Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Kotak Misterius


__ADS_3

Suasana di pagi hari yang masih sunyi di rumah sakit "Kasih Ibu" yang waktu itu Hamzah dan salah satu perawat berada di ruangan rawat inap tempat Elizia dirawat. Di pagi buta itu, Hamzah sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya bergemuruh dan seperti dicabik-cabik oleh pisau. Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat tangan Elizia dipegang erat oleh dokter Rama yang tidak lain adalah dokter yang juga menanganinya. Dokter tampan itu, tengah tertidur di kursi di samping Elizia yang terbaring di ranjang sakit dan juga masih tertidur.


Tetapi dia tidak mau gegabah, dia menunggu dokter dan istrinya terbangun karena dia tidak mau kehilangan istri tercintanya hanya karena kesalah pahaman. Dia akan menyelidiki hubungan mereka lebih lanjut.


"Suster, kenapa Dokter itu bisa tidur di samping istri saya? Apakaha istri saya mengenal Dokter itu?"


Saat Rama dan Elizia belum terbangun, Hamzah bertanya kepada suster yang menemaninya mengenai hubungan istrinya dan dokter Rama.


Hamzah adalah orang yang bijak, sebelum dia tahu pasti kebenarannya, dia tidak akan melakukan hal-hal buruk yang akan menambah masalah dan semakin memperburuk keadaan.


"Saya tidak tahu, Kak. Tetapi kemarin malam saya melihat Dokter Rama memeriksa Elizia dan terjadi percakapan di antara mereka yang lumayan lama. Tetapi saya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan," jawab suster itu dengan nada lirih karena takut akan membangunkan kedua insan yang masih tertidur tersebut.


Suster itu menjelaskan perihal Elizia dan dokter Rama dengan apa adanya tanpa ditambahi bumbu yang hanya akan membuat masalah tersebut lebih parah lagi. Lima menit kemudian, Elizia mulai membuka matanya dan diikuti dokter tersebut juga ikut terbangun. Entah mendapat kekuatan dari mana mereka bisa bangun dalam waktu yang bersamaan.


Kemudian Elizia terkejut melihat dokter Rama masih di sampingnya dan memegang erat tangannya. Seketika, tangan Elizia berusaha melepas tangannya dari genggaman dokter Rama.


"Ma-maaf saya tidak sengaja tidur di samping pasien saya karena saya ketiduran di sini. Saya akan keluar sekarang juga!"


Di dalam hatinya, Rama terkejut karena saat dia terbangun, dia masih di samping Elizia dengan keadaan menggenggam erat tangan wanita itu. Parahnya lagi, Hamzah Anggara sudah berada di dekatnya dan melihat kejadian yang mungkin membuatnya akan marah.


"Dokter mau ke mana! Urusan kita belum selesai!"


Saat dokter Rama hendak keluar dari ruangan rawat inap Elizia, Hamzah mencekal erat lengan dokter Rama sehingga membuat langkah dokter itu terhenti.


"Maaf, Tuan Hamzah, saya masih banyak urusan. Saya tidak mempunyai banyak waktu di ruangan ini."


Dokter itu berusaha ingin keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau mengganggu urusan rumah tangga orang lain. Walaupun sebenarnya dia tidak rela, jika Elizia bersanding dengan pria lain.


"Jelaskan kepada saya, ada hubungan apa antara Anda dan istri saya hingga Anda sampai memegang erat tangan istri saya! Jangan mencoba lari sebelum Anda menjawab pertanyaan dari saya!"

__ADS_1


Dengan tegas Hamzah Anggara bertanya kepada dokter itu. Hatinya panas dan sedang dilanda cemburu yang teramat sangat.


"Maaf, saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Elizia! Percayalah!" jawab dokter Rama tegas.


Dokter itu menatap arah pintu tanpa memandang Hamzah yang sedang tersulut emosi. Dia tidak ada waktu banyak untuk berbicara dengan Sang CEO tersebut.


"Anda jangan mencoba membohongi saya, atau saya akan berduel dengan Anda sampai babak belur! Cepat katakan, Elizia ada hubungan apa dengan Anda!"


Hamzah mengulang pertanyaannya kembali dengan nada lebih tinggi sambil mengepalkan tangannya karena geram hingga suster itu merasa ketakutan.


"Mas! Lepaskan tangan dokter Rama! Kami tidak mempunyai hubungan apa-apa!"


Elizia angkat bicara dan berusaha agar Hamzah melepaskan lengan tangan yang dipegang oleh dokter rupawan itu. Elizia tidak mau ada keributan di rumah sakit hanya gara-gara dia.


"Diam kamu, Elizia! Biarkan Dokter ini angkat bicara! Jika dia berusaha menjelaskan maka, baru akan saya lepaskan! Cepat katakan!"


