Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Siasat Hamzah


__ADS_3

Siang itu, Hamzah akan menelepon kantor kepolisian karena pintu rumahnya sedang digedor-gedor oleh penjahat. Tidak lama nomor kantor kepolisian yang dia hubungi segera tersambung.


"Halo, ini dengan kantor kepolisian?" tanya Hamzah untuk menelepon salah satu nomor kantor kepolisian.


"Iya. Benar ada apa ya?" tanya seorang yang menjawab telepon di seberang sana.


"Ini dari Hamzah, saya akan melaporkan bahwa di rumah saya di Jalan Melati Nomor 2 tepatnya di Gang Seruni sedang terjadi penyusupan tiga orang penjahat dan berusaha akan membunuh satpam saya yang berjaga. Mohon perhatiannya untuk segera menyelamatkan kami."


Hamzah menjawab langsung pada tujuan permasalahan yang akan dilaporkan karena kondisi sedang darurat dan tidak baik-baik saja. Hatinya sangat berdebar-debar kala penjahat itu semakin keras menggedor pintu rumahnya.


"Baik, dari tim kepolisian akan segera ke sana secepat mungkin. Anda dan keluarga sebaiknya berhati-hati dan tetap waspada!"


Salah satu polisi yang menjawab telepon Hamzah, menyarankan untuk waspada dan siap siaga agar tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan.


"Siap, Pak," jawab Hamzah dan segera mematikan sambungan telepon.


Hamzah juga akan mengirim pesan WA kepada orang andalannya untuk menyelamatkan istri dan seluruh penghuni rumahnya. Hingga orang andalannya menjawab pesan WA tersebut.


"Baik, Bos. Kami akan segera ke sana dan siap beraksi menyelamatkan Anda dan keluarga!"


Begitulah bunyi pesan WA dari orang andalan Hamzah Anggara. Dia mempunyai banyak anak buah karena kenalannya banyak dan dia orang yang baik dan tidak sombong. Kini dia akan membangunkan istrinya yang berada di kamar tidur dan entah masih tidur atau sudah bangun.


Dengan sigap Hamzah berhasil sampai di kamar istrinya dan berusaha membangunkannya.


"Liz, bangun! Ayo bangun sayang."


Hamzah menepuk pundak istrinya yang masih tertidur. Sebelum istrinya bangun, Hamzah tidak mau menjelaskan bahaya yang sedang terjadi agar istrinya tidak cemas dan ketakutan yang akan mempengaruhi kesehatan calon bayi yang sedang dikandung istrinya.


Perlahan-lahan Elizia membuka matanya dan mulai mengumpulkan nyawa sampai penuh dan kesadarannya mulai seratus persen. Lalu dia menengok ke samping dan di situ suaminya sedang menatap dengan tatapan cemas.


"Mas, sejak kapan Mas berdiri di sini? Mas kok kelihatan cemas? Apakah ada masalah?"


Sebelum Hamzah memberi tahu bahwa mereka dalam bahaya, Elizia sudah menanyakan hal yang dia maksud. Memang Elizia dan Hamzah mempunyai ikatan batin yang teramat kuat.

__ADS_1


"Liz, ayo ikut dengan Mas. Karena di luar sedang ada penjahat yang berusaha akan mencelakai kita. Tetapi kamu tenang, Mas sudah menelepon pihak kepolisian dan mengirim pesan WA kepada anak buah Mas."


Hamzah menggait tangan istrinya untuk berjalan menuju pintu belakang rumah agar mereka bisa keluar dari incaran penjahat. Nenek Rumi sangat cerdas dalam membangun rumah di belakangnya masih terdapat pintu rahasia yang di belakangnha ditutupi oleh lemari hingga pintu itu tidak terlihat oleh siapa pun kecuali pihak keluarga yang sudah diberi tahu.


"Mas, di sini juga ada pintu ya? Elizia tidaķ menyangka ya, di sini masih ada jalan lorong yang tembus di belakang rumah nenek Rumi? Alhamdulilah kita bisa keluar. Tapi bagaimana dengan satpam yang menjaga rumah kita?"


Elizia terkejut ternyata rumah peninggalan nenek Rumi memiliki pintu rahasia. Jadi, jika dalam keadaan darurat, mereka bisa menyelamatkan diri. Tapi Elizia belum senang, satpam yang berada di rumah nenek Rumi belum bisa diselamatkan.


"Iya. Setiap rumah di keluarga kami ada pintu rahasia, Liz. Untuk mengantisipasi jika darurat dan jika ada bahaya. Lihat, di sana tersimpan barang-barang berharga. Jadi, jika penjahat masuk tidak akan bisa mencuri harta karun runah ini. Paling hanya berkakas rumah tangga. Soal satpam tenang saja. Polisi akan segera datang. Kita sembunyi saja terlebih dahulu di sini. Jika para polisi dan anak buah Mas datang, kita bisa bergabung dengan mereka."


Hamzah menenangkan jiwa Elizia yang tidak tenang dengan keselamatan para satpam. Padahal sasaran utama penjahat itu adalah Elizia.


Ting!


Terdengar bunyi notifikasi WA yang masuk. Hamzah segera membuka gawainya dan mencoba membaca pesan WA tersebut.


"Bos, kalian di mana? Kami dan tim polisi sudah menggerebek rumah ini dan penjahat itu tidak akan bisa kabur."


"Baik, saya dan istri saya akan segera bergabung dengan kalian!"


