
Mendengar Elizia dibentak oleh Rihana, lantas Hamzah mendekati Rihana seraya berkata,
"Heh, wanita resek, kenapa kamu teriak dengan istri saya? Salah istri saya apa?"
Hamzah geram melihat wanita seperti Rihana yang tidak mempunyai etika dan sopan santun. Akhirnya Hamzah tanpa segan memarahi Rihana. Sedangkan Elizia di samping Hamzah sedang melihat dan mendengar suaminya sedang memberi wejangan kepada Rihana. Elizia hanya bisa diam karena suaminya sudah mewakili untuk menjawab teriakan dari Rihana.
"Gara-gara Elizia, Mas Zafian kecelakaan dan tangannya patah karena sudah manjat di tembok pagar milik rumah keluarga kalian nenek Rumi. Seandainya suami saya tidak kelayapan dan memanjat tembok pagar milik nenek Rumi pasti tidak akan seperti ini. Elizia itu punya pelet apa sih? Suami saya selalu ngejar-ngejar istri kamu itu!"
Rihana marah-marah menyalahkan Elizia karena suaminya sedang terkena musibah yakni tangannya patah saat memanjat pagar tembok milik nenek Rumi karena takut dikejar warga dan takut dikeroyok.
"Salah suami kamu sendiri, Nona. Elizia itu sudah mempunyai suami dan tidak pernah mengganggu suami kamu yang tamak! Seharusnya kamu berkaca pada diri kamu sendiri kenapa suami kamu lebih memilih Elizia dari pada kamu! Karena kamu banyak bacot! Dengarkan itu! Tidak usah menghina dan memfitnah istri saya atau kamu saya laporkan kepada polisi atas tuduhan pencemaran nama baik!"
Hamzah mulai tegas terhadap orang-orang yang menginjak harga diri Elizia. Dia tidak tanggung-tanggung memarahi atau pun mengumpat walau pun di depan seorang wanita. Sebagai suami dia harus bisa menjaga nama baik istrinya dan mengayomi istrinya.
Lalu Rihana mulai bungkam dan tidak bicara setelah Hamzah mengancam akan melaporkan ke pihak kepolisian. Rihana lalu berlari masuk ke dalam rumah keluarga Zafian.
Hamzah kembali menemui bapak yang masih memakai sarung yang tadi sempat tertunda karena ada Rihana.
"Maaf, Pak. Tadi istri dari Zafian ngomel-ngomel menuduh istri saya dengan tidak jelas maka saya mendekati dan menasihati dia. Sebenarnya apa yang sedang terjadi Pak? Apakah benar Zafian mengalami patah tulang?"
Hamzah kembali bertanya kepada bapak-bapak tersebut mengenai Zafian. Sedangkan Elizia masih terdiam dan membuntuti suaminya.
"Iya tidak apa-apa, Mas. Menantu bu Widya memang judes dan membuat warga resah. Para warga datang ke rumah Zafian untuk menjenguknya. Zafian ditemukan warga kemarin malam saat dia memanjat pagar rumah nenek Rumi bagian samping dan dia mulai melompat ke bawah akhirnya dia pingsan. Warga langsung membawa dia ke rumah sakit dan ternyata tangannya yang sebelah kanan mengalami patah tulang."
Bapak tersebut menjelaskan kronologi tragedi yang dialami Zafian. Zafian kini hanya bisa terkapar di tempat tidur karena kesakitan yakni tangan kanannya mengalami patah tulang.
"Oh. Saya malah tidak tahu padahal saat itu kami mengadakan resepsi pernikahan di rumah nenek Rumi yang tidak lain adalah nenek saya."
Hamzah heran dengan kejadian tersebut. Ternyata Zafian ketakutan dan berusaha berlari untuk menghindari masa dari para tamu undangan karena sudah mematikan lampu dan mengancam para tamu undangan resepsi pernikahan Hamzah dan Elizia.
"Seharusnya begitu, Mas. Mungkin dia ketakutan akan dikeroyok oleh warga dan waktu itu saya juga ada di sana sedang mengikuti acara resepsi. Itu mungkin karma buat Zafian supaya tidak mengganggu rumah tangga orang lain. Dia 'kan sudah punya istri cantik, tetapi masih mengejar Neng Elizia istri Mas Hamzah," tutur bapak-bapak tersebut.
__ADS_1
Bapak tersebut ternyata tahu masalah Zafian yang mengejar-ngejar mantan istrinya yakni Elizia. Hamzah heran para warga sudah mengetahui masalah asmara Zafian yang sedang digoncang oleh berbagai dilema.
"Oh. Jadi bapak sudah tahu masalah yang dialami Zafian dalam rumah tangganya?" tanya Hamzah menyelidik.
Hamzah ingin mengetahui seberapa dalam bapak itu mengetahui masalah Zafian.
"Ya tahu dong, Mas. Ibu-ibu kalo lagi ngerumpi bahasnya tentang masalah rumah tangga orang lain termasuk istri saya suka nimbrung. Jadi, istri saya saat sedang mengobrol dengan saya itu suka bercerita panjang lebar menceritakan berita heboh sekitar komplek ini."
