Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Menghadiri Acara Resepsi Keluarga Widya


__ADS_3

Malam itu, Elizia akan menghadiri acara resepsi pernikahan Zafian dan Rihana. Setelah selesai sholat maghrib, Elizia akan bersiap-siap. Dia mengenakan gaun berwarna biru navy dan kerudung yang berwarna senada.


Elizia memoles bedak tipis-tipis di wajahnya dan memoles tipis-tipis bibirnya dengan pencerah bibir. Setelah dirasa rapi, dia akan menemui nenek Rumi untuk berpamitan.


"Nek, Elizia pamit ke acara resepsi dulu ya?" Elizia mencium tangan nenek Rumi dengan takzim.


Setelah itu, dia akan berjalan kaki untuk menuju rumah yang mempunyai hajatan yakni keluarga Widya. Dia berjalan kaki karena jarak rumah nenek rumi dengan rumah keluarga Widya tidak jauh.


Saat di tengah perjalanan, dia bertemu ibu-ibu anggota Gengster.


"Elizia, kamu berangkat sendiri? Yuk, ikut sama kami." Ibu-ibu Gengster menawari tumpangan untuk membonceng di motor mereka.


"Saya jalan kaki saja, Bu. Sebentar lagi 'kan sampai." Elizia menolak tawaran dari ibu-ibu Gengster tersebut.


Tujuh menit kemudian, Elizia sudah sampai di depan rumah Zafian. Terlihat rumah keluarga Widya sudah didekorasi dengan indah. Alunan musik rumpun bambu dari speaker terngiang di telinga Elizia yang membuat dia teringat saat menikah dulu. Namun, dia sudah tidak ada rasa lagi dengan lelaki bernama Zafian.


Tidak lama tamu mulai berdatangan termasuk ibu-ibu Gengster. Mata Elizia terarah kepada seorang CEO yang juga hadir di situ yakni Hamzah Anggara. Dia duduk di kursi yang tidak jauh darinya.


Acara resepsi akan segera dimulai karena kedua mempelai sudah duduk di depan penghulu.


"Saya terima nikahnya Rihana binti Doni Gunawan dengan mas kawin uang senilai serarus juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Zafian mengucapkan ikrar suci pernikahannya dengan Rihana dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana para hadirin, sah?" tanya pak penghulu kepada semua peserta yang mengikuti acara resepsi pernikahan Zafian dan Rihana.


"Iya. Sah." Salah satu hadirin menjawab pertanyaan penghulu dengan lantang.


Elizia kini harus tegar dan harus mandiri tidak boleh cengeng ditinggal mantan suaminya menikah dengan wanita lain. Tidak lama, Widya mengambil mikrofon yang berada di depan penghulu saraya berkata,


"Ibu-ibu, bapak-bapak tamu undangan semuanya, dimohon untuk tidak segera pulang terlebih dahulu. Para tamu undangan sekalian bisa mengambil jamuan makanan yang telah disediakan secara prasmanan, terima kasih." Bu Widya memberi intruksi untuk mengikuti acara selanjutnya.


Para tamu undangan mulai berjalan menuju perjamuan makanan secara prasmanan yang telah disiapkan oleh Tuan Rumah. Salah satu ibu-ibu Gengster sudah tidak sabar ingin mencicipi setiap masakan karena mereka doyan makan.


Huek, huek, huek!


Ibu Tuti anggota Gengster memuntahkan makanan yang telah dia makan.

__ADS_1


"Aduh, rendangnya rasanya kok pahit dan asin seperti ini. Sini deh Bu, coba dicicipi."


Bu Tuti menyuruh bu Ratih untuk mencicipi sedikit rendang yang berada di nampan stainlesstel.


"Iya. Aku cicipi ya?" Bu Ratih mulai mencicipi rendang tersebut dan mengambil satu sendok makan.


Huek, huek!


Bu Ratih juga memuntahkan rendang yang telah dia cicipi. Rasanya sungguh tidak enak. Malah seperti racun. Lalu Widya mendekat dan berkata,


"Maaf, ada apa ya, ibu-ibu? Kok kalian pada muntah-muntah?" tanya Widya dengan rasa cemas dan penasaran.


"Bu. Masakan rendangnya rasanya pahit dan asin seperti racun. Yang memasak siapa sih, Bu? Kok parah begini." Bu Tuti heran ada juga masakan hajatan yang tidak enak. Padahal acaranya diadakan secara mewah.


"Maaf, ibu-ibu, kemarin yang masak mantu saya Rihana, katanya dia bisa memasak enak. Saya juga tidak sempat mencicipi karena tamu yang berdatangan mulai banyak."


Widya merasa malu karena masakan yang disajikan untuk para tamu rasanya tidak enak semua.


"Bagaimana sih, Bu. Semua masakannya satu pun tidak ada yang enak. Hanya tampilannya saja yang terlihat segar. Kalau menantunya tidak bisa memasak, ya suruh ibu-ibu tetangga yang pintar masak 'kan banyak."


"Maaf, ibu-ibu. Soalnya kami sekeluarga ketiduran dan bangunnya kesiangan jadi tidak sempat memanggil ibu tetangga untuk masak."


Widya merasa kecewa dengan acara resepsi yang susah-susah dia buat dan menguras banyak harta namun hasilnya malah buruk. Sungguh apes hari ini keluarga Widya.


