Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Telepon Darurat


__ADS_3

Arloji menunjukan pukul 10.00 WIB, bu Widya ke rumah keluarga Hamzah untuk meminjam uang kepada Elizia. Bu Widya kini hidup susah karena suaminya sudah menceraikannya sehingga dia tidak mempunyai uang yang cukup banyak. Anak sulungnya yang bernama Sinta ikut dengan suaminya yang berada di luar kota.


Kini tinggal ibu Widya sendiri karena Rihana sedang mengalami gangguan kejiwaan karena ditinggal selingkuh oleh suaminya Zafian. Zafian selingkuh dengan wanita yang bernama Annisa. Mereka berdua pergi entah kemana.


Dan kini, Rihana berada di rumah sakit jiwa yang diantar oleh kedua orang tuanya agar kondisi jiwanya bisa normal kembali.


"Memangnya bu Widya mau meminjam uang berapa?" tanya Elizia yang mulai merasa kasihan dengan mantan mertuanya tersebut.


Elizia sulit untuk percaya bahwa bu Widya yang dulu pakaiannya serba mewah kini pakaiannya compang-camping seperti gelandangan.


"Jika berkenan, saya ingin meminjam uang sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Saya sudah tidak mempunyai simpanan sepeser pun. Perhiasan yang saya punya juga sudah saya jual untuk kebutuhan saya sehari-hari. Saya berusaha melamar pekerjaan namun ditolak oleh ibu-ibu komplek. Saya bingung harus bagaimana lagi."


Bu Widya menangis lagi karena meratapi nasibnya yang malang. Kini kehidupan bu Widya berubah drastis saat diceraikan oleh pak Sujono yang bekerja sebagai petugas camat. Sekarang pak Sujono pindah ke rumah barunya yang baru dia beli beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang dia mempunyai istri baru yang lebih baik dan tidak matre.


Suaminya sudah terlanjur jengkel dan tidak suka kepada Widya. Alih-alih memberi uang, mengunjungi ke rumah bu Widya saja tidak mau.


"Sebentar ya, Bu. Mas, bolehkah saya meminjamkan uang kepada bu Widya?" tanya Elizia kepada suaminya untuk meminta izin meminjamkan uang kepada bu Widya.


Hamzah yang saat itu duduk di samping istrinya mulai mengangguk pertanda dia menyetujui permintaan istrinya. Lalu Elizia segera ke dalam kamarnya untuk mengambil uang lembaran merah berjumlah lima lembar. Elizia akan memberikan uang kepada bu Widya dan diniatkan untuk sodakoh. Setelah mengambil uang tersebut, Elizia menuju ruang tamu dan berkata,


"Ini, uang yang Ibu minta. Semoga Ibu segera bisa membeli beras dan lauk pauk, ya?"


Dengan senang hati Elizia memberikan uang sejumlah lima ratus ribu rupiah kepada bu Widya. Walaupun bu Widya dulu sering menghinanya tetapi melihat perubahan dan kekhilafan mantan ibu mertuanya tersebut, Elizia tidak dendam dan malah merasa iba.

__ADS_1


"Terima kasih, Elizia. Hati kamu sungguh mulia. Ini uangnya kelebihan Elizia? Ini saya kembalikan yang dua lembar."


Terlihat raut wajah berbinar dari bu Widya. Dia tidak menyangka mantan mantunya yang dulu dia hina habis-habisan tetapi sampai sekarang masih baik kepadanya.


"Tidak perlu dikembalikan, Bu. Semuanya itu buat Ibu. Jika Ibu belum bisa mengembalikan dalam jangka waktu dekat, Ibu jangan khawatir. Anggap saja itu uang pemberian dari saya. Saya ikhlas kok Bu."


Elizia tidak mengharapkan bu widya mengembalikan uang tersebut karena Elizia kini sangat iba melihat kesusahan mantan ibu mertuanya tersebut.


"Terima kasih, Liz. Hati kamu memang mulia. Tetapi meminjam ya tetap meminjam. Ibu akan berusaha mencari pekerjaan lagi dan berusaha akan mengembalikannya. Yasudah, saya pamit pulang dulu. Maaf saya telah mengganggu kalian yang sedang berkumpul bersama keluarga."


Bu Widya undur diri. Dan segera bergegas untuk pulang. Ada secercah harapan untuk memulai hidup baru dari nol. Bu Widya menganggap kesusahan itu adalah imbalan atas perbuatan buruk yang pernah dia lakukan kepada Elizia.


