Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Jangan Pergi Teman!


__ADS_3

Tepatnya pukul 10.00 pagi, di sebuah taman duduklah pria bernama Zafian dan bocah berumur dua tahun bernama Aslam. Sedangkan tidak jauh dari mereka duduklah Fatimah yang juga di situ menemani Aslam cucu kesayangannya. Mereka sedang asik memakan es krim yang mereka beli di mini market.


Namun, tidak lama dikejutkan oleh seorang wanita cantik berpakaian minim sedang merampas es krim milik Aslam. Dan wanita tersebut mengumpat kepada Zafian yang juga sedang memakan es krim.


"Ka-kamu Rihana? Bukannya kamu di ...."


Ternyata wanita tersebut adalah Rihana. Zafian tidak bisa melanjutkan perkataannya karena khawatir akan terjadi keributan kalau Zafian mengucapkan kata "Rumah Sakit Jiwa".


Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Rihana yang masih menyandang sebagai istrinya yang dulu sempat dia tinggalkan untuk berselingkuh dengan Annisa. Setahu dia, Rihana masih berada di Rumah Sakit Jiwa. Saat itu Zafian akan meminta maaf dengan Rihana, namun, Zafian sempat diusir oleh orang tua Rihana, jadi terpaksa Zafian harus pergi dengan status yang tidak jelas dengan Rihana.


Zafian bingung mau berkata apa karena dia serba salah. Di sisi lain dia kasihan terhadap Aslam karena dia tidak bersalah.


"Iya saya Rihana. Istri yang sudah kau tinggalkan. Bagus ya, sekarang kamu sudah mempunyai anak. Kamu tega ya, Mas. Dasar pria hidung belang!"


Rihana marah-marah dengan Zafian karena masih sakit hati. Dia mengira Aslam adalah anaknya Zafian. Hal itu, semakin mengundang perhatian orang dan Zafian merasa malu. Melihat kejadian itu Aslam berkata,


"Tante ini siapa? Ini Om baik. Tante jangan marah-marah nanti cepat tua lho! Tante mau es krim juga. Ayo Aslam beliin."


Aslam dengan polosnya menjawab umpatan dari Rihana yang ceplas-ceplos. Aslam tidak tahu bahwa Rihana sangat marah dengan Zafian karena urusan dewasa.


"Lho kok Om, sih. Bukannya dia Ayah kamu hai bocah?" tanya Rihana dengan nada sinis kepada Aslam. Dia sedikit tersentak karena Aslam memanggil Zafian dengan sebutan "Om" bukan "ayah".


"Ini bukan ayah saya, Tante. Ayah masih kerja di kantor. Ini Om baik yang memberi Aslam teman, jadi Tante jangan marah-marah nanti jadi jelek lho," jawab Aslam dengan polos dan jawaban yang sangat cerdas untuk seumuran bocah berusia dua tahun.


Aslam berdiri sambil berkacak pinggang menjawab pertanyaan dan umpatan Rihana yang seenaknya menuduh Zafian. Lalu Fatimah berjalan mendekat ke arah Rihana dan berkata,


"Hai, kamu. Jangan seenaknya menuduh orang sembarangan! Memangnya kamu siapa?"


Fatimah geram melihat tingkah Rihana yang asal bicara sehingga mau tidak mau, Fatimah harus berbicara dengan Rihana.

__ADS_1


"Maaf, ya. Kirain kalian anak dan mertuanya Zafian, suami yang tega mencampakkan kedua istrinya. Tante, hati-hati saja sama dia! Dia pria hidung belang!"


Mata Rihana membola ke arah Zafian dan menudingnya sebagai pria hidung belang. Padahal Zafian sudah berusaha untuk tobat.


"Cukup, Rihana! Tidak usah membesarkan aib orang lain. Sekarang mau kamu apa! Ayo kita bicara baik-baik tetapi jangan di sini! Selesaikan masalah ini di tempat yang sesuai. Tante, Aslam, saya pamit pergi dulu!"


Lalu Zafian segera menarik Rihana ke suatu tempat entah di mana. Zafian tidak mau terjadi keributan akibat ulah Rihana yang tiba-tiba muncul dan membuat suasana menjadi buruk.


Kini, Fatimah geleng-geleng kepala dan Aslam melihat Zafian dan Rihana tanpa berkedip karena bingung.


