
Pagi itu, Hamzah masih berada di ruangan rawat inap di mana wanita yang dia tabrak berada di ruangan tersebut. Setelah Hamzah Anggara masuk dan melihat wanita tersebut sudah sadar, ternyata wanita tersebut malah marah kepadanya. Wanita itu frustasi ingin pergi dari dunia karena merasa sudah tidak ada keluarga yang peduli kepadanya.
"Maaf, suami Anda apakah sudah meninggal?" tanya Hamzah menginterogasi.
Karena Hamzah merasa iba akan tekanan batin yang dialami wanita tersebut, akhirnya, Hamzah memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa peduli kamu? Pasti kamu juga akan menghina saya! Sudah, kamu pergi sana! Jangan sok baik!" jawabnya dengan nada angkuh. Wanita itu seperti sangat benci kepada pria.
"Saya hanya bertanggung jawab atas keteledoran saya menabrak Anda. Maaf jika saya punya salah. Jadi, Anda sebatang kara? Lantas suami Anda ke mana? Tolong jawab pertanyaan saya?"
Hamzah merasa penasaran dengan wanita itu. Lantas, dia menanyakan keberadaan suaminya.
"Saya tidak mempunyai suami! Saat saya hendak ke Butik tempat usaha saya, waktu itu saya mekewati Vila kosong. Saya dibekap oleh pria misterius dan dibawa ke Vila tersebut dan saya telah dinodai olehnya! Sudah, cukup! Saya tidak mau menjelaskan secara panjang."
Wanita itu menjelaskan kepada Hamzah tentang kejadian buruk yang mengakibatkan dia ternoda oleh seorang pria.
Ternyata wanita tersebut adalah korban kejahatan tindak asusila oleh seorang pria bejat. Lantas, Hamzah paham tentang sedikit apa yang diceritakan wanita tersebut.
"Oke. Demi masa depan bayi itu, saya akan menikahi kamu dan menjadi ayah untuknya. Hanya sebatas sebagai ayah. Tidak lebih. Karena saya sangat kasihan dengan bayi Anda. Jika Anda bersedia sekarang, saya akan menikahi kamu!"
Begitulah jawaban yang dilontarkan oleh Hamzah Anggara. Dia akan menikahi wanita tersebut dengan alasan menyelamatkan masa depan bayi tersebut. Hamzah dengan mantap akan menjadikan bayi tersebut sebagai anaknya karena bayi tersebut tidak bersalah dan juga ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Apalagi wanita tersebut sebatang kara.
"Saya tidak mau! Istri Anda pasti akan sangat marah, jika Anda menikahi saya! Saya tidak mau menyakiti perasaan sesama wanita," jawab wanita cantik itu dengan tegas.
Ternyata wanita cantik itu baik hati dan mempunyai perasaan terhadap wanita lain.
"Saya akan menyembunyikan pernikahan ini. Istri saya tidak perlu tahu. Bukanlah wajar, jika laki-laki menikah tanpa harus meminta izin kepada sang istri demi kebaikan? Jika saya izin, maka saya akan melukai istri saya," jawab Hamzah dengan tegas.
__ADS_1
Hamzah masih tetap pada pendiriannya dia akan menikahi wanita tersebut. Tanpa sadar, dokter dan para perawat sudah keluar dari ruangan tersebut. Di situ hanya ada Hamzah dan wanita tersebut.
Saat mendengar ucapan tegas dari Hamzah, wanita itu terdiam dan menatap Hamzah beberapa menit lalu berkata,
"Baiklah, tapi ini bukan kemauan saya. Tetapi kemauan Anda! Jika diantara kita ada yang tersakiti, saya tidak mau di kambing hitamkan," tutur wanita itu dengan bijak.
Diketahui dari kata-katanya wanita tersebut bahwa dia mempunyai etika dan berpendidikan tinggi.
"Baik. Resiko akan saya tanggung. Maaf nama Anda siapa?"
Hamzah bertanya mengenai identitas wanita tersebut.
"Saya Maryam Qonsina. Biasa dipanggil Sina," jawab wanita itu tegas. Dan ternyata nama wanita tersebut adalah Sina.
Wajahnya terlihat seperti bukan orang indonesia asli. Ada campuran orang luar negeri. Hidungnya mancung, kulitnya bersih dan rambutnya ikal.
