Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Mengungkap Fakta


__ADS_3

Siang itu tepatnya pukul 13.00 WIB di depan rumah keluarga Hamzah, Siti berteriak meminta tolong kepada warga setempat dengan dalih bahwa dia telah dinodai oleh kedua satpam penjaga rumah keluarga Hamzah. Lantas mendengar teriakan tersebut, para warga yang mendengar berduyun-duyun keluar dan mendekati sumber suara.


Salah satu ibu-ibu yang memakai gamis berwarna coklat berkerudung panjang serta berkaca mata mulai bertanya kepada Siti. Dia adalah bu RT yang bernama bu Fadilah. Bu Fadilah terheran-heran dengan tingkah Siti.


"Maaf, Mbaknya siapa ya? Kok teriak-teriak di sini? Dan katanya kamu telah dinodai. Coba jelaskan duduk permasalahannya."


Fadilah mulai menginterogasi Siti dan membawa Siti di teras rumahnya. Para warga yang kepo dan sudah terlanjur mendengar mengekor Siti dan bu RT. Dari salah satu tetangga warga tersebut, ada bu Ratih anggota Gangster yang juga melihat kejadian itu.


"Sa-saya telah dinodai oleh kedua satpam penjaga rumah itu. Saat saya hendak bertamu, tiba-tiba saya dipaksa ke pos satpam dan ternyata saya dinodai setelah itu saya tidak boleh bertamu dan diusir begitu saja."


Dengan terbata Siti menjawab pertanyaan dari bu RT. Siti memasang wajah sedih dan polos. Dia berusaha menghasud warga agar percaya pada omongan palsunya. Sebelum titik darah penghabisan, dia tidak akan menyerah untuk menakhlukkan keluarga Hamzah walau resikonya sangat besar. Dia sudah terlanjur masuk dalam permainan drama yang dia buat sendiri.


"Itu tidak benar Bu! Kami tidak menodai dia! Pak, Bu kalian jangan percaya dengan omongan wanita itu! Dia wanita tukang fitnah!"


Pak Joni menjelaskan kepada warga bahwa dia dan temannya tidak melakukan tindakan buruk terhadap Siti. Pak Joni meradang karena Siti berani memfitnah dirinya. Padahal dia dan temannya hanya menjalankan tugas dari majikannya. Lantas, Ridho temannya, mulai menelepon Hamzah atas kelakuan Siti yang membuat onar. Beberapa menit kemudian, Ridho berhasil menelepon majikannnya. Dan sebentar lagi Hamzah Anggara akan segera keluar beserta dengan Fauzan untuk menyelesaikan masalah dengan Siti.


"Begini saja, untuk mengetahui yang benar dan yang salah, harus ada saksi dua orang lagi. Jika ada saksi yang bisa menjelaskan dari masing-masing, barulah kita ketahui siapa yang berkata benar dan yang berkata salah."


Bu RT memberi saran bijak untuk memutuskan perkara yang sedang terjadi. Terlihat raut wajah Siti yang cemas ketika bu RT mengatakan hal tersebut.


"Benar itu. Pak Joni 'kan terkenal satpam yang baik hati. Siapa tahu wanita itu berbohong. Apalagi tampang wanitanya tampang wanita ******."


Bu Ratih melirik sinis wajah Siti karena curiga dengannya. Dia sangat anti dengan wanita berbau 'pelakor'.

__ADS_1


"Sudah, kita tunggu saja para saksi dari mereka. Dan kita akan menanyakan ini kepada Tuan Rumah yang bersangkutan."


Bu RT tersenyum dan menunggu majikan dari pak Joni keluar rumah karena sedang ditelepon oleh Ridho. Beberapa menit kemudian, benar adanya, Hamzah dan Fauzan keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah bu RT tepat di depan rumah mereka keluarga Hamzah.


"Maaf, sedang ada keributan apa, ya? Saya dengar ada masalah dengan kedua satpam saya dan kami ingin dijelaskan perkara ini."


Pak Fauzan memberanikan diri angkat bicara dan menanyakan duduk permasalahannya. Dia tidak mau salah paham dengan permasalahan penting ini walau sebenarnya dia sudah tau permasalahannya dari satpam yang menelepon dirinya. Terlihat Hamzah Anggara berdiri di samping ayahnya dengan mata tajam menatap Siti yang suka berbuat ulah.


"Ini lho, ada Mbaknya yang berteriak meminta tolong karena sudah dinodai oleh kedua satpam keluarga Pak Fauzan. Saya yang mendengar kejadian itu tersentak dan langsung keluar melihat langsung kegaduhan tersebut. Tolong dijelaskan hal yang sebenarnya jika pak Fauzan tahu menahu tentang perkara ini."


Bu RT meminta Fauzan untuk menjelaskan duduk perkaranya agar jelas siapa yang sebenarnya membuat kericuhan ini.


