Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Berdebar-debar


__ADS_3

Akhirnya, Hamzah dan keluarga kecilnya sampai di depan gerbang rumah mereka. Namun, saat mendekati pintu gerbang, dikejutkan dengan seorang wanita yang memakai daster dan meneriaki Elizia. Dan beberapa warga melihat wanita itu berteriak dan warga berusaha menasihati wanita itu namun, tetap saja berteriak.


Tidak hanya berteriak, wanita itu menghalangi mobil keluarga Hamzah untuk memasuki rumahnya. Melihat hal itu, Hamzah mulai mematikan mesin dan menepikan mobilnya ditepi pagar tembok depan rumahnya.


"Liz, Aslam, kamu di sini dulu. Biar Mas yang


akan turun dan menyelesaikan masalah dengan wanita itu!"


Hamzah menyuruh anak dan istrinya tetap di dalam mobil agar tidak terjadi kericuhan yang sengit. Waktu pun juga sudah maghrib lama-lama di luar kata orang tua zaman dulu tidak baik buat para anak kecil.


Hamzah beringsut turun dari mobil hitamnya dan segera berlari kecil mendekati wanita yang ternyata adalah Rihana.


"Kamu Rihana? Kenapa kamu berteriak tidak jelas seperti itu?" tanya Hamzah tiba-tiba yang sudah berdiri disamping Rihana.


"Ke mana Elizia? Saya mau bertemu dengannya empat mata," jawab Rihana dengan nada nyaring dan menatap Hamzah dengan tatapan nyalang.


"Maaf, jika berhubungan dengan Elizia, saya yang akan mewakilinya. Memangnya ada apa ingin bertemu dengan dia? Bukankah Elizia sudah tidak ada masalah dengan kamu? Kamu salah orang ya?" tanya Hamzah dengan nada menginterogasi.


"Saya mau pinjam uang dengan dia! Kekayaan orang tua saya sudah bangkrut gara-gara jatuhnya reputasi papa saya yang menyangkut Elizia! Gara-gara dia, saya jadi miskin!"


Begitulah ungkapan Rihana. Sudah kena karma, masih saja menyalahkan Elizia.


"Rihana, kamu tidak punya malu! Meminjam uang tapi masih menyudutkan dan menghina istri saya! Cepat kamu pergi dari sini! Atau saya suruh satpam untuk mengusir kamu sejauh mungkin!"


Hamzah mulai tersulut emosi karena masih menghina Elizia yang jelas-jelas istrinya tidak bersalah.

__ADS_1


"Saya tidak takut diusir oleh anak buah kamu hai CEO pecundang! Dasar kalian keluarga pelit. Cepat saya pinjamin uang. Jika tidak, saya akan membakar rumah ini dengan bahan peledak yang sudah saya bawa!"


Rihana benar-benar sudah seperti orang gila. Mungkin sudah gila karena baru saja keluar dari "Rumah Sakit Jiwa". Tanpa diduga Rihana sudah membawa bahan peledak yang siap diledakan di depan rumah keluarga Hamzah. Maka dari itu, warga takut mendekati karena Rihana selalu mengancam. Demi uang, Rihana akan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkannya.


"Memangnya kamu butuh uang berapa?" tanya Hamzah memastikan sambil berjalan mendekat ke arah Rihana yang berusaha akan melempar benda peledak tersebut.


"Lima puluh juta! Jika kamu atau Elizia memberikan uang kepaa saya sejumlah lima puluh juta, saya akan pergi dari sini tanpa mengganggu kalian!" jawab Rihana dengan senyum licik.


"Memangnya saya akan percaya dengan ucapan kamu yang licik itu! Benar, kamu tidak akan mengganggu Elizia?"


Hamzah berusaha mengelabui Rihana dengan beberapa pertanyaan agar bisa lengah sehingga, Rihana bisa ditangkap oleh ibu-ibu Gengster yang sudah menyergap di belakang Rihana. Karena, ibu-ibu Gengster sudah berjanji, jika Elizia diganggu pelakor kembali, mereka akan angkat tangan dan memberi pelajaran.


Saat itu, Rihana diam mematung mendengarkan ucapan Hamzah yang menatapnya secara tajam. Momen ini dimanfaatkan oleh ibu Gengster untuk menangkap Rihana dari belakang serta dengan sigap mengambil bahan peledak dari tangan Rihana.