"Oke. Saya akan memanggil penghulu beserta beberapa saksi dan wali hakim untuk bisa menikah saat ini juga. Apakah Anda setuju jika saya bertanggung jawab atas bayi tersebut?" tanya Hamzah memastikan.
Lantas, wanita itu hanya terdiam. Bagi Hamzah, diamnya wanita pertanda dia setuju. Tidak lama, Hamzah segera menghubungi pak penghulu, para saksi dan wali hakim sebagai saksi atas pernikahan siri mereka.
Dua jam kemudian, penghulu, para saksi beserta wali hakim sudah berada di rumah sakit di mana Hamzah berada.
Kondisi Maryam sudah membaik maka, suster akan membantu Maryam untuk membersihkan diri dan akan segera melangsugkan akad nikah di mushola rumah sakit yang disediakan.
Setengah jam kemudian, ikrar suci dilontarkan oleh Hamzah Anggara dengan lantang.
"Saya terima nikahnya Maryam Qonsima binti Abdurrahaman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima puluh juta dibayar tunai."
__ADS_1
Hamzah telah mengungkapakan ikrar pernikahan suci yang sah secara agama dengan satu kali tarikan nafas. Dengan reflek, air matanya mengalir karena dia merasa bersalah dengan Elizia dan merasa orang yang paling jahat sedunia. Namun, dia juga harus menyelamatkan anak manusia yang sedang kesusahan.
Tidak ada penyesalan di hati Hamzah untuk menikahi Maryam Qonsina. Dia berjanji dalam dirinya sendiri tidak akan menyentuh Maryam karena dia hanya sebatas menjadi ayah untuk sang anak bayinya yang malang. Karena di hatinya, Elizia lah yang dia cintai.
"Bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya pak penghulu untuk memastikan keabsahan pernikahan siri antara Hamzah dengan Sina.
"Sah!"
Para saksi menjawab lantang bahwa pernikahan antara Hamzah dan Sina adalah Sah.
Kini mereka menjadi pasangan suami istri secara dadakan dan tanpa rasa cinta. Di hati Sina, dia masih teringat trauma masa lalau yang sangat membenci seorang pria mana pun karena dia telah dinodai secara paksa oleh pria yang tidak bertanggung jawab hingga kini dia telah melahirkan seorang anak yang tanpa ayah. Dia mau menikah dengan Hamzah karena di mata pria bernama Hamzah tersebut, terlihat sorot wajah ketulusuan hati.
Sina hidup sebatang kara di rumah minimalis peninggalan papa dan mamanya yang sudah meninggal akibat kecelakaan saat naik pesawat ketika hendak pergi ke negara Turki. Dia membiayai hidupnya dengan mengelola butik sederhana peninggalan mendiang orang tuanya.
Tidak lama, setelah acara akad selesai para penghulu dan tamu yang hadir mulai meninggalkan mushola rumah sakit. Kini tinggal Hamzah dan istri barunya yang masih duduk termangu di mushola.
"Sebaiknya Anda segera saya antar pulang bersama bayi Anda. Saya sudah menyelesaikan semua biaya rumah sakit," tandas Hamzah dengan suara datar tanpa menatap istri barunya tersebut. Hatinya masih kalut memikirkan perasaan Elizia bagaimana jika tahu bahwa dirinya menikah lagi.
Sina mengangguk pertanda setuju. Tidak lama, Hamzah dan Sina berjalan beriringan untuk mengambil bayi yang sudah wanita itu lahirkan untuk dibawa pulang.
Saat itu dokter Rama Andhika kebetulan juga berada di rumah sakit tersebut bersama istrinya 'Adelia' yang akan memeriksakan kandungan kepada dokter.
Sontak, dokter Rama melihat Hamzah Anggara yang membawa tas tenteng dan bersama wanita sedang menggendong bayi yang masih merah.
'Itukan Hamzah? Kok dia bersama dengan wanita cantik? Dan membawa anak. Apa jangan-jangan ....'
Pikiran buruk mulai hinggap di benak dokter Rama Andhika. Tangannya geram mengepal karena dia geram melihat suami dari wanita yang dia cintai sedang berselingkuh. Dia tidak akan membiarkan Elizia tersakiti oleh Hamzah Anggara.
__ADS_1
Dokter Rama Andhika terpaksa menikah dengan Adelia yakni anak dari teman bisnis dari mamanya Zahra. Mamanya menjodohkan dokter Rama dengan Adelia seorang anak pengusaha kaya raya. Wanita sederhana yang tidak terlalu cantik namun, kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan.