Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Malam Pertama


__ADS_3

Hamzah dan Elizia berjalan mengendap-endap menuju kedua pria suruhan Zafian. Halaman rumah nenek Rumi gelap karena listrik masih dimatikan. Hamzah sengaja tidak menghidupkan kilo meter listrik karena akan memberi pelajaran balik kepada Zafian dan anak buahnya.


"Kalian siapa ya, kok berdiri di situ?"


Tiba-tiba Hamzah menepuk pundak kedua orang pria bertubuh besar yakni pria suruhan Zafian dengan tangannya. Sontak mereka merasa kaget. Hamzah berpura-pura tidak tahu kepada kedua pria bertubuh besar tersebut.


"Ha-hantu!"


Kedua pria tersebut lari tunggang langgang karena dikira ada hantu yang menepuk pundak mereka. Lalu kedua orang suruhan Hamzah keluar dari persembunyiannya.


"Bos Hamzah, nyali mereka ciut sekali, padahal perawakannya besar. Hehe." Salah satu pria jangkung berambut cepak angkat bicara dan menyindir pria suruhan Zafian.


"Iya. Ayo kalian ikut saya untuk membereskan masalah yang dibuat oleh Zafian."


Lalu mereka segera masuk kembali ke rumah nenek Rumi dan menyalakan kilo meter listrik. Lampu tersebut sudah menyala kembali. Lalu Hamzah, Elizia dan kedua orang pria jangkung masuk ke dalam rumah nenek Rumi.


"Hamzah, kalian baik-baik saja?" tanya Fauzan ayah dari Hamzah yang mengkhawatirkan anaknya.


"Maaf, para hadirin semua jika beberapa lama lampu telah mati. Kami tadi berusaha mencari cara untuk bisa keluar dan orang yang berusaha membakar rumah nenek Rumi gagal membakar rumah ini karena mereka sudah berlari karena ketakutan. Kalian bisa segera pulang sekarang juga. Dan kami selaku dari keluarga ini meminta maaf jika acara ini sangat mengecewakan."


Hamzah meminta maaf kepada para tamu undangan atas segala kekurangan.


"Tidak apa-apa Mas Hamzah. Kami malah geram dengan anaknya bu Widya yang kelewat batas. Sepertinya dia melarikan diri karena kalian bisa keluar dari ruangan ini."


Para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan rumah nenek Rumi.


Bu Tuti yang mewakili tamu udangan menjawab pertanyaan dari Hamzah dan tidak ada rasa marah dan kecewa.


"Di mana sekarang Zafian, Yah. Apa dia sudah kabur?" tanya Hamzah kepada ayahnya. Lalu Hamzah dan Elizia berjalan cepat mendekati Fauzan ayah dari Hamzah.


Hamzah geram dengan Zafian karena selalu membuat keonaran. Dia mencari ke seluruh sudut ruangan namun ternyata sudah tidak ada. Mungkin dia melarikan diri dan takuti dikeroyok oleh tamu undangan yang jumlahnya banyak.


"Sepertinya dia kabur, Nak. Biarkan yang penting dia sudah tidak mengganggu kita lagi. Ayah sudah memanggil empat pria untuk menjaga rumah nenek Rumi."


Ayah Hamzah sudah memanggil penjaga empat orang pria kekar untuk menjaga rumah nenek Rumi selama 24 jam.


Ayah Hamzah dan mamanya segerap pulang karena sudah larut malam. Mereka tidak menginap di rumah nenek Rumi karena ada hal penting yang harus segera diselesaikan.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayah. Yasudah Hamzah dan Elizia mau berganti pakaian dulu di kamar. Nenek tidak takut 'kan pas sempat mati lampu tadi?"


Hamzah merasa canggung mau ke kamar karena dia masih malu-malu dengan Elizia. Hatinya berdebar-debar tidak karuan. Dan Hamzah malah mengkhawatirkan nenek Rumi atas kejadian tadi. Hamzah takut nenek Rumi dijahilin oleh Zafian.


"Tidak. Saya yakin cucu Nenek pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Yasudah kalian istirahat di kamar sana. Ini 'kan malam pertama pengantin kalian."


Nenek mengerlingkan mata nakal ke arah Elizia dan Hamzah. Elizia yang mendengar perkataan nenek Rumi menjadi malu sendiri.


"Terima kasih, Nek. Yasudah kami ke kamar dulu ya? Nenek juga harus istirahat pasti Nenek sangat lelah."


Elizia berterima kasih kepada nenek Rumi lantas Elizia dan Hamzah segera memasuki ranjang pengantin baru mereka yang sudah ditaburi oleh bunga mawar dan melati yang baunya wangi. Serta dekorasi kamar yang dihias cantik.


