Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Terdengar Suara Barang Pecah


__ADS_3

Malam itu, tepatnya sekitar pukul 22.00 WIB, Terlihat Zafian berjalan ke arah Hamzah dengan tatapan tajam dan berhenti tepat di sampingnya lalu dia duduk bersama dengan Hamzah yang terlihat sedang menjulurkan kakinya dan badannya menyender pada dinding tembok masjid karena kelelahan. Mereka duduk di sudut teras masjid yang yang digelar karpet tebal sehingga mereka duduk dengan nyaman tanpa kedinginan.


Hamzah terkejut karena Zafian datang menemuinya di malam hari. Dia sedikit khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Kamu, Zafian? Kenapa kamu ke sini?"


Hamzah menuding Zafian dengan wajah terkejut dan mulai bertanya kepadanya.


"Benar, saya Zafian. Saya tadi melihat kamu di rumah sakit dan saya membuntuti kamu. Kebetulan saya juga berada di rumah sakit "Siaga Medika" karena Rihana sakit lambung. Dia terlalu banyak memakan buah mangga muda milik keluarga kamu! Dan kandungannya kini terancam dalam bahaya."


Zafian mengacak rambutnya karena sedang kacau pikirannya. Istri barunya selalu berulah melakukan hal aneh hingga kini dia dirawat di rumah sakit dalam keadaan hamil.


"Oh. Jadi, Rihana sekarang sedang di rumah sakit itu? Dia memang makan buah tidak kira-kira. Walaupun sedang ngidam, tetapi juga jangan makan secara berlebihan!"


Hamzah tidak menyangka jika Rihana akan dirawat di rumah sakit, padahal baru saja satpam yang menjaga rumahnya menelepon bahwa Rihana telah menghabiskan buah mangga di kebun milik keluarganya.


"Iya. Saya sudah memberi peringatan kepada Rihana agar tidak berlebihan memakan buah tersebut, namun dia tidak mengindahkan perkataan dariku. Sekarang dia merasakan akibatnya."


Zafian menceritakan kondisi istrinya dan mengeluh atas sikap istrinya yang keras kepala.


"Kamu tidak menemani istri kamu? Ini sudah malam lho, takutnya dia mencari kamu!" tanya Hamzah menyelidik.


Hamzah mencoba mengingatkan agar tidak meninggalkan istrinya dalam keadaan sakit.


"Di sana sudah ada mamanya Rihana yang sedang menunggu. Saya tadi sudah berpamitan untuk keluar beberapa saat. Dan kamu kenapa ada di sini? Apakah Elizia juga sedang sakit?"

__ADS_1


Zafian balik bertanya kepada Hamzah dan menanyakan tentang Elizia karena dia juga penasaran.


"Saya tidak bersama dengan Elizia karena saya sedang menjenguk kerabat saya yang berada di rumah sakit bersama dengan keponakan saya. Tetapi saya pulang terlebih dahulu tetapi tanggung karena sudah larut. Lantas, saya memutuskan untuk beristirahat di masjid ini sampai menjelang pagi."


Hamzah tidak membeberkan soal Annisa yang sakit karena bunuh diri. Dia tidak mau aib keluarganya diketahui oleh Zafian dan hanya akan menambah masalah. Cukup bicara seperlunya dan jawab apa adanya.


"Lantas, Elizia di mana sekarang? Saya ingin berbicara kepadanya jika nanti saya berjumpa dengannya?"


Zafian masih saja menanyakan mantan istrinya yang sudah menjadi istri orang. Dia masih tidak rela jika istri sebaik Elizia diambil orang. Dia menyesal dan teramat kecewa.


"Zafian! Kamu tidak perlu tahu di mana istri saya berada karena sekarang dia adalah istri saya dan dia adalah milik saya! Kamu jangan mencoba berbagai cara untuk merusak hubungan pernikahan kami, jalani apa yang sudah kamu putuskan. Karena kamu telah tega membuang berlian hanya demi batu kerikil!"


Dengan tegas Hamzah menjawab pertanyaan dari Zafian. Dia tidak akan membiarkan istrinya direbut oleh mantan suami yang tega melukai hati Elizia. Dia tidak akan memberi celah sedikit pun untuk dekat dengan istrinya.


"Hamzah, dengarkan aku! Aku memang salah. Dulu aku telah membuang Elizia. Tetapi sekarang aku sadar, Elizia itu separuh jiwaku yang hilang. Aku akan berusaha merebut kembali berlianku yang telah hilang dengan cara halus dan baik tidak seperti dulu. Aku akui dulu aku kasar dan ingin merebut Elizia dari kamu, tapi kini aku akan berusaha berubah menjadi lebih baik."