"Kena kamu wanita licik! Sekarang kami akan bawa kamu ke kantor polisi karena kamu sudah membawa bahan peledak dan mengancam keluarga Hamzah! Tindakan kamu sungguh tidak terpuji. Kamu layak mendekam di sel penjara,"


"Hai, Ibu-ibu julid, tolong lepaskan saya! Saya ingin kaya dan membuat Elizia jatuh miskin lagi, hahaha."


Rihana meronta-ronta saat ibu-ibu Gengster itu membawa Rihana ke Pos Kamling dengan diikat dengan tali agar tidak kabur sambil menunggu pihak kepolisian datang.


'Alhamdulillah, akhirnya Tuhan menyelamatkan rumah kami dari orang-orang yang berusaha berbuat jahat,' gumam Hamzah dalam hatinya.


"Mas Hamzah, sebaiknya Anda dan keluarga Anda segera masuk. Soal Rihana, biar kami yang mengurus. Kasihan dedeknya yang berada di dalam mobil."


Bu RT memberi saran kepada Hamzah untuk segera ke dalam rumahnya karena dia melihat ada balita di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Hamzah kemudian menuruti perkataan bu RT untuk kembali ke dalam mobilnya. Lalu Hamzah dengan cepat membawa mobilnya masuk ke dalam rumah.


Saat mobil sudah terparkir di garasi mobil, lalu Hamzah segera membopong Aslam yang sedang tertidur untuk dibawa ke kamarnya. Elizia berjalan membuntuti suaminya juga menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan sholat maghrib dan isya berjamaah dengan suaminya.


Dua jam kemudian, Elizia dan Hamzah telah selesai melakukan sholat maghrib dan isya. Saat itu terdengar bunyi telepon dari gawai Hamzah yang tidak lain adalah mamanya 'Fatimah'. Tidak lama, Hamzah segera mengangkat telepon dari mamanya tersebut.


"Halo ada apa, Ma?" Hamzah mulai mengangkat telepon dari mamanya di seberang sana.


"Maaf, tadi pagi Mama pulang dan langsung ke rumah karena ada acara PKK ibu-ibu. Maaf, ya. Aslam tak tinggal. Sekarang cucu Oma di mana? Baik-baik saja 'kan?"


Fatimah memberi tahu bahwa dia tidak bisa lama di rumah Hamzah karena sedang ada keperluan dan menanyakan tentang cucu yang sangat disayanginya.


"Syukurlah, kirain Mama ngambek. Hamzah juga baru saja pulang, Ma. Aslam baik-baik saja kok. Mama di sana hati-hati ya? Oh Ayah sehat 'kan?"


Hamzah berbalik menanyakan Ayahnya yang kini jarang bertemu karena sibuk mengurusi bisnisnya.


"Ya gak lah. Mama banyak kegiatan hari ini tadi juga baru kelar. Ayah Fauzan masih di luar kota. Masih ada urusan dengan rekan bisnisnya. Mama sama bik Inah di rumah. Kalian juga hati-hati ya? Selamat malam."


Setelah dirasa anak dan cucunya selamat sampai di rumah, Fatimah memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena sudah malam. Dia tidak mau mengganggu istirahat anaknya yang mungkin merasa kelelahan.


Hamzah tidak menceritakan tentang tragedi penculikan yang sempat dialami oleh Aslam Anggara. Dia tidak mau Fatimah cemas dan pikirannya terbebani dengan pikiran yang tidak-tidak yang mengakibatkan kondisi buruk pada kesehatan mamanya. Selama masih aman, biarlah keluarga kecilnya yang tahu tentang kejadian tersebut.


Saat itu Hamzah sudah berganti dengan piyama tidurnya. Namun, terlihat istrinya sudah tidak berada di dalam kamarnya lantas, malam-malam begini Elizia ke mana?


Hamzah lalu keluar dari kamarnya untuk berjalan menuju dapur siapa tahu istrinya sedang memasak. Saat sampai di dapur, istrinya juga tidak berada di dalam sana. Hamzah semakin cemas kala istrinya menghilang begitu saja.

__ADS_1


Lalu dia memutuskan untuk ke kamar kembali saat berada di kamar, Hamzah terkejut melihat istrinya yang sudah berada di tepi ranjang. Dengan memakai lingerie berwarna merah menyala yang transparan hingga memperlihatkan dua gunung yang menjuntai indah. Serta wajah yang dirias indah membuat jantung hamzah mulai berdegup kencang. Rencana apa yang akan dilakukan oleh Elizia yang tidak seperti biasanya?


__ADS_2