
Di rumah sakit "Kasih Ibu" Siti masih dirawat dan terbaring di ranjang sakit pasien. Saat beberapa jam dia tak sadarkan diri, kini dia mulai membuka matanya secara perlahan-lahan. Dia menatap langi-langit.
Pandangannya perlahan-lahan mulai terlihat jelas. Namun, kepalanya masih terasa pusing. Ruangan itu sepi dan hanya ditemani oleh benda-benda mati yang tidak bernyawa. Kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual.
Kriet!
Terdengar pintu terbuka dan seorang pria berperawakan tinggi dan gagah berumur sekitar 40 tahun yang sedang menatap Siti dengan tatapan yang tajam dan seperti tidak suka.
"Kamu sudah sadar?" tanya pria tersebut sambil berdiri tegap tidak jauh dari ranjang sakit Siti. Dia adalah Fauzan tidak lain adalah ayah dari majikan prianya yang bernama Hamzah Anggara.
"A-apa yang terjadi dengan keadaan saya Tuan?" jawab Siti dengan terbata dan dengan raut wajah gugup.
Siti tidak sadar atas kejadian yang baru saja dia alami. Yang jelas, terakhir dia sadar saat menguping pembicaraan majikannya. Lalu Siti terkejut karena keluarga majikannya akan segera pulang. Saat itu, tiba-tiba kepalanya pusing dan selanjutnya dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
"Kamu pingsan karena kamu mengalami dehidrasi akibat kelelahan dan kamu sedang hamil dua bulan. Cepat katakan, kamu hamil dengan siapa, Siti? Beraninya kamu bilang orang baik padahal kamu sedang hamil dengan ayah yang tidak jelas!"
Fauzan merasa geram dengan tingkah Siti yang ternyata adalah wanita yang hamil tanpa ada ikatan pernikahan.
"Sa-saya hamil dengan majikan saya yang dulu, Tuan. Dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan saya! Maka dari itu, saya bekerja di sini untuk menyambung hidup saya agar bisa membiayai persalinan bayi saya! Tuan, saya mohon jangan pecat saya! Saya berjanji akan berubah dan menjadi ART yang baik!"
Siti mengakui kesalahannya tentang kehamilannya dengan majikannya yang terdahulu. Dia merengek-rengek untuk masih bisa bekerja sebagai ART di keluarga Hamzah.
"Tidak! Saya tidak akan mempekerjakan kamu lagi! Ini saya beri uang 30 juta dan kamu nanti saya antar pulang! Dan jangan ganggu kehidupan Hamzah dan Elizia lagi!"
Fauzan memberikan nominal uang sejumlah 30 juta untuk diberikan kepada Siti karena sebentar lagi akan dipulangkan oleh Fauzan dan sudah diberi uang 30 juta.
"Tetapi saya masih ingin bekerja di rumah Elizia dan Hamzah, Tuan! Saya ingin mengabdi di keluarga tersebut!"
Siti bersikeras ingin bekerja di rumah keluarga Hamzah karena dia tidak rela jika harus berpisah dengan pria idamannya saat ini. Siti merasakan getaran cinta saat melihat pesona Hamzah Anggara.
"Tidak, Siti! Kami akan tetap memulangkan kamu karena saya takut kamu aka merusak rumah tangga antara Hamzah dan Elizia," sahut Fauzan kepada Siti yang masih terbaring di ranjang sakitnya.
__ADS_1
Fauzan akan tetap pada pendirian yakni akan tetap mengantar pulang Siti ke tempat tinggalnya yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Saat itu, tiba-tiba dokter datang dan tidak lama segera memeriksa kondisi Siti kembali. Beberapa menit kemudian dokter itu berkata,
"Tuan, kondisi Siti sudah membaik. Saya harap, dia banyak beristirahat dan dijaga asupan makannya. Jika kandungan Siti tidak diberi asupan yang cukup, dikhawatirkan akan mengalami pertumbuhan bayi yang tidak normal," tutur dokter itu dengan wajah serius.
"Baik, Dokter. Kalau begitu, kita sudah boleh pulang?" tanya Fauzan memastikan.
Fauzan ingin segera Siti dirawat oleh kerabatnya. Karena dia tidak mau mencampuri urusan yang bukan keluarganya. Apalagi Siti melakukan hal yang tidak terpuji. Dia hanya sebatas memberi pertolongan karena hanya keluarganya yang mengenal Siti. Setelah memberi penjelasan secara jelas, dokter yang menangani Siti segera keluar dan akan melanjutkan tugasnya dengan menangani pasien lainnya.
"Siti! Ayo kita segera meninggalkan ruangan ini dan kamu akan saya antar pualng!"
Fauzan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan itu sambil menunggu Siti berdiri. Siti perlahan-lahan bangun dari ranjang sakitnya dan menuruti kemauan majikannya. Siti kini sudah bisa berjalan dengan normal. Lalu dia membuntuti Fauzan untuk menuju parkiran mobil.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah menaiki mobil, Fauzan mulai menyalakan mesin dan segera tancap gas.
