Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Menyusun Rencana


__ADS_3

Pagi itu, Siti masih berdiri di depan keluarga Hamzah dengan perasaan yang senang sekaligus dongkol. Senang karena bisa bertemu dengan Hamzah kembali sedangkan dongkol karena Fatimah dan Hamzah menginterogasi dirinya secara habis-habisan. Dia tidak mau berkata jujur sebelum berhasil mendapatkan pria idamannya yakni Hamzah Anggara.


"Saya benar diizinkan oleh Tuan Fauzan, Bu. Saya bicara apa adanya dan maaf, jika saya masih ada salah kepada kalian. Saya akan berusaha bekerja di sini menjadi lebih baik dan profesional."


Siti berpura-pura menunduk dan gugup di depan Hamzah dan Fatimah agar mereka berhenti menginterogasinya.


"Oke. Jika memang benar seperti itu. Tetapi awas, jika kamu berulah sekali lagi maka, akan segera saya pecat! Kalau begitu ayo kamu ikut saya!"


Fatimah akan membawa Siti ke ruang belakang. Di situ banyak tumpukan piring kotor dan bekakas yang lainnya belum dicuci serta pakaian bayi yang masih kotor.


"Siti, tolong cuci semua peralatan dapur yang ktor ini serta pakaian dedek bayi yang masih kotor! Kamu sanggup?"


Siti diperintah oleh Fatimah untuk mengerjakan semua tugas tersebut. Fatimah ingin menguji keseriusan seorang Siti.


'Haduh, aku 'kan lagi hamil. Pekerjaannya banyak banget. Dasar wanita sialan itu Fatimah! Aku sedang dikerjain. Mana pak Fauzan belum nongol lagi,' desis Siti dalam hatinya yang merasa kesal karena kerjaan yang diberikan kepadanya sungguh tidak terkira.


"Dicuci sampai bersih ya? Jangan sampai ada yang tertinggal."


Dengan senyum kecil di hatinya, Fatimah memberi pelajaran kepada Siti apakah dia benar-benar ART yang rajin dan berranggung jawab.


"Baik, Nyonya!"


Siti mengangguk pelan. Dia terpaksa melakukan pekerjaan tersebut dengan hati dongkol. Perlahan-lahan dia mulai mencuci semua piring dan pakaian kotor yang menggunung tinggi. Setelah satu jam mencuci semua peralatan dan pakaian bayi, Tidak terasa perutnya melilit ingin segera makan. Lalu dia segera ke dapur untuk memasak. Dia sangat senang sekali.


Karena di rumah keluarga Hamzah, dia boleh memasak masakan apa saja sesuai dengan kehendak hati. Tidak ada perbedaan antara ART dan majikan. Tetapai saat sampai dapur, sudah berdiri Fatimah. Dan ternyata Fatimah baru saja selesai memasak sup ayam.


"Bu, bolehkah saya memasak menu masakan untuk saya? Karena saya sangat lapar setelah mencuci pakaian yang sangat banyak?"


Walau dia kepengin sup ayam yang dimasak oleh Fatimah, namun agar dia tidak dipecat, dia terpaksa harus meminta izin dulu kepada keluarga majikannya tersebut untuk memasak sendiri.

__ADS_1


"Oh, sudah selesai nyucinya? Kamu tidak usah memasak. Ini ada sup ayam, jika kamu ingin makan, makan saja, jangan sungkan. Walaupun saya tidak suka dengan kamu, tetapi kalau soal makan, jangan sampai telat!"


Fatimah masih memberi rasa kemanusiaan kepada Siti walaupun sikap Siti sudah tidak bisa ditoleransi oleh keluarga Hamzah.


"Terima kasih, Bu. Siti memang kebetulan lapar."


Lalu Siti mengambil setengah mangkuk sup ayam beserta nasi dan krupuk. Dia mulai memakannya. Fatimah saat itu sedang berjalan ke ruang makan untuk menyiapkan makan untuk makan siang.


"Liz, Aslam bobok ya?" tanya Elizia yang sedang berjalan menuju ruang makan beserta dengan Hamzah. Sedangkan Fauzan belum juga bangun dari tidurnya mungkin dia sangat lelah.


"Iya, Ma. Setelah saya beri ASI yang lumayan lama dia tertidur. Ma, maafin Eliz sudah menyibukkan Mama dengan urusan yang seharusnya Eliz lakukan."


Elizia lalu duduk di ruang makan dengan sedikit canggung karena mertuanya kini sangat baik kepadanya. Dia selalu memasak masakan yang lezat dan bergizi untuknya dan suaminya selama dia melahirkan Aslam.


"Yasudah. Ayo kita segera makan, sebelum dedek Aslam bangun. Kamu jangan merasa tidak enak jika Mama memasak untuk kakian, Mama sangat senang melakukan hal ini. Lagian, kita belum memiliki ART yang benar-benar dapat dipercaya."


