Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Petaka Bertemu Mantan


__ADS_3

Di waktu Senja hari Elizia mengajak jalan-jalan Aslam ke mini market tetdekat untuk membeli es krim. Tujuh menit kemudian, mereka sampai di mini market. Dia membelikan dua es krim. Satu untuk dirinya dan satunya lagi untuk Aslam. Setelah membayar es krim yang telah dia beli, Elizia dan Aslam segera ke taman yang dekat dengan mini market tersebut. Mereka duduk di bangku panjang di taman kota di bawah pohon beringin yang rimbun.


"Ini es krimnya sayang. Segera dihabiskan ya?"


Elizia dan Aslam mulai duduk di taman yang sudah mulai sepi karena waktu itu senja hari mulai tiba. Sambil makan es krim mereka menikmati senja yang cerah. Kelamnya hati, sedikit terobati kala Elizia sedang bersama anaknya yang tampan seperti sang ayah. Tiba-tiba dari arah samping ada yang memanggil Aslam dan berkata,


"Dik Aslam, wah, sekarang tambah besar dan tampan ya. Adik main di sini lagi? Hayo masih ingat Om gak?"


Seorang pria jangkung bertopi bundar sedang menjajakan balon yang berbentuk macam-macam. Dia adalah Zafian. Mantan istri Elizia yang sempat menorehkan luka yang begitu dalam.


"Om baik. Iya Aslam masih ingat Om. Yang waktu itu Aslam sama Oma. Om Zafian ya? Om sini main sama Aslam."


Aslam menoleh ke sumber suara dan ternyata Zafian yang memanggilnya. Rasa girang dan senang hinggap di hati Aslam seketika. Dia tidak menduga akan bertemu kembali dengan Zafian. Terlihat Elizia terdiam dan kaget melihat itu adalah mantan suaminya dan penampilannya berubah drastis. Pakaiannya sekarang hanya memakai celana jeans yang sudah usang yang bolong dibagian lututnya serta memakai kemeja usang berwarna hitam kotak-kotak.


"Benar sekali. Dik. Ini Om kasih satu balon lagi untuk Aslam diterima ya? Bilang sama Mama. Ini balon hadiah dari Om."


Sambil melirik Elizia yang memakai kerudung berwarna abu-abu dan gamis kalem berwarna coklat membuat Elizia sangat manis dan mempesona. Hati Zafian berdesir seperti melihat bidadari turun dari bumi. Dia tidak mengira akan bertemu sang mantan yang masih dia cintainya.


"Ma. Bagaimana? Aslam boleh 'kan diberi balon sama Om Zafian? Boleh ya?"


Seketika, Aslam merengek-rengek kepada mamanya untuk diperbolehkan mengambil balon pemberian dari Zafian. Saat itu Elizia sedang duduk termangu di atas bangku panjang yang berada di taman kota itu.


"Oke. Saya beli dua balon itu, Berapa ya? Ka-kamu Mas Zafian kah?"


Elizia terkejut dan baru sadar bahwa penjual balon tersebut adalah Zafian mantan istrinya. Dia langsung mengambil dompet mungilnya untuk membayar balon pemberian dari Zafian.


"Iya. Nona Elizia, saya Zafian. Tidak perlu dibayar. Ini untuk Aslam saja."


Zafian menatap tajam Elizia ketika Elizia menyodorkan uang lembaran merah tersebut. Dia ikhlas memberikan balon kepada Aslam. Dengan segera Zafian memberikan balon itu kepada Aslam sebanyak dua buah. Saat itu, Aslam sangat senang. Tidak lama, Zafian akan segera melenggang pergi karena tidak mau mengganggu istri orang. Saat melangkahkan kaki Aslam memanggil Zafian.


"Om. Temani Aslam main di sini ya? Sebentar saja." Aslam melambaikan tangan ke arah Zafian yang hampir saja pergi. Lantas, Zafian menoleh ke arah Aslam dan berhenti sejenak dan berbalik ke arah Aslam.


"Sayang, Om nya mau pergi, kamu jangan mengganggu ya?"


Elizia menasihati Aslam agar tidak memanggil Zafian karena khawatir akan digunjing atau pun akan mengganggu karena mantan suaminya tersebut sedang bekerja.


"Aslam tidak mengganggu, Ma. Aslam hanya ingin main balon sebentar sama Om Zafian."

__ADS_1


Aslam mulai beranjak dari tempat dia duduk dan berlari ke arah Zafian berdiri. Aslam langsung menarik tangan Zafian menuju tempat Elizia duduk. Elizia hanya bisa menggelengkan kepala. Jika sudah kemauannya, pasti tidak akan bisa dilarang. Begitulah Aslam.


"Aslam. Kamu jangan aneh-aneh ya?"


Elizia memberi peringatan kepada anaknya untuk tidak aneh-aneh kepada Zafian yang sedang berdiri didekat Elizia dengan perasaan kikuk.


"Tidak aneh-aneh kok. Ma. Om duduk di samping Aslam sini ya? Kita main balon-balonan. Ini buat Om dan ini buat Aslam. Lalu kita melihat awan. Wah. Indah ya Om."


Zafian duduk tepat di samping kiri Aslam dan disamping kanan duduk Elizia yang tersenyum melihat tingkah anaknya yang menggemaskan.


Mereka kini saling duduk di kursi panjang di taman kota layaknya pasangan antara orang tua dan anak yang saling bahagia. Pada kenyataannya mereka bukanlah pasangan suami istri melainkan hanyalah mantan.


