
Terik panas saat matahari tengah berada di atas ubun-ubun kita, Aslam masih mengejar balon pemberian dari Zafian. Dia tidak menyerah begitu saja melihat balon itu terbang. Semakin lama balon itu terbang semakin tinggi hingga balon itu berada di dahan pohon mangga yang lumayan tinggi.
Pohon itu adalah pohon milik tetangga yang rumahnya lumayan agak jauh dari rumah keluarga Hamzah. Melihat balon itu tersangkut di dahan pohon, Aslam merasa kebingungan dan menoleh ke belakang dan terlihat Fatimah berdiri tepat di belakang.
"Oma, balonnya ada di atas sana. Aslam gak bisa mengambil."
Aslam mulai berbicara kepada Fatimah mengenai balon yang tersangkut di atas pohon. Terlihat raut sendu pada wajah bocah kecil itu.
Saat itu, tiba-tiba datang Hamzah Anggara dengan raut wajah berbinar dan berlari kecil menghampiri anak kesayangannya.
"Anak Ayah ada di sini ternyata. Sayang, ayo kita pulang, ini sudah siang lho?"
Hamzah meringkuk lalu membopong Aslam sambil mencium pipi Aslam karena gemas.
"Ayah sudah pulang kerja? Aslam sedih, temen Aslam ada di atas pohon sana. Aslam gak bisa mengambil."
Aslam menceritakan masalahnya kepada ayahnya yang tiba-tiba datang menggendongnya. Saat itu, Hamzah masih memakai pakaian dinas kerjanya yakni jas berwarna hitam dipadu padankan dengan kemeja abu-abu yang berdasi serta celana panjang berwarna hitam dan terlihat gagah dan mempesona.
Mendengar jawaban polos dari Aslam, Fatimah berkata,
"Itu lho, Balon milik Aslam tersangkut di pohon. Kasihan dia mengejar balon itu sampai sejauh ini."
Fatimah memberi penjelasan kepada Hamzah bahwa yang dimaksud teman Aslam adalah balon Upin-Ipin pemberian dari Zafian. Lantas, Hamzah Anggara segera melepas jas yang melekat pada tubuhnya lalu dia letakkan di atas papan kayu sebentar.
Tidak lama, Hamzah mulai mencoba memanjat pohon mangga tersebut untuk mengambil balon milik anaknya. Dia tidak mempedulikan kemejanya yang kotor. Beberapa menit kemudian, sampailah Hamzah di atas pohon dan mulai mengambil balon tersebut. Setelahnya, Hamzah perlahan-lahan turun sambil membawa balon tersebut dan jangan sampai balon tersebut terbang kembali.
__ADS_1
Akhirnya, Hamzah berhasil turun dari pohon mangga dengan selamat dan balon itu masih utuh dan tidak cacat sedikit pun. Hamzah merasa senang bisa mengambilkan mainan anaknya. Lalu dia memakai jas hitamnya kembali yang dia letakkan di papan kayu.
"Waw, teman Aslam bisa kembali lagi. Terima kasih Ayah. Ayah memang pahlawannya Aslam. Ayok kita pulang, pasti Mama udah menunggu."
Aslam kegirangan dan mencium pipi ayahnya. Lantas, tanpa menunggu lama, bocah itu ingin segera pulang ke rumah. Karena hari itu juga sangat panas dan membuat Aslam berkeringat dan kelelahan.
"Aslam, ayo Ayah bopong. Pasti kamu lelah ya?"
Tanpa lama, Hamzah membopong Aslam yang sedang membawa balon untuk segera beranjak pulang. Di belakang mereka, Fatimah mengekor untuk pulang dengan keadaan yang juga letih. Karena sudah lama, Fatimah dan Aslam berjalan-jalan.
Aslam mengangguk dan dia mulai terasa mengantuk. Tidak lama, Aslam mulai tertidur dalam gendongan sang ayah. Saat tiba di depan pintu rumah mereka, Elizia berlari kecil menyambut kedatangan buah hati dan keluarganya.
"Oh. Aslam tidur ya? Denger-denger dari tetangga, Aslam tadi menangis memperebutkan balon ya? Mamanya Niken tadi ke sini meminta maaf kepada Elizia."