Saat acara tinggal dua hari, keluarga Widya malah senang-senang menonton TV tidak mengurus acara perjamuan makanan. Baru setelah sehari sebelum resepsi dimulai, mereka bangun kesiangan. Jadinya acaranya berantakan.


"Ya, pesan katering 'kan juga bisa kalau mendadak. Apa Ibu Widya tidak mau keluar biaya banyak untuk acara resepsi yang katanya akan diadakan secara cetar membahana," timpal bu RT yang juga gemas dengan keluarga Widya yang sombong dan egois.


"Bukan tidak mau keluar uang banyak, Bu. Kami benar-benar bingung mengatur acara ini karena sebelumnya kami malah senang-senang menonton TV dan ketiduran hingga bangun kesiangan." Bu Widya menjelaskan kembali kenapa masakannya bisa rasanya buruk seperti itu. Bu Widya kini kepalanya sangat pusing.


Terlihat Sinta sedang mondar-mandir berjalan tidak jelas. Hingga hal ini dilihat oleh adiknya Zafian.


"Ada apa Mbak? Kok cemas seperti itu?" tanya Zafian kepada Sinta dengan rasa penasaran. Sedangkan Rihana ikut mengekor suami barunya tersebut.


"Ini lho, anggota organ tunggal yang sudah dipesan oleh kita tidak datang-datang serta ditelepon juga tidak diangkat," jawab Sinta dengan nada frustasi.

__ADS_1


"Kok bisa sih, Mbak? Beneran anggota organ tunggal atau bukan? Takutnya nanti penipu. Lha dibayar apa belum?" tanya Rihana menyelidik dan dengan perasaan dongkol.


"Yang memesan anggota orkes Mama Widya. Sinta hanya disuruh menghubunginya. Katanya nomornya ini. Tetapi tidak pernah diangkat. Padahal sudah dibayar lunas."


Sinta menggigit jari karena was-was dan kecewa. Dia tidak mau acara resepsi adiknya diiringi dengan masalah yang tidak diinginkan.


Elizia yang awalnya ingin mengambil jamuan makan, perlahan rasa itu sirna karena melihat tamu undangan banyak yang muntah-muntah.


'Kok bisa ya, semua masakan rasanya seperti racun. Banyak yang muntah-muntah lagi,' gumam Elizia dalam hatinya.


Dia merasa jijik sendiri melihat kotoran muntahan yang berserakan.


"Yasudah. Kami pulang saja lagian acara ikrarnya sudah selesai. Kami jijik melihat pemandangan ini." Bu RT dan tamu undangan lainnya serempak setuju untuk meninggalkan acara resepsi yang buruk tersebut.


"Jangan pergi dulu dong, Bu, Bapak tamu undangan sekalian. Masih ada satu acara lagi yaitu orkes organ tunggal. Ditunggu dulu ya?" Widya mendesak para tamunya agar tidak segera pulang.


"Mana orkesnya? Dari tadi kami tidak melihat. Ibu Widya kalau tidak punya uang banyak jangan bermimpi sampai ke langit deh. Jalani aja sesuai dengan kemampuan?" Bu Tuti geram dan akhirnya mengkritik bu Widya dengan kata-kata pedas.


Tanpa mendengar bujukan dari Widya, para tamu undangan satu-satu mulai berhamburan untuk pulang karena kecewa. Bahkan ada seorang yang meludah secara sembarangan dilantai keramik mengkilat milik keluarga Widya.


Elizia dan Hamzah pun juga ikut melenggang pulang beserta ibu-ibu Gengster. Mereka berjalan keluar ruangan dari rumahnya bu Widya dan pulang ke rumah masing-masing.


Kini tinggal keluarga Widya yang berada di rumah tersebut.


"Mama, sudah Zafian bilang acaranya jangan terlalu mewah. Akhirnya kita malah ditipu. Dan kenapa Mama teledor dalam memasak? Masakan Mama kan enak? Kok jadi pahit seperti itu?" Zafian dongkol kepada mamanya yang keras kepala.


"Zafian! Ini bukan salah Mama semuanya, tuh istri baru kamu Rihana yang mengacaukan acara ini!" Widya tersulut emosi sehingga menyalahkan Rihana.


Rihana yang mendengar perkataan ibu mertuanya juga tidak terima dan berkata,


"Kok Rihana yang disalahin? Mama sendiri malah asik-asik nonton TV ya jadinya Rihana yang masak," jawab Rihana dengan muka ketus dan dongkol. Mereka akhirnya saling menyalahkan satu sama lain.


Tiba-tiba pak Sujono datang dan berkata,


"Ayah sudah bilang apa, menantu itu tidak cukup cantik saja, tetapi juga harus pintar masak dan pintar beres-beres rumah. Walau pun itu hal sepele namun, pekerjaan tersebut sangatlah berguna. Acara besar apa pun selalu menyajikan makanan untuk para tamunya. Sudahlah kalian jangan saling menyalahkan. Intropeksi diri." Pak Sujono yang geram mendengar perdebatan tersebut mulai angkat bicara dan mencairkan suasana.

__ADS_1


"Halah, Ayah bukannya bantu kita malah menyalahkan terus. Dasar Ayah tidak ada gunanya!" Sinta masih menyalahkan ayahnya dan masih tidak terima jika acaranya gagal dan buruk.


__ADS_2