Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Keputusan Yang Tidak Bisa Diganggu Gugat


__ADS_3

Tiba waktu sore hari, Reza sudah melenggenggang pergi dari kediaman rumah Hamzah Anggara. Dia tidak mau bertengkar lebih jauh mengenai rumah tangga mereka. Tujuannya hanya satu yakni memperlihatkan konten video pernikahan Hamzah dngan Maryam Qonsina.


Di rumah Hamzah, Elizia bergegas ke kamar dan membopong Aslam ke kamar untuk ditidurkan di atas ranjang. Elizia mulai menata pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper. Elizia akan menelepon karyawan restonya yang bernama Sasa untuk mencarikan rumah baru yang dekat dengan resto, karena Sasa tinggal tidak jauh dari resto yang dia kelola. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon mulai tersambung.


"Halo, ini Sasa ya?" tanya Elizia kepada nomor yang bernama Sasa sambil melipat pakaian yang dimasukkan ke dalam koper.


"Iya. Ini Bu Elizia ya?" tanya nomor yang bernama Sasa tersebut.


"Iya. Benar. Sa, tolong jika berkenan, carikan rumah yang layak huni untuk saya yang dekat dengan area resto yang saya kelola. Soalnya saya ingin membeli rumah baru."


Elizia langsung memyampaikan maksutnya kepada Sasa karena dia ingin segera memberi pelajaran kepada suaminya tersebut.


"Oke. Siap. Bu. Kebetulan di komplek sini ada pengusaha yang berbisnis yang menyediakan rumah baru siap huni. Ibu juga bisa ke sini untuk memilih rumah mana yang akan Ibu tempati. Kebetulan, kakak saya yang mengelola bisnis tersebut," jawab Sasa di seberang telepon sana."


"Oh. Ya? Oke, kamu serlok saja tempat kamu nanti kapan-kapan jika kita libur, saya akan ke rumah kamu. Terima kasih ya, Sa? Aku sudahi dulu ya?"


Elizia merasa senang karena karyawan restonya menemukan rumah baru untuknya. Elizia akan memulai hidup baru dengan lebih mandiri dan tanpa harus dengan suaminya yang kini telah menyakitinya.


Elizia tahu, Hamzah tidak mencintai Maryam Qonsina, tetapi suaminya tersebut mudah iba dengan seorang wanita, itu yang membuat Elizia kecewa. Elizia akan berbuat sesuatu agar suaminya tahu bahwa Elizia adalah orang yang paling berharga untuknya.


Dia tidak mau disepelekan dan dianggap wanita penurut dan lemah. Saat itu, Aslam masih tertidur pulas karena waktu juga hendak maghrib. Elizia tidak perlu menemani suaminya makan. Biar Hamzah tahu, bagaimana sakitnya rasa kehilangan itu.


Semua pakaian penting, sudah ia masukkan ke dalam koper. Tidak lupa, dokumen penting serta surat nikah tidak lupa dia bawa. Dalam hati Elizia. Dia akan menguji suaminya dengan memberi sebuah pelajaran. Elizia ingin mengetahui seberapa besar cinta dan kesetiaan yang dimiliki suaminya kepada dirinya.


Kriet!


Suara pintu kamar terbuka dan Hamzah langsung masuk ke dalam kamar tersebut dengan raut wajah nelangsa dan dengan mata yang berkaca-kaca serta rambut yang sebelumnya rapi kini berubah acak-acakan.

__ADS_1


"Sayang, kamu kok ngeluarin koper? Saya mohon, kamu jangan pergi! Kasihan Aslam. Dia masih butuh kasih sayang seorang Ayah."


Hamzah berdiri di depan Elizia dan memelas supaya istri dan anaknya jangan sampai nekat pergi. Dia akan sangat sedih jika mereka pergi.


"Saya tidak pergi, Mas. Hanya pisah ranjang beberapa saat. Nanti Aslam bersama saya!" jawab Elizia dengan tegas sambil memindah koper yang sudah berisi dengan pakaian di luar kamar agar gampang jika nanti dia akan pergi. Tidak lama, Aslam mulai terbangun dan menggeliat seraya berkata,


"Mama! Ayah!"


Saat bangun, Aslam berteriak dan memanggil nama ayah dan mama. Lantas, Elizia dan Hamzah segera mendekati Aslam yang tiba-tiba berteriak.


"Kamu kenapa, Nak. Ayah dan Mama ada di sini," ucap Hamzah yang mendekati Aslam lalu memeluk Aslam sangat erat.


"Ma, Yah, Aslam gak mau pisah sama Ayah dan Mama. Aslam maunya kita bersama-sama. Aslam gak mau Mama dan Ayah bertengkar," jawab Aslam dengan polosnya sambil meneteskan air mata.


Aslam tadi ternyata berpura-pura tidur sebenarnya dia mendengar kedua orang tuanya yang sedang bertengkar. Diusianya yang baru lima tahun, Aslam sudah mengetahui bahwa rumah tangga kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Aslam tidak mau jika Ayah dan Mamanya berpisah. Bocah kecil itu, ingin mempunyai orang tua yang lengkap seperti teman-teman sekolahnya di PAUD.


