
Malam itu, pak umar segera menuju mobilnya untuk segera ke rumah sakit untuk menjenguk Annisa yang sudah ditemukan oleh tim penyelamat yang kini dia berada di rumah sakit. Hamzah ikut membersamai pak Umar dan dia duduk di jok depan di samping pak Umar. Saat di perjalanan mereka hanya diam karena sedang dalam pikirannya masing-masing. Hamzah sungkan untuk memulai pembicaraan karena dalam suasana genting. Dia tidak mau mengganggu pak Umar yang sedang fokus mengendarai.
Sepuluh menit kemudian, pak Umar dan Hamzah telah sampai di rumah sakit "Siaga Medika". Pak Umar segera mematikan mesin mobilnya seraya turun dari mobil diikuti dengan Hamzah yang juga turun dari mobil.
Mereka berjalan ke arah ruang UGD yang melewati lorong ruangan yang memanjang. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di ruang UGD.
"Suster, kami mencari pasien anak saya yang bernama Annisa. Bagaimana dengan keadaan dia suster?"
Pak Umar mulai menanyakan keberadaan anaknya dan dia segera ingin mengetahui kondisi anaknya selamat atau sebaliknya.
"Annisa pasien wanita yang diduga bunuh diri itu, ya?" tanya suster menyelidik dan memastikan agar tidak salah memberikan informasi.
"Benar, Sus. Annisa anak saya yang nekat bunuh diri di jembatan dekat dengan komplek perumahan yang saya tempati."
Pak Umar menjelaskan identitas anaknya agar suster tersebut memberi tahu di mana Annisa dirawat.
"Annisa berada di ruang UGD nomor tujuh dan keadaan anak Bapak kini selamat namun, kaki kirinya terkena sayatan parah sehingga kaki sebelah kiri milik Annisa harus segera diamputasi oleh pihak medis."
Suster itu mengangguk dan memberi tahu kondisi Annisa yang masih hidup namun, wanita itu mengalami nasib malang yakni kaki kirinya diamputasi oleh tim medis karena sudah tidak memungkinkan untuk dipertahankan dalam tubuh Annisa yang terluka parah.
"Benarkah, Suster? Jadi anak saya tidak bisa berjalan dengan normal?"
Pak Umar terkejut dan tidak percaya, anaknya yang dulu lengkap dengan anggota tubuh yang ideal nan cantik, kini harus kehilangan salah satu kaki indahnya. Ternyata bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk melampiaskan rasa frustasi. Jika Tuhan belum berkehendak memanggil nyawa seseorang, maka manusia tidak bisa menyangkalnya. Keputusan Tuhan adalah mutlak dari-Nya dan manusia tidak akan bisa mengubah takdir yang sudah digariskan.
"Benar, Pak. Jika saja pasien tidak nekat melakukan aksi bunuh diri, mungkin hal buruk ini tidak akan terjadi. Tuhan menegur kita untuk tidak berpikir secara dangkal dan gegabah. Semua tindakan dan keputusan harus dipikirkan sebab akibatnya dalam jangka panjang. Tetapi kami berharap semoga pasien masih tegar dan menerima dengan legawa atas keadaan yang kini menimpanya."
Suster cantik berkerudung biru instan tersebut memberi petuah kepada pak Umar dan Hamzah yang sedari tadi berdiri di depan ruang jaga UGD. Lalu pak Umar berterima kasih kepada suster tersebut dan tidak lama mereka berjalan menuju ruangan sesuai arahan dari suster cantik tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di ruangan UGD nomor tujuh. Pak Umar langsung membuka ruangan tersebut. Terlihat Annisa sedang dirawat di ruangan tersebut dan hidungnya menjulur selang sebagai alat bantu pernapasan. Pak Umar tidak tega melihat anaknya terbujur kaku tersebut dan meneteskan air mata.
"Nak, cepat bangun. Ayah kangen sama kamu, Nak. Ayah berjanji akan merawat kamu dengan sebaik-baiknya apa pun keadaannya."
Pak Umar mengusap rambut anaknya yang tergerai memanjang. Kerudungnya yang panjang sudah dilepas oleh tim medis karena kepalanya harus diperban karena terdapat area yang terluka di bagian kepala Annisa. Hamzah yang berdiri di samping pak Umar terdiam dan menatap langit-langit karena tidak berani memandang wajah Annisa yang tanpa kerudung. Dia menjaga imannya agar tidak goyah dan tetap mencintai istrinya yakni Elizia.
Perlahan-lahan Annisa mulai membuka mata. Hanya matanya saja yang bisa bergerak. Karena tubuhnya masih terasa kaku dan lemas. Matanya tertuju kepada Ayahnya yang berdiri di dekatnya.
"Ayah, apakah aku masih hidup? Kenapa Ayah biarkan aku tetap hidup?"
Annisa kini sudah mulai sadar dan berbicara. Dia masih menyesali kehidupannya saat ini. Mata hatinya sudah tertutup dengan hatinya yang keras bagai karang.
"Annisa! Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah sadar. Ayah sangat bahagia kamu masih bisa selamat. Nak, ini Ayah, kamu jangan berbicara yang aneh-aneh, kamu harus bersyukur karena masih diselamatkan oleh Tuhan."
