Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Aslam! Ayo kita pulang sekarang juga, Nak. Waktu hampir maghrib takutnya kita pulang kemalaman."


Saat selesai menampar pipi Hamzah Anggara, Elizia bergegas mendekati Aslam dan mengajaknya untuk pulang. Dia tida lagi menghiraukan dua pria dewasa yang membuat hatinya terluka tersebut. Dengan jalan cepat dan menggandeng Aslam, sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah. Tetiba di rumah, pak Joni yakni satpam rumah tersebut berkata,


"Nona Elizia, ini ada surat dari seorang kurir. Saya tidak tahu isi surat itu apa,"


Pak Joni menyodorkan amplop putih yang katanya surat.


"Oh. Ya. Terima kasih, Pak. Permisi kami akan ke dalam sekarang."


Elizia menerima surat tersebut yang isinya entah apa. Saat surat berada di tangannya, Elizia langsung ke dalam bersama Aslam. Dia langsung merobek amplop tersebut dan membaca surat tersebut. Ternyata surat tersebut dari Fatimah yakni mertuanya. Dia mengatakan bahwa dia sudah tahu semuanya tentang masalahnya dengan Hamzah Anggara.


Elizia disarankan untuk memberi pelajaran kepada Hamzah namun, jangan sampai bercerai karena akan mempengaruhi kebahagiaan Aslam kelak dan mertuanya sangat menyayangi Elizia. Mertua Elizia tidak akan sanggup jika berpisah dengan Elizia.


Begitulah garis besar isi surat yang ternyata dari mertuanya sendiri. Elizia membaca dua kali sampai dia meneteskan air mata. Saat itu Aslam sudah berada di kamarnya kembali dan mulai tertidur karena mungkin dia kelelahan jadi, Aslam tidak melihat jika Elizia sedang menangis.


Elizia mulai berada di tepi ranjang dan duduk. Dia sedang merenung dengan isi sebuah surat tersebut. Hingga akhirnya Elizia tertidur.


Beberapa menit kemudian, Hamzah datang dan melihat istrinya sudah tertidur.


'Liz, maafkan suami bodohmu ini. Diri ini tidak rela jika kau pergi. Tetaplah menjadi milikku selamanya. Diri ini tak akan ku biarkan kau berpisah denganku!' batin Hamzah sambil berdiri di ambang pintu sambil melihat istri dan anaknya yang sedang tertidur. Lantas, Hamzah segera memberi selimut kepada keluarga kecil yang sangat dia sayangi tersebut.


Saat itu, bayi milik mendiang Maryam Qonsina sudah tidak berada di rumah tersebut karena dengan cepat Hamzah mengantar bayi tersebut ke Panti Asuhan terdekat karena di sana bayinya akan terjaga. Dan Hamzah akan memberikan nominal uang yang besar jika Ibu Panti merawat dengan benar dan kasih sayang.


Mau tidak mau Hamzah harus menitipkan di Panti Asuhan karena dia sangat sibuk dan dia tidak mau membebani hati Elizia yang masih terluka.


Hamzah mulai mengambil air wudhu dan setelah selesai, dibentangkannya sajadah lantas, dia mulai melakukan sembanhyang isya. Saat selesai sholat, bulir bening menetes di pipinya.


'Ya Alloh. Ampuni hamba yang banyak dosa ini. Kembalikan keluarga kecil kami seperti sedia kala. Hamba khilaf ya Alloh. Izinkan hamba bahagia dengan keluarga kecil kami. Hamba yang lemah akan tipu muslihat dunia, bimbinglah hamba untuk menjadi suami yang baik dan bisa membahagiakan anak istri,'


Hamzah mengusap air matanya dan bersujud beberapa lama di sajadah yang terbentang di hadapannya. Saat itu, dia lelah, dan mulai tertidur.


*** **** ***


Ayam berkokok secara bersahutan. Penghuni rumah itu masih tertidur karena kelelahan. Kini, beberapa menit kemudian, Elizia mulai terbangun. Dia melihat jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya menunjukan pukul 05.00 pagi. Elizia tidak sholat karena dia sedang kedatangan tamu bulanan. Kini dia melihat ke sekeliling ruangan tak didapati suami maupun bayi milik mendiang istri barunya.


