
"Mas, kamu sudah tidur? Yasudah deh, aku ngikut tidur saja. Ditunggu malah tidur dulu."
Elizia menepuk bahu suaminya dengan keras karena terlihat dia sudah memejamkan mata. Elizia cemberut dan berbaring di sebelah suaminya karena dongkol. Aroma nafas mengalir dengan lembut membuat Elizia semakin mabuk kepayang dengan suaminya tersebut.
"Kena kamu sayang. Kamu pasti sudah kepengin 'kan? Sini aku peluk."
Tiba-tiba Hamzah bangun dari tidurnya dan tersenyum manis kepada Elizia dan memeluk istri yang baru dia nikahi dengan pelukan mesra. Dia ingin menguji istrinya seberapa dalam dia perhatian dan membutuhkan dirinya.
"Mas Hamzah jahat. Mas pura-pura tidur ternyata, ya?"
Elizia lalu memukul-mukul pundak suaminya yang kekar karena gemas dan dongkol. Dia malu sekali karena terlihat sangat membutuhkan haknya untuk segera disalurkan.
"Hem. Mas tidak berpura-pura tidur kok. Mas tadi beneran ketiduran dan akhirnya Mas bisa bangun karena tadi Mas sedang bermimpi sesuatu."
Hamzah masih mengerjai Elizia yang salah tingkah hingga wajahnya berwarna merah jambu dan semakin terlihat manis dan menggemaskan.
"Hayo mimpi apa, Mas? Jangan aneh-aneh ya?" tanya Elizia menyelidik.
Elizia penasaran dengan apa yang sedang diimpikan oleh suaminya tersebut. Hamzah telah membuat Elizia penasaran.
"Mimpi apa ya? Ya mimpiin kamu sayang, terus mimpiin siapa lagi. Sayang, ini sudah malam. Dingin lagi. Mas pengen. Yuk, kita mulai."
Nafas Hamzah mulai tidak beraturan kembali melihat istrinya yang menggoda. Sudah tidak ada lagi yang harus ditunda-tunda.
"Mas bisa saja. Ayuk. Elizia juga sudah tidak tahan."
Elizia lalu merangkul pundak suaminya yang kekar dan menatapnya secara intens. Hal ini membuat jiwa kelelakiannya meronta hebat. Hamzah lalu melakukan serangan yang begitu menggairahkan kepada Elizia.
Perlahan-lahan mereka sedang mengarungi kenikmatan surga dunia. Elizia tidak bisa berkutik. Yang ada hanya rasa kenikmatan yang tiada tara. Mereka akhirnya menyelami adegan panas dengan penuh warna dan sejuta rasa. Elizia berhasil memberi jatah kepada suaminya di malam pertama mereka.
*** *** ***
Subuh pun tiba. Elizia sudah mandi besar dan setelah semalaman bergumul dengan suaminya. Sedangkan suaminya masih belum bangun.
"Mas, bangun. Sudah subuh, sayang."
Elizia berusaha membangunkan suaminya yang masih terlelap. Terlihat wajah teduh dan paras rupawan membuat siapa saja betah memandang. Dia merasa sangat beruntung mempunyai suami baru yang lebih gagah dan baik hati.
"Elizia. Kamu sudah bsngun? Ini subuh belum ya? Mas terasa lemas sekali, sayang."
Perlahan-lahan Hamzah mulai membuka matanya. Dia mulai terbangun dan sudah disambut oleh istrinya dengan senyuman lembut. Sebelumnya dia bangun hanya ditemani dengan peluh dan rasa lelah dan masih kesepian.
"Sudah, dari sebelum subuh. Sini aku pijitin kalau lemas. Jika tenaganya sudah pulih, segera mandi gih. Nanti kita sholat subuh bareng."
__ADS_1
Kata-kata lembut terucap dari bibir Elizia yang mungil. Elizia sungguh istri yang gemati dan sholehah.
"Yasudah, Mas langsung mandi saja. Tapi tarik dong, tangan Mas?"
Hamzah bermanja-manja dengan istrinya seperti anak yang baru berusia lima tahun dan terlihat lucu.
"Sini aku tarik. Sudah nih, Elizia tunggu di tempat sholat ya?"
Elizia sudah menarik tangan kekar milik suaminya. Setelahnya dia menuju tempat sholat dan menunggu suaminya datang untuk sholat berjamaah. Setengah jam kemudian, Hamzah Anggara telah selesai melakukan mandi besar. Lalu dia dan Elizia segera sholat subuh secara berjamaah. Setelah sholat berjamaah Elizia mencium takzim tangan suaminya.
"Mas, terima kasih kamu sudah memberi kesempatan untuk menjadi imamku. Semoga pernikahaan kita langgeng."
Elizia menitikkan air mata haru. Dia takut kehilangan suaminya yang kedua kalinya.
"Sama-sama, sayang. Mas tidak akan meninggalkan wanita sebaik kamu, percayalah."
Hamzah meyakinkan istrinya agar Elizia percaya kepada dirinya bahwa Hamzah tulus mencintai Elizia. Lalu Elizia segera ke dapur untuk membuat sarapan untuk nenek Rumi dan suaminya. Dia akan membuat nasi goreng terasi udang dan bubur ayam.
"Elizia, pagi-pagi kamu sudah masak? Kamu rajin sekali."
Nenek Rumi tiba-tiba menyapa Elizia yang sesang meracik masakan.
"Iya, Nek. Nanti kalau tidak masak pagi-pagi takutnya sarapannya telat, Nek. Sarapan itu penting 'kan?"
