
Malam itu, tepatnya pukul 22.00 WIB, di rumah keluarga Hamzah sedang terjadi sidang keluarga secara rahasia. Annisa berusaha merebut ponsel milik Elizia. Mengetahui kondisi istrinya yang sedang diserang oleh Annisa, dengan gesit, Hamzah berjalan mendekati Elizia dan berusaha mengambil HP tersebut. Hamzah berhasil menyelamatkan HP Elizia yang akan direbut oleh Annisa.
Annisa telah gagal merebut HP milik Elizia sehingga dia geram dan kesal.
"Ayah, Mama, dan pak Umar! Ayo kita dengarkan hasil rekaman yang sempat direkam oleh Elizia!"
Hamzah mulai memutar rekaman suara tersebut dengan memasang 'speaker' pengeras suara agar seluruh keluarganya mendengar suara rekaman tersebut. Lalu semua keluarga Hamzah termasuk pak Umar dan Elizia mendengarkan dengan hikmat rekaman yang diputar oleh Hamzah, keculi Annisa. Dia menutup kedua telinganya dengan jarinya lantas dia berteriak.
"Jangan putar rekaman itu! Tidak, saya tidak mau mendengarnya!"
Annisa berteriak karena malu dan tidak sanggup mendengar suara rekaman tersebut. Annisa seperti bocah kecil yang tidak mau mendengar bukti kesalahan yang dia lakukan kepada Hamzah. Namun, keluarga Hamzah termasuk pak Umar tidak menggubris teriakan Annisa yang semakin kencang karena mereka ingin mendengar rekaman tersebut sampai selesai.
Akhirnya keluarga Hamzah berhasil mendengarkan rekaman tersebut sampai selesai. Akhirnya mereka percaya bahwa memang Hamzah tidak bersalah. Annisa berusaha memfitnah Hamzah untuk melancarkan obsesi dan menutupi aibnya.
"Annisa! Ternyata kamu begitu murahan dan keji! Ayah akan menghukum kamu untuk tidak memberikan uang dan kamu harus dikurung di rumah! Ayo segera pulang!"
Sebelum Annisa melarikan diri dan takut bunuh diri seperti yang dulu, pak Umar memegang tangan Annisa dengan kuat dan menariknya untuk diajak pulang di saat tengah malam. Pak Umar tidak mempunyai pilihan lain karena untuk menghindari dari kericuhan yang disebabkan oleh anaknya tersebut.
"Ayah lepaskan! Urusan Annisa dengan Mas Hamzah belum selesai karena Annisa ingin segera menikah dengan Mas Hamzah!"
Tanpa penyerah Annisa masih merengek-rengek meminta menikah dengan Hamzah. Pikirannya sudah dibutakan oleh obsesi cintanya. Karena Hamzah adalah cinta pertama Annisa saat masih SMA.
"Annisa! Kamu sadar diri dong? Hamzah itu sudah mempunyai jodoh yang ditakdirkan Tuhan. Istrinya baik dan sholehah. Kamu tidak boleh mengganggu rumah tangga orang lain. Kamu seharusnya bertaubat dan mencari pemuda lain 'kan masih banyak?"
Pak Umar berusaha membawa Annisa ke dalam mobil sambil menasihati anaknya yang kelewat ngeyel dan keras kepala.
"Saya tidak mau menikah dengan selain Mas Hamzah! Saya tidak suka pria selain dia, titik tidak pakai koma!"
Annisa tetap kekeh pada pendiriannya karena yang diinginkan hanyalah Hamzah Anggara. Sampai pak Umar geleng-geleng kepala dan bingung harus menasihati anaknya dengan perkataan apa lagi.
Saat itu, pak Umar tidak akan menunda lagi untuk segera pulang dari rumahnya. Dia segera menyalakan mesin dan mulai berkendara.
__ADS_1
Di ruamah keluarga Hamzah, malam itu akhirnya mereka sedikit lega karena Annisa dibawa pulang oleh pak Umar. Fatimah dan Fauzan yang lelah pikiran dan tenaga merasa terganggu dengan kehadiran Annisa yang membuat keributan
"Hamzah, cepat bawa Elizia ke kamar dan segera obati kakinya yang terluka karena ulah Annisa! Kami akan ke kamar dulu ya? Kami sangat lelah ingin mendinginkan pikiran dan tidur!"
Fatimah menyuruh Hamzah untuk segera mengobati luka istrinya yang terlihat lebam karena dilempar vas bunga oleh Annisa. Akhirnya Hamzah mengangguk dan menggandeng Elizia menuju kamar mereka.
*** *** ****
Tujuh hari pengajian yasinan telah berhasil dilaksanankan di rumah Almarhumah Nenek Rumi. Hamzah dan keluarganya merasa tenang karena sudah mendoakan neneknya setiap hari.
Pagi itu, Elizia mulai mengawali lembaran baru dengan suaminya tanpa adanya nenek Rumi yang biasanya bersama dengan mereka. Mereka masih mengenang kepergian nenek Rumi karena baginya nenek Rumi adalah seorang yang sangat berati bagi keluarga Hamzah. Tidak mudah untuk melupakan seorang pejuang keluarga yang telah membuat keluarganya menjadi sejahtera dan kaya raya.