"Oma. Oma jangan marah sama Om baik itu ya? Mereka bertengkar ya Oma. Aslam bingung dengan tante dan Om itu. Aslam kasih es krim, eh malah pergi."


Aslam bertanya kepada Fatimah mengenai Zafian dan Rihana yang pergi. Aslam kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


"Oma tidak marah kok. Iya, mereka lagi ada masalah. Kamu jangan mikirin mereka ya? Lebih baik kita pulang dan kita bawa Upin dan Ipin ini. Pasti Mama kamu sudah nungguin Aslam di rumah."


"Baik, Oma. Ayo kita pulang. Aslam sudah ingin bermain bersama Upin dan Ipin," sahut Aslam dengan penuh kegirangan.


Sekejap, Aslam melupakan kejadian yang baru saja dia alami. Namun, di benaknya, masih teringat Zafian yakni Om yang dianggap bocah itu adalah Om yang berhati baik.


Lalu Aslam digandeng Fatimah dan berjalan menuju rumah mereka. Saat akan sampai di rumah, tiba-tiba seorang anak perempuan seumuran dengan Aslam sedang bermain sepeda di depan rumahnya. Gadis itu berkata,


"Aslam kamu membawa apa? Niken mau itu dong? Kasih satu ke aku dong?"


Gadis kecil yang bernama Niken itu melihat balon yang dibawa Aslam. Lantas, Dia ingin meminta balon yang dibawa Aslam padahal balon itu sangat disukai oleh Aslam. Lalu Aslam berkata,


"Maaf, ya. Ini teman Aslam. Kamu minta sama Mama kamu ya? Soalnya ini teman pemberian Om baik. Sayang, jika diberikan kepada kamu," jawab Aslam yang enggan memberikan balon itu kepada Niken.


"Pokoknya aku minta balon itu satu! Cepat berikan kepadaku!"

__ADS_1


Niken merengek-rengek meminta balon itu hingga dia menangis sangat kencang. Tidak lama, mama Niken keluar dan berkata,


"Ada apa, sayang. Kok kamu nangis begitu?" tanya mamanya Niken sambil membawa alat untuk menumis karena dia sedang memasak.


"Mama, Aslam jahat. Dia tidak mau ngasih balon itu ke Niken. Niken mau balon Upin dan Ipin itu!"


Niken mengadu kepada mamanya sambil menuding ke arah Aslam yang masih berdiri tidak jauh dari Niken yang baru saja selesai bermain sepeda.


"Oalah, Niken, nanti sama Mama beli di toko mainan ya? Di sana ada banyak. Itu balon milik Dek Aslam. Jadi, Niken tidak boleh meminta secara paksa. Niken tidak boleh menjadi anak yang jahat, oke?"


Dengan lemah lembut mama dari Niken menasihati anaknya yang bandel. Lalu Niken malah tidak mendengarkan ucapan mamanya. Lantas, Niken berlari ke arah Aslam dan merebut salah satu balon tersebut. Tetapi, Aslam memegang balon tersebut dengan kuat jadi mereka saling tarik menarik.


"Niken! Ini teman aku! Jangan diambil. Kamu kok jahat sekali!"


Aslam tiba-tiba marah dan berteriak kepada Niken. Dia bersikeras untuk tidak memberikan balonnya kepada Niken yang berusaha merebut dengan cara paksa.


"Tidak mau! Pokoknya ini balonnya untuk aku! Ayo lepaskan Aslam!"


Niken masih juga keras hati ingin memiliki balon tersebut. Hingga salah satu balon yang mereka perebutkan akhirnya terbang.


"Teman! kamu jangan pergi! Hik, hik!"


Seketika Aslam menangis lalu berlari dengan kencang mengikuti arah balon itu terbang.


"Aslam, kamu jangan lari, Nak. Biarlah balon itu terbang. Nanti kita bisa beli lagi," sahut Fatimah untuk melarang Aslam mengejar balon yang terbang tersebut.


Fatimah juga berlari mengikuti Aslam yang masih berlari dan menangis. Sementara Niken diam mematung bingung harus berbuat apa.


Aslam tidak mengindahkan teriakan dari Fatimah yang berusaha mengejar Aslam. Fatimah tidak menyangka akan terjadi hal yang menyedihkan seperti ini. Aslam terus berlari mengitari komplek perumahan warga dan berusaha mengambil balon yang telah terbang terbawa angin.

__ADS_1


__ADS_2