Elizia berbicara dengan nenek Rumi yang sedang mencuci piring di wastafel yang dekat dengan dapur.
"Eh. Pak Satpam. Ada apa? Apa ada orang yang akan bertamu?" tanya Hamzah kepada penjaga di rumah keluarganya.
"Itu, seorang wanita cantik sedang ngotot untuk meminta diperbolehkan untuk masuk ke rumah ini."
Salah satu satpam memberitahukan kepada Hamzah bahwa ada tamu yang ingin masuk ke dalam rumah tersebut.
"Baik. Saya akan menemuinya."
Hamzah lalu berjalan menuju pintu keluar rumah tersebut. Tidak lama dia sudah sampai di pintu gerbang dan dia melihat Zora sedang berdiri membawa keranjang berisi sesutu.
"Zora? Ada apa kamu ke sini?" tanya Hamzah penasaran.
Saat resepsi pernikahan bosnya, Zora belum sempat menghadiri acara resepsi tersebut sehingga dia datang pada hari setelah resepsi. Kebetulan kantor 'JAYA GROUP' tutup. Seluruh karyawan dan staf libur bekerja selama sepekan.
"Bos, saya mau kondangan ke acara pernikahan Anda tetapi saya belum sempat sehingga harini saya baru bisa kondangan. Bolehkah saya masuk?"
Zora akan kondangan di rumah keluarga Hamzah dia masih berdiri di depan gerbang rumah nenek Rumi sambil dipersilakan masuk oleh Hamzah. Zora kondangan dengan memakai gaun kurang bahan berwarna pink sehingga keempat satpam tersebut matanya jelalatan memandangi Zora.
__ADS_1
"Oh. Oke ayo silakan masuk."
Lalu Zora mengekor di belakang Hamzah dan ikut masuk ke dalam rumah besar bermodel klasik tersebut.
Tidak lama Zora duduk di ruang tamu menantikan keluarga Hamzah menemui dia. Zora akan merencanakan sesuatu hal yang tidak terduga dan kini dia berhasil masuk ke dalam rumah Hamzah. Lalu nenek Rumi dan Elizia segera keluar menemui tamunya setelah mereka selesai menikmati sarapan pagi.
"Siapa kamu, Nona?" tanya nenek Rumi menyelidik.
Nenek Rumi duduk di samping Elizia dan segera menginterogasi tamunya. Tidak lama Hamzah datang dan ikut bergabung dan duduk didekat istrinya.
"Saya Zora, Nek. Karyawan dari perusahaan 'JAYA GROUP'. Nek, saya mau kondangan ini ada roti lapis legit beserta buah-buahan semoga keluarga ini suka. Oh. Ya. Roti lapis legit ini khusus saya berikan kepada Elizia sebagai tanda permintaan maaf saya kepada Elizia karena dulu telah menjahili Elizia."
Zora berpura-pura baik dan mencari perhatian di depan Hamzah Anggara. Dia berpura-pura memasang tampang melas dan polos.
"Oh. Sama-sama. Terima kasih Zora kamu sudah mau datang untuk kondangan. Oh ya, saya akan membuatkan minuman dulu untuk kamu."
Lalu Elizia segera ke dapur untuk membuat teh manis kepada Zora. Dan memberikan beberepa suguhan berupa makanan basah khas jawa.
"Iya. Terima kasih Elizia."
Zora berpura-pura tersenyum manis di depan keluarga Hamzah dan Elizia. Sebenarnya dia sangat benci terhadap Elizia.
"Zora, kamu ke sini tadi naik apa? Saya kok tidak melihat motor atau mobil kamu?" tanya Hamzah penasaran.
"Saya naik ojol, Bos. Mobil saya dipakai Mama saya untuk arisan. Sedangkan motor saya lagi di servis. Oh. Ya. Jangan lupa rotinya segera dimakan Elizia ya? Itu khusus buatan tangan aku lho?"
Zora mengingatkan kepada Hamzah agar roti yang dia bawa segera dimakan oleh Elizia. Lalu Elizia datang membawa teh manis dan camilan makanan basah dan di letakkan di meja ruang tamu.
"Ini teh dan camilannya, silakan dimakan. Nenek dan Mas Hamzah ayo segera dicicili makanannya."
Elizia sangat senang bisa menyuguhkan makanan kepada keluarga dan tamunya. Dia sedikit pun tidak curiga dengan Zora.
"Terima kasih, Nak. Tapi Nenek pengen nyicipin kue lapis legit buatan wanita itu. Sepertinya enak. Boleh 'kan?"
Nenek Rumi meminta untuk mencicipi roti lapis legit buatan Zora karena tampilannya sungguh menggoda. Jadi nenek Rumi merasa tergiur. Karena sudah lama dia tidak makan manis-manis untuk menjaga kesehatan.
"Oh. Nek. Nanti saya buatkan khusus untuk Nenek. Itu roti khusus untuk Elizia. Kan roti itu untuk menebus kesalahan saya untuk Elizia jadi roti itu khusus untuk dia."
Zora tidak mengijinkan nenek Rumi untuk mencicipi roti tersebut karena khusus untuk Elizia.
"Tapi Nenek pengennya sekarang. Boleh 'kan?"
Nenek bersikeras untuk meminta roti lapis legit tersebut.
__ADS_1
'Sialan, Nenek Tua itu maunya apa sih? Bisa gagal rencanaku,' desis Zara dalam hatinya dengan rasa dongkol dan gusar.
Zora tidak mau rencananya gagal karena dia sangat dendam dengan Elizia yang telah menikahi pria pujaannya.