"Sama-sama, Bu. Jika Ibu membutuhkan makanan atau sesuatu Ibu bisa main ke sini. Elizia siap membantu."


Elizia meminta bu Widya untuk tidak sungkan-sungkan meminta bantuan kepadanya. Elizia ingin membantu siapa saja orang yang merasa kesusahan selama orang itu baik dan tidak neko-neko. Mengetahui saat dulu, hidupnya sungguh menderita dan itu sangat menyakitkan.


"Liz, bu Widya hidupnya sekarang separah itu ya? Anaknya sungguh tidak merasa iba sedikit pun terhadap bu Widya. Apalagi mantan suami kamu itu Liz, seharusnya dia masih di rumah dan tidak bersama Annisa. Pasti pak Umar juga tidak setuju anaknya bersanding dengan Zafian. Untung saja kamu sekarang sudah menikah dengan Hamzah, jika tidak Mama merasa geram!"


Bu Fatimah geram dengan Zafian yang bersifat gegabah dan menelantarkan ibu kandungnya sendiri demi wanita seperti Annisa.


"Kita doakan saja semoga Mas Zafian mendapat hidayah dan segera pulang menemui ibunya," jawab Elizia sambil tersenyum kalem.


"Benar apa kata Elizia. Kita doakan saja Zafian. Mungkin nanti dia tidak akan betah dengan dunia luar sana yang keras dan dia bisa sadar dan memikirkan ibunya yang sedang kesusahan. Yasudah ya, Liz. Ayah sama Mama harus ke tempat kerja. Karena ada klien yang akan mengajak berbisnis."

__ADS_1


Fauzan tidak banyak waktu. Masih ada banyak hal yang harus dikerjakan di perusahaannya. Sesibuk apa pun orang tua Hamzah, mereka menyempatkan untuk bertemu dengan anaknya yang baru saja tertimpa kecelakaan.


"Baik, Ayah dan Mama hati-hati ya? Sebelum menjalankan mobil, di cek dulu mobilnya apakah normal atau ada gangguan pada mesin. Jangan seperti Hamzah kemarin yang tiba-tiba mobilnya oleng dan akhirnya kecelakaan tidak bisa kami hindari."


Hamzah memberi peringatan kepada kedua orang tuanya agar waspada terhadap mobil mereka dalam keadaan aman atau tidak.


"Iya. Hamzah. Ayah selalu mengecek kondisi mesin terlebih dahulu sebelum berkendara. Kalian harus berhati-hati dan banyak istirahat dulu. Jika ada masalah bisa hubungi Ayah atau Mama."


Tidak lama mereka berdiri dan segera pamit untuk pergi ke perusahaan 'JAYA GROUP'.


"Sayang, kita istirahat di kamar yuk? Kasihan calon dedeknya belum istirahat. Mas bopong ya?"


Dengan senyuman manja, Hamzah membopong istrinya menuju ranjang kamar mereka. Elizia dibaringkan dengan perlahan-lahan oleh suaminya di ranjang empuk tersebut. Lalu Hamzah mulai membelai perut Elizia yang di dalamnya terdapat calon bayi yang didambakan oleh keluarga mereka.


"Mas, aku ngantuk sekali. Aku mau tidur dulu ya?"


Tiba-tiba Elizia merasa ngantuk dan tidak lama dia tertidur.


Drrtt drrtt


Tiba-tiba ponsel milik Hamzah bergetar. Dan ada nomor baru yang sedang menelepon. Lalu Hamzah segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ini dengan siapa? Apa ada hal penting yang perlu dibahas?" tanya Hamzah kepada orang yang menelepon dengan nomor asing.

__ADS_1


"Ini Joni, Bos. Ada tiga orag pria membawa senjata tajam di depan rumah ini dan saya sedang diancam untuk dibunuh mereka jika Bos tidak segera keluar! Saya dan Erwin kewalahan melawan ketiga orang tersebut karena kekuatannya sangat kuat dan membawa senjata tajam. Kami sedang disekap di pos jaga!"


Joni menelepon Hamzah karena dalam keadaan bahaya. Ketiga satpam yang berjaga di rumah keluarga Hamzah kewalahan menghadapi ketiga penjahat yang berusaha meringkus satpam penjaga rumah keluarga Hamzah. Dan Hamzah mulai mematikan sambungan teleponnya karena rumahnya dalam keadaan bahaya.


__ADS_2