
Saat itu, kumandang adzan isya mulai berkumandang. Hamzah masih berada di depan gubuk reyot. Dan tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Seorang pria jangkung berkaca mata hitam tersenyum dan berkata,
"Maaf, Mas. Anda menghalangi kami untuk meneruskan 'shooting' acara yang sudah kami buat. Mas, jangan khawatir, kedua orang yang di dalam itu hanyalah adegan palsu untuk membuat konten you tube dan tidak sungguhan."
Pria itu menjelaskan kepada Hamzah bahwa Zora dan seorang nenek itu hanyalah para pemain dalam penggarapan sebuah konten video. Hamzah tidak sadar bahwa di belakangnya dengan jarak beberapa meter terdapat orang-orang yang sedang bertugas membuat youtube. Alat 'shooting' kamera sengaja dipasang di tempat agak tersembunyi agar tidak menghalangi para pengendara mobil yang lewat.
"Oh, jadi ini hanya sebuah konten video ya? Saya kira sungguhan. Hampir saja saya panik melihat kejadian tersebut. Yasudah kalau begitu, saya pamit dulu. Maaf ya, saya sudah menjeda acara kalian. Saya mau ke masjid dulu untuk sembahyang maghrib."
Hati Hamzah merasa lega karena kejadian tersebut hanyalah sebuah konten video. Dia juga tidak mau mencampuri urusan Zora terlalu jauh. Pikirannya kini hanya ada satu yakni istrinya Elizia yang sudah menunggu di rumah.
Tidak lama, dia sudah berada di mobilnya dan segera menyalakan mesin dan berkendara menuju masjid terdekat. Lima menit kemudian, Hamzah menemukan sebuah masjid yang berada di pinggir jalan. Saat sudah berhenti berkendara, dia segera turun dari mobil dan menuju tempat wudhu.
Tidak lama dia memasuki masjid dan segera bergabung dengan jamaah yang kebetulan sudah iqomah. Lalu Hamzah dan para jamaah mulai melaksanakan sembahyang isya. Sepuluh menit Hamzah telah selesai sembahyang isya dan dia segera melanjutkan perjalanan pulang.
Lima belas menit kemudian, sampailah Hamzah di rumah dengan selamat. Terlihat di depan pintu rumah, terlihat Elizia sudah menyambut kedatangan Hamzah.
"Mas sudah pulang? Kami sangat mengkhawatirkan Mas Hamzah. Mas kehujanan ya? Kasihan."
Mereka kini saling berpelukan dan mencurahkan rasa kangen yang tiada terkira. Hati Elizia sempat khawatir dengan suaminya karena waktu itu sedang hujan lebat.
"Iya, sayang. Mas baik-baik saja kok. Perjalanannya 'kan lumayan agak jauh, jadi pulangnya ya malam. Yasudah ayo kita masuk. Mas mau mandi pakai air hangat karena badan ini terasa gerah."
Hamzah menggandeng tangan Elizia dan mengajaknya ke dalam ruangan dan menuju kamarnya untuk mandi.
"Mas, tadi Mama izin pulang karena ayah Fauzan sedang tidak enak badan. Baru saja sopir mengantarkan Mama pulang. Dan alhamdulilah Mas sudah pulang."
Elizia yang berjalan di samping Hamzah memberi tahu suaminya bahwa Fatimah telah pulang karena Fauzan sedang sakit.
__ADS_1
"Ayah sakit? Mungkin ayah kelelahan. Semoga beliau cepat sembuh," tanya Hamzah memastikan.
"Iya, Mas. Dia sakit lambung kata Mama Fatimah. Setelah mandi Mas makan dulu gih? Eliz sudah masak tumis kangkung sama bakwan udang. Mas suka 'kan?" sahut Elizia.
Sejak bu Fatimah pulang ke rumahnya karena pak Fauzan sakit, Elizia memasak masakan menu andalan untuk suaminya jika sudah pulang dari membeli kambing. Dan kini, Elizia berhasil memasak tumis kangkung dan bakwan udang makanan favorit suaminya. Saat itu, Hamzah mengangguk dan memberi kode bahwa dia setuju jika setelah mandi dia akan makan. Dia segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan karena basah kuyup terkena hujan.
Kini Elizia sedang mempersiapkan piyama tidur untuk suaminya. Sesekali dia melihat bayinya yang sedang tertidur pulas setelah Elizia memberikan ASI. Aslam malam itu tidak rewel karena Elizia memberikan ASI sampai bayinya puas minum. Jadi, jika tidur suka lama dan nyenyak.
Kriet!
Terdengar pintu terbuka. Hamzah sudah selesai mandi dan hanya menggunakan handuk lembut berwarna biru laut. Aroma shampo dan sabun menguar di hidung dan berbau sangat harum. Elizia sangat terpana melihat pesona suaminya.
"Mas sudah mandi? Ini piyamanya?"