"Kamu memang keras kepala teman. Dengarkan baik-baik perkataanku! Rihana selama ini sebagai istri kamu anggap sebagai apa? Kamu belum puas mempunyai istri seperti Rihana? Seharusnya kamu fokus pada Rihana dan berusaha mendidik dan mengajari dia menjadi wanita yang baik dan sholehah bukan malah memikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain!"


Hamzah menasihati panjang lebar kepada Zafian sampai mereka tidak sadar, bahwa waktu sudah tengah malam tepat pukul 24.00 WIB. Mereka masih memperdebatkan tentang Elizia yang diperebutkan oleh dua pria dewasa.


"Tuan Hamzah yang kaya raya! Anda tidak perlu menggurui saya karena saya sudah berusaha mendidik istri saya dengan baik, namun Rihana tidak seperti Elizia yang hatinya baik. Rihana itu keras kepala!"


Zafian sudah berusaha menasihati Rihana agar menjadi gadis baik seperti Elizia namun karakter orang berbeda-beda dan di dunia ini hanya ada dua sifat manusia jika tidak baik ya buruk.


"Masalah kamu dengan istri kamu saya tidak mau ikut campur, tetapi jika ini menyangkut istri saya maka, tidak akan saya biarkan begitu saja. Sudahlah, berbicara dengan kamu malah seperti kemidi putar yang tiada ujungnya. Saya mau tidur dulu karena saya sudah ngantuk."

__ADS_1


Hamzah sudah menguap dan akan bergegas tidur karena dia khawatir jika telat bangun karena dia besok harus segera ke rumah keluarga pak Umar untuk menjemput Elizia dan nenek Rumi untuk segera pulang karena Annisa semakin menjadi setelah sadar dari bunuh diri. Dia tidak mau Elizia celaka karena ulah Annisa.


Terlihat Zafian melenggang pergi begitu saja dari masjid tersebut. Mungkin dia tidak bisa berlama-lama di situ karena pasti istri dan keluarganya akan mencarinya.


*** *** ***


Waktu itu menunjukan pukul 05.30 WIB. Hamzah sudah selesai sholat subuh lalu dia segera menelepon istrinya untuk memberi tahu sesuatu. Tidak lama dia memencet nomor milik Elizia. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon mulai tersambung.


"Halo, ini Mas Hamzah. Elizia, tolong persiapkan diri untuk segera pulang dan jangan lupa beri tahu nenek Rumi dan kedua orang tua Mas, karena Annisa sudah sadar dan akan segera pulang, dia mengusir Mas dari rumah sakit dan mengancam kamu dengan hal sesuatu yang tidak diinginkan maka dari itu kita harus secepatnya pulang. Mas akan segera pulang."


Hamzah langsung pada tujuan yakni memberi informasi tentang ancaman Annisa kepada Elizzia. Dia menelepon istrinya agar mempersiapkan diri untuk pulang dan untuk menghindari hal-hal buruk yang tiba-tiba terjadi agar tetap waspada.


"Baik, Mas. Elizia akan segera memberi tahu nenek Rumi dan kedua orang tua Mas Hamzah. Mas sendiri jika hendak pulang harus tetap berdoa supaya diberi keselamatan."


Elizia menuruti perkataan suaminya karena dia tidak mau ada keributan besar dalam keluarganya dan tidak mau ada hal buruk yang terjadi.


"Oke. Kamu tetap tenang dan waspada di sana. Yasudah, Mas matiin sambungan teleponnya. Tunggu Mas akan segera menjemput kamu!"


Hamzah segera mematikan telepon secara sepihak. Lalu dia segera memesan ojek online di aplikasi HP-nya. Beberapa menit kemudian, ojek online sudah datang. Hamzah membonceng abang pengendara dan abang tersebut segera tancap gas dan mulai berkendara.


Lima belas menit kemudian, dia sampai di rumah keluarga pak Umar. Hamzah terkejut karena melihat mobil pak Umar sudah terparkir di depan halaman rumahnya.


'Apa? Ini 'kan mobil yang kemarin yang dibawa pak Umar ke rumah sakit bersama denganku. Itu artinya Annita sudah lebih awal pulang dari pada aku. Haduh, aku harus segera ke dalam sebelum Annisa berulah,' desis Hamzah dalam hatinya.


Dia bergegas ke dalam rumah pak Umar yang tidak dikunci karena dia takut Elizia akan dicelakai oleh Annisa. Walaupun dia tahu bahwa Annisa sekarang cacat dan harus menggunakan alat bantu untuk bisa berjalan.

__ADS_1


Saat sampai di ruang tamu, Hamzah mendengar keributan seperti orang sedang bertengkar dan mendengar suatu barang pecah. Jantung Hamzah kini berdetak kencang dan pikirannya kacau tidak karuan.


__ADS_2