'Mas Hamzah ke mana ya? Apa dia tidak pulang? Tapi siapa yang menaruh selimut di atas tubuh saya dan Aslam ya?' batin Elizia bertanya-tanya.

__ADS_1


Elizia lalu berjalan menuju tempat sholat untuk melihat siapa tahu suaminya berada di situ. Dan ternyata benar. Hamzah dengan posisi berbaring masih tertidur di tempat sholat. Dia mendekati suaminya dan akan mencoba untuk membangunkannya.


"Mas, bangun! Mas! Ya Alloh, badan Mas panas sekali!"


Elizia memegang lengan tangan dan mengguncang-guncangkannya agar terbangun. Namun, ternyata tangan Hamzah sangat panas. Seketika, Elizia kebingungan karena suaminya kini pingsan dan dalam keadaan sakit.


Dia langsung berlari untuk memanggil pak Joni yang berjaga di pos jaga. Saat sampai, Elizia pun berkata,


"Pak Joni. Saya minta tolong untuk segera membawa mas Hamzah ke rumah sakit karena sekarang badannya panas dan pingsan. Saya mohon."


Terlihat raut panik di wajah manis milik Elizia. Dia khawatir suaminya akan kenapa-kenapa. Di hati kecilnya, masih ada sedikit rasa cinta yang tersisa walaupun hati Elizia sempat dilukai oleh suaminya.


"Baik, Nyonya."


Bergegas pak Joni yang mengekor Elizia yang berjalan cepat menuju ruangan di mana Hamzah Anggara sedang pingsan. Saat sampai, Hamzah masih tak sadarkan diri dan kondisi tubuhnya saat dipegang terasa panas.


"Nyonya, Saya izin untuk membawa Bos Hamzah ke rumah sakit "Kasih Ibu" sekarang juga," pak Joni pamit untuk membawa sang bos untuk segera dibawa ke rumah sakit karena kondisi sedang darurat.


"Iya. Nanti saya dan Aslam akan menyusul. Hati-hati dan tetap tenang ya, Pak? Agar selamat sampai tujuan."


Elizia mendoakan pak Joni agar selamat sampai rumah sakit sambil tersenyum ramah.


Dengan segera pak Joni membopong Hamzah menuju mobil. Saat sampai mobil, pak Joni segera menyalakan mesin dan tancap gas. Mobil berwarna hitam yang ditumpangi pak Joni dan Hamzah kini melenggang pergi sampai tidak terlihat dari pandangan Elizia yang mengantar sampai pintu gerbang rumah keluarganya. Masih ada satu satpam yang bernama Nino untuk menjaga rumah dan Elizia agar tetap aman.


Waktu itu kebetulan Aslam sedang liburan sekolah jadi, Elizia tidak khawatir dengan Aslam yang diajak ke rumah sakit karena sang ayah kini sedang dilarikan di rumah sakit. Soal resto, dia bisa memghubungi karyawan kepercayaannya untuk menghendel pekerjaannya saat ini.


Soal pekerjaan di kantor milik Hamzah, dia akan segera menelepon manajer perusahaan karena gawai suaminya tertinggal di tempat sholat dan kebetulan gawainya tidak dikunci sandi. Elizia segera menghubungi manajer Reza dengan segera. Beberapa detik kemudian sambungan telepon mulai terhubung.


"Halo, ini dengan Pak Reza?" tanya Elizia kepada nomor yang bernama Reza.


"Benar. Ini dengan Nona Elizia? Ada apa ya? Tumben yang menelepon Anda bukan Bos Hamzah?" tanya Reza di seberang sana dengan nada penasaran.


"Benar. Saya Elizia. Mohon maaf Mas Hamzah tidak bisa ke kantor karena saat ini dia sedang dilarikan di rumah sakit karena sakit mendadak. Saya mohon Pak Reza menghandle tugas dari suami saya," jawab Elizia dengan tegas.


