
Saat malam itu, tepatnya pukul 20.30 WIB Elizia dan anggota ibu-ibu Gengster akan beranjak pergi dari acara kondangan di rumah keluarga Widya. Mereka tidak menyangka jika acara kondangan tersebut akan terjadi kekacauan yang mengakibatkan tamu undangan berhamburan untuk meninggalkan acara tersebut.
"Elizia, ayo kita pulang sekarang. Jangan hiraukan wanita ****** itu!" perintah bu Tuti kepada Elizia.
Rihana masih memaki Elizia karena terbakar api cemburu dan acaranya hancur berantakan. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya yang masih labil. Orang tua Rihana dari kecil selalu memanjakan dia tanpa membekali ilmu budi pekerti sehingga ketika dia dewasa masih bersifat manja, kekanak-kanakan dan temperamental.
"Baik, tunggu sebentar ya?" jawab Elizia menyuruh ibu-ibu Gengster untuk menunggu.
Lalu Elizia berjalan ke arah di mana pak Sujono berada. Ketika dia sudah sampai ditempat tersebut dia berkata,
"Ayah, Elizia pamit pulang dahulu ya? Maafkan saya dan ibu-ibu anggota Gengster jika telah mengakibatkan acara kondangan ini berantakan," ucap Elizia merasa bersalah.
Elizia yang tidak bersalah saja masih merasa bersalah. Dia takut menggagalkan acara pernikahan Zafian dengan Rihana.
"Elizia. Kamu sungguh anak baik. Seharusnya keluarga kami yang meminta maaf kepadamu namun, mereka sudah dibutakan oleh kebaikan sehingga mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," tutur Sujono dengan nada sendu.
Pak Sujono merasa kecewa terhadap keluarganya yang tidak bisa melihat kebaikan di dalam diri Elizia. Namun, mau bagaimana lagi takdir Tuhan memang sudah digariskan seperti itu.
"Iya. Ayah yang sabar ya? Saya hanya mau bertanya lima hari lagi keluarga ini jadi mengadakan resepsi pernikahan atau tidak?" tanya Elizia menyelidik.
"Jadi. Kalau tidak jadi Ayah yang malu. Mereka sering di rumah saya berpacaran dan belum terikat pernikahan. Kacau tidak kacau resepsi pernikahan harus tetap diadakan agar semuanya yang tidak halal menjadi halal," jawab pak Sujono secara bijak.
"Iya Sudah saya pulang sekarang ya? Nanti takut kemalaman."
Tanpa menunggu jawaban dari pak Sujono Elizia akan segera pulang dengan anggota Gengster ibu-ibu. Lalu ibu-ibu tersebut menurut apa kata Elizia dan berjalan menuju bajainya yang terparkir di depan rumah keluarga pak Sujono.
Beberapa menit kemudian, rombongan dari ibu-ibu Gengster termasuk Elizia sudah masuk ke dalam bajai masing-masing dan sopir bajai mulai menyalakan mesin dan segera tancap gas.
Tujuh menit kemudian, Elizia dan ibu-ibu tersebut sudah sampai di rumah masing-masing.
Elizia mulai masuk ke dalam rumah neneknya lewat pintu depan dan ternyata belum di kunci. Dia langsung masuk. Terlihat nenek masih duduk di sofa sedang membaca buku entah buku apa itu.
"Assalamualaikum, Nek. Elizia pulang." Elizia langsung mencium tangan nenek Rumi dengan takzim lalu duduk di sebelah nenek tersebut.
"Wa'alaikumsalam. Syukurlah kamu sudah pulang. Bagaimana acaranya? Lancarkah? Kamu masih dihina atau tidak?" tanya nenek Rumi penasaran dan ingin segera mengetahui kondisi acara tersebut.
__ADS_1
"Acaranya kacau, Nek. Mantan kakak ipar saya malah membuat keonaran dan menuduh saya yang tidak-tidak sehingga ibu-ibu Gengter murka dan angkat bicara. Setalah itu, para tamu undangan mulai berhamburan untuk pergi dari acara kondangan tersebut," ungkap Elizia secara detail.
"Oh. Sekali-kali keluarga itu harus diberi pelajaran agar jera. Menurut firasat Nenek, Widya pasti masih geram dengan kamu. Kita harus hati-hati. Dan menjaga jarak dari mereka. Yasudah Nenek mau tidur sudah ngantuk. Kamu tidak tidur, besok bekerja 'kan?" tanya Neneknya mengingatkan.
"Iya, Nek. Elizia juga mau tidur tetapi saya sholat isya dulu karena belum sholat," jawab Elizia datar.
Mereka lalu pergi ke kamarnya dan melakukan keperluan masing-masing.
*** ****
Pagi pun tiba. Elizai sudah membuat sarapan untuk neneknya dan dirinya berupa bubur ayam yang aromanya menggugah selera.
Elizia lalu menata peralatan untuk makan serta menyiapkan bubur yang dia masak di atas meja makan. Beberapa menit kemudian, hidangan sarapan sudah tersedia. Ada bubur ayam, sambal, kecap dan dilengkapi dengan kerupuk bawang. Tidak lupa Elizia membuat teh celup manis yang dia taruh di poci bergambar aneka buah yang segar.