"Elizia, kenapa kamu bengong saja di situ? Apa kamu masih malu dengan suami kamu?" tanya Hamzah menyelidik.


Elizia hanya berdiri mematung dengan tampang wajah kikuk karena dia masih grogi berdekatan dengan seorang pria.


"Eh. Iya. Elizia mau ganti pakaian dulu, Mas. Kamu tutup mata dulu ya?"


Elizia malu jika berganti pakaian dilihat oleh Hamzah walau dia sudah menjadi suaminya sendiri. Elizia semakai kikuk dan mengeluarkan keringat dingin.


"Kok, tutup mata sih, sayang? Tidak asik dong. 'kan kita sudah sah menjadi suami istri. Lagian, nyenengin suami itu pahalanya besar."


Hamzah sendiri segera berganti pakaian dengan rasa percaya diri. Elizia hanya bisa menatap dengan tatapan melongo.


'Tuhan, sungguh sempurna ciptaan-Mu. Betapa indahnya bentuk tubuh suamiku. Apakah aku sedang bermimpi?' desis Elizia di dalam hatinya. Dia masih bengong dan tanpa sadar Hamzah sudah berganti pakaian dengan piyama berwarna biru laut. Tiba-tiba Elizia tersentak kaget karena ada suaminya yang menguar bau harum sedang memeluknya dari belakang.


"Mas, lepasin dong, pelukannya. Nih. Kakiku sakit karena terinjak kaki Mas Hamzah."


Elizia meronta ingin segera dilepas pelukan suaminya yang begitu erat karena kakinya sedang terinjak oleh suaminya.


"Eh. Maafin Mas, ya? Liz, kamu tidak pengen? Cepetan gih segera berganti pakaian? Pasti kamu gerah."


Hamzah membujuk Elizia untuk segera berganti pakaian. Dan Hamzah sudah tidak sabar meminta jatah.


"Iya. Deh. Tapi Mas tutup mata terlebih dahulu ya?"


Elizia masih bersikeras untuk menyuruh suaminya untuk menutup mata. Hamzah akhirnya menuruti perkataan Elizia. Dia tidak mau menunggu terlalu lama.

__ADS_1


"Baiklah. Saya paham kamu masih trauma dengan Zafian ya? Kalau kamu tidak mau melakukan itu sekarang tidak apa-apa. Mas menunggu kamu siap."


Akhirnya Hamzah tidak mau memaksakan kehendak Elizia. Hamzah beranggapan bahwa Elizia masih trauma dengan pernikahan pertamanya. Jadi, Hamzah harus bisa legawa menerima semua itu.


"Bukan begitu, Mas. Elizia hanya ingin Mas menutup mata. Itu saja."


Elizia bermaksud agar dirinya tidak kikuk karena dilihat oleh pria yang baru saja dia nikahi dan memberi surprize kepada Hamzah namun suaminya itu malah salah paham.


"Oke. Mas sekarang akan tutup mata."


Hamzah mulai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Akhirnya Elizia segera mengganti pakaian berupa lingerie yang berwarna pink yang sudah dia siapkan sebelumnya untuk menyambut suami idamannya. Lingerie tersebut berwarna sangat menawan. Dia memoleskan bedak dan memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah menyala. Dia tidak akan tanggung-tanggung berdandan di depan suami yang tulus mencintainya. Setelah dirasa cantik, dia segera menyudahi untuk berdandan.


"Mas, sekarang kamu boleh buka mata!"


Elizia memerintahkan suaminya untuk segera membuka mata. Dia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya.


"Elizia? Itukah kamu? Kamu sungguh menawan bagai bidadari."


Perlahan-lahan Hamzah membuka mata seketika dia takjub dengan perubahan Elizia yang begitu drastis. Dia bersolek dengan sangat menawan dan pakaiannya sungguh kurang bahan.


Seketik, jiwa kelelakiannya meronta. Dia ingin segera meminta jatah.


"Iya, Mas. Yuk. Kita lakukan sekarang. Aku siap melayani dirimu."


Elizia mendekati Hamzah lalu dia memeluk suaminya yang gagah dengan pelukan hangat dan erat.


'Tuhan, pelukannya begitu membuat hati ini bergetar. Aku ingin selamanya selalu bersanding denganmu,' gumam Hamzah dalam hatinya.


Hamzah sangat mencintai dengan tulus kepada Elizia. Dia merasa nyaman hanya dengan dipeluk oleh Elizia. Dia sedikit pun tidak akan pernah menyakiti Elizia.


"Elizia. Yuk kita bobok pasti kamu lelah."


Tiba-tiba Hamzah menyuruh untuk segera tidur.


"Lho, Mas. Itunya tidak jadi sekarang?"

__ADS_1


Elizia terkejut sambil bergelanyut manja di pundak suaminya yakni Hamzah Anggara.


__ADS_2