Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Akhir Dari Sebuah Derita Rumah Tangga Elizia


__ADS_3

Adzan dhuhur berkumandang seketika, namun, Elizia masih melihat pertengkaran antara Rama Andhika dan Adelia. Dia sangat malu karena terlihat banyak orang. Dengan itu, dia segera meraih Aslam dan mengajaknya pergi menjauh dari kedua sejoli tersebut. Elizia tidak mau larut dalam pertengkaran mereka. Dengan hati yang gundah, Elizia membopong Aslam menuju jalan untuk menghadang taksi.


Saat Elizia berlari kecil sambil menggendong Aslam, Rama Andhika mengejar Elizia.


"Nona Elizia tunggu! Tunggu, Nona. Jangan hiraukan ...."


Saat Rama mulai melanjutkan perkataannya, namun, Elizia sudah jauh dari tempatnya berdiri dan kini Elizia dan Aslam sudah masuk ke dalam taksi dan melaju dengan cepat menuju rumahnya.


Dua puluh menit kemudian, sampailah Elizia dan Aslam di rumah. Saat itu, Fatimah dan Fauzan sudah berada di pintu gerbang menyambut kedatangannya. Sontak, Elizia terkaget.


"Oma, Opa! Kapan kalian di sini?"


Aslam langsung memeluk sang Oma yang kini tengah menyambutnya. Tidak terduga mereka sudah berada di situ.


"Sayang, ayo kita ke dalam. Pasti kamu capek 'kan?"


Fauzan langsung menggendong cucu satu-satunya dan masuk ke dalam rumah. Saat sampai di ruang keluarga terdapat dokter yang sedang meracik obat. Dokter yang tadi berada di rumah sakit yang sedang menangani suaminya Hamzah Anggara.


"Ma. Kok ada Dokter yang berada di sini? Siapa yang sedang sakit?"


Elizia dibuat terperangah melihat dokter tersebut. Hatinya bertanya-tanya untuk apa dokter itu datang ke rumah tersebut, yang jelas-jelas suaminya sedang diculik oleh penjahat.


"Eliz, kamu duduk dulu dan istirahatlah. Ini, Oma tadi membuat jus mangga spesial buat kamu dan cucu Oma,"


Dengan tersenyum hangat, Fatimah menyodorkan dua gelas jus mangga kepada Elizia dan Aslam.


"Ye! Ada jus mangga. Aslam memang sudah haus kepengin yang seger-seger Oma."


Dengan cepat dan penuh dengan rasa bahagia, bocah polos tersebut langsung menyeruput jus mangga buatan neneknya yang gematin dan pengertian. Panas-panas begini memang cocok jika minum jus mangga. Sementara Elizia perlahan-lahan meminum jus tersebut sambil terheran.


'Mama Fatimah kok aneh, anaknya kini menghilang tetapi malah tenang begitu, jangan-jangan ada yang disembunyikan dari mama,' batin Elizia yang penasaran dengan sikap ibu mertuanya.

__ADS_1


"Elizia! Kamu jangan melamun begitu, ayo cepat diminum jus mangganya."


Tiba-tiba Fatimah melihat Elizia yang sedang melamun dan lantas menegurnya. Mertuanya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Elizia.


"I-iya Oma. Saya akan habiskan jus ini."


Karena dahaga, Elizia langsung menghabiskan jus mangga tersebut tanpa sisa. Aslam pun mulai tertidur setelah meminum jus tersebut. Seketika, Fauzan langsung membaringkan Aslam di kasur empuk di ruang tengah dekat dengan TV.


Tidak lama, Fatimah ke dapur untuk mengambil masakan dan satu bakul nasi untuk dihidangkan kepada Elizia. Kemudian dia berbalik menuju ruang tamu dan berkata,


"Liz, kamu makan dulu gih, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Jika kurang bisa nambah. Mama tadi masak beberapa menu masakan yang komplit."


Terhidang beberapa jenis masakan terdiri dari sayur lodeh, sayur jengkol dan beberapa lauk seperti ayam goreng, ikan asin, sambel terasi dan kerupuk. Tergugah selera diperut Elizia yang sudah keroncongan. Dia tidak menyangka, mertuanya akan memasak menu sebanyak itu.


Tanpa malu Elizia langsung mengambil secentong nasi dan lauk ikan asin dan sayur lodeh kesukaannya tidak lupa sambal dan kerupuk. Hingga kini Elizia segera melahap makanan yang telah diambilnya.


Saat tengah asik menikmati makan siang, sontak, Elizia terkejut melihat dokter yang sedang meracik obat tadi, mendorong kursi roda yang di atas kursi roda tersebut duduklah seorang Hamzah Anggara dengan balutan perban di kepala dan kakinya. Seketika, Elizia berhenti mengunyah makanan.


Kini Elizia meneteskan air mata reflek dari pipinya. Dia dikejutkan dengan suaminya yang kini dia mengira masih berada di tangan penjahat, tetapi nyatanya dia sudah berada di rumah. Namun, suaminya masih berada di kursi roda.