"Nek, sarapannya sudah matang, ayo kita segera makan." Elizia memanggil nenek Rumi yang sedang menyiram tanaman hias yang berada di teras depan rumah.
"Iya, Nak. Nenek akan menyusul." Setelah selesai menyiram tanaman hias, nenek Rumi segera cuci tangan dan bergabung dengan Elizia untuk sarapan.
"Nek, cobain bubur ayam buatan Elizia enak atau tidak."
Elizia mengambilkan bubur ayam yang masih panas ke dalam mangkok dan disuguhkan kepada nenek Rumi.
Lalu meraka menyantap sarapan dengan lahap. Tidak terasa waktu menunjukan pukul 07.30 WIB. Saatnya Elizia haris segera berangkat kerja di kantor.
"Nek, Elizia pamit kerja dulu ya? Nenek hati-hati di rumah." Elizia lalu mencium tangan nenek Rumi dan segera berangkat kerja.
Dengan langkah cepat, Elizia mengambil motornya di garasi dan mulai memanasi motornya terlebih dahulu. Setelah sepuluh menit, dia mulai berkendara ke arah tempat kerjanya.
Sepuluh menit berkendara, akhirnya sampai juga di tempat kerja. Dia langsung memarkirkannya dan segera masuk ke dalam gedung mewah tersebut.
Dia masuk di area yang yang sudah ditentukan oleh menejernya Reza Aditama.
"Elizia, kamu sudah datang sepagi ini?" tanya Hamzah tiba-tiba memanggilnya dari arah belakangnya.
"Mas Hamzah. Kok Anda ada di sini?" tanya Elizia penasaran.
__ADS_1
"Tidak boleh, ya? Aku sengaja ke sini untuk bertemu kamu. Elizia, setelah pulang kerja nanti aku mau mengajak kamu ke suatu tempat. Boleh ya?" Hamzah merengek manja kepada Elizia.
Hamzah ingin mengatakan sesuatu kepada Elizia. Dia sudah yakin dan pasti akan mengungkapkan sebuah ketetapan itu.
"Oh. Em. Baiklah. Sekalian saya akan membeli pakaian untuk acara resepsi pernikahan tetangga saya," jawab Elizia sambil tersenyum manis.
Di balik pintu, Zora mendengarkan pembicaraan mereka. Kedua tangannya mengepal dan geram. Lalu dia berpikir akan berbuat sesuatu.
"Sip. Yasudah aku kembali ke tempat kerja. Aku tunggu nanti saat pulang di parkiran." Lalu CEO tersebut melenggang pergi dan mulai bekerja. Sementara Elizia masih menunggu manajer dan teman-temannya datang.
Tidak lama satu-per satu mereka mulai berdatangan termasuk manajer Reza Aditama.
Lalu mereka menempati duduk masing-masing dan mulai bekerja. Setelah beberajam bekerja selama seharian, akhirnya para karyawan 'JAYA GROUP' berhamburan untuk pulang karena sudah usai waktu bekerja.
Kini Elizia mulai berjalan menuju tempat parkir untuk menengok motornya.
"Astaga, kenapa ban motor saya copot? Siapa yang tega berbuat jahil seperti ini?" tanya Elizia kepada temannya yang sama-sama pulang menuju ke tempat parkir. Elizia merasa terkejut.
"Haduh, kok bisa ya? Pasti ada orang yang ngejahilin kamu, Elizia. Kita bilang saja sama CEO kita siapa tahu di bantu." Teman Elizia memberi saran kepada Elizia untuk mengadu kepada Sang CEO.
Tiba-tiba berjalan seorang Zora mendekati Elizia dan salah satu teman ceweknya.
"Lia, ada apa sih kok rame?" tanya Zora yang pura-pura tidak tahu jika sebenarnya dia yang menyuruh orang untuk mencongkel ban motor milik Elizia saat di parkiran sudah sepi tidak ada orang.
"Ini lho, ban motor milik Elizia copot. Kasihan banget Elizia," jawab Lia merasa iba melihat kejadian itu.
"Oh. Copot ya? Kasihan, padahal baru dua hari kerja tapi sudah apes. Kasihan sekali dia." Zora tersenyum menyeringai melihat kejadian itu.
"Elizia, ada apa?" tanya Sang CEO kepada Elizia yang masih berdiri menatap motornya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Elizia datar.
Lalu Hamzah menengok motor milik Elizia dan ternyata ban motornya sudah tidak ada.
"Kamu tenang saja Elizia, saya akan mengganti rugi ban motor kamu yang hilang. Nanti saya akan panggilkan mobil pick up untuk mengangkut motor kamu ke bengkel. Jadi, pertenuan kita ditunda saja dulu Yang penting membenahi motor kamu dulu," ucap Hamzah kepada Elizia.
__ADS_1
'Rasain, salah sendiri kecentilan sama CEO idamanku. Aku akan selalu menggagalkan rencana pertemuan antara Elizia dan bos Hamzah,' gumam Zora di dalam hatinya.
Zora sejak pagi hari sudah menguping pembicaraan Hamzah dengan Elizia. Dia berusaha menggagalkan rencana pertemuan antara Elizia dan Hamzah Anggara. Zora tidak terima jika Sang Ceo berhubungan dekat dengan Elizia. Dari dulu misinya adalah menikah dengan Hamzah Anggara.