Begitulah pesan WA yang dikirim Hamzah kepada orang andalannya. Lalu Hamzah memencet tombol pintu keluar. Tidak lama, pintu yang bukan seperti pintu itu terbuka dengan sendirinya. Kini, Hamzah dan Elizia sudah berada di luar belakang rumahnya. Mereka berjalan menuju gang sempit dan masih area rumah keluarganya. Dan tidak lama mereka sampai di tempat polisi dan anak buahnya berada.


"Bos kok ada di sini? Kalian bisa keluar lewat mana? Apakah sebelum penjahat itu sampai di rumah ini, kalian sudah keluar?"


Orang andalannya bertanya-tanya dan bingung dibuatnya. Dia masih bingung kejadian yang dialami bosnya tersebut.


"Saya dan Elizia berusaha melarikan diri lewat pintu belakang. Dan alhasil, kami bisa keluar. Sekarang ayo kita selamatkan para satpam!"


Polisi yang mendengar segera bertugas masuk ke depan halaman rumah keluarga Hamzah. Sedangkan orang andalannya mengikuti di belakang dan dua di antaranya menjaga Elizia. Karena Hamzah juga ikut beraksi menumpas kejahatan.


"Riko, tolong bawa Elizia ke rumah tetangga sebelah di rumah bu Ratih agar aman. Saya dan para polisi akan memyelamtkan para satpam. Liz, tolong kamu ikut dengan Riko!"


Hamzah memerintahkan kepada salah satu anak buahnya untuk mengantar Elizia di rumah tetanggnya yang bernama bu Ratih agar terhindar dari hal buruk yang tidak diinginkan dan terhindar dari benda tajam yang mungkin akan dicelakai oleh para penjahat tersebut.

__ADS_1


Riko mengangguk diikuti dengan Elizia yang menuruti perintah suaminya.


Kini, Hamzah dan anak buahnya berlari kecil menuju pos satpam dan menyusul polisi yang sedang menyiapkan aba-aba agar tidak lengah jika dilukai oleh penjahat tersebut.


"Pak polisi! Tolong kami. Kami sedang disekap di sini!"


Suara Joni terdengar nyaring dan kaki tangan mereka diikat di pos satpam. Sedangkan ketiga penjahat itu sudah berada di depan pintu dan masih berusaha mendobrak pintu agar bisa masuk ke dalam rumah tersebut.


"Kalian silakan angkat tangan dan jangan berusaha lari maka, kami akan menembak kalian!"


Dari arah belakang beberapa polisi yang membawa pistol siap untuk mengepung kawanan penjahat yang berusaha mencelakai keluarga Hamzah. Para penjahat itu akhirnya menoleh ke arah belakang dan terkejut karena di belakangnya sudah ada petugas kepolisian dan beberapa orang yang mengepung penjahat itu.


Lalu mereka segera angkat tangan dan menyerah. Akhirnya para polisi mengambil senjata tajam mereka untuk dibawa ke kantor sebagai bukti bahwa penjahat itu sedang berusaha melakukan aksi kejahatan.


Tiga puluh menit kemudian, penjahat serta Hamzah dan Elizia serta anak buah Hamzah berada di kantor polisi untuk menjadi saksi dan dimintai keterangan.


"Hai, pria gendut. Coba jelaskan kenapa kalian berusaha berbuat kejahatan di rumah saudara Hamzah! Jangan membuat pernyataan palsu maka kami akan mengetahui dan berusaha menyelidikinya!"


Polisi itu berkata tegas kepada ketiga orang penjahat yang berhasil mereka ringkus. Polisi akan menelusuri siapa dalang dari permasalahan ini dan ingin segera mengetahui sebab mereka melakukan tindak kejahatan.


"Ka-kami diperintah oleh orang yang bernama Zafian untuk menculiknya dan dibawa ke kediamannya. Dan jika kami berhasil menculik Elizia maka, kami akan mendapat uang tiga puluh juta rupiah dari Zafian. Kami hanya menjalankan tugas dari Zafian dan kami juga butuh uang untuk menyekolahkan anak-anak kami karena menjadi penjahat akan lebih cepat mendapatkan uang banyak walaupun resikonya besar dan terancam akan dihukun."


Dengan kepala menunduk karena malu, salah satu penjahat yang bertubuh tinggi dan buncit, menjelaskan secara detail sebab mereka melakukan aksi kejahatan. Mereka rela berbuat jahat untuk mendapatkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Salah satu petugas polisi mengambil foto penjahat itu untuk diviralkan di media massa seperti surat kabar, TV dan media sosial lainnya agar mereka jera dan tidak mengulangi hal kejahatan itu lagi.


Lalu Hamzah mulai membuka gawainya dan mencari foto Zafian di akun FB-nya. Setelah dia menemukan salah satu foto Zafian dia mendekati penjahat itu dan berkata,


"Coba lihat ini siapa?"


Hamzah menyodorkan poto Zafian kepada penjahat itu dan menanyakan siapa yang berada di poto tersebut. Hsmzah ingin memastikan pelaku kejahatan adalah Zafian yang dia kenal yakni mantan suami dari istrinya 'Elizia'.


"Itu 'kan Zafian. Dia yang menyuruh saya melakukan aksi penculikan terhadap istri Anda, Elizia!" jawab salah satu penjahat itu dan mengatakan bahwa yang ada di foto itu benar-benar Zafian yang dikenal Hamzah.


'Ternyata pria bejat itu masih mengincar Elizia! Tidak akan aku biarkan dan aku akan berusaha untuk menjebloskan kamu ke penjara! Bukti-bukti sudah nyata, dan sebentar lagi kamu tidak akan bisa lagi mengganggu istriku! Dia tidak akan aku biarkan menyakiti orang sebaik Elizi,' desis Hamzah dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2