Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Rihana Ngidam


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Elizia menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Terlihat suaminya Hamzah Anggara masih tidur kembali setelah mandi besar dan sholat subuh karena tenaganya lemas dan kelelahan. Dia melihat gawai suaminya tergeletak di samping ranjang.


Hatinya tergelitik untuk membuka gawai milik suaminya. Elizia penasaran dengan gawai suaminya karena dihantui orang yang bernama Annisa. Dengan membuka gawai milik Mas Hamzah, siapa tahu Elizia mendapat pencerahan. Lantas, dia segera membuka gawai suaminya tersebut. Terdapat satu notifikasi pesan WA yang tertera nama Annisa. Lalu Elizia segera membacanya.


"Mas, Hamzah. Ternyata kamu lebih memilih wanita panti itu dari pada aku. Apa sih kelebihan dia, Mas? Jelas-jelas aku lebih segala-galanya darinya, tetapi kamu masih mempertahankan cintamu dengan Elizia. Aku sudah mati-matian agar kamu menikahi aku tetapi kau balas dengan penolakan hingga mumbuat aku patah hati. Aku tidak rela, Mas. Sampai kapan pun aku tetap mencintai kamu dan aku tidak akan menikah selain dengan dirimu! Hati ini sudah terpatri sangat dalam di ujung jantungku yaitu nama kamu Hamzah Anggara!"


Begitulah pesan WA yang bernama Annisa.


Degh!


Elizia seperti mendengar petir di siang bolong. Ternyata wanita yang bernama Annisa mengejar cinta suaminya dan dia sangat cinta buta hingga sampai dia tidak mau menikah dengan selain pria yang bergelar sebagai suaminya. Lalu dia segera meletakkan gawainya di samping ranjang tidur tepat di samping suaminya yang sedang tidur.


Kini Elizia sudah mengetahui kenapa Annisa menyimpan foto Hamzah di bingkai tersebut. Elizia terharu suaminya ternyata sangat mencintai dirinya dan rela menolak cinta dari Annisa. Elizia kini hilang syak wasangka yang sempat menghantui pikirannya terhadap suaminya.


'Ya Tuhan, maafkan hambamu ini telah berprasangka buruk terhadap suami sendiri. Berikan hamba kekuatan untuk menjalani liku-liku rumah tangga yang penuh cobaan ini.'


Elizia menitikkan air mata haru tetapi dia segera mengusapnya dan segera menemui nenek Rumi yang sedang membaca koran.


"Nek, saya boleh gabung tidak?"


Elizia menawarkan diri untuk duduk bersama dengan nenek Rumi karena ada yang mau ditanyakan.


"Silakan. Suami kamu tidur ya?"


Nenek Rumi menoleh ke arah Elizia untuk mempersilakan duduk dan menanyakan keberadaan Hamzah.


"Benar, mas Hamzah sedang tidur mungkin kelelahan. Nenek kenal dengan Annisa tidak? Kata mas Hamzah dia cucu dari adik Nenek."


Elizia mulai menanyakan tentang Annisa kepada nenek Rumi.


"Oh. Annisa. Ya kenal dong. Saat dia masih SMA, dia sering berkenjung ke sini untuk membawa kotak makanan untuk diberikan kepada Hamzah. Mereka seperti sahabat dan akhirnya Annisa lama-lama menaruh hati dengan Hamzah tetapi Hamzah hanya bisa menganggap Annisa sebagai sahabat tidak lebih. Memangnya kenapa, Liz?"


Nenek Rumi ternyata mengetahui banyak hal tentang Annisa. Dan ternyata benar, Annisa mencintai Hamzah Anggara. Penjelasan nenek Rumi kini sudah mewakili atas syak wasangka yang timbul menghantui. Jadi, suaminya tidak pernah mencintai wanita bernama Annisa tersebut.


"Kemarin siang saat saya dan mas Hamzah pergi ke mini market kami berpapasan dengan Annisa. Lantas, mas Hamzah memperkenalkan Annisa terhadap saya," jawab Elizia yang masih duduk di sofa bersama dengan nenek Rumi.


"Kamu sudah berkenalan dengan Annisa? Bagus. Saya berharap dia tidak mengejar-ngejar Hamzah kembali karena dia sudah mengetahui bahwa Hamzah sudah mempunyai istri. Nenek tidak suka dengan dia karena dia egois dan suka memaksa cinta. Jika Hamzah dulu menikah dengan Annisa saya tidak akan menyetujuinya. Memang sih, Annisa anak dari ustad kondang, tetapi saya tidak suka dengan sifatnya."

__ADS_1


Nenek Rumi menceritakan tentang sifat Annisa yang tidak disukainya. Nenek Rumi lebih menghargai wanita yang sederhana dan tidak neko-neko seperti Elizia.


Saat tengah asik berbincang, terdengar ketukan pintu di depan pintu rumah. Nenek Rumi segera membuka pintu tersebut.


"Ada apa, Pak Satpam? Apa ada tamu?"


Nenek Rumi bertanya kepada salah satu satpam yang berjaga di rumahnya yang berperawakan besar dan berambut lurus.


"Ada wanita cantik ingin meminta buah mangga milik nenek," jawab satpam tersebut yang bersiri di depan nenek Rumi dan memberitahukan bahwa ada tamu yang datang.


Lalu nenek Rumi dan satpam itu berjalan menuju pintu gerbang untuk menemui wanita yang dimaksud oleh satpam tersebut.


"Kamu wanita pelakor itu? Ada apa datang ke sini?"