Terlihat raut wajah yang sedikit berbinar dari pak Umar. Setidaknya, walaupun Annisa saat ini cacat, namun pak Umar masih menyayanginya dan bersyukur karena anaknya masih hidup.
"Ayah, aku ingin bangun. Aku harus segera pulang dan ingin menjenguk makam Mama!"
"Iya. Nanti jika kamu sudah mendingan, pasti kamu pulang kok. Kamu makan dulu gih."
Pak Umar mulai memposisikan Annisa untuk duduk dan mulai menyuapi Annisa supaya dia mau makan karena seharian dia tidak makan. Pak Umar berusaha menutup kaki Annisa dengan selimut agar tidak syok dengan keadaan yang dialaminya. Namun, Annisa merasa penasaran dengan kaki kirinya karena terasa aneh maka, dia segera menyingkap selimut yang menyelimuti kakinya tersebut.
"Tidak! Ayah kenapa aku jadi seperti ini. Tidak mungkin jika aku tidak mempunyai kaki. Hik. Hik."
Annisa berteriak dan menangis histeris hingga beberapa orang yang mendengar di sebelah ruangan tersebut mendengar suara Annisa yang begitu nyaring. Lantas, ada beberapa orang yang menengok ke ruangan Annisa dirawat dan mereka merasa iba dan matanya berkaca-kaca.
"Annisa, kamu harus menerima semua ini. Karena ini adalah teguran bagi Tuhan untuk kamu. Supaya kamu mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon ampun atas apa yang telah kamu lakukan. Nak, tolong dengarkan nasihat Ayah!"
__ADS_1
Pak Umar merangkul anak semata wayangnya dan mengecup kepala sambil menangisinya. Ayah mana yang kuat melihat anaknya malang seperti itu.
"Baik! Tapi Annisa minta untuk segera pulang! Dan kamu Mas Hamzah, pergi dari sini! Bawa istri sial kamu itu sekarang juga pergi dari rumah kami! Jika aku sampai di rumah nanti masih melihat kalian, aku tidak segan-segan untuk mencelakai Elizia dengan caraku!"
Terlihat wajah dendam dan amarah yang begitu dalam di wajah Annisa terhadap Hamzah. Annisa malah semakin buas dan mengerikan di mata Hamzah. Hamzah yang berusaha menolongnya dan berharap menjadi lebih baik tetapi malah sebaliknya.
"Annisa! Kamu bisa menjaga mulutmu atau tidak! Hamzah itu sudah membantu Ayah untuk menyelamatkan kamu sampai dia tidak tidur seharian. Kamu tidak punya hati sedikit pun?"
Suasana berubah menjadi tegang kembali seperti genderang perang yang siap menghujam musuh. Pak Umar mulai tersulut emosi karena sifat buruk anaknya kembali muncul.
"Yang tidak punya hati Annisa atau Mas Hamzah. Sekian tahun aku mencintainya dan berjuang hanya demi dia, tetapi hanya dibalas dengan senyum dan perhatian palsu! Aku tidak butuh itu! Mas Hamzah, sekarang silakan pergi!"
Dengan lantang Annisa mengusir Hamzah Anggara. Tidak lama, dengan wajah kecewa dan memerah, Hamzah beringsut meninggalkan ruangan UGD tersebut.
Waktu itu sudah malam sekitar pukul 11.00 WIB. Hamzah tidak membawa mobil sendiri jika hendak pulang. Dia berencana untuk memesan ojek online tetapi tanggung. Lantas, dia akan menuju masjid besar yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut untuk tidur di sana sampai waktu subuh tiba.
Drrtt drrtt
Terdengar deringan telepon dari ponsel Hamzah Anggara dan tertera nomor Joni. Dia adalah salah satu satpam yang menjaga rumahnya dua puluh empat jam. Lalu dia segera mengangkat telepon tersebut.
"Hallo, ada apa Joni? Maaf, saya belum sempat menelepon rumah. Bagaimana kondisi rumah saat ini, apakah aman?"
Hamzah menjawab telepon dari Joni dan bertanya tentang kondisi rumahnya.
"Kondisi rumah aman, Bos. Tapi buah mangga yang ada di depan gerbang rumah keluarga Anda habis diminta oleh wanita yang bernama Rihana. Dia merengek-rengek sampai menangis meminta buah mangga tersebut setiap hari. Saya pusing jika harus berdebat dengan wanita cerewet seperti dia. Jadi, dengan terpaksa saya setiap hari memanjat dan memetikkan buah mangga kepadanya."
Joni memberikan informasi mengenai Rihana yang rakus meminta buah mangga setiap hari. Hingga satpam yang bernama Joni tersebut dibuat pusing oleh Rihana.
__ADS_1
"Dasar wanita rakus! Oke, besok kalau jadi, kami akan segera pulang. Dan Rihana harus diberi pelajaran agar tidak seenaknya memaksa meminta buah milik orang secara terus-menerus. Yasudah, kamu hati-hati dan tetap waspada. Jika lelah bisa istirahat dan ngopi atau membuat masakan."
Lalu Hamzah segera mematikan sambungan telepon secara sepihak. Tiba-tiba dia terkejut karena mata Hamzah melihat seseorang pria dewasa bertubuh jangkung berwajah rupawan mendekatinya dengan tatapan misterius dan tajam bagai elang.