Almarhumah nenek Rumi memberikan ide untuk membuka perusahaan 'JAYA GROUP' yang sekarang perusahaan tersebut mengalami perkembangan pesat dan kenaikan omset yang tinggi. Dia menyumbangkan dana yang nominalnya besar untuk mendirikan perusahaan tersebut dan dibantu oleh Fauzan.
Dulu, nenek Rumi berjuang bersama anaknya 'Fauzan', untuk mendirikan perusahaan tersebut dengan pengorbanan dan ujian yang berat. Berkali-kali bangkrut, namun mereka tidak menyerah hingga sekarang perusahaan tersebut terkenal dan banyak pelanggannya.
"Liz, kamu pagi ini muntah-muntah terus ya? Kamu hamil, ya?" tanya Hamzah memastikan.
"Belum tahu juga sih, Mas. Dari kemarin malam perutku mual-mual dan kepala ini pening. Masuk angin 'kan juga bisa?"
Elizia belum memastikan bahwa dia benar-benar hamil karena dia belum memeriksakan ke dokter.
"Sayang, nanti setelah selesai makan, kita ke dokter ya? Kamu tidak usah bekerja terlebih dahulu. Kamu sudah menjadi istri Mas. Jadi, kamu tidak usah bekerja lagi. Jika memungkinkan, kamu bisa mendirikan resto seperti apa yang beberapa pekan dahulu kita perbincangkan. Mas juga sudah memberi nafkah kepada kamu."
Waktu itu tepat pukul 08.00 pagi, yang sebenarnya itu hari kerja perusahaan 'JAYA GROUP'. Satu bulan karyawan 'JAYA GROUP' libur karena berturut-turut keluarga Hamzah mempunyai acara penting dan tidak sengaja juga mengalami musibah duka karena nenek Rumi belum lama meninggal.
Saat ini, Hamzah dan Elizia sedang menikmati sarapan bubur ayam yang sengaja dimasak oleh Elizia. Tetapi Elizia tidak nafsu makan karena perutnya sangat mual. Akhirnya yang memakan bubur ayam tersebut Hamzah seorang.
"Baik, Mas."
Elizia menyutujui saran suaminya sambil meneguk air hangat untuk mengurangi rasa mualnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai sarapan lalu segera berganti pakaian untuk periksa ke dokter karena Annisa sedang tidak enak badan alias mual-mual. Annisa mengenakan gamis berwarna navy yang terlihat anggun dan kalem serta dipadukan dengan kerudung berwarna hitam. Wajahnya dipoles dengan bedak tipis-tipis dan 'lip glos' sebagai pencerah bibir yang berwarna kalem.
Sementara Hamzah mengenakan kemeja berwarna hitam kotak-kotak serta celana jeans berwarna biru yang terlihat gagah dan ganteng. Setelah selesai berganti pakaian mereka segera menuju tempat mobil berada.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Hamzah segera tancap gas sehingga mobil itu mulai melaju dengan cepat.
Lima belas menit berkendara, mereka sampai di tempat doker spesialis kandungan yang bernama dokter Alexsa. Dokter cantik yang berlesung pipit yang berumur setara dengan Elizia. Kabarnya dokter itu janda karena ditinggal selingkuh oleh suaminya di luar negeri.
"Mari silakan masuk. Tuan Hamzah bisa menunggu di ruang tunggu karena istri Anda akan segera saya periksa!"
Hamzah mengangguk saat Dokter Alexsa menyuruh Hamzah untuk menunggu di ruang tunggu. Beberapa menit kemudian, Elizia sudah berhasil diperiksa oleh dokter. Lantas Hamzah dan Elizia akan pulang kembali ke rumahnya sambil bercakap-cakap.
"Bagaimana, Liz. Apakah kamu hamil, ataukah hanya masuk angin biasa?"
Hamzah ingin segera mengetahui apakah ada calon bayi di dalam rahim milik Elizia.
"Alhamdulillah, Mas. Elizia positif hamil. Dan kehamilanya berumur tiga pekan."
Dengan raut wajah senang Elizia mengungkapkan hasil dari tes kehamilannya. Dan ternyata Elizia benar-benar hamil.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan menjadi calon Ayah. Liz, kita rawat bersama-sama agar kesehatan ibu dan calon anak kita terjaga."
Hamzah bersyukur kepada Tuhan karena istrinya benar-benar hamil. Dari dulu, Hamzah sangat menyukai anak kecil. Siapa saja anak kecil yang ditemui Hamzah, pasti Hamzah ingin segera mempunyai anak. Sementara Elizia mengangguk sebagai tanda dia menyetujui perkataan Hamzah.
Lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil yang diparkir di depan rumah dokter Alexsa.
Saat di pintu keluar rumah milik dokter Alexsa, Hamzah dan Elizia terkejut melihat dua orang sejoli sedang berjalan dan saling berciuman dan berjalan ke arah rumah dokter Alexsa. Dua sejoli itu tidak sadar bahwa Hamzah telah berada di depan dua sejoli tersebut.
Kedua sejoli tersebut seketika bertatap muka dengan Hamzah dan Elizia. Dan mereka kaget dan juga terkejut.
"Kalian!"
__ADS_1
Hamzah menyapa kedua sejoli tersebut dengan raut wajah yang geram dan tidak percaya.