Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Widya Menerima Undangan


__ADS_3

"Elizia, kamu kok pulangnya larut malam?"


Nenek Rumi mengkhawatirkan Elizia yang pulang larut malam dan diantar oleh Hamzah. Sedangkan motor 'Beat' yang Elizia pakai tidak dibawa pulang.


"Ceritanya panjang, Nek. Elizia ditarik paksa oleh mantan suami saya menuju rumah kosong yang sepi tetapi untungnya Mas Hamzah menyelamatkan saya."


Elizia masih ngos-ngosan karena kelelahan. Dia sangat takut dengan mantan suaminya yang bersifat nekat dan tanpa berpikir panjang. Dia harus lebih waspada dan berhati-hati.


"Dia masih mengejar-ngejar kamu, Elizia? Dasar pria gila! Kamu segera menikah saja dengan cucu Nenek agar kamu lebih aman dan dijaga oleh suami kamu. Orang tua Hamzah sudah Nenek bilangin dan sangat setuju! Jangan menunda-nunda lagi."


Nenek Rumi yang malam itu sedang membaca koran dan mencemaskan Elizia yang baru saja pulang dari kerja.


Nenek Rumi mendesak agar Elizia segera menikah dengan Hamzah Anggara.


"Iya, Nek. Doain kami segera nikah. Kami sudah berdiskusi sepekan lagi insyaAlloh kita akan segera menikah."


Elizia yang kelelahan menyendenkan kepala di sofa di ruangan tamu milik neneknya. Dia berusaha menenangkan pikiran dan mengatur kembali nafasnya yang terasa ngos-ngosan.


"Iya. Kamu segera makan gih. Nenek sudah masak sup iga buat kamu."


Nenek Rumi menoleh ke arah Elizia dan merasa iba dan dia menyuruh Elizia untuk segera makan.


"Maaf, Nek. Elizia sudah mengantuk. Saya tidur dulu saja."


Elizia tidak berselera makan dan akhirnya dia membersihkan diri karena kedatangan tamu bulanan jadinya dia tidak solat. Setelah membersihkan diri dia menuju ranjang dan segera tidur.


*** *** ***


Pagi itu, tepat di hari Minggu seorang pemuda di komplek perumahan nenek Rumi sedang menyebar undangan pernikahan antara Hamzah Anggara dan Elizia. Untuk menghindari gunjingan dari warga, keluarga Hamzah mengundang bu Widya untuk menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut.


Widya terbelalak kaget melihat surat undangan mengkilat berwarna coklat tersebut.


"Apa? Elizia akan menikah dengan pemilik perusahaan kaya raya itu? Ini pasti hanya akal-akalan dari Elizia agar aku kecewa."


Widya tidak percaya jika mantan mantunya yang dicampakkan akan menikah dengan seorang CEO terkenal di kotanya.

__ADS_1


"Ada apa, Ma? Kok berisik sekali?


Zafian keluar dari kamarnya karena mendengar ibunya sedang menggerutu sendiri.


"Ini lho ada undangan pernikahan dari Elizia mantan istri kamu. Mama tidak menyangka dia akan menikah dengan seorang CEO."


Widya menyodorkan undangan tersebut kepada Zafian yang baru saja keluar dari kamarnya. Kebetulan Rihana sedang tidak ada di rumah keluarga Zafian karena sedang pergi ke rumah orang tuanya.


'Sialan! Licik sekali Hamzah, aku harus menggagalkan acara pernikahan mereka!' desis Zafian dalam hatinya.


Zafian menggeram, dan secara reflek dia menyobek kertas undangan tersebut dan tanpa dia sadari Widya melihat tingkah anaknya yang terlihat marah dan cemburu.


"Zafian, kok disobek undangannya? Kamu cemburu ya jika Elizia menikah lagi?"


Widya curiga jika anaknya cemburu jika Elizia akan menikah lagi. Widya menatap mata Zafian dengan tatapan mata tajam.


"Zafian memang cemburu, Ma. Aku sadar, Elizia itu wanita istimewa dan sekarang dia sedang bekerja di kantor sebagai admin. Selain itu Elizia adalah istri yang sholahah. Zafian sangat kecewa sudah menceraikan dia."


Zafian berjalan menuju sofa sambil berbincang dengan mamanya membahas tentang Elizia.


"Ma, tolong buatkan Ayah kopi hitam. Ayah haus sekali kepengin kopi."


