Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Nomor Asing


__ADS_3

Malam itu, di kediaman keluarga Hamzah sedang ada tamu yakni Rama Andhika dan ibundanya yang bernama Zahra. Mereka adalah pemilik Panti Asuhan "Kasih Ibu" di mana Elizia sejak kecil hingga dewasa dirawat dan dibesarkan.


Kini Elizia dan Hamzah menuju ruang tamu untuk menemui mereka. Hamzah terlihat tenang dan kalem saat berjalan mendekati tamu tersebut. Namun, lain halnya dengan Elizia yang hatinya tidak karuan karena baru tadi sore, dia bertemu dengan Rama Andhika dan memberinya sebuah bingkisan yang membuatnya dia merasa geli sendiri. Bagaimana tidak, pria berwajah dingin dan kalem tersebut, bisa-bisanya memberikan sebuah hadiah berupa lingerie kepada wanita yang sudah mempunyai suami.


Duduklah Hamzah di sofa dengan gagah. Sementara Elizia mendekati bu Zahra lalu bersalaman dan sungkem. Elizia merasa berhutang budi kepada bu Zahra sehingga dia menangis. Elizia pun berkata,


"Ini Bunda Zahra? Maaf, Elizia belum sempat mendatangi Panti Asuhan. Malah Bunda repot-repot datang ke sini."


Elizia masih meringkuk di pangkuan bu Zahra. Dia menumpahkan rasa kesedihan dan terharu kepada bu Zahra. Elizia menganggap bu Zahra seperti ibu kandungnya sendiri.


"Berdirilah, dan usap air matamu, Elizia. Kamu tidak bersalah. Kami sudah tahu liku-liku kehidupan kamu yang penuh dengan cobaan maka, jangan merasa bersalah."


Bu Zahra memerintah Elizia untuk berdiri dan menghentikan tangisnya yang kian tidak terbendung. Mungkin Elizia masih mengenang dahulu saat kebersamamnnya dengan ibu panti. Lalu Elizia menuruti perintah bu Zahra dan kini Elizia beralih duduk di samping suaminya dan mencoba untuk menghapus air matanya dan mencoba tersenyum di hadapan para tamunya.


"Mas Hamzah, perkenalkan ini Bunda Zahra mamanya Dokter Rama. Dia adalah pemilik yayasan Panti Asuhan di mana Elizia dulu dirawat hingga sampai besar seperti ini."


Elizia lalu menjelaskan kepada suaminya tentang bu Zahra yang ternyata adalah ibu panti yang mengasuh Elizia saat kecil sampai Elizia bertemu dengan jodohnya. Saat itu, Hamzah mendengarkan penjelasan istrinya dengan serius.


"Oh. Iya. Terima kasih atas kedatangan Ibu dan Dokter Rama. Terima kasih juga sudah merawat Elizia sampai sebesar ini dan kami belum bisa singgah ke sana karena suatu keadaan yang menyebabkan belum bisa singgah ke rumah Ibu dan dokter Rama," tutur Hamzah menyela penjelasan dari Elizia.


"Sama-sama. Kita mau ke sini juga mau menengok keadaan Elizia. karena dengar dari anak saya ini, Elizai baru saja melahirkan anak. Benarkah itu?"

__ADS_1


Zahra bertanya kepada Elizia untuk memastikan bahwa Elizia benar-benar hamil. Bu Zahra teramat senang karena orang yang dulu diasuhnya, kini sudah sukses bersama dengan suaminya dan sekarang berhasil mempunyai keturunan.


Tanpa sadar, kini putranya yang bernama Rama Andhika masih sangat mencintai Elizia. Dia saat ini menatap tajam ke arah Elizia saat Hamzah memandang ke arah lain.


"Oh. Iya terima kasih, Bunda Zahra. Kami merasa tidak enak. Seharusnya kami yang menengok Bunda terlebih dahulu," jawab Elizia sambil tergugu malu.


"Tidak apa-apa, Liz. Oh. Ya. Ini Liz ada beberapa oleh-oleh dari saya berupa makanan khas Yogya. Kebetulan Ibu tadi habis dari Yogya menengok Mbah Uti karena sedang sakit, jadi sekalian mampir ke sini. Tadi, Rama yang menjemput saya. Yasudah, ini sudah malam. Kami pamit pulang dulu. Kapan-kapan kalian mampir ya?"


Sekarang Elizia baru tahu bahwa dokter Rama tadi buru-buru pergi karena sedang menjemput bu Zahra yang sedang pergi ke Yogya. Sekarang, Elizia baru paham.


"Oh, begitu. Iya Bu. Kapan-kapan InsyaAllah kami akan mampir ke Panti Asuhan. Pulangnya hati-hati ya? Terima kasih oleh-olehnya. Semoga kebaikan kalian diterima di sisi Allah," jawab Elizia dengan nada serius dan terharu.


Dia tidak menyangka ibu panti masih baik kepadanya. Dia merasa berhutang budi banyak kepada keluarga baik tersebut. Lalu bu Zahra dan Rama Andhika berdiri dan akan segera pulang karena waktu sudah malam. Saat itu, Elizia dan Hamzah mengantar tamunya tersebut sampai pintu gerbang rumah keluarga Hamzah. Saat di dalam mobil, Rama memandang ke arah Elizia begitu lama dengan tatapan yang sulit diartikan.


Terlihat Fatimah sudah tidak menggendong Aslam. Fatimah sedang di ruangan sholat sedang melantunkan ayat suci alqur'an. Elizia tidak mau mengganggu mertuanya yang sedang mengaji. Elizia bergegas ke kamar untuk memastikan bahwa Aslam berada di kamar. Lima menit kemudian, tibalah Elizia di kamarnya.


'Syukurlah, Aslam masih tertidur. Kamu yang nyenyak ya, Nak. Mimpi yang indah. Bunda mau melipat pakaian yang menggunung dulu,' tuturnya dalam hati.


Elizia senang karena Aslam masih tertidur dia bisa melakukan aktivitas pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Hingga dia lupa akan bingkisannya yang masih di dalam kolong ranjang tidurnya.


Kriet!

__ADS_1


Seketika suaminya masuk ke dalam kamar setelah selesai sholat isya di masjid terdekat.


"Mas sudah datang. Habis itu, jika lelah Mas istirahat saja," ujar Elizia memberi saran kepada suaminya agar beristirahat karena suaminya pasti lelah karena seharian bekerja di perusahaannya.


"Iya, sayang. Kamu juga istirahat ya?"


Lalu Hamzah segera menanggalkan kopiah dan pakaian sholatnya di rak gantung. Setelah itu dia berganti pakaian dengan piyama tidur. Saat itu, dia melihat bingkisan kardus berwarna coklat yang berada di sudut lantai dekat dengan ranjang tidurnya. Lalu Hamzah penasaran dan segera mengambil bingkisan tersebut.


Drrtt drrtt


Namun, saat mau mengambil bingkisan tersebut, suara dering nada telepon dari ponsel Hamzah bergetar. Tertera nomor tidak dikenal menghubunginya. Lalu Hamzah Anggara segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ini dengan siapa? Apa ada hal penting yang akan disampaikan?" tanya Hamzah di sambungan teleponnya kepada nomor asing yang baru masuk tersebut.


"Bos, saya Roni satpam yang jaga di perusahaan 'JAYA GROUP' di depan pintu gerbang ada segerombolan pria berpakaian serba hitam memakai penutup kepala dan membawa lima motor Ninja berwarna hitam. Sekarang mereka tengah berdiri di depan pintu gerbang dengan membawa senjata tajam," jawab orang yang mengaku bernama Roni dan dia menyampaikan kabar penting tentang perusahaan 'JAYA GROUP'.


"Oke. Saya akan menelepon orang andalan saya untuk membantu menangani para gerombolan penjahat tersebut. Kalian tetap tenang dan sebelum tim penyelamat datang, gerbang jangan dibuka terlebih dahulu."


Hamzah memberi saran dan berusaha menenangkan para satpam yang terancam dalam keadaan bahaya.


"Siap, Bos. Yasudah, kami tunggu tim penyelamat datang ke sini."

__ADS_1


Tidak lama, sambungan telepon terputus. Dengan gerak cepat dan hati cemas, Hamzah menelepon orang andalannya yang lihai dalam mengurusi para bandit penjahat.


__ADS_2