"Elizia! Para satpam dan sopir sudah menyelamatkan Hamzah dari incaran penjahat kelas kakap yang berusaha menangkapnya. Kami dihubungi mereka, lantas, kami menyuruh Hamzah untuk segera dibawa ke ruamah agar dirawat oleh dokter panggilan. Hamzah sempat terkena sayatan senjata tajam dibagian kening dan kakinya sehingga dia kini masih di kursi roda. Tapi jangan khawatir, para penjahat tersebut sudah diringkus oleh petugas kepolisian."


Fatimah menjelaskan kepada Elizia bahwa suaminya sudah diselamatkan oleh para sopir dan penjaga rumah mereka.


"Alhamdulillah ya Alloh. Akhirnya Engkau menyelamatkan suami hamba. Mas cepat sembuh ya? Aslam merindukan kamu."


Saat itu, Elizia mendekati suaminya dengan posisi meringkuk dan mencium takzim tangan suaminya. Kini, air mata Elizia tumpah tak terbendung. Air mata tulus dan suci dari hati Elizia yang lembut dan penyayang. Ternyata, Hamzah ditakdirkan untuknya. Walau banyak kurangnya, tapi, memang kenyataannya dia adalah suami satu-satunya yang masih membersamainya.


Elizia memberi satu kesempatan lagi untuk Hamzah Anggara. Untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh godaan dunia.


"Elizia, istriku. Maafkan Mas. Saya khilaf. Saya ikhlas jika kamu akan memberi hukuman kepada Mas. Maaf, selama ini, Mas egois. Sekarang, Mas akan menuruti semua keinginan kamu. Apa pun asalkan kamu bahagia."

__ADS_1


Hamzah mengelus kepala Elizia yang tertutup kerudung kalem yang terlihat sangat anggun. Dia kini tidak akan memaksa kehendak istrinya apa pun keputusannya. Karena Hamzah merasa sudah menyakiti Elizia.


"Mas. Sekarang Elizia sudah melupakannya kok. Ayo kita benahi bersama-sama kekurangan kita. Elizia juga banyak salah dan kurang waktu untuk bersama."


Elizia sudah memaafkan kesalahan Hamzah Anggara. Dia akan membenahi rumah tangganya secara bersama-sama.


*** ***


Satu tahun kemudian, di sebuah telaga terlihat Elizia, Hamzah Anggara dan Aslam sedang menaiki perahu. Mereka sedang menikmati senja di sore hari yang terlihat indah.


"Mama, Ayah. Lihat! Mataharinya mulai tenggelam. Warnanya indah sekali."


"Iya, sayang. Sebentar lagi, matahari mulai tenggelam. Sebelum matahari tenggelam, ayo kita lihat mataharinya sampai kita puas."


Hamzah Anggara sedang mendayung perahu di tengah-tengah telaga sambil melihat matahari tenggelam bersama keluarga kecilnya.


"Iya. Ayah. Eh, Mama kenapa melamun? Itu lho Ma, mataharinya berwarna jingga. Mama jangan sedih lagi ya? Kan kita sudah bersama lagi. Ayah dan Mama selalu bersatu dalam satu hati. Iya 'kan Ma?"


Bocah kecil itu melihat mamanya yang sedang melamun. Entah melamunkan apa. Yang jelas, Elizia sedang duduk di perahu di depan Aslam yang sedang melihat matahari di waktu senja.


"Mama gak melamun kok. Mama bahagia banget. Akhirnya Ayah dan Aslam sama Mama bisa melihat senja bersama. Bukankah ini impian Aslam saat di taman dahulu? Dan cita-cita ini sudah tercapai. Ayo kita katakan. Kami suka senja."


Sontak, Elizia berbicara dan mengungkapkan rasa kebahagiaannya di telaga tersebut. Tiada yang lebih indah selain dari pada keluarga. Kini Elizia merasakan itu hingga dia terharu dan menangisi kebahagiaan dalam hatinya.


"Oke. Ayo sayang, kita katakan Kami suka senja. Satu dua tiga! Kami suka senja!"


Hamzah Anggara membimbing keluarganya untuk mengatakan "aku suka senja". Dan mereka berhasil mengungkapkan kata tersebut dengan suara yang nyaring sehingga hati mereka merasa lebih plong dan bahagia.


Begitulah sepenggal kisah Elizia yang penuh dengan air mata. Namun, pada akhirnya, Elizia menemukan sebuah kebahagiaan pada keluarga kecilnya yakni menikahi sosok pria yang bernama Hamzah Anggara. Pria mapan yang mempunyai banyak kelemahan. Dan kelemahan tersebut menjadikan rumah tangga mereka semakin kuat dan akhirnya bersatu. Tak ada manusia yang terlahir sempurna seperti kisah rumah tangga antara Elizia dan Hamzah Anggara.


Sampai jumpa Elizia. Semoga kalian hidup bahagia sampai menua. Dan semoga Aslam menemukan jati dirinya menjadi pria dewasa yang bahagia dan berwibawa.

__ADS_1


__ADS_2