"Aslam. Mama tidak berpisah dengan Ayah. Mama hanya ingin mencari rumah yang dekat dengan resto agar dekat saat Mama bekerja. Aslam mau bersama Ayah di sini atau bersama Mama di rumah baru? Silakan pilih," jawab Elizia dengan tegas.


Aslam diajarkan oleh Elizia agar bersifat tidak manja dan cengeng agar kelak, Aslam menjadi pemuda yang kuat dan mandiri serta tidak gegabah dalam mengambil sebuah keputusan.


"Kalau begitu, Ayah ikut dong, di rumah baru. Tidak ada salahnya 'kan Ma? Nanti Aslam kangen sama Ayah jika Aslam ikut Mama. Tetapi Aslam akan kangen Mama jika Aslam ikut dengan Ayah. Pokoknya Aslam pengennya bareng sama Ayah dan Mama!"


Aslam memanglah cerdas. Dia tidak bisa dibohongi atau pun dirayu dengan cara apa pun sehingga Elizia merasa kesulitan jika akan memberi pelajaran kepada suaminya.


Hamzah masih terdiam. Karena dengan ucapan Aslam tersebut, membuat hatinya sedikit bahagia. Secercah harapan masih ada hidup dengan Elizia. Namun, dia tidak bisa berharap banyak karena keputusan ada di tangan pihak yang tersakiti 'Elizia'.


"Sayang, Ayah harus menunggu rumah ini. Jika rumah ini tidak berpenghuni, nanti rumahnya menjadi sarang laba-laba. Jadi, kasihan nenek Rumi. Beliau sudah bangun rumah ini dengan susah payah. Nanti Aslam persiapan ikut sama Mama ya? Nanti tak beliin es krim. Sekarang kita keluar yuk beli es krim mumpung masih sore," jawab Elizia dengan senyum kepada Aslam. Elizia akan mengajak jalan-jalan pada sore hari ini untuk membeli es krim dan agar pikirannya tenang tidak kalut.

__ADS_1


Elizia harus pintar mencari alasan agar Aslam mau pergi bersama dengannya. Terlihat Hamzah masih terdiam dan masih berwajah kalut dan sendu. Jika diam seperti itu, aura kegantengan Hamzah semakin terpancar. Namun, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, bukanlah wajah yang tampan yang Elizia cari. Tetapi kejujuran dan kesetiaan lebih utama dan akan menenangkan jiwa yang kini, hatinya sudah terluka.


"Oh. Gitu ya Ma. Wah. Es krim. Boleh itu Ma. Aslam sangat suka es krim," jawab bocah kecil itu dengan raut wajah kegirangan.


Akhirnya, Aslam mau pergi dengan Elizia.


"Nak, Ayah ikut beli es krim ya?"


Tiba-tiba Hamzah menyela dan ingin ikut berjalan-jalan bersama Elizia. Dia tidak terima jika Elizia dilirik oleh pria lain saat dia jalan-jalan di luar rumahnya. Karena Elizia tidak biasa keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan tanpa dengan suaminya.


"Ayah di rumah saja. Dedeknya siapa yang jaga coba? Nanti kalau Ayah ikut, dedek bayinya bangun," jawab Elizia sambil menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Liz, kamu jadi 'kan nyuruh mbok Giyem ke sini?"


Hamzah berharap ada baby sitter yang mengasuh bayi milik mendiang istrinya tersebut karena kerjaan di perusahaan pun jadwalnya sangat padat.


"Maaf, Eliz belum sempat menghubunginya. Mas sendiri saja yang mencari. Sudah ya? Elizia mau jalan-jalan sama Aslam."


Elizia akan melenggang pergi bersama Aslam untuk berjalan-jalan. Untuk pergi dari rumah itu, Elizia memilih esok hari karena hari ini akan menjelang maghrib dan takutnya ada barang yang tertinggal dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Liz? Kamu sudah berubah?"


Hamzah masih belum terima jika Elizia memperlakukan dia seperti kepada orang asing. Hamzah mencekal lengan Elizia sangat kuat. Hati Hamzah diliputi rasa cemburu dan sakit yang tiada terkira.


"Mas. Lepaskan. Saya hanya sebentar mendinginkan pikiran sama Aslam. Salah kah? Sementara Mas tanpa seizin Elizia, bisa seenaknya menikah dengan wanita cantik di luar sana?"


Wajah Elizia mendekatkan ke wajah Hamzah yang sedang berdiri di depannya. Dengan sorot mata tajam, Elizia mengucapkan kata-kata pedas kepada suaminya agar suaminya mengetahui arti sebuah keterbukaan kepada istri.

__ADS_1


Saat itu, Hamzah mulai melepaskan lengan Elizia dan terdiam termangu dalam pikirannya. Kata-kata yang diucapkan membuat Hamzah diam tak berkutik. Sementara Elizia dan Aslam begitu saja keluar dari rumah dan melenggang pergi dengan perasaan yang campur aduk.


__ADS_2