
Malam yang kelam itu, Hamzah Anggara baru saja mendengar telepon dari salah satu satpam penjaga perusahaannya mengatakan bahwa ada kawanan penjahat sedang berdiri siaga dengan membawa senjata tajam di depan pintu gerbang perusahaan 'JAYA GROUP'.
Hamzah tidak boleh menampakkan wajah panik kepada istrinya agar tidak mengganggu pikirannya yang sedang mempunyai bayi. Selama masih bisa di buat kalem maka, dia tidak boleh menceritakan hal ini kepada istri tercintanya.
Namun, bukan Elizia jika dia tidak berpikiran kritis. Mendengar suaminya ditelepon malam hari oleh orang, jiwa penasarannya meronta ingin mengetahui hal apa yang dibicarakan dalam percakapan telepon tersebut.
"Mas, siapa yang menelepon? Apakah ada maslah?" tanya Elizia penasaran.
"Dari satpam penjaga perusahaan kita," jawab Hamzah datar.
"Memangnya ada apa, Mas? Tumben pak satpam menelepon malam-malam begini?" tanya Elizia penasaran sambil memberikan ASI untuk Aslam yang sudah mulai terbangun.
"Satpam itu menanyakan berkas dokumen penting yang saya simpan karena dokumen tersebut digunakan untuk mendata karyawan baru," jawab Hamzah dengan bohong karena dia tidak mau istrinya khawatir dengan masalah yang baru saja dialami pada perusahaannya.
"Oh. Kirain ada masalah yang serius," ujar Elizia yang mengira akan terjadi masalah pada perusahaannya jadi, dia bernafas lega.
Karena kadang-kadang keluarga mereka mengalami masalah yang mendadak walau sebenarnya memang sedang terjadi masalah yang mengancam perusahaannya.
"Mas harus ke perusahan sekarang. Boleh 'kan? Karena ini sangat penting. Kamu jaga diri dan hati-hati, ya? Jika ada apa-apa telepon Mas."
Hamzah tidak mempunyai banyak waktu untuk menjawab pertanyaan dari Elizia. Dia harus segera ke perusahaannya karena kondisi dalam keadaan darurat.
"Mas hati-hati ya? Soalnya ini sudah malam," kata Elizia dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Doakan Mas baik-baik saja. Yasudah Mas pergi dulu."
Setelah selesai mengirim chat WA kepada orang andalannya, dan beberapa menit kemudian, chat WA tersebut langsung direspon dan akan segera menjalankan perintah bersama dengan teman-temannya. Hamzah mulai beringsut dari kamar dan tidak lupa dia mencium kening istrinya.
Hamzah segera menyambar roda empat miliknya. Saat sudah menaiki mobil, dia menyalakan mesin dan segera tancap gas. Lima belas menit kemudian, sampailah Hamzah Anggara yang berada tidak jauh dari perusahaannya. Dari situ, dia bisa mengintai penjahat yang dimaksud. Benar apa yang dikatakan oleh satpam penjaga perusahaannya, terlihat lima bandit masih berjaga-jaga di pintu gerbang tersebut.
Tidak lama, datang dua mobil 'Gran Max' berwarna putih berhenti de depan gedung resto yang indah.Dia adalah anak buah dari Hamzah Anggara. Lalu mereka turun dari mobil beserta dengan mobil intel yang masih bersembunyi di balik pohon untuk membuat konten video untuk dijadikan barang bukti. Hamzah langsung turun dari mobil dan bergabung dengan anak buahnya.
Lima menit, sampailah Hamzah di depan perusahaannya dan bergabung bersama anak buahnya. Seorang pria berambut cepak yang memakai kemeja biru berkata,
"Bos, Hamzah sudah datang? Ayo Bos kita lawan para penjahat pecundang tersebut."
Pria berambut cepak tersebut tersulut emosi kala melihat di depan mereka tengah berdiri lima bandit yang kepalanya tertutup oleh penutup kepala.
"Kalian sedang apa berdiri di situ dan membawa senjata tajam seperti itu?" tanya Hamzah yang memberanikan diri bertanya kepada para kawanan penjahat tersebut. Hamzah mulai mendekat ke arah kawanan penjahat tersebut dan berkata,
"Kalian sedang apa berdiri di situ dan membawa senjata tajam seperti itu?" tanya Hamzah yang memberanikan diri bertanya kepada para kawanan penjahat tersebut.