Sujono menyuruh istrinya untuk membuatkan kopi hitam. Bergegas Widya segera ke dapur untuk membuatkan kopi kepada suaminya. Setelah dilihat, ternyata stok kopi hitam mulai habis. Dengan terpaksa dia harus ke warung bu Tuti untuk membeli kopi hitam.


"Yah, Mama beli kopi dulu di warung. Stok kopi di dapur habis."


Pak Sujono mengangguk dan berbincang dengan Zafian. Sementara Widya mulai mempercepat langkahnya menuju warung bu Tuti.


Beberapa menit kemudian, Widya sampai di warung bu Tuti.


"Bu, beli kopi hitamnya dua bungkus. Sama gula pasir dua kilo. Sudah itu saja."


Warung bu Tuti terlihat sepi hanya ada Widya dan bu Tuti. Dagangan bu Tuti pun masih banyak.


"Iya. Ini. Bu Widya tahu belum kalau mantan menantu Anda, akan segera menikah dengan orang kaya raya di kota ini. Jangan kecewa ya, Bu. Kalau berminat nanti kondangannya sama kami naik bajai."

__ADS_1


Bu Tuti menyindir Widya agar panas hatinya. Dia masih geram saat dulu menghina Elizia secara habis-habisan. Kini dia yang akan menelan pil pahit itu sendiri.


"Maksud Bu Tuti, Elizia? Iya tadi saya juga mendapat undangan tersebut. Tapi jangan senang dulu, Bu. Siapa tahu itu pernikahan kontrak seperti apa yang ada di dalam cerita novel terkenal."


Bu Widya berusaha mencari alasan agar dirinya tidak dihina dan mencari celah agar bu Tuti berburuk sangka dengan Elizia.


"Bu Widya ini jangan ngaco, Elizia itu cantik dan manis, ya tidak mungkin kalau Hamzah akan mempermainkan wanita sebaik dan secantik Elizia. Saya yakin, Elizia akan lebih bahagia dengan keluarga pengusaha tersebut."


Bu Tuti masih nyerocos igin membakar hati bu Widya yang julid dan sombong. Siapa tahu dengan sindiran dari bu Tuti, Widya segera sadar dan intropeksi diri.


"Sudah dong, Bu. Jangan membicarakan Elizia lagi nanti kepala saya tambah pusing. Yasudah ini uangnya, suami saya keburu ingin meminum kopi. Tidak ada waktu berdebat dengan kamu bu Tuti!"


Tanpa menunggu jawaban dari bu Tuti, Widya segera pulang ke rumahnya.


Lima menit kemudian, Widya sampai di rumahnya dan segera membuat segelas kopi hitam untuk suaminya. Beberapa detik kemudian kopi panas siap di berikan kepada pak Sujono.


Beberapa menit kemudian, setelah kopi itu hangat pak Sujono segera meminum kopi hitam tersebut perlahan-lahan.


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki menuju rumah keluarga Widya. Pintu tidak di kunci dan Rihana segera masuk ke dalam rumah dengan menenteng beberapa kantung plastik.


"Rihana, kamu sudah kembali? Kamu sedang membawa apa?" tanya Widya kepada Rihana dengan penasaran.


Widya curiga menantu barunya sedang berfoya-foya membeli barang-barang yang sekiranya kurang penting.


"Ini aku membeli lingeria, baju-baju baru dan tas 'branded' yang aku beli di 'mall' ternama yang ada di kota ini."


Rihana memamerkan belanjaannya kepada ibu mertuanya 'Widya'. Widya geleng-geleng kepala karena sedikit pun tidak tertarik dengan barang-barang seperti itu.


"Rihana, pakaian bagus kamu masih banyak lho, saya lihat di almari kamu tadi. Kok beli lagi? Apa tidak boros? Kasihan Zafian uangnya kamu habisin terus."


Widya memberi kritikan pedas kepada Rihana yang suka foya-foya. Widya semakin pusing melihat tingkah mantunya yang sangat boros dan berlebihan.


"Ya tidaklah, Bu. Uang Mas Zafian 'kan banyak? Jadi wajar dong kalau saya sekali-kali ke 'mall' untuk berbelanja. Lagian, kalau uang pemberian Mas Zafian habis, aku bisa minta kepada Papa dan Mama."


Rihana merasa benar dan tidak mau menerima kritikan dari Widya. Rihana sudah terbiasa dimanja dan diberi kasih sayang oleh orang tuanya secara berlebih.

__ADS_1


__ADS_2