Hamzah semakin tegas dan garang. Bahkan, dia berani membentak Elizia. Hamzah sudah terbakar api cemburu karena dia melihat bukti nyata keadaan di mana dokter itu sedang bersama dengan istrinya tanpa ada dirinya.


Dokter itu mengacak rambutnya setelah memberi penjelasan kepada Hamzah Anggara. Dokter itu matanya berkaca-kaca karena dia bertemu dambaan hatinya di saat yang tidak tepat dan itu hanya membuat hatinya semakin remuk redam.


Lalu Hamzah mematung dan melepaskan tangan dokter itu. Ternyata masih ada pria yang mendamba istrinya tersebut. Setelah beberapa pekan terakhir dia berperang sengit dengan mantan suaminya, kini dihadirkan kembali sosok pria yang menginginkan Elizia. Sunghuh berat tantangannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan Elizia. Namun, dengan begitu, dia merasa tertantang dan ingin menjaga Elizia agar tidak diambil olah pria lain karena Elizia adalah berlian bagi dirinya.


Dia masih duduk di kursi roda dan mematung. Sedangkan dokter itu dibiarkannya pergi karena tugasnya sebagai dokter masih berderet jadwal yang harus diselesaikannya. Jadi, dia tidak bisa banyak mengobrol dengan dokter itu.


"Kak, Hamzah. Saya sudah mengantar Anda ke ruangan istri Anda. Kalau begitu saya bisa pergi. Dan jika perlu bantuan Anda bisa menghubungi perawat yang jaga di 'stand' ini. Permisi."


Hamzah kemudian mengangguk. Kini tinggal ada Hamzah dan Elizia di situ. Tatapan mata mereka saling berpandangan. Ada sebuncah rasa yang mereka pendam di antara mereka berdua.


"Mas, maafkan Eliz, jika saya ada salah dengan Mas. Dari kemarin Elizia ingin bertenu Mas dan hari ini Elizia baru bisa bertemu kbali. Apakah Mas marah dengan Eliza?"

__ADS_1


Elizia menangis di depan suaminya sendiri karena dia takut jika suaminya akan marah kepadanya. Elizia kini sangat mencintai suaminya tersebut. Elizia sedikit pun tidak pernah ingin melukai hati suaminya.


Perlahan-lahan Hamzah berdiri dan berusaha ingin berjalan normal kembali. Dan ternyata dia berhasil berjalan secara perlahan-lahan karena kepalanya masih terasa pusing. Pria dewasa itu mendekati Elizia seraya berkata,


"Jangan menangis, Istriku. Mas tidak marah denganmu. Mas hanya tidak terima kamu disentuh oleh dokter itu! Ayo kita segera pulang dari rumah sakit ini! Mas tidak ingin kamu melihat dokter itu!"


Hamzah segera ingin meninggalkan rumah sakit itu karena dia sangat cemburu melihat dokter tampan itu. Dia takut istrinya akan jatuh cinta dengan dokter Rama.


"Memangnya biaya administrasi rumah sakit sudah lunas belum, Mas? Jika sudah, kita segera pulang saja."


Sebelum pulang, Elizia memastikan apakah biaya rumah sakit sudah lunas atau belum.


"Sudah. Ayah Fauzan sudah melunasi biaya administrasi rumah sakit ini. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Hamzah sambil menatap Elizia dengan serius.


Saat itu terdengar suara ketukan pintu masuk ruangan rawat inap tersebut. Tidak lama mereka membuka pintu dengan sendirinya karena pintu masuk rumah sakit tidak dikunci.


Ternyata yang datang adalah Annisa dan Zafian. Sontak Hamzah dan Elizia kaget.


Mereka lalu mendekati Elizia. Dan Rihana berkata,


"Elizia, Mas Hamzah. Selamat datang. Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa kalian. Ini ada dua kotak yang berwarna merah. Yang satu berisi makanan dan yang satu ada barang spesial buat kamu semoga suka. Dibuka sekarang juga tidak apa-apa."


Rihana mendekati Elizia dengan senyum menyeringai. Dia memberikan dua kotak yang entah berisi apa dan diberikan kepada Elizia.


"Jangan dibuka, Liz. Pasti itu isinya barang yang berbahaya! Mas tidak mau kamu celaka kembali!"


Hamzah Anggara melarang membuka kado kotak tersebut. Dia tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya. Lantas, dua kotak berwarna merah tersebut di buang oleh Hamzah ke tong sampah.


"Jangan dibuang!"

__ADS_1


Tiba-tiba Annisa berteriak dengan suara nyaring dan terdengar oleh perawat yang berjaga di dekat ruangan itu. Dan tiba-tiba terdengar bunyi yang memekakkan telinga.


Dor!


__ADS_2