"Oh. Jadi kamu pemilik perusahaan ini, tampan juga. Tetapi untuk malam ini kamu dan keluarga akan menjadi gembel. Cepat serahkan berkas-berkas dokumen biru kepada saya! Maka saya akan melepaskan satpam bodoh ini! Jika tidak, satpam ini tidak akan hidup lagi!"
Penjahat itu menyandera beberapa satpam perusahaan 'JAYA GROUP' dan mengancam akan menghabisinya jika Hamzah tidak mau memberikan dokumen penting berwarna biru tentang aset berharga yang nilainya milyaran juta.
"Oh, jadi kalian ingin mengincar aset perusahaan kami? Oke, saya akan berikan namun, cepat lepaskan mereka! Jangan lukai sedikit pun mereka jika kalian ingin dokumen penting ini!"
__ADS_1
Di tangannya, Hamzah sudah memegang dokumen berwarna biru tersebut. Dia harus memberikan dokumen tersebut kepada para penjahat tersebut agar para satpam itu bisa selamat tanpa dilukai oleh para penjahat yang tiba-tiba datang.
"Benar sekali. Kami dari pasukan preman penghuni jalanan ingin kaya seperti Anda. Kami bosan hidup miskin seperti ini. Cepat serahkan!"
Penjahat yang lainnya menyahut pembicaraan Hamzah Anggara dan mendesak untuk secepatnya menyerahkan dokumen penting tersebut. penjahat itu tidak punya waktu banyak, karena takut diincar polisi.
"Dari tadi saya sudah menyodorkan dokumen ini. Tapi cepat lepaskan para satpam itu sekarang juga!"
Dengan tenang dan kalem Hamzah masih menyodorkan dokumen biru dan memberikannya kepada para penjahat tersebut. Dia sedikit pun tidak khawatir jika dokumen itu di tangan para penjahat.
Tidak lama, para satpam itu dilepaskan dan senjata tajam yang diarahkan ke para satpam tersebut mulai diturunkan dari tangan para penjahat itu.
Saat para satpam berlari ke arah Hamzah, anak buah Hamzah Anggara yang berjumlah empat orang mulai menyerang para penjahat tersebut.
Jurus karate mereka mulai dikeluarkan. Hingga diantara dua kubu, mereka saling melakukan perlawanan. Pun dengan Hamzah. Dia juga ikut bertempur melawan penjahat tersebut agar dapat kalah dan diringkus oleh polisi.
Hamzah sama sekali tidak memikirkan dokumen biru yang dianggap para penjahat adalah dokumen penting. Setahun yang lalu Hamzah membuat dokumen palsu yang mirip dengan dokumen penting yang asli. Dokumen yang asli sudah pasti, disimpan di tempat rahasia yang orang asing sulit untuk mengetahuinya. Hamzah bukanlah CEO bodoh yang tidak memikirkan masa depan dan keamanan perusahaannya.
Saat itu, adu serang semakin sengit di antara kedua belah pihak. Tanpa sadar, lengan Hamzah Anggara terkena parang yang dibawa oleh salah satu penjahatnya. Hamzah hanya mengandalkan juru karate yang dia pelajari saat masa-masa sekolah dulu.
"Aw. Sialan. Sakit sekali. Awas akan saya balas!"
Hamzah mulai meradang. Dengan rasa sakit, namun dia tetap menyerang penjahat itu sampai titik darah penghabisan untuk menumpas kejahatan. Dia mulai menyiapkan aba-aba siap siaga jika penjahat itu akan melawan.
__ADS_1
Benar saja, seorang penjahat bertubuh tinggi besar menyerang secara garang ke arah Hamzah. Namun, Hamzah tidak lengah. Kaki Hamzah menendang bagian penting milik penjaga itu. Penjahat itu terjungkal dan kesakitan. Namun, datang teman penjahat lainnya berkepala botak menyerang Hamzah Anggara hingga Hamzah harus berkeluh dalam pertarungan.