Bapak itu menceritakan kebiasaan ibu-ibu komplek yang suka ngerumpi. Jadi, permasalahan apa pun dari tetangganya jika tidak dirahasiakan dengan baik pasti akan viral.
"Oh. Begitu. Yasudah Pak. Terima kasih tentang infonya. Kebetulan ini jalannya sudah terlihat sepi, saya dan istri saya tadi mau lewat dengan mobil tetapi tidak bisa karena banyak warga yang berlalu lalang di jalan ini. Saya permisi dulu ya, Pak."
Hamzah tersenyum sambil menundukkan kepala lalu bergegas untuk menuju mobil yang masih terparkir di pinggir jalan komplek perumahan.
Akhirnya Hamzah dan Elizia bisa melewati jalan yang terletak di depan rumah keluarga Zafian. Tanpa diduga Zafian mengalami musibah akibat ulahnya sendiri.
"Liz, Mas tidak menyangka kalau Zafian akan mengalami kesialan setelah berulah di acara pernikahan kita. Apa itu disebut sebuah karma?"
"Bisa dikatakan iya. Tetapi itu juga karena Mas Zafian selalu gegabah dalam memutuskan tindakan. Tidak dipirkan secara matang tentang sebab akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Dia pemikirannya dangkal, Mas. Aku sudah hafal karakter mantan suami saya."
Elizia yang sudah menjadi istri dari Zafian selama kurang lebih setahun mengetahui karakter suaminya yang berpikiran dangkal dan gegabah.
Lalu Hamzah mulai terdiam. Dia fokus mengendarai mobilnya untuk menuju mini market.
Tujuh menit berkendara, akhirnya Hamzah sampai di mini market. Kini Hamzah dan Elizia mulai turun dari mobil dan menuju mini market.
"Mas, aku mau beli roti lapis legit untuk nenek Rumi ada tidak ya? Kasihan dia kepengin roti tersebut," tanya Elizia yang menoleh ke arah suaminya sambil berjalan.
Elizia teringat nenek Rumi yang berada di rumah sendiri dan dia akan berencana membelikan roti lapis legit untuk nenek tersebut.
"Sepertinya ada. Ayo kita ke sebelah sana!"
__ADS_1
Lalu mereka berjalan ke arah tempat khusus dimana berbagai macam roti di letakkan. Dan akhirnya mereka menemukan roti yang dimaksud.
"Sudah ketemu rotinya, Mas. Setelah ini aku mau membeli bahan-bahan lainnya. Mas bisa menunggu di area sana jika lelah."
Elizia lalu memilih bahan-bahan stok makanan dan keperluan lainnya untuk dibeli. Sedangkan Hamzah terus membuntuti istrinya. Hamzah sangat senang bisa pergi bersama dengan istri yang dicintainya.
"Sudah belum belanjanya? Mumpung masih di sini kamu belanja apa saja jangan sampai ada yang terlupa. Jangan sungkan-sungkan untuk membeli barang banyak karena Mas yang akan membayarnya."
Hamzah yang masih membuntuti Elizia memberi tawaran agar Elizia membeli barang apa pun yang dia suka. Sesekali Hamzah ingin membahagiakan istrinya tersebut.
"Beneran nih? Aku borong semua seisi mini market ini, Mas sanggup bayar? Hehe becanda."
Elizia berceloteh dengan suaminya. Dia gemas karena disuruh membeli barang banyak padahal dia bingung mau membeli apa karena tidak biasanya dia suka berfoya-foya. Jika dia ke mini market hanya membeli barang-barang yang seperlunya penting saja.
"Tidak masalah. Beli saja semua dan pasti Mas akan membayarnya."
Hamzah bisa membayar semua barang-barang yang ada di mini market tersebut karena kekayaannya banyak sampai tujuh turunan. Perusahaan property terdiri dari beberapa cabang pun dengan usaha pondok pesantren yang dia kelola bersama keluarganya memiliki banyak cabang yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Tiba-tiba mata Hamzah melihat orang yang dia kenal lalu dia berkata,
"Annisa! Kamu di sini?"
Hamzah menyapa seorang wanita cantik berhidung bangir wajahnya mirip dengan orang keturunan orang arab. Dia memakai kerudung panjang khas wanita muslim yang taat agama.
"Mas Hamzah. Bagaimana kabarnya?"
Wanita itu tersenyum sambil menundukkan pandangan kepada Hamzah. Dia menanyakan kabar kepada Hamzah.
Tidak jauh dari mereka berdiri, Elizia sedang mengamati dan mendengar percakapan mereka. Hati Elizia kini dihantui rasa cemburu dan hatinya mulai bergetar hebat.
'Siapakah wanita cantik tersebut? Apakah mantan pacar Mas Hamzah? Mereka sungguh akrab sekali? Bahkan aku tidak mengenal sama sekali," gumam Elizia dalam hatinya dengan pikiran campur aduk dan penuh rasa cemburu.
__ADS_1