"Jadi, begini, Bu. Satpam saya tidak bersalah mereka hanya menjalankan perintah dari saya. Maaf, ya. Saya tidak bermaksud membuka aib wanita itu. Begini, dia orang yang kami beri kesempatan untuk bekerja di rumah anak saya Hamzah, namun, dia malah berbuat ulah dengan melakukan perbuatan tidak etis kepada keluarga kami termasuk saya. Dengan terpaksa kami memecatnya tetapi dia tidak mau. Akhirnya kami memanggil satpam untuk membantu mengusir paksa dia!"


"Oke. Satu kali lagi saksi dari Mas Hamzah. Kami berharap Mas Hamzah menjelaskan apa adanya dan tidak ada yang harus ditutup-tutupi. Silakan Mas Hamzah, kami beri waktu untuk berkomentar."


Bu RT meminta Hamzah untuk berkomentar. Kini warga semakin banyak yang berdatangan melihat kejadian akibat ulah dari Siti.


"Benar. Apa kata Ayah saya bahwa dia 'Siti' telah melakukan hal-hal yang tidak wajar sehingga keluarga kami sepakat untuk memecat Siti. Tetapi dia tidak terima jika dipecat dengan alasan masih ingin mengabdi kepada keluarga kami namun, kami sudah tidak percaya lagi. Akhirnya kami menyuruh satpam untuk mengusir Siti secara paksa. Dan tiba-tiba dia tanpa malu dan dengan tega memfitnah satpam kami! Dia memang wanita pembawa fitnah. Begitulah penjelasan dari saya!"


Hamzah Anggara mulai berhenti dari berkomentarnya karena jawaban itu sudah cukup jelas.


"Oke. Jadi kedua saksi sudah menjelaskan. Berarti nama dia adalah Siti. Mbak Siti, apakah kamu masih menyangkal dengan penjelasan dari mereka? Selama ini, keluarga almarhumah nenek Rumi itu baik dan tidak pernah melakukan hal yang neko-neko pun dengan kedua satpam mereka. Jadi, Mbak Siti diduga menjadi pelaku kericuhan dan memfitnah nama baik keluarga Bapak Fauzan. Warga setuju dengan pendapat saya?"

__ADS_1


Akhirnya bu Fadilah memutuskan bahwa yang bersalah itu adalah Siti. Lantas, Bu Fadilah meminta persetujuan kepada warga bahwa memang Siti itu bersalah. Sebelum para warga menjawab pertanyaan dari bu RT, tiba-tiba Siti berkata,


"Tunggu dulu! Jika memang saya benar-benar bersalah maka, saya meminta bukti-bukti nyata sekarang juga!"


Dengan percaya diri, Siti meminta bukti-bukti atas kesalahannya. Dia belum mau mengakui dirinya bahwa dia memang bersalah.


"Saya punya buktinya! Untung saja Elizia memvideo kejadian tadi lengkap dengan suaranya!"


Hamzah dengan lantang menyodorkan benda pipih di depan bu RT dan para warga yang menyaksikan kejadian itu. Dia mempunyai bukti berupa konten video yang sudah berhasil direkam oleh Elizia.


"Oke. Bagus. Yasudah ayo kita lihat bukti konten video tersebut!"


Bu RT lalu mengambil gawai yang disodorkan oleh Hamzah. Tidak lama, Bu RT dan beberapa perwakilan dari warga menyaksikan konten video tersebut. Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai melihat konten tersebut dan tiba-tiba salah satu warga seorang ibu-ibu berperawakan gendut berkata,


"Bukti sudah ada dan nyata! Ayo ibu-ibu dan bapak-bapak segera usir wanita ****** Itu! Dia sudah tega membalikkan fakta dan berusaha merebut suami orang! Pelakor jangan diberi ampun!"


Ibu-ibu itu terbakar emosi dan berucap kata lantang dan bernada marah karena dia sangat benci dengan perebut suami orang. Tidak ada rasa iba sedikit pun bagi orang yang bernama 'pelakor'. Terlihat wajah Siti yang ketakutan kala melihat ibu-ibu berwajah galak menatapnya. Dia takut akan diserbu masal oleh ibu-ibu yang anti 'pelakor'.


"Ibu-ibu tenang, ya. Negara kita negara hukum. Kita perlakukan Siti sesuai dengan hukum. Untuk lebih amannya kita bawa saja Siti ke kantor polisi atas tindakan pencemaran nama baik seseorang dan berusaha merusak rumah tangga orang lain!"


Bu RT memberi saran untuk melaporkan ke polisi agar lebih aman dan masalahnya tidak menjadi besar.


"Jangan gitu dong Bu RT. Kita beri pelajaran dulu sama 'pelakor'! Kita sumpal mulutnya pakai tomat busuk atau kita lempar pake telur. Bagaimana Ibu-ibu? Setuju?"

__ADS_1


Bu Ratih menyahut pembicaraan yang diutarakan oleh bu RT karena sangat geram dengan kelakuan Siti setelah dia melihat video yang diberikan oleh Hamzah sebagai barang bukti. Bu Ratih sering kali menemui orang seperti Siti hingga dia tidak bisa menahan emosinya.


__ADS_2