"Baik. Nona. Tetapi, kalau boleh tahu, Bos Hamzah sakit apa? Dan berada di rumah sakit mana ya? Jika bisa, kami akan menjenguknya," tutur Reza yang menanyakan alamat rumah sakit yang dituju oleh Hamzah Anggara.


"Dia pingsan dan seluruh badannya panas. Dia berada di rumah sakit "Kasih Ibu". Kalau begitu saya akan memutuskan sambungan telepon sekarang juga."

__ADS_1


Setelah dirasa selesai menyampaikan tujuannya. Kini Elizia memutuskan sambungan telepon. Kini Elizia segera mandi dan berganti pakaian. Saat sampai di kamar, Aslam masih tertidur juga sehingga Elizia mandi secepatnya. Tujuh menit dia selesai mandi dan berganti pakaian rapi untuk menuju rumah sakit.


"Mama! Ayah!"


Tiba-tiba Aslam mulai terbangun dan memanggil kedua orang tuanya.


"Aslam. Kamu sudah bangun, Nak," tanya Elizia sambil mencium pipi gembul milik Aslam.


"Mama. Ayah mana? Aslam pengen lihat Ayah?"


Saat Aslam terbangun dan tersadar secara senpurna, bocah kecil itu langsung menanyakan ayahnya. Ikatan batinnya dengan sang ayah sangatlah kuat sehingga dia menanyakan keberadaan ayahnya.


"Aslam mandi dulu yuk? Nanti kita ke rumah sakit menjenguk Ayah."


Elizia menyuruh anaknya untuk mandi. Namun, Aslam mulai berpikir dan berkata,


"Ayah memang sakit apa? Ayah ada di rumah sakit? Kok Aslam gak tahu ya?"


Rasa penasaran yang tinggi membuatnya dia menanyakan beberapa hal tentang ayahnya.


"Ceritanya panjang sayang. Ayo, cepetan mandi agar kita bisa cepat ke rumah saki dan kita akan tahu kondisi ayah, Nak," jawab Elizia dengan penuh kesabaran.


"Oke. Ma. Ayo Aslam segera ingin bertemu Ayah. Aslam ingin Ayah sehat dan main bersama Aslam lagi dan tidak bertengkar sama Mama lagi."


Sambil berjalan ke arah kamar mandi Aslam berbincang dengan mamanya yang membahas tentang ayahnya.


"Iya, sayang. Ayo cepetan mandi. Ini Mama sudah siapin air hangat untuk kamu."


Elizia lalu memandikan Aslam hingga bersih. Lima belas menit kemudian, Aslam sudah mandi. Tidak perlu lama, Elizia meminta sopir untuk mengantar dirinya dan Aslam ke rumah sakit "Kasih Ibu".


Dua puluh menit kemudian, sampailah Elizia dan Aslam di rumah sakit tersebut. Elizia mencoba bertanya kepada suster tentang kamar yang dipakai untuk merawat suaminya. Lalu perawat itu memberi tahu kepada Elizia. Tidak lama, Elizia sampai di depan ruang rawat inap suaminya. Dan kebetulan Dokter yang menangani suaminya keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter, bagaimana kondisi pasien yang bernama Hamzah Anggara tidak lain adalah suami saya?" tanya Elizia dengan perasaan cemas dan was-was.


"Nona istrinya? Baik. Setelah kami periksa, kondisi pasien mengalami tekanan batin yang begitu kuat sehingga mengganggu fungsi otaknya dan kini pasien belum sadar dan masih dalam proses penanganan tim medis. Diharapkan keluarga pasien untuk selalu berdoa agar pasien cepat sadar dan segera sembuh."


Tidak terduga Hamzah Anggara mengalami tekanan batin. Mendengar penuturan dari dokter tersebut kini, Elizia menitikkan air mata secara reflek.

__ADS_1


"Mama! Ayah kenapa kok Mama nangis? Ayah baik-baik saja 'kan? Cepat katakan?"


Aslam melihat Elizia menangis maka, Aslam juga mulai penasaran dengan kondisi ayahnya sehingga, Aslam meronta kepada mamanya untuk memberi tahukan kondisi ayahnya kepadanya.


__ADS_2