"Iya. Indah banget. Itu namanya awan senja, Aslam. Warnanya jingka. Awan senja itu menandakan bahwa sebentar lagi waktu maghrib tiba."


Zafian menunjuk ke arah awan tersebut dan memberi tahukan kepada Aslam mengenai awan senja.


"Oh. Bagus ya? Ayah dan Mama jarang ke sini. Padahal di sini tempatnya indah ya Om?"


Tiba-tiba Aslam manyun teringat dia jarang jalan-jalan bersama antara ayah dan mamanya. Saat Aslam berucap seperti itu, Elizia yang berada di sampingnya mendengar. Matanya kini berkaca-kaca.


Aslam mulai menoleh ke arah Mamanya dan mulai berkata,


"Mama nangis ya? Kok ada air mata jatuh di pipi Mama. Mama sedang ada masalah dengan Ayah ya? Ma, saya mohon. Mama jangan pisah sama Ayah. Aslam mencintai kalian."


Aslam mengucapkan kata polos tentang permasalahan yang tengah dihadapi Elizia dan Hamzah.


"Gak nangis, kok. Mama hanya kelilipan," jawab Elizia membohongi Aslam. Elizia tidak mau Aslam ikut sedih dan ikut larut dalam permasalahannya dengan Hamzah Anggara.


"Mama jangan bohongin Aslam. Pasti Mama ada masalah 'kan dengan Ayah. Mama jangan sedih lagi ya? Lihat awan senja ito lho Ma? Coba lihat indah sekali."


Aslam yang baru berusia lima tahun itu mencoba menghibur mamanya yang sedang sedih dengan memperlihatkan awan senja nan indah.


"Iya, sayang. Mama sudah tidak sedih kok."


Elizia mulai menghapus bulir bening yang membasahi pipinya. Sedihnya hilang kala melihat Aslam yang begitu bergembira dengan Zafian.


Degh!

__ADS_1


Jantung Zafian berdetak saat mendengar ucapan Aslam yang tidak diduga. Zafian mengira Elizia akan bahagia dan baik-baik saja mempunyai suami seperti Hamzah Anggara. Tetapi, mendengar penuturan dari Aslam, Zafian menjadi tahu bahwa rumah tangga Elizia dan Hamzah sedang tidak baik-baik saja.


Saat mereka tengah asik melihat senja, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan mendekati Zafian dan Elizia seraya berkata,


"Zafian! Jadi ini yang dimaksud kalian akan pergi. Diam-diam kalian bersama di sini. Kamu Zafian 'kan? Ternyata kamu masih mengincar istri saya ya? Mentang-mentang istri saya sedang sedih, kamu mencari kesempatan dalam kesempitan ya?"


Tiba-tiba Hamzah Anggara muncul dan melihat Elizia beserta anaknya sedang bersama dengan Zafian. Hamzah tidak pangling dengan gerak-gerik dan postur pria itu bahwa pria yang membersamai anak dan istrinya adalah Zafian.


"Maaf, Hamzah. Saya tidak seperti yang kau maksud. Saya hanya ...."


Ucapan Zafian tidak bisa diteruskan karena Hamzah menyela pembicaraannya karena Hamzah sudah tersulut emosi dan terbakar api cemburu. Hamzah tidak mengindahkan bahwa di situ ada anaknya yang masih berusia lima tahun. Tidak sepantasnya Hamzah gegabah dan tersulut emosi.


"Tidak perlu banyak alasan! Kamu masih mencintai Elizia 'kan?"


Hamzah mendekati Zafian yang mulai berdiri dari bangku taman. Seketika, Hamzah mencekal kerah milik Zafian hingga Zafian juga terpancing emosi.


"Jaga Mulut kamu Hamzah! Jangan coba-coba kamu menyakiti Elizia maka, kamu akan berhadapan denganku!"


Zafian mulai mencoba melepaskan kerah baju yang di cekal kuat oleh Hamzah. Namun, sesuatu yang buruk terjadi.


Plak!


Hamzah hilang kendali serta pikirannya sedang kacau sehingga dia menampar Zafian dan mendorongnya hingga dia terjungkal di di paving yang terpasang dalam lantai taman tersebut. Tamparan yang keras membuat hidung Zafian mengeluarkan d*rah di hidungnya dan memar di pipinya.


"Ayah jahat! Om itu baik kenapa Ayah menamparnya! Hik hik."


Aslam berlari ke arah Zafian sambil menangis sambil mencoba membantu Zafian untuk berdiri.


Sementara Elizia juga berdiri karena juga tersulut emosi melihat tindakan suaminya yang gegabah.


Plak!


Tamparan keras dari tangan Elizia mendarat di pipi milik Hamzah Anggara. Hati Elizia marah dan hilang kesabarannya. Kini, Hamzah terdiam membisu sambil memegang pipinya yang terasa sakit. Namun, itu tidak seberapa. Lebih sakit, apa yang hinggap di hati Elizia saat ini.


"Mas, kamu salah paham! Mas Zafian tidak bersalah. Kamu jahat sekali Mas!" Elizia geram dengan suaminya sendiri karena sudah melukai orang yang tidak bersalah. Datang-datang malah membuat tragedi yang tidak diinginkan.


Sedikit pun, sekarang, Elizia tidak bisa mencintai pria mana pun. Entah itu Hamzah suaminya sendiri mau pun Zafian mantan suaminya. Saat ini, dia ingin fokus pada masa depan dirinya dan Aslam. Anak cerdas kesayangannya. Entah seperti apa rumah tangga Elizia ke depannya. Hanya Tuhan yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2