"Ma, nanti Hamzah ada meeting dengan klien di kantor. Tadi Reza menelepon Hamzah untuk segera ke kantor. Jadi, Hamzah titip Eliz dan Aslam ya? Mama harus berhati-hati dengan Siti."


Hamzah mulai angkat bicara karena ada sesuatu hal yang harus dia sampaikan kepada keluarganya. Setelah selesai makan dia buru-buru untuk pergi ke kantor. Elizia dan Fatimah mengangguk dan masih menikmati masakan sup ayam tersebut.


Saat mereka menikmati masakan terdengar suara orang sedang muntah-muntah.


"Huek, huek, huek!"


Perut Siti terasa mual dan seluruh isi perutnya dia keluarkan karena dia tidak bisa menahan rasa mual tersebut akibat dari bawaan saat hamil. Fatimah dan Elizia yang mendengar suara tersebut segera mendekat ke sumber suara. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan Siti. Fatimah menggelengkan kepala dan berkata,


"Kamu kenapa, Siti? Kok muntah-muntah? Makanan saya tidak enak ya?" tanya Fatimah menyelidik.


"Sa-saya mual, Bu. Mungkin saya sedang masuk angin," jawab Siti berbohong. Belum saatnya dia mengakui kehamilannya karena dia belum bisa menakhlukkan hati Hamzah Anggara.

__ADS_1


"Oh. Jika begitu kamu tidur saja sampai sembuh. Jika sudah sembuh kamu bisa beraktifitas kembali."


"Baik, Bu. Siti akan beristirahat, permisi."


Siti berjalan menunduk menuruti perintah Fatimah. Ini kesempatan emas bagi dia untuk bisa beristirahat karena dia sedang mengandung. Lalu dia segera ke kamar yang sudah ditunjukan oleh Fatimah. Setelah mengantarkan Siti, Fatimah segera ke kamar yang ditempati oleh suaminya. Saat sampai di tempat suaminya berada, suaminya sudah bangun dari tidur.


"Ma, Siti ke mana? Ayah mau berbicara empat mata dengan Mama sekarang juga!"


Tiba-tiba Fauzan merangkul pundak istrinya dan suaminya menanyakan istrinya dan ingin berbicara empat mata.


"Siti sekarang tidur karena tadi dia muntah dan sepertinya masuk angin. Ada apa memangnya? Kok Ayah menanyakan tentang Siti?" sahut Fatimah yang duduk di tepi ranjang di samping suaminya.


"Bagus, jika dia sedang tidur. Ma, Siti itu ternyata sangat licik. Saat Ayah berkendara untuk mengantar Siti pulang ke rumahnya, dia mendorong Ayah. Dan terpaksa Ayah berhenti berkendara. Tiba-tiba saat Ayah lengah, dia lancang mencium bibir Ayah dan memotret adegan tersebut. Dia mengancam Ayah, jika Ayah tidak mengantar Siti ke rumah ini, dia akan memviralkan foto tersebut! Itulah alasan Ayah mengajak Siti datang ke sini kembali."


Fauzan menjelaskan secara detail mengenai rencana licik Siti. Istrinya harus tahu mengenai kebusukan Siti agar Fauzan bisa kompak untuk menyusun rencana agar Siti bisa keluar dari rumah tersebut.


"Apa? Ayah dicium Siti? Keterlaluan sekali dia! Awas saja nanti jika Mama punya cara jitu untuk membalas perbuatan Siti, pasti sudah saya seret dari rumah ini!"


Fatimah geram dengan kelakuan Siti yang sangat hina. Bagaimana tidak, suami yang dia cintai, ada seorang wanita yang lancang mencium suaminya. Siti sungguh tidak mempunyai etika.


"Begini saja, Ma. Mumpung dia tidur, Mama ambil saja HP Siti secara perlahan-lahan. Jika pintu itu terkunci, kita bisa pakai kunci cadangan iya, 'kan?"


Fauzan mempunyai rencana untuk mengambil ponsel milik Siti agar bisa menghapus foto yang bisa merusak reputasi keluarganya.


"Oke. Yasudah, Mama akan mencoba ke kamar Siti kembali. Ayah bilang juga ya sama Elizia jika Siti itu licik!"


Tidak ada waktu banyak lagi, Fatimah segera keluar dari kamarnya dan akan menuju kamar di mana Siti tertidur. Perlahan-lahan Fatimah berjalan menuju kamar Siti. Beberapa menit kemudian, Fatimah berada di depan pintu tempat si mana Siti tertidur.


Tidak lama, Fatimah berusaha membuka pintu. Alhasil tidak terkunci. Namun, tiba-tiba tubuh Siti mulai bergerak dan Fatimah merasa berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2