terjadi. Karena dia masih ingin bersama Elizia.
Dia mulai turun dari mobil dan menggendong bayi cantik yang masih merah tersebut.
Tanpa diduga Aslam dan Elizia sudah berada di taman dan menyambutnya datang dengan senyum merekah.
Aslam berlari mendekati sang ayah yang sedang menggendong bayi, lantas Aslam berkata,
"Hai, Ayah. Aslam kangen. Ayah, itu kok ada dedek imut? Itu bayi siapa Ayah? Apakah adik Aslam? Mama, cepat sini, Ayah bawa dedek?"
Aslam kegirangan dan memanggil Elizia yang masih tertinggal di belakang Elizia. Sontak, saat Elizia sampai, pikirannya mulai bertanya-tanya.
"Kok ada bayi? Bayi siapa ini? Kok Mas Hamzah tidak cerita sebelumnya sama aku,' batin Elizia dalam hatinya. Ada rasa mengganjal dan penasaran di hati Elizia.
__ADS_1
"Aslam, Mama, yuk kita ke dalam dulu. Dan kita bicara baik-baik di dalam," jawab Hamzah yang menggandeng tangan Aslam dan memberikan kode kepada Elizia untuk segera ke dalam.
Elizia yang penasaran dengan bayi itu, sampai-sampai dia lupa untuk mencium tangan sang suami yang biasanya tidak dia lupakan. Tapi entah, hari ini Elizia seperti enggan bersalaman dengan suaminya tersebut.
Saat sampai di ruang tamu, duduklah Elizia dan Aslam di sofa. Sedangkan Hamzah meletakkan bayi tersebut di kotak box bayi bekas dari Aslam saat masih berumur bayi.
Setelahnya, Hamzah mulai bergabung dengan mereka.
"Ma, Aslam, bayi itu sekarang saya adopsi, apakah boleh? Maaf sebelumnya Mas belum sempat memberi tahu."
Begitulah Hamzah memulai pembicaraan untuk menjelaskan siapa bayi tersebut.
"Maaf, Ayah. Sebelumnya, Elizia mau bertanya. Itu bayi ngambil di mana? Dan Ibu dari bayi itu ke mana? Coba jelaskan secara jelas agar tidak menjadi bumerang dalam hati Elizia," jawab Elizia dengan tegas.
"Ceritanya panjang, Ma. Yang jelas dia bayi dari korban pembunuhan dari seorang penjahat. Ibunya dibunuh oleh preman jalanan dan saya berusaha menyelamatkannya. Jadi, Ibu dari bayi tersebut sudah meninggal," jawab Hamzah tanpa memberi tahu bahwa mendiang ibu bayi tersebut sempat dinikahi beberapa jam yang lalu.
"Ouh. Nama Ibu tersebut siapa, Mas. Dan dia tinggal di mana? Kenapa Mas tidak bilang Elizia sebelumnya?" tanya Elizia dengan nada menginterogasi. Dalam hatinya seperti ada yang mengganjal entah itu apa.
Hamzah belum kuat untuk menyampaikan bahwa Hamzah sempat menikahi wanita tersebut karena Hamzah takut Elizia akan marah dan hancur rumah tangganya dengan Elizia.
"Oh. Begitu. Kasihan sekali wanita itu. Namanya siapa ya?" tanya Elizia kembali.
Terlihat Aslam masih mendengarkan pembicaraaan kedua orang tuanya.
"Namanya Maryam Qonsina, Ma. Dia hidup sebatang kara, sehingga Mas merasa tidak tega dengan bayi itu akhirnya Mas mau mengadopsi bayi tersebut. Apakah Elizia setuju?" tanya Hamzah dengan nada gugup dan khawatir.
"Jika benar apa yang Mas ceritain dan tidak ada yang ditutup tutupi baiklah. Tetapi Elizia tidak sempat mengurusi bayi tersebut. Kita pesan saja Baby Sitter, bagaimana?"
Elizia tidak marah malah akan memesan baby sitter untuk mengurus bayi tersebut.
"Beneran boleh, Liz? Kamu tidak marah? Tapi baby sitternya jangan yang muda, nanti khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti Siti," jawab Hamzah seketika. Dia malas meladeni wanita genit yang suka menggoda dirinya.
__ADS_1
"Tenang saja, Mas. Elizia mempunyai teman namanya Mbok Giyem. Dia akan menjadi baby sitter kita," jawab Elizia dengan senyum.
Walau hati Elizia mengganjal, tetapi dia tidak mau berburuk sangka kepada suaminya. Biarlah Tuhan yang akan memberi tahu bagaimana sebenarnya kejadian yang sedang menimpa suaminya hingga pulang-pulang dia sudah membawa bayi.
"Ma, jadi, Aslam punya adik dong? Ye, Aslam seneng banget. Nanti bisa main sama Aslam. Oh. Ya nama dedeknya siapa ya?"
Tiba-tiba Aslam kegirangan dan menanyakan siapa nama bayi tersebut.
Sebenarnya Aslam ingin sekali mempunyai adik agar dia bisa bermain bersama dan tidak kesepian.
"Tanya saja sama Ayah. Benarkah itu adik Aslam? Apa jangan-jangan Ayah nyolong bayi di Panti Asuhan, hayo ngaku?"
Elizia malah becanda ketika Aslam menanyakan tentang bayi tersebut. Hingga membuat semuanya tertawa.
"Aslam, itu sudah menjadi adik Aslam kok, Jadi jangan khawatir ya? Ayah tidak pernah punya niatan nyolong atau pun selingkuh. Ayah sangat mencintai kalian. Kita beri nama Aisyah Qonsina saja, bagaimana?"
Hamzah lalu menangis dan memeluk Aslam. Airnya basah begitu saja. Hamzah sangat takut kehilangan keluarga kecilnya. Apa pun caranya dia akan mempertahankan keluarganya dan tidak akan melakukan hal bodoh kembali.
Sebelum sempat Elizia menjawab pertanyaan dari suaminya yang sedang memberinya nama, bayi tersebut menangis.
"Oek oek oek!"
Bayi tersebut mulai menangis dan mulai bangun dari tidur. Dengan sigap Elizia langsung membopong dan pergi ke dapur untuk membuatkan susu bayi. Tanpa baby sitter pun sebenarnya Elizia lihai mengurus bayi, tetapi dia mempunyai resto yang mulai berkembang. Dia masih sibuk mengembangkan bisnisnya, jadi, sebentar lagi akan ada mbok Giyem yang akan menjadi baby sitter untuk bayi tersebut.
Ting tung!
Terdengar bel berbunyi. Hamzah segera membuka pintu dan ternyata adalaj manajernya yang bernama Reza. Terlihat wajah Reza yang menatap tajam ke arah Hamzah dengan tatapan tidak suka.
"Bos. Saya ingin bertemu dengan Nona Elizia sekarang juga! Saya mau memberikan hadiah kepada Anda dan diperlihatkan kepada Nona Elizia."
Begitulah ungkapan tegas dari Reza manajer 'JAYA GROUP'. Seketika, hati Hamzah berubah kacau dan seperti akan ada permasalahan yang terjadi.
__ADS_1