"Oh. Iya Liz, Niken itu anaknya rewel, mainannya Aslam saja ingin diminta dan terjadi rebutan di antara Aslam dan Niken akhirnya balonnya terbang sampai Aslam harus mengejar sampai jauh. Ya wajar, mamanya meminta maaf."
Fatimah menyahut pembicaraan Elizia dan menjelaskan kejadian yang dialami Aslam dengan Niken baru saja. Niken adalah bocah yang menyebabkan balon dari Aslam terbang hingga sampai di dahan pohon mangga milik tetangga yang berada di komplek mereka.
"Oh. Dasar anak kecil. Iya, Ma. Semoga jika besar nanti si Niken berubah menjadi wanita kalem dan sholehah."
Elizia memaklumi tingkah anak kecil zaman sekarang yang aneh-aneh.
"Semoga saja. Yasudah, Mama mau sholat dhuhur dulu sama istirahat. Jaga Aslam baik-baik," kata Fatimah yang akan berbalik arah untuk melaksanakan sembahyang dhuhur.
"Ma, jangan lupa makan ya? Eliz sudah masal sup iga sapi sama mendoan dan sayur lodeh. Maaf, Elizia tidak bisa menemani makan. Elizia juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mas, jika lapar juga makan gih, Elizia mau menggosok pakaian yang tidak seberapa ini agar cepat kelar."
__ADS_1
Elizia tidak bisa menemani makan mertua dan suaminya karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Iya. Mas nanti makan, tetapi setelah ini ya? Mas juga ada file tugas yang harus segera dikerjakan karena besok pagi klien akan meminta proposal ini untuk bekerja sama dalam bisnis."
Hamzah berada di kamar dan duduk di bangku kerjanya. Lalu dia membuka laptop dan segera mengerjakan file tugas yang hampir saja selesai. Perkembangan bisnis perusahaannya semakin pesat maka, tugas Hamzah semakin banyak dan hanya beberapa jam saja dia bisa beristirahat.
"Baiklah. Eliz buatin kopi mau? Sama tak ambilin keripik singkong. Kebetulan, tadi bu Ratih habis dari Solo dan memberi oleh-oleh keripik singkong," tutur Elizia yang tiba-tiba menawari suaminya kopi dan camilan yang diberi oleh bu Ratih.
"Oh. Boleh juga tuh. Tapi kamu 'kan lagi sibuk, sayang. Jadi, nanti saja buatin kopinya," jawab Hamzah yang tidak enak jika merepotkan istrinya yang sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Tenang, pekerjaannya sudah kelar kok. Sebentar, aku ke dapur dulu. Tunggu kopi dan camilannya."
Sambil tersenyum memandang ke arah suaminya, Elizia bergegas ke dapur akan membuat kopi dan mengambil camilan untuk suaminya.
"Oke, Mas tunggu kopi dan camilannya," jawab Hamzah dengan senyum manisnya.
Kini dia menantikan kopi dan camilan dari istrinya. Saat itu, matanya tertuju pada sudut ruangan kamarnya yang terdapat tas kardus berwarna coklat. Hamzah sebenarnya tidak terlalu peduli dengan barang itu namun, batinnya meronta ingin melihat isi dari tas kardus tersebut karena tidak biasanya istrinya berbelanja sesuatu barang tanpa diantar dirinya.
Lalu Hamzah segera mengambil barang tersebut dan membukanya. Dia terkejut melihat isi tas tersebut berisi biskuit sama persis yang diberikan oleh dokter Rama. Tidak hanya biskuit, dia juga menemukan gamis dan secarik kertas berbau harum. Lalu dia segera membaca tulisan kertas itu.
'Oh. Dari dokter Rama ternyata. Dokter itu mulai lancang mendekati istriku ya? Oke, kita lihat saja apa yang akan terjadi,' gumam Hamzah dalam hatinya.
Hamzah geram dan meremas hingga merobek kertas itu hingga menjadi sobekan kecil-kecil lalu dia kepal-kepal dan terakhir, dia membuang kertas tersebut ke tong sampah.
Selama ini, Elizia belum membuang tas kardus pemberian dokter Rama hingga akhirnya Hamzah mengetahuinya. Elizia kelupaan dengan barang tersebut, karena pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya. Jadi, Elizia tidak sempat untuk mengurusi barang-barang yang kurang penting.
__ADS_1