Saat diperjalanan mereka saling terdiam dan Siti mulai berpikir sesuatu. Lalu Siti mulai mendorong Fauzan yang sedang mengendarai mobil. Fauzan lalu segera menghentikan mesin mobilnya. Momen ini tidak disia-siakan oleh Siti untuk mencium bibir Fauzan yang duduk di kemudi. Saat itu dia mulai memotret dan menyimpan gambar tersebut di galeri.
"Tuan Fauzan, ayo sekarang saya antarkan ke rumah Tuan Hamzah. Jika Anda tidak menuruti perkataan saya maka, foto ini akan viral di media masa!"
"Saya tidak menyangka kamu memang wanita berhati busuk Siti! Cuih!"
Fauzan menggeram dengan tingkah Siti yang di luar dugaannya. Bisa-bisanya seorang Fauzan dijebak oleh ART yang terlihat diam dan polos. Pikirannya mulai tidak tenang dan tidak bisa berpikir secara jernih. Dia bimbang akan putar balik menuju rumah Hamzah ataukah akan mengantar ke rumah Siti di dekat tempat tinggalnya. Jika dia tidak menuruti wanita licik itu, reputasinya akan hancur.
"Anda baru tahu, Tuan. Cepat berbalik atau saya akan memviralkan foto ini sekarang juga! Jika foto ini viral maka, keluarga dan karier Anda akan hancur, haha."
Siti tersenyum dengan penuh kemenangan karena berhasil menjebak orang terkaya di kotanya. Demi Hamzah, dia rela melakukan hal yang di luar batas. Sebelum titik penghabisan, dia tidak akan menyerah mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan.
"Baik! Saya akan ke rumah Hamzah, tetapi saya mohon, jangan diviralkan foto itu!"
Fauzan terpaksa menyetujui permintaan licik Siti. Dia saat ini merasa bodoh dan tidak bisa berkutik. Mau merampas HP dari Siti juga tidak bisa karena gawainya sudah disimpan di saku Siti dan Fauzan tidak bisa menjangkaunya. Lalu Fauzan segera berbalik arah dan menuju rumah Hamzah.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di kediaman Hamzah Anggara beserta Elizia. Mobilnya dipersilakan masuk oleh pengawal.
Pintu rumah Hamzah tidak terkunci sehingga mereka bisa langsung masuk ke dalam rumahnya.
Terlihat Fatimah sedang menjemur pakaian bayi di ruangan khusus untuk menjemur pakaian. Seketika, Fatimah menoleh ke arah Fauzan dan Siti yang berjalan di sampingnya.
"Ayah? Siti kok masih ikut Ayah? Bukannya tadi kata Ayah akan langsung membawa dia pulang?"
Fatimah terkejut melihat ayahnya masih bersama Siti. Dia merasa pikirannya cemas.
"Iya. Siti akan bekerja di dini karena dia akan berubah. Beri dia beberapa waktu untuk bekerja di sini, Ma. Yasudah, Ayah mau istirahat dulu capek."
Fauzan merasa pikiran lelah dan kacau sementara dia akan memutuskan untuk beristirahat dan menenangkan pikiran untuk tidur.
"Siti! Kamu apakan suami saya sehingga dia menjadi berubah pikiran? Kamu meracuni pikiran suami saya, ya?"
Terlihat raut marah di wajah Fatimah saat itu. Dia mempunyai firasat tidak baik mengenai suaminya tersebut. Tidak biasanya Fauzan seperti itu.
"Sa-saya tidak berbuat apa-apa, Bu. Saya hanya menuruti perintah dari Tuan. Saya masih diberi kesempatan bekerja di sini maka saya juga tidak bisa menolaknya."
Siti berpura-pura memasang wajah gugup dan masih berdiri di depan bu Fatimah yang masih menatapnya tajam. Dia berusaha untuk bertahan menghadapai majikannya yang bagai singa yang siap menerkamnya. Namun, bukanlah Siti namanya jika dia akan menyerah begitu saja.
"Jangan berbohong kamu, Siti! Cepat katakan apa yang sedang kamu lakukan dengan suami saya!"
Fatimah masih tidak percaya dengan ucapan dan sikap Siti yang berlagak polos tersebut. Dia sangat curiga dengan rencana busuk yang dibuat oleh Siti. Saat itu, terdengar degup langkah seorang yang berlari kecil.
"Ada apa, Ma? Kok rame sekali? Oh. Ada Siti? Kamu masih di sini?"
Terlihat Hamzah berlari kecil dari arah ruangan dalam. Dia penasaran dengan suara keributan yang sedang terjadi.
"Ini lho, Siti. Bisa-bisanya dia masih bersama Ayah. Dan katanya, dia masih diberi kesempatan oleh ayah untuk bekerja di sini!" jawab Fatimah dengan nada tegas dan penuh emosi.
__ADS_1
"Benarkah itu Siti? Ayah saya memberi izin kepada kamu untuk bekerja di sini lagi? Atau kamu merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Ayah? Cepat katakan!"
Hamzah membentak Siti. Hamzah sangat geram dengan wanita yang munafik seperti Siti. Dia tidak menyerah untuk bisa membuat Siti berkata jujur.