Elizia mendekati dan berdiri lalu memakai kan piyama tidur kepada suaminya. Dengan cekatan Elizia berhasil memakaikan piyama tersebut kepada suaminya.
"Terima kasih sayang, kamu memang istri sholehah. Liz, temani Mas makan ya? Sekalian kita berbincang tentang acara aqiqah yang dilaksanakan besok lusa."
"Mas, aku ambilkan nasinya ya? Mas harus makan banyak. Besok Eliz mau mengundang bu Ratih dan bu Susi sebagai juru masak di acara aqiqah anak kita. Soal pemotongan kambing, Mas yang ngatur saja."
Elizia mengambilkan sepiring nasi di 'magic com' kepada suaminya dan meletakkan tepat di depannya sambil membicarakan tentang acara aqiqah yang diadakan satu hari ke depan. Elizia dan Hamzah berusaha mempersiapkan acara tersebut dengan sebaik-baiknya.
"Sayang, ini nasinya kebanyakan, Mas kurangin ya? Bisa-bisa Mas sakit gula jika nasinya banyak seperti ini. Iya, soal dapur dan masak-memasak Mas serahkan kepada kamu saja. Nanti yang lainnya Mas yang mengurus," jawab Hamzah sambil mengambil lauk dan mengurangi porsi nasi yang telah diambilkan istrinya dan ternyata terlalu banyak.
Setelahnya Hamzah memakan makanan tersebut secara perlahan-lahan dan menikmatinya. Malam yang pekat dan hening itu, Hamzah dan Elizia menikmati makan malam bersama tanpa ada yang mengganggu.
"Hem. Sekali-kali pakai nasi banyak tidak apa-apa 'kan Mas? Saya kira Mas lapar jadi saya tambahin porsi nasinya, Tapi jika itu terlalu banyak ya dikurangi saja, hehe. Mas, tumis kangkungnya keasinan gak?"
__ADS_1
Elizia melihat suaminya dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya. Dia tidak mau menyuguhi masakan suaminya dengan masakan yang tidak enak atau kasinan.
"Tumis masakan istriku enak sekali kok. Tidak kalah dengan masakan restoran," jawab Hamzah sambil menyendok makanan dengan lahap.
Setelah dirasa kenyang. Mereka mulai mengantuk.
Sayang, yuk kita ke kamar untuk bobok. Pasti Aslam sebentar lagi bangun."
Tidak lama, mereka sampai di kamar dan mulai mematikan lampu. Raga yang lelah dari kedua pasangan suami tersebut, hingga mereka cepat memejamkan mata dan hanyut di alam mimpi. Dan di samping mereka ada bayi mungil yang masih terlelap.
*** *** ***
Pagi pun tiba. Di kediaman keluarga Hamzah, beberapa ibu-ibu datang dan memasuki area dapur untuk mempersiapkan menu masakan untuk acara aqiqah yang akan menyembelih dua kambing super yang kemarin sudah dibeli oleh Hamzah Anggara.
Sedangkan Hamzah dan beberapa orang laki-laki akan menyembelih kambing di depan halaman rumahnya. Sebelum disembelih, kedua kambing jantan tersebut dibiarkan memakan dedaunan yang tumbuh di halaman rumah keluarga Hamzah.
Hamzah juga mengundang pak ustad Suhadi untuk memimpin penyembelihan hewan aqiqah tersebut. Doa-doa dipanjatkan olehnya agar acara tersebut berlangsung lancar dan menjadi keberkahan bagi keluarga Hamzah.
"Mas Hamzah, ayo sekarang kita mulai penyembelihan kambing ini mumpung hari belum panas."
Pak ustad Suhadi memerintahkan Tuan Rumah untuk memulai penyembelihan tersebut.
"Baik, pak Ustad. Saya akan memulai menyembelih kambing-kambing ini."
Dengan diawali basmalah, Hamzah Anggara sendiri yang akan menyembelih hewan tersebut. Dia sudah mahir dalam soal penyembelihan hewan ternak karena sejak sekolah, Hamzah dididik ayahnya untuk mandiri dan harus bisa menyembelih hewan ternak agar mandiri.
Beberapa jam kemudian, kedua kambing tersebut berhasil disembelih dan dipotong-poting oleh Hamzah dan dibantu oleh warga sekitar serta kerabat dekat keluarga Hamzah. Dengan hati gembira mereka saling gotong royong. Tiba-tiba seorang pria datang dan memandang para warga sedang memotong-motong daging kambing.
__ADS_1
"Pak, Mas, bolehkah saya meminta daging kambing yang sudah dipotong itu satu kantong plastik saja karena saya sangat lapar dan ingin memasak daging tersebut."
Dengan wajah lesu, sambil memegangi perutnya, seorang pria berpenampilan dekil datang dan meminta belas kasihan untuk meminta daging kambing mentah sebanyak satu kantong plastik karena perutnya sangat lapar. Hamzah dan para warga menoleh ke sumber suara. Mereka terpana melihat kedatangan pria tersebut.