
Elizia masih bersama dengan salah satu ibu-ibu anggota Gengster yang membicarakan tentang Rihana. Waktu itu sore hari tepat pukul 16.00 WIB.
"Dia teman yang suka resek terhadap saya, Bu. Dari dulu dia selalu membenci saya karena saya orang miskin," ucap Elizia kepada salah satu ibu anggota Gengster tersebut.
Elizia tidak membeberkan hubungan perselingkuhan antara mantan suaminya dengan Rihana karena dia tidak mau mempunyai masalah baru yang membuat pikirannya semakain kacau. Dia akan fokus bekerja agar bisa menabung untuk masa depan dan membalas semua hinaan yang dilontarkan oleh mantan keluarga suaminya 'Zafian'.
"Begitu. Ya. Jika nanti aku bertemu dengan wanita itu, aku akan memberi pelajaran kepada dia agar dia jera dan tidak seenaknya menghina orang kecil seperti kita," ujar ibu itu dengan geram.
"Bu, tidak usah repot-repot mengurusi teman saya itu, takutnya Anda terlibat masalah yang membuat pikiran Anda pusing, karena banyak masalah." Elizia berusaha menasihati ibu tersebut agar tidak usah menggubris Rihana.
"Tidak pusing kok, saya suka membantu orang baik seperti kamu, Elizia!" ucap ibu tersebut dengan tegas.
"Terserah Ibu saja deh, yang penting saya sudah nasehatin, eh kita belum kenalan, nama ibu siapa ya?" tanya Elizia penasaran.
"Saya Bu Tuti, kamu Elizia 'kan?" tanya bu Tuti memastikan.
"Benar saya Elizia. Saya pulang dulu ya, Bu Tuti?" tanya Elizia yang masih berdiri di depan halaman rumah nenek Rumi.
"Iya. Kamu pulang saja istirahat pasti kamu capek. Kapan-kapan aku mampir ke ruma nenek Rumi," jawab bu Tuti yang masih berdiri di samping Elizia.
"Baik." Elizia tersenyum kepada bu Tuti lalu beranjak ke rumah nenek Rumi. Sebenarnya dia juga ingin segera pulang karena kelelahan.
Beberapa menit kemudian, Elizia sampai di depan pintu nenek Rumi yang tidak di kunci.
Lalu dia masuk ke dalam rumah tersebut. Terlihat nenek Rumi sedang menjahit pakaian memakai jarum jahit sederhana.
"Nek, Elizia pulang. Nenek sedang menjahit ya?" tanya Elizia sambil mencium tangan nenek Rumi dengan takzim.
"Eh. Elizia Sudah pulang. Ayo buruan makan. Nenek sudah masak sup ayam spesial buat kamu. Iya ini Nenek sedang menjahit gamis kesayangan Nenek, kalau dibuang sayang karena masih layak pakai," jawab nenek Rumi sambil menyelesaikan jahitan gamisnya.
"Iya. Nek. Saya ke belakang dulu." Elizia pergi ke belakang untuk membersihkan diri dan sholat.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri dan sholat ashar, Elizia segera makan masakan nenek Rumi.
'Ya, Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu telah memberikan kenikmatan yang tiada terkira. Di masa-masa sulit ini, masih ada orang yang baik mengelilingi hidupku,' gumam Elizia di dalam hatinya sampai matanya berkaca-kaca.
Lalu dia segera berdoa dan mulai memakan sup ayam buatan nenek Rumi dengan porsi standar. Dia tidak mau makan terlalu kenyang karena tidak baik untuk kesehatan.
Setelah selesai makan, dia menghampiri nenek Rumi dan berkata,
"Nenek tidak capek? Sini Elizia yang jahitin gamis milik Nenek?" Elizia duduk di samping nenek Rumi dan menawarkan diri untuk menjahit baju.
"Tidak usah, Nak. Sebentar lagi selesai. Oh. Ya. Bagaimana hasil dari melamar kerja tadi?" tanya nenek Rumi sembari memperbaiki posisi kaca mata tebalnya yang hampir jatuh.
"Alhamdulilah, Nek. Saya diterima dan besok saya bisa langsung kerja," ucap Elizia dengan nada gembira.
"Syukurlah. Nenek ikut senang. Kalau kamu capek bisa istirahat ya? Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumah kamu." Nenek Rumi yang terlihat berbinar mendengar bahwa Elizia diterima bekerja. Ternyata Elizia mempunyai keahlian yang bagus juga.
"Iya, Nenek juga istirahat Agar tidak kelelahan. Nanti Elizia yang membereskan semua pekerjaan rumah yang belum kelar," ujar Elizia ingin menyelesaikan tugas rumah. Dia yang berada di ruang keluarga masih menemani nenek Rumi yang baru saja selesai menjahit gamis.
"Kamu mengerjakan pekerjaan rumah semampunya saja. Nanti saat kerja tiba, takutnya kamu 'down'." Nenek Rumi memberi nasihat kepada Elizia.
Terdengar ponsel Elizia bergetar dan tertera nama Zafian. Mantan suaminya sedang menelepon. Lalu Elizia segera mengangkatnya.
"Halo, ada apa, Mas?" Elizia terpaksa mengangkat telepon dari mantan suaminya siapa tahu penting.
"Kamu di mana, ini surat perceraian kita sudah turun. Aku butuh tanda tangan secepatnya dari kamu karena aku akan segera menikah dengan Rihana," jawab Zafian di seberang telepon sana.
"Oke. Aku akan segera ke rumah kamu. Tunggu saja," jawab Elizia datar.
"Kamu kok tidak kaget dan marah? Kamu istri apaan, sih? Berarti selama ini kamu tidak mencintaiku?" tanya Zafian dengan nada nyaring seperti emosi.
"Buat apa marah dengan pria matre seperti kamu, Mas?" Elizia menjawab pertanyaan mantan suaminya dengan tenang dan kalem.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan kamu. Aku tunggu kamu ke sini sekarang juga!" perintah Zafian kepada mantan istrinya.
"Oke. Aku akan segera ke sana." Lalu Elizia segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Elizia tidak menyangka, Zafian benar-benar ingin menceraikan dirinya. Mantan suaminya sudah dibutakan oleh harta dan dunia. Elizia sudah tidak mempunyai rasa kepada Zafian. Air matanya pun sudah tidak bisa menangisinya lagi.
"Siapa yang menelepon, Nak?" tanya nenek Rumi penasaran.
"Mantan suami aku, Nek. Sekarang saya harus ke rumahnya untuk menandatangani surat perceraian," jawab Elizia dengan kalem.
"Mantan suami kamu benar-benar gila! Membuang mutiara seenaknya saja. Yasudah, kamu segera ke sana saja. Lebih baik kamu bercerai dengan dia dari pada harus hidup dengan pria pengecut seperti mantan suamimu itu!"
Nenek meradang mendengar kata perceraian. Karena dia dulu juga diceraikan oleh mantan suaminya karena selingkuh. Dengan kegigihan dan ketekunannya, nenek Rumi bisa menjadi kaya seeprti ini. Nenek Rumi sangat benci dengan perceraian.
"Baik, Nek. Elizia pamit pergi dulu." Elizia mencium tangan neneknya dengan takzim lalu dia bergegas untuk ke rumah mantan suaminya dengan jalan kaki.
Karena rumah nenek Rumi dengan rumah keluarga suaminya hanya berjarak beberapa meter saja.
Tujuh menit kemudian, dia sampai di rumah mantan suaminya yang masih dia ingat betapa luka hatinya saat waktu pertama kali dia meninggalkan rumah tersebut.
Tok, tok, tok!
Elizia mengetuk pintu rumah keluarga matan suaminya. Beberapa detik kemudian, pintu pun terbuka.
"Elizia? Ayo cepetan masuk." Pak Sujono yang membuka pintu untuk Elizia dan dia dipersilakan masuk dan segera duduk di sofa.
"Kamu ada urusan dengan Zafian?" tanya mantan ayah mertuanya sambil tersenyum kepada Elizia.
"Benar, Yah," jawab Elizia singkat.
Elizia menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak dijumpai siapa pun selain pak Sujono, mantan ayah mertua Elizia.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil nya.
"Elizia! Kamu sudah datang rupanya." Zafian menyapa mantan istrinya sambil tersenyum masam dan sambil merangkul seorang wanita dengan manja.