Nenek Rumi melihat Rihana sambil menatap dengan tatapan tegas. Saat itu Rihana memakai daster berwarna pink dengan rambut yang dikuncir kuda.


"Bukan pelakor, Nek. Saya istri sah dari Mas Zafian. Saya ke sini mau meminta mangga muda yang terlihat gembul dan segar. Calon anak di rahim ini sedang meronta ingin memakan mangga muda yang buahnya lebat itu! Boleh ya?"


Rihana menuding salah satu pohon mangga milik nenek Rumi yang berbuah lebat dan merengek untuk bisa makan buah mangga milik nenek Rumi. Dia sedang ngidam.


"Ambil saja kalau mau."


"Tetapi saya minta bantuan untuk memetikkan beberapa buah mangga itu karena saya tidak bisa memanjat. Mas Zafian juga masih sakit tangan kanannya karena patah tulang."


Rihana tidak bisa memanjat pohon lalu dia meminta bantuan kepada nenek Rumi agar ada yang mau mengambilkan buah mangga di atas pohon tersebut.


"Pak Joni, tolong petik beberaap buah mangga muda dan berikan kepada dia!"


Nenek Rumi menyuruh salah satu satpamnya untuk memetik buah mangga muda untuk Rihana. Tanpa banyak kata, satpam tersebut langsung memanjat pohon mangga dan memetiknya. Beberapa menit kemudian, satpam itu berhasil memetik buah mangga sebanyak satu kantong kresek yang berukuran besar dan dikasihkan kepada Rihana.


"Wah, banyak sekali. Terima kasih, Nek. Lain kali saya minta lagi ya? Yasudah saya mau pulang dahulu."


Rihana kegirangan karena sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sedangkan nenek Rumi yang melihat kejadian itu hanya bergeleng-geleng kepala.


Beberapa menit kemudian, Rihana sampai di rumah suaminya dan segera mengambil baskom untuk wadah mangga yang telah dikupas olehnya.


"Kamu dari mana Rihana? Suami lagi sakit kamu malah keluyuran? Kok kamu punya mangga muda sebanyak itu? Kamu mencuri di mana?"

__ADS_1


Tanya Widya yang kesal dengan menantunya yang pergi seenak jidatnya sendiri tanpa berpamitan.


"Ibu tidak perlu tahu saya di mana yang jelas saya sudah mendapatkan apa yang saya mau. Hemt. Mangganya segar sekali. Ibu mau mencoba?"


Krauk, krauk, krauk!


Rihana mulai memakan mangga muda tersebut dengan lahap dan seperti orang kelaparan dan sudah menghabiskan satu baskom buah mangga muda yang sudah di kupas dan di potong-potong sambil dibubuhi sedikit garam.


"Ibu tidak doyan mangga muda. Doyannya yang sudah ranum. Kalau makan itu kira-kira dong. Haduh, Perutnya nanti sakit tahu rasa!"


Widya geleng-geleng kepala melihat tingkah mantunya yang ngidam kelewat batas.


"Bu. Saya minta mangga muda yang ada di kebun nenek Rumi! Ini mangganya sudah habis. Kalau tidak dikasih, perut ini mau muntah, cepetan Bu!"


Rihana merengek-rengek kembali dan meminta mangga muda milik nenek Rumi. Padahal dia sudah menghabiskan sebaskom mangga muda.


"Apa? Kamu mengambil mangga milik nenek Rumi? Duh Gusti, apa kamu tidak punya malu! Mau ditaruh mana muka Ibu!"


Widya pusing dan mulai memijit keningnya. Mantu barunya selalu membuat Widya senam jantung dan serasa kepala mau pecah. Tiba-tiba pak Sujono datang seraya berkata,


"Pagi-pagi kok ribut ada apa sih, Bu?" tanya Sujono penasaran.


"Itu, Rihana mau minta mangga muda milik nenek Rumi yang ada di kebunnya! Ya Ibu malu dong."


Widya mengadu kepada suaminya tentang Rihana yang meminta mangga muda di rumah nenek Rumi.


"Beli saja mangga muda di warung Bu Tuti kalau begitu. Turuti saja, katanya sudah kepengin cucu!"


Pak Sujono yang bersiap-siap untuk bekerja di kecamatan mulai mempersiapkan diri dan tidak sengaja mendengar keributan antara istri dan mantunya dan dia mencoba memberi saran.


"Tidak mau kalau beli mangga di warung bu Tuti! Mangganya kecil-kecil. Maunya mangga milik nenek Rumi yang berbuah besar-besar dan segar!"


Rihana mengerucutkan bibirnya karena jengkel tidak dituruti permintaannya. Rihana ngotot untuk meminta mangga milik nenek Rumi dan kemauannya tidak mau ditolak. Lantas pak Sujono dan Widya saling berpandangan karena heran menantunya tidak mau mangga muda di warung bu Tuti.


"Kamu sudah gila ya, Rihana? Jangan memaksa saya untuk meminta mangga milik nenek Rumi! Pokoknya saya tidak mau! Kamu tahu sendiri 'kan, kamu sering bikin ulah pada keluarganya? Ibu itu malu!"


Widya membentak Rihana yang baru hamil dua bulan. Sebenarnya dia kasihan terhadap mantunya, tetapi mantunya Widya ngeyel dan egois.

__ADS_1


Kluntang!


Dengan tiba-tiba Rihana melempar baskom steinlesstel yang berada di sampingnya yang tadi sebagai wadah mangga yang sudah Rihana makan. Rihana marah kepada Widya karena telah menyebutnya gila dan tidak mau menuruti permintaannya.


__ADS_2